Perjalanan terus berlanjut. Mereka sedang menuju ke Pos II atau biasa di sebut dengan Kokopan. Di sana, biasanya pendaki beristirahat untuk menikmati suasana gunung yang sejuk dan dingin. Ada sebuah warung yang biasanya buka. Warung itu dijaga oleh seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah suami dari Emak, penjual di warung Pet Bocor.
Yoga dan semua rombongannya masih dalam perjalanan, sampai di sebuah pohon besar yang disebut Wit Gede (Pohon Besar). Pohon itu berusia sangat tua, akarnya bahkan sampai muncul ke permukaan dan memiliki ukuran yang sangat besar juga menjalar ke jalur pendakian.
Waktu sudah menunjukkan hampir petang. Yoga memberitahu teman-temannya untuk mendirikan tenda di Kokopan. Yoga tidak ingin mereka melanjutkan perjalanan ke Pos III dalam keadaan gelap. Meski ada pencahayaan dari senter dan alat lainnya, Yoga masih dalam pendiriannya untuk berhenti dan menyuruh teman-temannya beristirahat di sana.
“Mas, atas itu Kokopan?” tanya seorang cowok.
Mereka sudah sampai di jalur yang penuh dengan bebatuan besar. Dan di sana sudah bisa terlihat pemandangan indah yang ada di bawah. Ketinggian sekitar 1500Mdpl, suhu dingin mulai menusuk tulang saat mereka berhenti beberapa menit di sana.
“Yok lah! Udah deket, jangan lama-lama berhentinya, kita belum dirikan tenda,” ujar Ucok memberikan pengarahan.
Akhirnya mereka kembali berjalan menuju ke atas. Dan akhirnya sampai di Kokopan, Yoga mengarahkan teman-temannya untuk mendirikan tenda.
Yoga bersama Ucok dan Dian di dalam satu tenda yang sama. Sedangkan empat orang lainnya juga berada di satu tenda lain. Setelah mendirikan tenda, Yoga dan Ucok memasang kompor lapangan, dan memasak bahan makanan yang dibawa di dalam tas.
“Mas, mau masak apa?” tanya seorang cowok yang ikut dalam rombongan mereka.
“Kalian bawa makanan apa aja? sini kumpul!” ujar Yoga.
Akhirnya mereka berkumpul di depan tenda milik Yoga dan saling berkenalan. Ternyata, mereka belum saling mengenal karena memang masih mahasiswa baru.
“Nama deh, aku lupa mau tanya tadi. Udah baca tapi lupa, kan nggak tau yang mana orangnya,” ujar Yoga.
“Dasar kamu ini! masak mereka udah ikutan sejak awal, tapi kamu nggak tau namanya!” protes Ucok.
“Namaku Fendy, Mas. Ini Rio, tu Andik, dan yang ambil makanan Eko,” jelas Fendy.
“Nah … gini kan jelas.”
Setelah mengetahui ada bahan makanan yang bisa digunakan, akhirnya Yoga memasak untuk mereka.
“Mas, bisa masak juga?”
“Kalo nggak mau mati di gunung, kalian harus bisa semuanya! Apalagi cara bertahan hidup, kalian udah pada di ajarin belum survival?” tanya Yoga.
“Belum, Mas. Materinya masih Mountenering.”
“Owh, di Mountenering itu udah ada semua. Biasanya anak yang ambil itu pasti jauh lebih bagus untuk prakteknya.”
“Masak sih, Mas?” tanya Eko.
“Yo iku karena dia anak Mountenering, Rek! Ojok percoyo karo Yoga, ancen lambene lamis,” sahut Dian yang memilih jurusan IMMP (Ilmu Membaca Medan Peta).
Semua yang ada di sana tertawa mendengar ucapan Dian. Dan mereka menyaksikan apa yang sedang dimasak Yoga hingga selesai.
“Bawa piring plastic atau apa gitu?” tanya Yoga.
“Aku bawa kertas bungkus, Mas.”
“Aku bawa sendok plastic.”
“Aku bawa mika.”
“Sip, kumpulin sini, tak bagi makanannya,” ujar Yoga.
Mereka makan bersama di depan tenda, menikmati hidangan yang sudah dimasak dengan susah payah oleh Yoga.
“Di gunung kita bisa makan enak juga ya,” ujar Fendy.
“Jangan salah! Nanti pas sampai di Pondokan, kita makan enak juga.”
“Masak sih, Mas?”
“Hahaha, kalian percaya sama Yoga?” tanya Ucok.
“Bukannya nggak percaya, tapi ragu.”
“Iku podo ae, Rek.”
Setelah mereka selesai dengan kegiatan makan malam. Yoga mengeluarkan sebuah plastic hitam untuk wadah sampah.
