Siang itu dilangsungkan acara syukuran kehamilan Dita yang sudah menginjak empat bulan, sekaligus pengajian di kediaman Bu Dewi, mertuanya. Selain memohon doa untuk kehamilan Dita, juga doa untuk keluarga Bu Dewi yang akan berangkat umrah minggu depan.
Berhubung Rendra, suami Dita, sudah kenal dengan Kaisar, jadi perwira polisi itu juga diundang. Dia pun datang karena sedang tidak bertugas. Sejak datang, Kaisar duduk dan mengobrol dengan Adi, sahabatnya.
"Kai, kamu sudah enggak cinta sama adikku lagi ‘kan?" tanya Adi sambil berbisik pada Kaisar.
Perwira polisi yang mengenakan kemeja batik itu menghela napas panjang. "Menghilangkan rasa dalam sekejap itu bukan hal yang mudah, Di. Yang jelas, aku sudah tidak mengharapkan Dita lagi. Aku senang melihat Dita bahagia dengan suaminya. Nanti seiring waktu juga pasti akan hilang dengan sendiri perasaan itu," jawab Kaisar.
"Kamu mau aku kenalin sama kakaknya Rendra? Kenalan saja, Kai. Siapa tahu cocok dan kalian berjodoh. Kalaupun tidak cocok, kamu bisa tambah teman," tawar Adi yang merasa kasihan melihat sahabatnya masih betah menyendiri dan terus menyibukkan diri dengan pekerjaan sejak Dita menikah.
Kaisar tertawa sambil menggelengkan kepala. "Segitunya kamu ingin aku melupakan Dita, Di."
"Bukan begitu, Kai. Tapi aku kasihan saja sama kamu," aku Adi.
"Kasihan?" Kaisar mengernyit. "Why? I'm fine. I'm okay. I’m single and I’m happy, Di."
"Nanti kalau kita jalan bareng, kamu enggak punya gandengan, Kai," ejek Adi.
"Ealah, gitu doang. Kirain apaan." Kaisar tertawa lebar.
"Nanti habis pengajian jangan langsung pulang. Aku kenalin ya, Kai. Dia juga masih sendiri. Nasibnya sama kaya aku dilangkahi sama adiknya," bujuk Adi.
Kaisar tidak enak menolak sahabatnya yang berniat baik. "Iya—iya."
Sesudah acara syukuran dan pengajian itu selesai, Kaisar tak langsung pulang. Dia masih bercengkerama dengan Adi di depan rumah Bu Dewi.
"Ai, sini." Adi memanggil istrinya yang sedang duduk mengobrol dengan Shasha di ruang tamu.
“Sebentar ya, Mbak. Aku dipanggil Mas Adi.” Adelia pamit pada Shasaha sebelum bangkit dari duduk dan menghampiri suaminya yang duduk di depan rumah Bu Dewi. "Ada apa, Mas?" tanyanya pada Adi.
"Tolong ajak Shasha ke sini, Ai. Mau aku kenalkan sama Kai," jawab Adi sambil tersenyum pada istrinya.
Adelia mengangguk dan membalas senyum suaminya. Dia kembali menghampiri Shasha. “Mbak, diminta keluar sama Mas Adi,” ucapnya pada kakak Rendra itu.
Shasha mengernyit. “Ada apa ya?”
“Mau dikenalin sama temannya,” jawab jujur Adelia.
Shasha tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Ya ampun, Mas Adi ada-ada saja pakai mau ngenalin temannya.”
“Mau ya, Mbak. Temannya Mas Adi ini polisi ganteng yang kemarin bantu pas Mas Adi ditabrak Restu,” bujuk Adelia.
Merasa tak enak hati bila menolak niat baik pasangan suami istri itu, Shasha akhirnya setuju dikenalkan. Dia pikir tak ada salahnya menambah teman. Walaupun dia yakin niat Adi ingin menjadi makcomblang mereka. Shasha dan Adelia pun menghampiri Adi.
