bc

KALA LESA

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
reincarnation/transmigration
fated
confident
king
sweet
mythology
magical world
another world
secrets
superpower
ancient
like
intro-logo
Uraian

Aku telah mencintainya dalam lebih dari ratusan bentuk, kehilangan melewati roda-roda zaman, namun hatiku tak pernah lupa bagaimana rasanya menggenggam jiwanya sekali saja.

Kutukanku bukan hidup abadi-tapi melihat cintaku mati berulang kali, dan tak bisa menyelamatkannya,."

Raka hidup abadi dalam bayang-bayang. Bukan karena anugerah, tapi kutukan yang ditanamkan oleh Sang Hyang Mada-mantan pelindung yang berubah menjadi penguasa ambisius. Selama berabad-abad, Raka menjadi alat pembunuh, eksekutor diam-diam yang menjalankan perintah tanpa suara.

Tahun 1945, di tengah perang dan harapan kemerdekaan, ia bertemu Larasati-pejuang muda yang mengingatkannya pada sesuatu yang nyaris ia lupakan: cinta, dan kemungkinan untuk hidup sebagai manusia. Tapi seperti kisahnya yang tak pernah selesai, Dyah terbunuh dalam konflik yang lebih besar dari keduanya.

Kini, tahun 2025. Dunia telah berubah, tapi ancaman lama kembali muncul. Sang Hyang Mada bangkit dengan wajah baru, menyusup ke balik kekuasaan modern. Dan di tengah kekacauan itu, Raka kembali bertemu dengan reinkarnasi cinta abadinya dalam wujud perempuan bernama Asha, arkeolog muda yang tanpa sadar membuka pintu ke masa lalu mereka.

Raka tahu, ia tak bisa lari lagi. Ia harus memilih: melindungi Asha dan melawan kekuatan gelap yang selama ini mengendalikannya, atau kembali bersembunyi dalam bayang-bayang abadi yang ia ciptakan sendiri.

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
PROLOG Batavia, 1893 Batavia, 1893. Di tengah kawasan elit pemukiman kolonial, berdiri sebuah rumah megah bergaya campuran Indis dan arsitektur Jawa klasik. Pilar-pilarnya menjulang dengan warna putih pudar, dan jendela-jendela tingginya terbungkus tirai tebal yang tak pernah benar-benar terbuka. Halaman depannya terjaga rapi, namun terlalu sepi. Bangunan ini milik seorang bangsawan yang disegani banyak pihak—Sang Hyang Mada. Di lantai atas rumah itu, terdapat sebuah kamar yang dari luar tampak seperti kamar biasa. Dindingnya berpola kayu jati, ranjang empat tiang berdraperi lembut di tengah ruangan, dan lemari besar antik berdiri di salah satu sudut. Aroma kayu dan dupa tipis melayang di udara. Tidak ada rantai. Tidak ada jeruji. Tapi kamar itu tetap menjadi penjara. Karena di setiap interior—bahkan ranjang, dinding, dan lantainya—terukir aksara Jawa kuno yang tak terlihat oleh mata biasa. Ukiran itu adalah segel yang mengekang kekuatan Raka, memantulkan mantra yang terhubung langsung ke Cincin Pustaka. Dimanapun ia berdiri di dalam kamar itu, ia selalu dalam pengawasan. Raka tinggal di sana. Bukan sebagai tamu. Tapi sebagai tawanan. Diperkenalkan kepada publik sebagai “adik ” Sang Hyang Mada—seorang bangsawan muda yang pendiam—padahal kenyataannya, Raka adalah Hayam Wuruk, mantan raja Majapahit yang disegel dalam tubuh mudanya sendiri. Ia tampak seperti pria muda yang sehat. Kulitnya pucat, mengisyaratkan ketampanan yang dingin dan membekas. Mata tajamnya menyimpan kedalaman yang sulit dijelaskan—tatapan seorang raja yang pernah melihat kerajaan runtuh. Wajahnya tirus, dengan hidung panjang yang tegas. Rambut hitam legamnya jatuh ke tengkuk, dibiarkan