Kaisar tersenyum mendengar pertanyaan Shasha. "Itu sih keinginannya Adi. Setelah aku pikir-pikir, bisa dicoba kalau kamu mau," jawabnya.
Shasha tersenyum. "Aku membuka pertemanan dengan siapa saja. Tapi aku tidak bisa dengan mudah membuka hatiku."
"Ya sudah, kalau begitu kita berteman. Aku tidak hanya sebagai kakaknya Tirta saja." Kaisar mengulurkan tangannya.
Shasha menyambut uluran tangan tersebut. Keduanya kemudian bersalaman sebagai tanda dimulainya pertemanan. Mereka kemudian mengobrol lagi seperti biasa.
"Nomornya Tirta berapa ya, Mas Kai?" tanya Shasha saat Kaisar pamit mau pulang karena harus bekerja.
"083—” Belum selesai Kaisar menyebutkan nomor sang adik, dipotong oleh Shasha.
"Duh Mas, maaf. Aku lupa kalau ponselku ada di kamar." Shasha mengatupkan kedua tangan di depan d**a.
"Kalau begitu sebutkan saja nomormu, nanti aku kirimi nomornya Tirta." Kaisar memberikan solusi. Dia bersiap mengetik di ponsel pintarnya.
"08384033xxxx." Shasha menyebutkan nomornya.
Kaisar lalu mengulang menyebut nomor gadis itu agar tidak salah menyimpan.
"Iya, benar,” sahut Shasha.
“Aku simpan pakai nama Alesha atau Shasha nih?” Kaisar mengerling pada kakak Rendra itu.
“Terserah Mas Kai nyamannya pakai nama apa,” timpal Shasha.
"Oke. Shasha saja kalau begitu. Ini langsung aku kirimkan nomornya Tirta," kata Kaisar sambil mengutak-atik gawainya.
"Makasih, Mas Kai." Shasha tersenyum pada Kaisar.
"Sama-sama." Kaisar membalas senyum Shasha.
"Kemajuan nih sudah langsung tukeran nomor hape," goda Adi.
Kaisar hanya tertawa menanggapi godaan Adi, sementara Shasha mencibir kakak kandung Dita itu.
"Aku pulang dulu ya, maaf enggak bisa lama-lama. Ada tugas negara," kata Kaisar.
"Makasih ya, Mas Kai, sudah mau datang ikut mendoakan Dita," ucap Shasha.
"Rendra sama Dita mana ya? Aku mau pamit sama mereka." Kaisar celingukan mencari dua sejoli itu.
"Kayanya mereka di dalam. Masuk saja yuk Mas, aku antar." Shasha mengajak Kaisar masuk ke rumah menemui Rendra dan Dita serta keluarga yang lain.
Rendra mengernyit melihat Shasha mengantar Kaisar untuk pamit padanya dan Dita. Mereka terlihat sudah akrab. Sepengetahuannya, Shasha sama sekali belum pernah bertemu dengan perwira polisi itu. Begitu juga mamanya dan Nisa. Jadi, agak aneh rasanya kalau langsung akrab. Namun, dia tak langsung bertanya karena masih banyak orang di rumahnya.
“Rendra, Dita, aku pamit dulu karena harus tugas,” ucap Kaisar pada keduanya.
Rendra mengangguk. “Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang, Mas.” Dia menyalami perwira polisi itu sambil tersenyum ramah.
“Sama-sama. Semoga semua dilancarkan ya baik kehamilan, kelahiran, dan umrahnya,” timpal Kaisar.
“Aamiin,” jawab Rendra dan Dita.
“Ini dibawa buat teman-teman di kantor, Mas.” Dita menyerahkan tas yang berisi dua kotak kue.
“Kok banyak banget?” tanya Kaisar.
“Teman-temannya ‘kan banyak, Mas. Biar merata,” ucap Dita yang mengangsurkan bingkisan tersebut.
“Terima kasih. Semoga kalian senantiasa dilapangkan rezekinya.” Kaisar akhirnya mengambil tas itu.
“Aamiin,” ucap Rendra dan Dita bersamaan.
“Assalamu’alaikum,” salam Kaisar sebelum meninggalkan mereka.
“Wa’alaikumussalam.” Rendra lalu mengantar perwira polisi itu sampai di depan rumah.
Sebelum pergi, Kaisar pamit pada Adi dan Adelia. Setelah itu dia melajukan motornya menuju kantor.
***
Sesudah makan malam, keluarga Bu Dewi bercengkerama di ruang keluarga. Di sana mereka selalu berbagi cerita tentang apa saja. Dari hal yang lucu sampai hal yang sangat serius.
