Selama perjalanan, mereka terlihat cukup bersemangat. Meski keringat bercucuran membasahi tubuh, mereka tidak menyerah atau mengeluh sekalipun. Hingga satu orang dari mereka mendapatkan musibah, kaki kanan Eko terkilir dan kesulitan untuk melanjutkan perjalanan.
“Gimana ini, *Cok?” tanya Dian.
“Yo, balik atau gimana?” Ucok bertanya pada Yoga.
“Mas, jangan balik. Aku gapapa kok, kalian lanjut aja. Tak tunggu di Pondokan saja nanti,” ujar Eko.
“Ya udah.”
Yoga berjalan mendekati Eko, lalu membantu Eko untuk memijat kakinya perlahan.
“Tahan ya, Ko!” ucap Yoga.
“Apanya yang dita, wadooohhh!” teriak Eko saat Yoga memijat kakinya.
“Coba berdiri terus jalan,” ucap Yoga.
Eko mencoba berdiri, dan benar saja kakinya sedikit terasa lebih baik. Nyeri yang dirasakan juga berkurang.
“Eh, wes gak sakit banget, Mas. Makasih ya!” ujar Eko.
“Oke!”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan ternyata posisi mereka berhenti tidak jauh dari Pos III, Pondokan.
Yoga dan Ucok mendirikan tenda untuk Eko. Dan mereka hanya membawa bekal yang tidak terlalu banyak.
“Kalian gak bawa tas?” tanya Dian.
“Enggak, mereka aja cukup.”
“Mas, perlu bawa tenda?” tanya Fendy.
“Iya, bawa aja.”
Setelah selesai menyiapkan tenda dan meninggalkan sedikit makanan untuk Eko, Yoga dan Ucok berjalan untuk mengisi botol kosong dengan air.
“Yo, jangan injek batu itu, licin,” ujar Ucok memberitahu.
“Oke.”
Mereka turun untuk mengambil air di sumber mata air. Di sana, biasanya pendaki akan mengisi air untuk dibawa ke puncak.
Posisi pondokan biasanya menjadi tempat terakhir mereka untuk memutuskan, akan ke puncak Arjuno atau Welirang.
“Kemana dulu?” tanya Yoga pada Ucok.
“Arjuno dulu aja, baliknya welirang terus turun,” jelas Ucok.
Setelah menyetujui rencana Ucok. Akhirnya mereka memulai perjalanan menuju ke puncak Arjuno. Mereka mengambil jalur kiri untuk naik kea rah puncak, sebelum sampai di sana, mereka akan melewati beberapa tempat.
Lembah Kidang, nama itu dicetuskan karena dulunya ada banyak sekali hewan Kidang. Namun, seiring berjalannya waktu, ada banyak pemburu liar yang membuat hewan di sana harus dipindahkan ke penakaran. Luas area Lembah Kidang hampir sama dengan Pondokan. Tidak jauh dari sana ada Savana 2, tempat itu bisa digunakan untuk mendirikan tenda bagi mereka yang ingin beristirahat.
Yoga dan teman-temannya hanya melewati area itu, mereka tidak berhenti dan terus melanjutkan perjalanan. Dari Savana 2 menuju puncak adalah jalur yang sulit. Karena medan tanjakan semakin terjal, juga jika tidak meninggalkan tanda di sana, bisa membuat mereka tersesat saat turun.
Yoga menyuruh Dian untuk meninggalkan tanda seperti biasa, sebuah pita yang berwarna kuning di ikatkan ke ranting pohon.
“Yo, atas aman?” teriak Dian dari bawah.
“Aman!” balas Yoga.
Langkah kaki mereka masih terus berlanjut, dan salah satu dari mereka merasa lelah. Rio berhenti sejenak untuk minum, keringat mereka terasa dingin karena udara di sana yang sejuk.
“Yo, kabut naik!” teriak Dian.
“Lanjut nggak?” sahut Ucok.
“Lanjut! Atas masih aman!” jawab Yoga.
Mereka segera melanjutkan perjalanan hingga sampai di Pasar Setan*. Area terbuka yang tidak jauh dari puncak, Di sana juga ada petilasan, dua batu nisan yang dibuat untuk menghormati mereka yang tiada di puncak Arjuno.
“Hati-hati, anginnya kenceng!” teriak Yoga.
Di area Pasar Setan, mereka bertemu dengan pendaki yang nekat mendirikan tenda semalaman di sana.
“Camp di sini semalam, Mas?” tanya Yoga.
“Iya, Mas.”
“Saya lagi masak, Mas. Mau gabung sekalian?” tanya pendaki lainnya,
“Wih … masak apa nih? Eh, belum kenalan. Yoga, dari Surabaya,” ujar Yoga.
“Bambang, dari Jombang. Itu rombongan saya dari Jakarta, Junet sama Kirun,” ujar Bambang.
“Gabung, Mas! Kita masak banyak ini.”
“Boleh, Mas? Rek, onok panganan, merapat!” teriak Yoga memanggil teman-temannya.
[ada makanan]
Akhirnya mereka bergabung, pendaki itu memasak baso dan juga ubi bakar. Tidak hanya itu, di dekat mereka juga sedang merebus kacang sebagai camilan.