tumbuh dengan bentuk yang sedikit memanjang di belakang dan terurai ringan di sisi wajah. Jauh di dalam, tubuh dan jiwanya dirantai oleh Cincin Pustaka, yang ada di tangan Sang Hyang Mada. Segel itu terhubung langsung ke sebuah tato kecil berbentuk aksara Jawa kuno di lehernya—hampir tak terlihat, namun hidup dan menyala ketika cincin diputar. Di pergelangan tangan kirinya, tampak luka berbentuk silang seperti tato tua yang membara samar. Setiap kali cincin Mada bersinar, luka itu ikut menyala, menghantam saraf-sarafnya dengan rasa nyeri yang tak terucapkan. Di saat seperti itu, kekuatannya lenyap seketika, seperti rohnya direnggut dari tubuh. Ia telah berada di sana. Duduk di sisi ranjang, diam, seperti patung yang dijaga mantra. Ruang itu bukan hanya kamar—ia adalah segel, dan Raka, pusat dari kekuatan yang dikurung di dalamnya. Tangannya terlipat di pangkuan. Tubuhnya kaku. Ia tak tahu berapa lama waktu telah lewat sejak pagi. Matahari tenggelam, langit menua, malam merambat masuk—semuanya tidak penting. Ia hanya menunggu. Karena malam ini, Sang Hyang Mada akan datang. Dan setiap kali Sang Hyang Mada datang, satu bagian dari jiwanya akan terkoyak. Ia tidak bisa melawan. Tidak malam ini. Tidak selamanya. Suara langkah di lorong luar bergema pelan. Berat. Langkah berat terdengar di koridor. Dua sosok tinggi melintasi lorong menuju kamar: Raksa dan Lodra, pengawal abadi. Mereka berdiri di depan pintu, lalu membukanya perlahan. Sang Hyang Mada melangkah masuk. Berwibawa. Pintu kamar tidak diketuk—ia terbuka sendiri, seolah tunduk pada pemilik cincin itu. Sang Hyang Mada melangkah masuk. Posturnya tenang. Tatapannya menusuk. Ia memandangi Raka seperti menatap peninggalan kerajaan yang kini hanya jadi alat. “Masih mencoba menatapku seperti raja, Raka?” Suara Mada tenang, tapi tajam seperti bilah keris yang tak terlihat. Raka tak menjawab. Tapi napasnya mengeras. Sekilas. Hampir tak terlihat. Sang Hyang Mada mengangkat tangan kanannya—cincin pusaka itu memantulkan cahaya lentera. Namaskuru rudhireṇa svīyena, ("Bersujudlah pada darahmu sendiri,") Tubuh Raka gemetar. Seolah tulang-tulangnya berderak tanpa suara. Dari pori porinya, asap emas tipis merayap keluar. Ātmā te saṃhṛtaḥ māmikena, ("Rohmu telah kuambil darimu,") Matanya menyala putih keemasan. Dadanya terangkat, menggelepar, seolah jiwanya ditarik paksa dari dalam tubuh Yaḥ uttiṣṭhati vipakṣeṇa, sa śūnyaḥ bhavati. ("Siapa yang bangkit dalam pemberontakan, ia akan menjadi kehampaan.") .Luka silangnya menyala, menyebar rasa sakit ke seluruh sarafnya, membuat tubuhnya kejang. Dan malam pun kembali menelan jerit bisu sang raja abadi. Di luar, Batavia tetap hidup seperti biasa—tak menyadari bahwa di salah satu kamar tersegel oleh mantra leluhur, seorang rajasanagara masih bernapas. Tapi hidupnya bukan lagi miliknya. "Masih menolak tunduk?" suara Mada datar, hampir seperti gumaman, tapi setiap hurufnya bergema dalam ruang itu. Raka menggertakkan rahangnya. Tangannya bergetar, bukan karena takut, tapi karena menahan gejolak kekuatan yang tak lagi bisa ia kendalikan. Luka silangnya memanas kembali, menyalakan rasa sakit yang mematikan. Sang Hyang Mada mengangkat tangannya. Cincin itu berkilat sebentar. Sekejap kemudian, tubuh Raka bergetar hebat, lututnya menghantam lantai marmer. "Lihat kau sekarang," ucap Mada, melangkah mendekat. "Darah raja mengalir di