1 - Duda
Seorang gadis berdiri di depan sebuah pagar rumah mewah. Aruna namanya. Gadis yang baru lulus kuliah, sengaja datang ke rumah tersebut karena satu tujuan.
Itu bukanlah rumah temannya, bukan pula rumah saudaranya, hanya rumah seseorang yang sudah belasan tahun tidak dikunjungi olehnya.
Aruna bahkan sebenarnya tinggal di luar kota, memilih datang lagi-lagi hanya karena satu tujuan. Tujuan yang sebenarnya tidak jelas. Belum tentu pula penghuni rumah tersebut masihlah orang yang sama, tapi Aruna ingin mencoba.
Setelah menghirup napas dalam-dalam, Aruna memberanikan diri untuk menekan bel. Cuaca yang panas tidak Aruna pedulikan. Ia hanya menunggu di sana. Sampai seseorang datang membuka pintu yang berada beberapa meter di depannya.
Wanita paruh baya. Aruna tidak ingat pernah melihatnya. Wanita itu nampak asing. Bahkan saat sampai di depan matanya, Aruna masih tidak mengenali.
Mungkin asisten rumah tangga baru, pikir Aruna.
"Iya, Mbak. Cari siapa, ya?" tanya wanita itu sopan. Tapi tetap dengan tatapan bingung. Jelas tidak mengenal Aruna.
Aruna tersenyum untuk menunjukkan bahwa ia bukanlah orang jahat. "Ini rumah Mas Arsen, 'kan?" tanyanya.
Betapa senangnya Aruna saat melihat wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Iya, tapi Bapak-nya kebetulan lagi gak ada di rumah. Lagi kerja. Mungkin baru pulang nanti malam, atau paling awal sore hari," katanya.
Aruna tidak bisa membayangkan bagaimana sosok bernama Arsen itu ketika sedang bekerja. Mungkin Arsen adalah salah satu pegawai di supermarket, mungkin juga salah satu pelayan di restoran, atau bisa juga merupakan pemiliknya. Berpakaian rapi dan berpenampilan dewasa. Membayangkannya saja membuat Aruna senyum-senyum sendiri.
"Kalau gitu, apa saya boleh nunggu di sini?"
Ya, tidak mungkin dong Aruna menawarkan dirinya sendiri untuk masuk ke dalam rumah, kalau si tuan rumahnya saja tidak melakukan hal itu. Tidak apa-apa panas-panasan. Paling tinggal enam jam lagi sampai Arsen pulang. Bisa lebih, bisa juga kurang. Ia bisa pergi mencari makan dulu nantinya.
Namun….
"Aduh, jangan dong, Mbak. Masa tunggu di sini? Cuacanya panas banget dan Mbak-nya juga cantik banget. Nanti keringetan, terus cantiknya luntur kalau kelamaan di bawah sinar matahari," guyon wanita di balik pagar. Membuat Aruna terkekeh geli.
Aruna dibukakan pagar kemudian. Dipersilakan masuk. Tentu saja Aruna langsung mengikuti. Menikmati halaman di balik pagar yang sedikit berbeda.
Matanya menyapu pandang, berhenti di bagian kanan halaman rumah. Dulu, di bagian taman bunga tersebut, sebelumnya adalah pohon mangga yang sangat besar. Ada satu ayunan di pohon tersebut. Aruna ingat bagaimana dirinya sering sekali datang hanya untuk naik ayunan. Lebih sering daripada pemiliknya sendiri yang selalu mengalah.
Pohon mangga itu sudah hilang, bersama ayunannya juga. Tapi kenangannya tidak.
"Mbak, Mbak!"
Aruna tersentak dari lamunannya. Tidak sadar bahwa wanita yang ia ikuti sudah berada di teras depan. Mungkin belasan langkah di depannya.
"Eh, iya maaf, Bu." Aruna buru-buru melanjutkan langkah.
"Jangan panggil ibu, panggil bibi aja."
Aruna tertawa. "Iya, Bi." Mengambil saran itu. Terasa lebih akrab juga.
Pintu dengan cat putih itu didorong terbuka. Aruna dipersilakan masuk. Udara panas yang sejak tadi menusuk kulitnya, berganti dengan sejuknya air conditioner di bagian dalam rumah.
Jauh berbeda, itulah yang ada di pikiran Aruna. Bagian dalam rumah Arsen sangat jauh berbeda dari yang terakhir kali diingatnya. Saat diminta duduk di sofa, Aruna melihat-lihat. Menyadari bahwa yang yang berubah hanyalah furniture-nya saja.