“Wih, makanan. Kita menemukan peradaban di atas gunung,” ujar Ucok sembari tertawa.
“Sikat, wes!” sahut Dian.
“Heh! Gon e wong iki! Ojok gragas!” timpal Yoga.
[heh! Punya orang ini! jangan rakus!]
Mereka semua tertawa, tidak ada yang terlihat canggung atau tidak enak hati. Karena mereka sudah memiliki prinsip, siapapun pendaki, dan bertemu di atas … mereka sudah menganggap sebagai teman, bahkan ada yang berlanjut hingga menjadi keluarga.
Setelah selesai dengan istirahat di Pasar Setan, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke puncak Ogal Agil. Di sebut dengan Ogal Agil karena di puncak gunung Arjuno, ada sebuah batu besar yang nampak rapuh, dan terlihat bisa saja terguling ke bawah jika terkena angina. Pada dasarnya batu itu sangat kuat di sana.
Mereka harus melewati dua lembah untuk sampai di puncak. Dan saat sudah sampai di sana, Yoga dan Ucok duduk dengan menatap pemandangan di bawah.
“Yo, setelah ini … mau kemana lagi?” tanya Ucok.
“Welirang lah.”
“Yo, kalau setelah ini, kita nggak bisa nanjak bareng, kamu mau nanjak sendirian?” tanya Ucok.
“Ngomong opo sih! Emang kon mau kemana?” tanya Yoga.
“Siapa tau aja, aku wes wegah nanjak sama kamu.”
“Omonganmu, *Cok!”
“Hahahaha.”
Setelah puas berfoto dan beristirahat sejenak, mereka kembali untuk melanjutkan perjalanan menuju ke puncak Welirang.
“Lanjut Welirang iki?” tanya Ucok.
“Iyo, lapo sih!”
“Gapopo, ojok sensi ta la! Kon koyok Riska lak pas palang merah ae.”
“Lambemu, tapuk kene!”
[Mulutmu, tampar sini!]
Kembali berjalan menuju ke puncak Welirang. Mereka memutuskan untuk kembali ke Pondokan karena bekal yang sangat minim. Trek berat membuat mereka lebih waspada, apalagi mereka yang berjalan masih baru untuk jalur pendakian itu.
“Kita lihat keadaan Eko dulu, kalau kalian mau langsung ke Welirang ya ayok aja,” ujar Yoga.
“Oke, Mas.”
Meski perjalanan turun ke Pondokan memakan waktu lebih sedikit daripada naik, tetap saja mereka harus melangkah dengan hati-hati. Karena jalanan tanah berbatu yang mudah sekali longsor.
“Mas, Rio sesak napas!” teriak Fendy.
Mereka menghentikan perjalanan tepat di tanjakan yang tidak jauh dari Savana 2. Yoga berlari mendekati Rio dan Fendy.
“Punya riwayat sesak?” tanya Yoga.
Rio menggelengkan kepalanya. Yoga melepaskan buff yang dikenakan, lalu membasahi dengan sisa air yang ada di botolnya. Buff itu dikenakan Rio dan Yoga menyuruh Rio untuk bernapas perlahan.
“Gimana?” tanya Yoga.
“Enakan, Mas,” jawab Rio.
“Di, kamu sama Fendy dan Andik duluan aja, tunggu di Savana, sambil ambil air di sana. isi penuh semua botol kosong,” ujar Yoga.
“Oke!”
“Gapapa, Mas. Kita lanjut aja,” ujar Rio.
“Jangan, bahaya. Kamu rehat aja dulu.”
“Yo, kabut,” ucap Ucok.
“Kita ada di mana sih ini?” tanya Yoga.
“Bukit pertama hutan pinus ini, masak lupa.”
“Hehehe.”
“Kayaknya nggak tebel kabutnya, kalo udah siap, langsung aja ke Savana.”
“Oke.”
Lima belas menit kemudian, Rio sudah bisa melanjutkan perjalanan menuju ke Savana. Mereka berjalan lagi dengan kecepatan yang lebih lambat dari sebelumnya. Sampai di Savana, mereka kembali bertemu dengan Dian dan Fendi juga Andik.
“Udah ambil air?” tanya Yoga.
“Udah, siniin botolmu. Biar di isi sama mereka,” ujar Dian.
“Ri, minum dulu ini.”
“Makasih, Mas.”
“Gimana? Mau lanjut Welirang?” tanya Ucok.
“Mas, kalo Fendy sama Andik mau lanjut, gapapa, aku tunggu sama Eko aja di Pondokan,” ujar Rio.
“Ya udah, gampang itu.”
“Fisik kalian hebat ya, nggak ada rasa lelahnya.”
“Yo kesel loh aku I … cuman gak tak ketokno,” ujar Dian.
“Heh, lambene Dian ancene rodok lemes!” sahut Yoga.
Tiga puluh menit berlalu begitu saja, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Pondokan dan bertemu dengan Eko yang sedang memasak mie instan.
“Pas banget iki, Ko!” ujar Fendy.
“Mangan sek, Rek. Ben gak luwe.” Eko meringis menyambut kedatangan teman-temannya.
Duduk beberapa saat untuk memakan makanan yang disiapkan Eko. Setelah itu, ada lima orang yang melanjutkan perjalanan menuju ke puncak Welirang.