nadimu, tapi kau tak lebih dari bayang-bayang. Tanpa cincin ini, kau hanya ingatan." "Bunuh saja aku," desis Raka. Suaranya serak, seperti batu yang dihancurkan waktu. Sang Hyang Mada tertawa pendek. Tawa rendah dan pahit, seperti tawa orang yang tahu betul bahwa permainan ini belum selesai. "Jika aku membunuhmu, siapa yang akan menggantikan saat waktunya tiba? Siapa yang akan menghadapi mereka ketika gerbang akhir terbuka?" Ia berjongkok di depan Raka, menatap langsung ke matanya. Mata yang dulu pernah memimpin ribuan pasukan, kini penuh bayangan kalah dan dendam. "Ini bukan tentangmu," lanjutnya. "Ini tentang dunia yang belum siap kehilangan kendali." Cincin di jari Mada kembali berdenyut. Raka menggertakkan giginya saat dadanya seperti dibakar dari dalam. Luka silangnya menyala lagi. "Bangkit," perintah Mada akhirnya. "Kau tetap darah Majapahit. Tapi kekuatanmu... milikku." Dengan napas berat dan tubuh yang digerakkan lebih oleh paksaan magis daripada kehendak sendiri, Raka berdiri. Tidak ada kata keluar dari mulutnya. Tapi dalam diamnya, amarahnya tumbuh seperti api yang disiram minyak. Ia mulai menghafal setiap luka, mencatat tiap rasa sakit. Ia menyusun satu hal: pembalasan. Karena ketika waktunya tiba... Dunia akan tahu bahwa seorang raja tidak pernah mati. Ia hanya... disembunyikan oleh waktu. --- Kereta kuda berlogo keluarga Mada melaju pelan di jalan utama kota kolonial. Di dalamnya, Sang Hyang Mada duduk tenang, dua pengawalnya setia menjaga dari belakang. Raka duduk di seberangnya, mengenakan pakaian bangsawan muda: kemeja batik halus, jas panjang hitam pekat. Bagi publik, ia diperkenalkan sebagai adik Sang Hyang Mada. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang berani. Di balik jendela kaca kereta, mata Raka menatap dunia yang terasa asing. Ia melihat pasar penuh tentara Belanda, kuli pribumi yang dipaksa mengangkut rempah dan logam ke gudang-gudang pemerintahan, ibu-ibu memeluk anaknya karena lapar, dan lelaki tua bersimpuh pada tanah yang telah dicuri darinya. Ia tidak melihat tanah ini sebagai negeri. Ia melihatnya sebagai luka. "Sebentar lagi kita sampai," ucap Sang Hyang Madaringan, matanya tak pernah benar-benar melihat keluar jendela. "Kau hanya perlu berdiri. Diam. Tersenyum, bila perlu." Raka mengepalkan tangannya, seolah ingin mencabik pakaian yang membungkus tubuhnya. Mada melihat gerakan itu dan hanya memutar cincin di jarinya pelan. "Apa raja kita menolak tunduk...?" Mada bertanya setengah berbisik, seakan tak perlu jawaban. Raka mengepalkan tangannya lebih keras. Setiap putaran cincin menyiksanya bertubi-tubi. Luka silangnya ikut menyala, menghantam batinnya dengan denyutan menyakitkan. Sang Hyang Mada menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Raka. Bisikannya nyaris menyatu dengan derak roda kereta di atas jalanan berbatu. "Katakan padaku, Raka... apa kau menolak tunduk?" Raka tak mampu bicara. Rahangnya terkunci oleh sihir, lidahnya kelu. Ia hanya mampu menunduk dan mengangguk pelan, tubuhnya berkeringat dingin, seperti sedang disayat dari dalam. "Bagus," Mada bergumam pelan, lalu kembali menatap ke luar jendela. "Karena kau bukan lagi Raja Hayam Wuruk yang agung. Kau Raka... tahananku. Bayang-bayangku. Dan tidak akan bebas. sampai aku mengizinkannya." Kereta terus melaju. Dan sang bayangan raja... hanya bisa diam. --- Kereta berhenti perlahan