"Mbak-nya namanya siapa?" Wanita itu bertanya.
"Aruna, Bi."
"Arna?"
"Aruna, Bi!" Aruna menegaskan lebih keras.
Wanita itu mengangguk. "Saya Ririn, pembantunya Pak Arsen."
Gantian Aruna yang mengangguk. Wanita yang mengaku bernama Ririn itu pamit pergi untuk mengambil minuman. Awalnya Aruna berkata bahwa itu tidak perlu, meski tenggorokannya kering kerontong karena memang belum minum sejak tadi. Tapi basa-basi itu 'kan perlu. Yang akhirnya tidak membuat Bi Ririn mengurungkan niatnya untuk mengambilkan minuman.
Aruna menunggu tidak lama. Bi Ririn kembali dengan nampan berisi air minum dan sedikit camilan. Mungkin merasa tidak enak kalau hanya menyajikan air minum saja, karena sebelumnya Aruna mengatakan akan menunggu sampai Arsen pulang.
"Mbak-nya temen Pak Arsen atau gimana? Kok saya gak pernah liat?" Bi Ririn bertanya saat menyajikan apa yang dibawanya. Meletakkan nampan di sisi meja yang kosong dan ikut duduk di sofa lain yang tidak diduduki oleh Aruna.
"Bukan, Bi. Saya dari luar kota. Baru lulus kuliah belum lama ini. Sengaja ke sini buat nyari kerjaan."
"Kok bisa kenal sama Pak Arsen?"
"Kebetulan waktu kecil saya pernah tetanggaan sama Mas Arsen. Gak lama sih, cuma satu tahun, tapi saya masih inget alamatnya dengan baik. Rumah yang ada di kiri itu dulunya rumah saya. Sekarang udah berubah banyak." Aruna terkekeh pelan, "kebetulan gak ada orang lain yang saya kenal di sini, cuma Mas Arsen sama keluarganya aja. Dan untungnya Mas Arsen masih tinggal di sini."
"Oh, gitu."
"Kalau Tante Iris sama Om Ghofar lagi kerja juga?" Aruna bertanya. Sedikit penasaran. Soalnya dulu ibu Arsen selalu berada di rumah. Hanya ayahnya saja yang bekerja. Tapi sekarang ia tidak melihat siapa-siapa selain asisten rumah tangga Arsen.
"Oh, Mereka. Kalau mereka udah gak tinggal di sini. Awalnya sih dulu Pak Arsen yang mau pindah dah beli rumah lain, tapi Pak Ghofar bilang kalau dia udah beli rumah. Jadi akhirnya rumah ini ditempatin sama Pak Arsen."
Aruna sedikit bingung. Kenapa mereka harus berada di rumah yang berbeda padahal mereka adalah satu keluarga?
Pertanyaan itu segera terjawab tak lama kemudian. Terdengar suara langkah kaki terburu-buru dari arah tangga. Seperti bukan hanya dari satu orang saja. Dan benar, bola mata Aruna berhasil nyaris dibuat keluar saat melihat siapa yang menjejakkan kakinya di lantai dasar.
Dua anak perempuan berusia sekitar enam atau tujuh tahun datang menghampiri Bi Ririn. Membuat Bi Ririn berdiri dan berkacak pinggang saat dua anak itu berhenti.
"Astaga, Non Bintang, Non Binar. 'Kan udah saya bilang jangan lari-larian pas lagi di tangga. Kalau kalian jatuh gimana?"
"Tapi 'kan gak jatuh, Bi." Salah satu anak berbicara. Menganggukan kepala pada anak lainnya sebagai kode. Dan anak itu ikut mengangguk.
Aruna tidak bisa membedakan mana yang bernama Bintang dan mana yang bernama Binar. Pasalnya mereka adalah anak kembar. Berpakaian hampir sama, hanya saja warnanya yang berbeda. Yang satu rambutnya dikuncir dua, satunya lagi dikepang dua.
"Oh iya, Mbak." Bi Ririn menatap Aruna, "kenalin, ini Non Bintang sama Non Binar. Anaknya Pak Arsen"
Aruna tertegun di tempatnya.
Saat dua anak kembar itu datang, Aruna memang sangat terkejut, tapi ia bisa menduga bahwa dua anak itu memanglah anak Arsen, meskipun ingin menyangkalnya. Dan saat mendengar kebenarannya dari Bi Ririn, keterkejutan itu bertambah parah. Karena Bi Ririn baru saja membenarkan dugaan yang disangkal mati-matian oleh Aruna.