"Ada apa cari aku, Mas?" tanya Shasha pada Adi sekadar berbasa-basi. Tak pantas kalau dia langsung bertanya siapa yang akan dikenalkan dengannya.
"Kenalkan ini temanku, Kai," kata Adi sambil menepuk bahu Kaisar yang sedang menunduk dan tampak sibuk dengan gawainya.
"Kai, kenalkan ini Shasha. Shasha kenalkan ini Kaisar." Adi saling memperkenalkan mereka.
Kaisar mendongak. Dia dan Shasha sama-sama terkejut saat saling melihat.
"Ini Mas Kai, kakaknya Tirta bukan?" tanya Shasha tak yakin.
"Iya, aku kakaknya Tirta. Bukannya namamu Alesha?" Kaisar mengerutkan keningnya setelah mengingat teman dekat sang adik yang sering datang ke kontrakannya.
"Iya namaku memang Alesha, tapi di rumah aku dipanggil Shasha," terang Shasha.
Kaisar pun mengangguk setelah mendengar penjelasan Shasha. "Oh, ya—ya."
"Lho, kalian berdua sudah saling kenal ternyata." Adi melongo melihat Kaisar dan Shasha yang sudah saling mengenal.
"Mas Kai ini kakaknya Tirta, temanku kuliah. Dulu aku sering main ke kontrakan mereka pas masih kuliah. Kadang-kadang aku ketemu Mas Kai kalau beliau sedang tidak dinas," terang Shasha.
"Wah, kebetulan dong kalau sudah saling kenal jadi gampang," tukas Adi.
"Gampang apanya, Mas?" Shasha mengernyit, tidak mengerti apa yang dimaksud Adi.
"Gampang akrablah," sahut Adi sambil melirik Kaisar yang terus menyunggingkan senyum.
"Gabung sini Sha, kita ngobrol bareng," ajak Adi. Dia mengambil satu kursi lalu diletakkan di hadapan Kaisar.
"Iya, Mas." Shasha lalu duduk di kursi tersebut. Sedangkan Adelia duduk di samping Adi.
"Gimana kabarnya Tirta, Mas Kai?" Shasha tampak antusias bertanya soal teman kuliahnya.
"Alhamdulillah baik. Memangnya kalian tidak pernah berhubungan?" Kaisar menatap Shasha dengan pandangan heran.
"Nomornya Tirta hilang, Mas. Dulu aku simpan di ponsel lamaku. Aku lupa back up ke email. Pas ponselku rusak, hilang semua kontaknya." Shasha mengungkapkan alasannya.
"Aku nanti minta nomornya Tirta ya, Mas," lanjut Shasha.
Kaisar mengangguk. "Boleh, nanti aku kasih."
"Tirta kerja di mana, Mas? Dia sudah nikah apa belum?" Shasha memberondong pertanyaan pada Kaisar.
"Tirta belum nikah. Kerja jadi ASN sekarang. Belum lama selesai pra jabatan terus diangkat jadi ASN," jawab Kaisar dengan kalem.
"Wah keren Tirta. Dia di Jogja ‘kan Mas dinasnya?" tanya Shasha lagi.
Kaisar menggeleng. "Bukan di Jogja tapi di Magelang."
"Oh, dekat kalau gitu," gumam Shasha.
"Ya, lumayan. Dia kos di sana. Pulang kalau pas weekend,” sahut Kaisar.
"Mas Kaisar jadi sendiri dong di kontrakan," tebak Shasha.
"Makanya ditemani biar dia tidak sendirian lagi, Sha." Adi menyela pembicaraan Kaisar dan Shasha. Sejak awal dia memang jadi pendengar setia sekaligus menemani agar mereka tidak berduaan.
Shasha menoleh pada Adi. "Maksudnya apa ya, Mas?"
"Ya, kamu bisa main ke sana ‘kan temani Kaisar," sahut Adi sambil tertawa usil.
Shasha mencibir Adi setelah dia sadar kalau sedang digoda kakak ipar Rendra itu.