di depan sebuah bangunan megah bergaya Neoklasik yang mencolok di antara bangunan-bangunan Batavia. Pilar-pilar tinggi menopang balkon lebar, jendela-jendela besar dengan tirai tebal tergulung rapat. Di atas gerbang besi yang dijaga dua prajurit Belanda berseragam merah tua, terpampang papan ukir berlapis emas: “Het Huis van Jenderal Hendrik van Rijkvoorde” —Kediaman Resmi Mantan Komandan VOC Wilayah Barat Hindia. Tanpa aba-aba, Raksa dan Lodra turun lebih dulu dari kereta. Langkah kaki mereka berat tapi tak terburu-buru, seperti patung raksasa yang diberi nyawa. Tubuh mereka yang luar biasa besar dan tinggi langsung menarik perhatian beberapa tamu yang baru tiba. Bisikan-bisikan kecil mulai terdengar, tapi tidak satu pun berani menyuarakan ketakutan mereka. Semua tahu—mereka bukan penjaga biasa. Raka menyusul turun. Rambutnya disisir rapi, wajahnya bersih tanpa ekspresi, namun matanya tak bisa menyembunyikan luka yang tak terlihat. Ia seperti bayangan berpakaian bangsawan, tapi tanpa ruh di dalamnya. Raksa dan Lodra berjalan di sisi kanan dan kirinya. Mereka bukan sekadar mengawal. Mereka adalah pengikat. Segel hidup. Bila Raka sedikit saja melenceng dari kehendak Sang Hyang Mada, mereka bisa meremukkan tubuhnya dalam satu kedipan. Tak lama kemudian, Sang Hyang Mada turun dari kereta. Kehadirannya membuat waktu seperti berhenti. Langkahnya pelan, jubah hitamnya menyapu anak tangga. Kalung berornamen Garudha Majapahit tersemat di leher, dan cincin pusaka di jarinya tampak berkilat singkat saat ia menengok ke arah bangunan. Seorang pria Belanda bertubuh besar, dengan rambut keperakan dan kumis tebal yang melengkung rapi, menunggu di puncak tangga. Ia mengenakan seragam kehormatan VOC lengkap dengan medali-medali emas tua yang bergemerincing halus saat ia melangkah ke depan. Jenderal Hendrik van Rijkvoorde. Komandan tertinggi, sekaligus arsitek utama pembantaian gerakan bawah tanah di seluruh Jawa dan Sumatera. “Selamat malam, Sang Hyang Mada,” ucapnya dalam Bahasa Jawa yang kaku namun penuh hormat. “Kehadiran Anda, seperti biasa... membawa angin kemenangan.” Mada tersenyum tipis, angin tak sempat menyentuh wajahnya. “Saya hanya datang untuk memastikan meja makan malam ini tidak dipenuhi oleh mereka yang terlalu lama hidup.” Van Rijkvoorde tertawa. Pendek. Dingin. Seolah ia tahu benar siapa yang akan dibicarakan malam ini. “Ini adik saya,” ucapnya tenang, suaranya cukup lantang untuk didengar semua orang di foyer. “Raden Raka Rajasanagara Mahendra.” Ia diam sejenak, lalu menambahkan, “Kami biasa memanggilnya... Raka.” Raka membungkuk pelan, cukup untuk sopan, tidak cukup untuk tunduk. Pandangannya mengambang sebentar di mata Jenderal van Rijkvoorde, lalu turun ke lantai marmer seolah tak ada yang layak ia tatap. Van Rijkvoorde mengangguk. “Nama yang... dalam,” gumamnya, lalu menatap Mada. “Dan tampaknya, membawa sejarah panjang.” Sang Hyang Mada hanya tersenyum. “Lebih panjang dari yang bisa dibayangkan.” Setelah itu, mereka masuk ke aula utama. Di dalam, lampu gantung bergoyang pelan di langit-langit tinggi. Para petinggi Belanda, pengusaha, dan para pejabat lokal yang menjual tanah airnya sendiri sudah duduk berjajar rapi, menanti. Malam itu bukan sekadar jamuan. Itu adalah meja makan kekuasaan. Tempat nasib bangsa akan dibicarakan, dan darah akan ditentukan. Di antara mereka, seorang raja duduk