Arsen sudah punya anak. Kembar pula. Tidak mungkin kan kalau Arsen memiliki anak begitu saja? Pasti ada ibunya.
Ya, fakta itulah yang sebenarnya mematahkan semangat Aruna. Jujur saja, kedatangan Aruna ke sini, jauh-jauh dari luar kota, bukan hanya ingin mendapatkan pekerjaan. Ia ingin mengejar Arsen. Laki-laki idamannya semasa kecil, yang ia harap masih sendiri.
Usianya dengan Arsen terpaut cukup jauh, tapi tetap saja Aruna ingin mengambil kesempatan kalau-kalau Arsen belum menikah. Dan hilang sudah kesempatan itu, ditelan kenyataan pahit.
"Itu siapa, Bi?" Salah satu anak berbicara. Aruna berusaha tetap tersenyum.
"Tamunya Papa kalian."
Aruna tersenyum semakin lebar. Melambaikan tangannya lembut pada kedua anak itu sambil berkata 'hai' dengan nada yang dibuat sesemangat mungkin.
"Hai juga." Keduanya menyahut bersamaan.
Bi Ririn terkekeh. Mengusap kedua kepala mereka bergantian. "Gimana kalau kalian telepon Papa kalian. Bilang sama Papa supaya cepet pulang, soalnya ada tamu yang lagi nunggu di rumah," tawarnya.
Bintang dan Binar mengangguk. Dengan cepat memutar tubuh dan kembali berlari ke arah tangga.
"Inget! Jangan lari pas di tangga!" Bi Ririn kembali memperingatkan.
Kali ini didengarkan. Dua anak Arsen hanya berlari di lantai dasar saja. Saat menaiki anak tangga, mereka melangkah dengan hati-hati.
Aruna tidak suka dengan fakta bahwa Arsen sudah menikah, tapi ia juga tidak bisa memungkiri bahwa kedua anak Arsen sangat manis dan lucu.
Aruna bertanya saat Bi Ririn sudah kembali duduk. "Mamanya mereka ke mana, Bi? Lagi gak ada di rumah?"
Tidak! Aruna jelas tidak ingin melihat wanita itu. Sekali lagi, ia hanya basa-basi. Sebagai tamu, sudah pasti akan aneh jika menunjukkan dengan terang-terangan bahwa ia tidak ingin wanita itu berada di hidup Arsen. Tapi ya, namanya juga takdir. Tidak bisa disesuaikan dengan rencana kita. Kalau Arsen sudah menikah, maka ia hanya perlu benar-benar mencari pekerjaan. Mengubur niatnya untuk mengejar Arsen.
"Oh, itu. Saya gak bisa cerita banyak. Tapi Mas Arsen itu duda. Sudah pisah dengan istrinya."
Saking sibuknya mencerna apa yang baru saja terjadi, Aruna bahkan tidak menyadari bahwa raut wajah Bi Ririn berubah saat ia menanyakan tentang ibu dari Bintang dan Binar.
"Duda?" tanya Aruna setengah berteriak.
"Iya, duda."
Belum sampai satu jam berada di rumah Arsen, bahkan bertemu dengan orangnya langsung saja belum, tapi Aruna sudah dibuat terkejut berkali-kali.
Ya Allah, maafin Aruna yang malah seneng pas tahu kalau Mas Arsen ternyata duda.
Aruna benar-benar tidak suka fakta tentang Arsen yang sudah menikah, apalagi sudah punya anak. Tapi begitu tahu bahwa Arsen adalah seorang duda, tidak salah bukan kalau Aruna menganggap ada kesempatan untuknya?
Ya, kedatangannya memang hanya ingin mendekati Arsen. Tujuan paling bodoh dalam hidupnya. Karena ia bahkan hanya mengenal Arsen selama satu tahun, itu pun belasan tahun yang lalu. Mungkin Arsen sendiri sudah lupa padanya, tapi Aruna tidak.
Niat hati ingin mencari seorang laki-laki, Aruna malah menemukan hal lain. Bahwa laki-laki itu sudah menikah, sudah punya anak dua pula. Niatnya kini sedikit berubah. Ia yang baru berusia dua tiga, akan berurusan dengan Arsen. Duda dua anak yang berusia tiga lima.
Yang dicari memang satu orang, tapi kalau sekalian dapat buntutnya juga tidak masalah. Akan dengan senang hati Aruna a terima.