"Kamu sendiri kerja di mana, Sha?" tanya Kaisar untuk mencairkan suasana.
"Aku kerja di kantor akuntan publik, Mas," jawab Sasa.
"Pekerjaanmu juga keren," puji Kaisar dengan tulus.
"Biasa saja, Mas. Jadi buruh swasta aku, bukan pegawai negara seperti Mas Kai dan Tirta," seloroh Shasha.
“Mau kerja jadi pegawai swasta atau negeri yang penting kerjanya halal. Semua tetap punya tanggung jawab pada pekerjaannya,” sahut Kaisar.
"Aturan di swasta itu lebih ketat, Mas. Dalam kontrak kerja tidak boleh nikah selama 2 tahun. Kalau melanggar otomatis keluar dan tidak jadi karyawan tetap. Harus siap pergi ke luar kota kalau ada tugas. Bisa sebulan perginya, bisa juga cuma sehari. Tergantung hal yang ditangani. Makanya aku jarang ada di rumah karena lebih sering ke luar kota." Shasha menerangkan pekerjaannya.
Kaisar mengangguk-angguk saat mendengar Shasha bicara. “Kita sama saja, Sha. Aku juga harus siap 24 jam kalau dapat panggilan tugas. Siap mati untuk membela bangsa dan negara. Sesuai dengan sumpah kami,” timpal Kaisar.
“Lebih berat Mas Kai ternyata. Tapi memang sudah risiko jadi abdi negara ya, Mas,” lontar Shasha.
“Seperti yang aku bilang tadi, semua punya tanggung jawab pada pekerjaannya. Setiap pekerjaan pasti berbeda tanggung jawab dan risikonya. Tinggal kita bisa menjalaninya dengan baik atau tidak. Oh ya, memangnya di kontrak kerjamu benar-benar tidak boleh nikah?" Kaisar menatap Shasha.
"Iya, Mas. Memang kita dituntut untuk fokus pada pekerjaan selama dua tahun. Kalau sudah dua tahun ya bebas sih. Makanya kemarin pas Rendra mau nikah dulu, aku tidak masalah karena kontrak itu,” terang Shasha.
"Sekarang masih terikat kontrak?" tanya Adi yang kembali menyela Shasha dan Kaisar.
"Bulan November besok pas dua tahun," jawab Shasha.
"Wah sebentar lagi dong, Mbak." Adelia ikut menyahut.
Shasha mengangguk. "Iya, enggak sampai 4 bulan."
"Sudah ada calon belum ini?" tanya Adi dengan bercanda.
"Calon apa, Mas?" Shasha balik bertanya sambil tertawa.
"Ya, calon suami lah masa calon presiden," balas Adi.
Shasha menggeleng. "Belum. Kenapa? Mas Adi mau kenalin aku sama seseorang?" tanyanya.
"Lha itu ternyata kamu sudah kenal sama Kaisar. Rencananya aku mau kenalin kalian. Setahuku kalian sama-sama jomlo jadi enggak masalah ‘kan. Umur kalian juga sudah cukup untuk menikah," ujar Adi.
Shasha tertawa lebar setelah mendengar kata-kata Adi. Bagaimana mungkin Adi berpikiran mau menjodohkan dia dengan Kaisar. Lagian dia juga belum berpikir untuk menikah. Dia ingin mengejar karir mumpung masih muda dan bebas bergerak ke mana saja.
"Kenapa tertawa?" tanya Adi dengan kening berkerut.
"Mas Adi lucu," jawab Shasha.
"Apanya yang lucu, Sha. Aku serius. Kalian sudah sama-sama dewasa. Setidaknya kalian bisa lebih saling mengenal. Kalau cocok ya dilanjut, enggak ya berteman saja," kata Adi dengan mimik serius.
Shasha menghentikan tawanya. Dia lalu menoleh pada Kaisar.
"Apa Mas Kai juga berpikiran sama seperti Mas Adi?" tanya Shasha tanpa basa basi.