diam. Bersama rantai tak terlihat, dengan luka kecil dengan aksara jawa serupa tato yang ada di leher kanannya. Masih menyala, bagaikan api tak kasat mata. Hanya Raka yang merasakan betapa sakit belenggu sihir itu. Mereka berjalan masuk bersama. Di balik pintu megah itu telah menunggu para petinggi kolonial, pengusaha gula dan rempah, administrator rahasia, dan beberapa tokoh elite lokal pengkhianat bangsa. Malam itu bukan sekadar jamuan makan malam. Itu adalah rapat bayangan. Tujuan utamanya: menghabisi para pejuang kemerdekaan di setiap daerah. Satu per satu. Tanpa suara. Tanpa jejak. Dan di tengah semua itu, Raka melangkah seperti boneka yang diarak. Tanpa suara. Tanpa kehendak. Tapi di dalam dadanya, segel yang menyala samar di leher itu... masih berdetak. Masih menunggu satu celah. Untuk membakar semuanya habis. Di dalam aula, musik gesek pelan dari seorang pemain biola peranakan Belanda mengalun rendah. Meja makan panjang dengan taplak renda putih dipenuhi perak berkilau dan gelas-gelas kristal yang belum disentuh. Para tamu berdiri membentuk lingkaran sosial mereka masing-masing: pejabat kolonial, pemilik perkebunan, tokoh sipil, dan segelintir bangsawan lokal yang tak pernah benar-benar berpihak pada rakyatnya. Saat Sang Hyang Mada memasuki ruangan, percakapan mereda sejenak. Seperti angin dingin masuk ke jantung rumah. Ia tidak memandang siapa pun, hanya berjalan pelan menuju kursi yang telah disediakan di ujung meja, di sisi kanan Jenderal van Rijkvoorde. Raksa dan Lodra berdiri di belakangnya—seperti patung penjaga pura tua. Raka berjalan tanpa suara, mengikuti dari belakang. Para tamu memperhatikannya—beberapa dengan rasa ingin tahu, sebagian besar dengan cemas, karena aura asing itu terasa seperti bayangan yang bisa menelan cahaya. Van Rijkvoorde duduk lebih dulu, lalu berkata ringan sambil mengangkat gelas anggurnya. “Saudara-saudara sekalian, kita berkumpul malam ini bukan hanya untuk bersulang atas stabilitas yang kita bangun bersama…” Matanya menyapu sekeliling meja, lalu berhenti pada wajah Mada. “…tetapi untuk menyelesaikan rencana akhir. Rencana untuk menghapus sisa-sisa perlawanan yang masih menyebar di seluruh nusantara.” Seorang lelaki Belanda di ujung kiri meja—berpakaian militer dengan lambang marinir VOC—menyambung. “Sumatra telah kami kendalikan dengan sempurna. Tapi Jawa masih... bising.” Raka duduk diam. Tangan di pangkuannya, wajah tertunduk, tapi telinganya menangkap segalanya. Ia mengenal nama-nama yang disebutkan malam itu—para pejuang bawah tanah yang pernah ia lihat di pasar, atau mendengar desas-desusnya di perkampungan. Mereka membicarakan nama-nama itu seperti angka. Seperti beban logistik. Seperti hama yang harus disemprot. Dan setiap kata yang keluar dari mulut mereka, adalah luka baru yang ditorehkan di jiwanya. Sang Hyang Mada tidak berkata apa-apa. Ia hanya memutar cincin di jarinya, pelan… sangat pelan. Dan seketika itu pula, leher Raka berdenyut, segel menyala tipis seperti bara tersembunyi di balik kulitnya. Raka menggertakkan gigi, menahan erangan. Ia tahu—Mada ingin dia tetap diam. Tetap tunduk. Tetap menjadi bayangan yang mendengarkan, tapi tak pernah berbicara. Di seberang meja, seorang wanita Eropa muda mencuri pandang ke arah Raka. Ia mencoba tersenyum kecil. Mungkin tertarik pada ketampanan dan misterinya. Tapi yang dibalas oleh Raka hanyalah