"Pria yang tadi kamu antar pamit sama Rendra dan Dita siapa, Sha?" tanya Ibu Dewi pada putri sulungnya yang sedang memilih saluran televisi.
"Maksud Mama, Mas Kai?" Shasha menoleh pada mamanya.
"Mama tidak tahu siapa namanya, Sha,” sahut Bu Dewi.
“Namanya Kaisar, Ma. Aku manggilnya Mas Kai,” jelas Shasha.
"Gebetan baru Kak Shasha kayanya, Ma," celetuk Nisa sambil cekikikan.
"Anak kecil diem! Jangan sok tahu!" Shasha melotot pada Nisa. Tapi bukannya takut, adiknya itu justru tertawa lebar.
"Nis," tegur Bu Dewi. Seketika Nisa langsung diam sambil cemberut.
"Mama, enggak asyik nih," gerutu Nisa.
"Kamu tuh sukanya nyamber aja kalau ada orang ngomong, Nis," omel Shasha.
"Sudah—sudah jangan ribut lagi." Bu Dewi menengahi kedua putrinya.
"Jadi yang namanya Kaisar itu siapa, Sha?" Bu Dewi kembali bertanya pada Shasha.
"Mas Kai itu polisi yang kemarin bantu kasus Mas Adi, Ma. Dia itu kakaknya Tirta teman kuliahku. Mama ingat Tirta enggak?" terang Shasha.
"Tirta yang mana?" Bu Dewi mengernyit, mencoba mengingat teman-teman Shasha yang sering datang ke rumah.
"Itu loh Ma, Tirta yang suka bikin macem-macem makanan. Yang suka minta resep sama Mama," jelas Shasha.
Bu Dewi menganggut. "Oh, iya-iya, mama ingat si Tirta. Apa kabarnya dia sekarang?"
"Kata Mas Kai baik. Dia sekarang sudah jadi ASN di Magelang, Ma," ujar Shasha.
"Loh memangnya kamu tidak pernah berhubungan sama Tirta lagi?" Bu Dewi mengerutkan kening.
"Sejak ponselku rusak itu sudah tidak pernah lagi, Ma. Semua kontak ‘kan hilang. Makanya tadi aku minta nomornya Tirta sama Mas Kai," terang Shasha.
"Sampaikan salam Mama ya buat Tirta. Tanyakan kapan main ke sini lagi," pesan Bu Dewi.
Shasha mengangguk. "Insya Allah nanti aku sampaikan, Ma."
"Ma, kapan kita jadi beli koper?" tanya Nisa yang menyela Shasha.
"Koper terus dipikirin," sindir Shasha.
"Kak Shasha kenapa sih sewot? Aku kan belum punya koper sendiri. Masa ya umrah dan liburannya pakai ransel sendiri," gerutu Nisa.
"Ya enggak apa-apa kan. Malah ala-ala backpacker gitu, kan lebih seru," sahut Shasha.
"Ish, Kak Shasha nyebelin." Nisa melirik kesal pada kakaknya.
"Sha, jangan digoda terus adiknya," tegur Bu Dewi pada putri sulungnya.
Nisa menjulurkan lidah pada Shasha setelah mamanya membela dia. Shasha memutar bola mata menanggapi adik bungsunya itu.
"Assalamu'alaikum," salam Rendra yang baru masuk rumah bersama Dita. Mereka tadi makan malam di rumah Adi karena kedua orang Dita ada di sana.
"Wa'alaikumussalam,” jawab Bu Dewi, Shasha, dan Nisa.
"Wih, ada apa ini pada ngumpul-ngumpul di sini?" tanya Rendra yang ikut duduk di ruang tengah bersama Dita.
"Ini tadi mama tanya soal Mas Kaisar sama Shasha. Terus Nisa mau beli koper," jawab Bu Dewi.
"Memangnya kenapa sama Mas Kai, Ma?" Rendra mengernyit tak suka.
Bu Dewi memandang anak lelaki satu-satunya itu. "Mama hanya penasaran karena belum pernah melihat Kaisar. Kok tadi kayanya akrab sama kakakmu,” jawabnya.
Rendra menoleh pada sang kakak. Wajahnya menunjukkan raut tak senang. "Memangnya Kak Shasha kenal sama Mas Kai?”
"Mas Kai itu kakaknya teman kuliahku, Ren. Ingat enggak teman kuliah kakak yang namanya Tirta? Yang dulu kamu kira cowok,” jawab Shasha sambil menatap sang adik.
Rendra mengernyit. Mengingat teman-teman kakaknya yang dahulu sering main ke rumah. “Iya, aku ingat. Kak Shasha enggak ada hubungan apa-apa ‘kan sama Mas Kai selain kenal karena teman kakak itu?"