“Jangan lupa! Buang sampah pada tempatnya! Sini kumpulin sampah kalian, nanti kita bawa turun.”
“Oke, Mas.”
Malam semakin larut, dan mereka tidur dengan menggunakan sleeping bag. Sebuah kantung tidur yang sangat hangat meski suhu udara di sana sangat dingin.
Di dalam tenda, Yoga melihat Ucok yang masih terjaga. Entah apa yang dipikirkan cowok itu hingga tidak bisa memejamkan mata.
“Oi, lapo?” tanya Yoga.
“Gapapa.”
“Ndang turu! Wes isuk iki.”
“Endi isuk? Iki sek jam songo!”
[Mana pagi? Ini masih jam sembilan!]
“Terus?”
“Biasane turu jam siji ae katek ngantuk yamene!”
[Biasanya tidur jam satu aja ngantuk sekarang!]
Perdebatan mereka membuat Dian tidak bisa tidur, dan akhirnya Dian menyuruh keduanya untuk keluar saja jika masih meributkan waktu.
Di dalam tenda, mereka mendengar ada langkah kaki yang sedang berjalan melewati tenda mereka. Ternyata, pada malam hari … ada banyak pendaki yang memilih melanjutkan perjalanan. Mungkin, mereka adalah orang yang sudah terbiasa dengan pendakian, sehingga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.
***
Pagi ini …
Yoga sudah bangun dan mengisi persediaan air untuk perjalanan menuju ke Pondokan. Ya … di area Kokopan, memang ada sumber mata air yang bisa digunakan. Bahkan mereka biasanya mengambil air di sana untuk bekal di atas.
Yoga melihat ada banyak sekali pendaki yang sedang merapikan tenda. Dan ada juga yang hanya sampai di sana dan tidak melanjutkan perjalanan karena lelah.
“Pagi, Mas,” sapa seorang cowok.
“Pagi, darimana, Mas?”
“Dari Jombang, Mas.”
“Owh, berapa orang?” tanya Yoga lagi.
“Tiga, Mas.”
“Mau muncak?” tanya Yoga.
“Rencana iya, ini masih mau bersih-bersih sama makan dulu.”
“Owh, oke. Aku juga mau nanjak ke puncak. Tapi masih belum ada yang bangun. Jadinya siap-siap aja dulu,” jelas Yoga.
“Sip, Mas. Siapa tau ketemu lagi nanti.”
“Iya, yok, Mas. Mampir ke tendaku kalo mau, ini mau masak.”
“Makasih, ini juga udah masak.”
Yoga tersenyum dan berjalan kembali ke tenda miliknya. Di sana, Dian sudah menyiapkan kompor dan beberapa bahan yang akan digunakan.
“Masak apa?” tanya Dian.
“Mie aja, masak lagi nanti buat di Pondokan. Terus pas di Pasar Setan kan biasanya kita masak lagi.”
“Nggak usah, di sana nebeng aja sama yang lain,” sahut Ucok dari dalam tenda.
“Bener tuh, biasa juga nebeng,” timpal Dian.
“Ya udah, kita nebeng.”
Mereka tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatan untuk memasak Mie instant. Tidak lama kemudian, empat orang cowok yang ada di tenda lain, akhirnya terbangun. Mereka menyapa Yoga dan yang lain.
“Waduh … awakku rasane … warbinasah,” ujar Eko.
“Iki sek nak tengah lo, Ko!” ucap Fendy.
“Yo.”
Yoga cukup terkesan dengan mereka, tidak ada yang mengeluh selama perjalanan. Padahal biasanya mereka yang masih baru, akan mengeluh dengan perjalanan yang terbilang cukup panjang.
Setelah makanan siap untuk di santap. Mereka berkumpul dan menikmatinya bersama.
“Wah … emang, kalo dalam kondisi kayak gini, mie instant pun serasa makan spaghetti.”
“Hahaha, bener banget. Tambah keju enak ini,” sahut Fendy.
Yoga tersenyum dan menyelesaikan kegiatannya. Usai semua selesai dengan pengemasan dan membersihkan area. Mereka berkumpul untuk berdoa sebelum melanjutkan kembali perjalanan menuju ke Pos selanjutnya yaitu Pos III.
“Kumpul sini dulu! Kita doa!” ajak Ucok.
Semua menundukkan kepala, Ucok dan Yoga memimpin perjalanan dan berharap semua akan kembali dengan selamat. Yoga juga menyuruh mereka yang masih baru di alam liar, untuk terus waspada dan sadar diri. Sadar jika mereka ada di tempat orang, bukan di rumah sendiri. Sadar bahwa alam memiliki beberapa peraturan yang harus mereka patuhi dan jaga.
Langkah kaki mereka mulai menginjak bebatuan yang berjajar tidak beraturan. Dengan jalanan terjal, mereka menuju ke tempat selanjutnya.