mata yang kosong. Mata seorang raja yang dikurung di balik tubuh bangsawan. Percakapan di meja makan terus berlanjut. Gelak tawa ringan mengiringi setiap penyebutan nama yang akan “dibersihkan”—seolah para pejuang itu bukan manusia, tapi daftar belanja yang perlu dicoret. Raka duduk diam. Tangannya di pangkuan, napasnya perlahan mulai memanas. Kata demi kata dari para tamu seperti pisau tumpul yang menusuk pelan. Wajah-wajah pucat penuh strategi itu seperti topeng di pesta kematian. Dan di tengah semua itu, untuk pertama kalinya... Raka angkat bicara. Suara baritonnya tidak keras. Tapi cukup dalam untuk membuat gelas-gelas berhenti berdenting. “Apa yang kalian sebut jamuan... bukan perayaan.” “Ini pemakaman.” “Bukan untuk mereka yang kalian buru, tapi untuk kemanusiaan yang kalian kubur bersama kekuasaan.” Semua kepala menoleh. Beberapa menahan napas. Van Rijkvoorde menurunkan garpunya. Sang Hyang Mada menatap tajam ke arah Raka, dan tangannya mulai bergerak ke cincin. Tapi Raka melanjutkan. Tak peduli lagi pada rasa sakit. Tak peduli bila tubuhnya terbakar oleh segel. Yang penting: ia harus didengar. “Pernahkah kalian membaca buku itu...?” katanya pelan. “‘De Menselijkheid onder het Zwaard’...” (Kemanusiaan di Bawah Pedang) Sunyi. “Buku itu ditulis oleh orang kalian sendiri. Tentang bagaimana kekuasaan tanpa belas kasih akan melahirkan generasi tanpa jiwa.” Beberapa tamu Belanda saling berpandangan. Satu dua dari mereka mengenali judul itu—buku langka, pernah dilarang, ditulis oleh seorang pendeta Belanda yang memilih membela kaum pribumi dan mati dalam pengasingan. Raka menatap lurus ke arah Jenderal van Rijkvoorde. “Kalian mengira kami diam karena takut. Padahal kami hanya menunggu waktu.” Sang Hyang Mada berdiri. Tangannya mencengkeram cincin. Aura segel mulai merayap di udara, membuat Raka menggigil dari dalam. Tapi ia tidak diam. “Dan waktu itu... sedang berjalan.” Suasana ruang makan kembali sunyi. Hening yang berat menggantung di atas kepala para tamu seperti kabut tebal yang tak bisa ditembus cahaya lilin. Jenderal van Rijkvoorde memiringkan kepalanya sedikit, lalu melirik ke arah Sang Hyang Mada yang masih berdiri di ujung meja. “Adikmu begitu... idealis,” ujarnya pelan, nyaris seperti sindiran. “Apa karena dia masih muda?” Sang Hyang Mada tak menjawab. Ia hanya menatap Raka dalam-dalam, lalu memutar cincin di jari tengahnya. Dalam sekejap, tubuh Raka kaku. Napasnya tercekat. Segel di lehernya menyala samar, seperti bara yang dipaksa menyala kembali di balik kulit. Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kerah bajunya yang sebelumnya rapi. Raka yang tadi berdiri tegak—terdiam dalam keberanian—kini terduduk kembali ke kursinya secara otomatis, seolah ditarik paksa oleh tangan tak kasat mata. Bahunya jatuh, kepalanya tertunduk, tubuhnya menggigil pelan. Ia mencoba bicara. Bibirmya bergerak. Tapi lidahnya tercekat—seperti dibelenggu dari dalam. Sh…. Ia hanya ingin menyelesaikan kalimat itu. Satu kalimat. Tapi sihir tua itu telah menutup seluruh rongga suaranya. Raksa dan Lodra, seakan sudah tahu waktunya, bergerak serempak dari belakang. Mereka menyentuh kedua bahu Raka. Sentuhan itu bukan perlindungan. Tapi penguncian. Segel magis yang tertanam di tulang dan darah Raka langsung dikunci dari dalam. Kekuatannya disedot perlahan, sampai ia bahkan tak sanggup merasakan detak jantungnya sendiri. Tak satu kata pun diucapkan oleh dua makhluk bayangan itu. Tapi seluruh tamu di ruangan merasakan isyarat yang jelas Akan ada hukuman malam ini. Dan itu bukan hukuman yang bisa dimengerti manusia biasa. Sang Hyang Mada duduk kembali. Wajahnya tetap tenang. Tak ada amarah. Tak ada ancaman. Karena untuk Mada... diam sudah cukup untuk menghancurkan. Cincin diputar semakin dalam.Gerak kecil di jari Mada seolah tak berarti—tapi bagi Raka, itu adalah vonis. Segel di lehernya menyala terang. Aksara Jawa itu berdenyut cepat, memompa panas seperti ribuan duri masuk dari tulang belakang hingga ke otaknya. Tubuhnya mulai limbung. Nafas tersengal. Ototnya kejang. Ia tak bisa bertahan. Dari kursinya, Raka hampir terjatuh. Tapi dua tangan cepat menangkapnya—Raksa dan Lodra. Bukan untuk menolong, melainkan untuk menyegel dan melemahkannya sepenuhnya. Tangan Raksa menekan titik di bahu kanan, sementara Lodra menyentuh lehernya perlahan—mantra tua mengalir dari telapak tangannya, seperti racun yang melumpuhkan jiwa. Sang Hyang Mada berdiri perlahan. Ia merapikan kerah batiknya. Wajahnya tetap tenang, nyaris sopan. Ia menoleh pada sang tuan rumah—Jenderal Belanda yang kini hanya bisa menatap dengan bingung dan hormat bercampur gentar. “Sepertinya, adikku sangat lelah.” Ia menunduk sedikit. Gestur aristokrat yang elegan. Lalu berjalan menuju pintu tanpa menunggu balasan. Raksa dan Lodra mengikuti, membawa Raka seperti bayangan remuk yang tak lagi punya suara. --- Langit Batavia diliputi awan tebal. Hujan belum turun, tapi udara terasa berat seperti menunggu sesuatu pecah. Raka terduduk di kursi dekat jendela kamarnya. Kemejanya setengah terbuka, tubuhnya masih basah oleh keringat dingin. Tato aksara Jawa kecil di lehernya tampak berdenyut pelan, seolah hidup. Cincin belum diputar lagi, tapi segelnya masih menyala samar—seperti arang yang belum mati. Langkah kaki terdengar di luar kamar. Berat. Beraturan. Pintu terbuka tanpa ketukan. Sang Hyang Mada masuk dengan langkah ringan, diikuti oleh Raksa dan Lodra yang seperti bayangan. Mada tidak langsung bicara. Ia hanya memandangi Raka—yang masih duduk tegak, mencoba menjaga sisa harga dirinya. “Kau berbicara malam ini,” ucap Mada tenang. “Kau mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya lahir dari mulut seorang bayangan.” Raka tidak menjawab. Tapi matanya menatap lurus. Lelah, tapi tetap menolak tunduk sepenuhnya. Cincin kembali diputar. Raka langsung jatuh dari kursinya, tubuhnya melengkung menahan rasa sakit yang luar biasa. Tangannya mencengkeram lantai, kuku-kukunya meninggalkan goresan. Tato kecil di lehernya menyala terang, aksara itu seolah membakar kulitnya dari dalam. Raksa dan Lodra bergerak bersamaan. Raksa Mencengkeram bahu kanan Raka. Lodra menyentuh punggungnya dengan satu telapak tangan besar. Sentuhan itu bukan hanya fisik—mereka menyuntikkan tekanan roh, mantra kuno yang meremukkan kekuatan batin dari dalam. Raka menggeliat, mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Ia ingin menjerit. Tapi lidahnya seperti diikat oleh mantra. Tubuhnya seperti dibuka dari dalam—tanpa pisau. Dan yang paling menyakitkan bukan rasa perih itu Tapi rasa hina karena tak bisa melawan. Sang Hyang Mada berjalan mendekat, lalu berjongkok di samping wajah Raka yang kini basah oleh air mata dan keringat. “Kau harus ingat, Adikku,” bisiknya lembut. “Kehendak adalah kemewahan. Dan kau... sudah kehilangannya sejak berabad-abad lalu.” Ia berdiri kembali. Memberi isyarat halus. Raksa dan Lodra mundur, dan seketika itu pula cahaya di leher Raka meredup. Tapi tubuhnya tetap tergeletak. Hanya bisa bernapas—terengah, lemah, dan diam. Cincin kembali berputar—lambat, dalam, memutar sihir leluhur yang masih bersemayam di logamnya. Segel di leher Raka menyala lebih terang. Tubuhnya limbung. Lututnya tertekuk paksa ke lantai.Bahunya menggigil. Napasnya pecah-pecah. Raksa dan Lodra menekannya bersamaan. Raksa mencengkeram bahu kanan, sementara Lodra menempelkan telapak tangannya ke punggung Raka. Mantra segel kembali aktif, menekan kekuatan Raka dari dalam—sampai ke akar nadinya. Raka jatuh bersimpuh.Kepalanya tertunduk. Darah menetes perlahan dari bibir yang pecah. Tidak ada jeritan. Tidak ada pembelaan Sang Hyang Mada melangkah pelan. Ia berdiri tepat di belakang Raka, bayangannya menutupi tubuh lelaki yang dulu adalah raja. “Begitulah seharusnya seorang bayangan,” ucapnya pelan. “Tunduk... tanpa diminta dua kali.” Ia menoleh ke arah Raksa dan Lodra. Isyarat kecil. Keduanya melepas cengkeraman mereka. Segel di leher Raka perlahan meredup, meski masih terasa panas. Tubuhnya tetap tak bergerak. Tak lebih dari raga yang dibungkam. Sang Hyang Mada tidak berkata lagi. Ia hanya berdiri. Tenang. Mengawasi. Seolah menikmati bagaimana kehendak yang dulu membakar dunia, kini dikubur di lantai kamar sendiri Segel di leher Raka menyala lagi. Aksara Jawa itu berdenyut seperti nadi terbalik, memompa sakit dari jiwa ke tulang. Raka mengerang. Tubuhnya menggigil hebat. Lidahnya tercekat, tenggorokannya luka. Tapi suara itu tetap dipaksa keluar oleh kekuatan mantra. “A… aku… tunduk… padamu…” Sang Hyang Mada menunduk sedikit. “Sebutkan namaku.” Raksa dan Lodra menekan bahunya. Tubuh Raka membungkuk lebih dalam, hampir rata dengan lantai. Segel di lehernya membakar. “S-s… Sang… Hyang… Mada…” Dan Mada hanya menatapnya. Puas dalam diam. Itulah kemenangan sejati: Bukan ketika musuhmu jatuh, tapi ketika ia sendiri mengaku kalah. Segel di leher Raka perlahan meredup, namun panasnya masih membakar dari dalam—seperti abu yang tak pernah padam. Raksa dan Lodra melepaskan cengkeraman mereka. Tapi bukan untuk membebaskan. Mantra segel sudah bekerja. Satu lapis baru dikunci malam itu—lebih dalam, lebih kejam. Apa yang tersisa dari kekuatan Raka, kini kembali dibungkam.Raka tetap bersimpuh. Tubuhnya gemetar. Bukan karena takut, tetapi karena dirinya sendiri hampir tak lagi ia kenali. Sang Hyang Mada menatapnya lama. Diam, tapi cukup untuk mengukuhkan kekuasaan. “Kau akan kembali tenang, Raka,” Mada berbisik pada telinga Raka. “Dan dalam tenang itu, tak ada yang boleh tumbuh… selain ketaatan.” Mada berbalik meninggalkan Raka Lodra membuka pintu perlahan. Raksa menyusul keluar lebih dulu. dalam kamar yang tampak biasa itu,seorang raja terdiam—bukan karena tak bisa bicara, tapi karena seluruh suaranya telah direnggut sejak berabad-abad lalu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Menyala Istri Sah!

read
4.4K
bc

Putri Zhou, Permaisuri Ajaib.

read
8.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.2K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
20.3K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
7.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook