Bab 4. Cinta Pertama Kaisar

1092 Kata
Shasha menggeleng mendengar pertanyaan sang adik. “Mana mungkin kami ada hubungan, Ren. Aku udah lama banget enggak ketemu Mas Kai. Dulu kalau main ke kontrakan Tirta juga jarang ketemu. Itu tadi Mas Adi mau kenalin aku sama Mas Kai, eh ternyata aku udah kenal orangnya," jelasnya sambil mengikik geli. "Maksud Mas Adi apa sih pakai acara kenalin Kak Shasha sama Mas Kai," gerutu Rendra. "Mana kakak tahu, tanya sendiri aja sama Mas Adi," sahut Shasha dengan santai, berbanding terbalik dengan adiknya yang tampak serius. "Memangnya kenapa Ren kalau Kak Shasha kenal sama Mas Kaisar? Mama lihat orangnya baik." Bu Dewi kembali menatap putra satu-satunya itu. "Mas Kai memang baik, Ma. Tapi, Rendra enggak begitu suka sama dia,” timpal suami Dita itu. "Apa yang membuat kamu enggak suka? Apa hal yang prinsip?" Bu Dewi jadi merasa penasaran. "Ya, Rendra enggak suka aja. Enggak ada alasan khusus," jawab Rendra. "Benar enggak ada alasan khusus, Mas?" Dita menimpali suaminya. "Bukan karena Mas Rendra masih merasa cemburu sama Mas Kai?" "Cemburu? Kenapa aku harus cemburu?" elak Rendra sambil memegang tengkuknya. Dita terkekeh. "Yang kapan hari ngambek siapa gara-gara Mas Kai kirim salam ke aku?" ledek ibu hamil itu. "Sayang, kenapa mengungkit hal itu?" Rendra melirik kesal istrinya, tapi ditanggapi Dita dengan tertawa. "Rendra cemburu sama Mas Kai?" tanya Shasha tak percaya. Dita mengangguk sambil tertawa. "Iya, Mbak." Shasha tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Dita, Nisa pun ikut tertawa. Sementara Bu Dewi hanya tersenyum simpul. "Tertawa saja sampai puas," sindir Rendra. "Lagian kamu tuh ya Ren, istrimu saja sedang hamil bisa-bisanya cemburu sama cowok lain. Padahal Dita tiap hari maunya nempel terus sama kamu. Hal yang wajar ‘kan kirim salam buat adik temannya, sekedar basa basi," kata Shasha. "Kak Rendra sudah bucin banget sama Mbak Dita tuh makanya kaya gitu," celetuk Nisa. "Cemburu boleh Ren, tapi yang sewajarnya, jangan sampai berlebihan," tutur Ibu Dewi. "Iya, memang aku cemburu. Siapa yang enggak cemburu ada cowok yang suka sama istrinya terus kirim salam segala." Rendra akhirnya mengungkapkan alasannya cemburu. "Hah, Mas Kai suka sama Dita?" Shasha terkejut. "Mas Rendra jangan asal omong deh," tegur Dita. "Aku enggak asal ngomong, Sayang. Aku ini pria. Aku tahu gimana sikap pria kalau suka sama wanita. Mas Kai itu suka curi-curi pandang sama Sayang. Kalau Sayang enggak percaya tanya sama Mas Adi." Rendra membela diri. "Makanya aku enggak suka kalau Mas Kai dekat sama Kak Shasha. Aku takutnya dia modus saja, pura-pura dekat Kak Shasha tapi niatnya biar dekat sama Dita," ungkap Rendra. "Astaghfirullah. Jangan suka suuzan, Mas." Dita mengingatkan suaminya. “Sebentar, kayanya aku ingat sesuatu. Dita, dulu kamu pernah kecelakaan enggak pas SMA? Waktu itu Mas Kai sudah jadi polisi.” Shasha bertanya pada adik iparnya. Dita mengangguk. “Pernah, Mbak. Waktu berangkat ke sekolah aku naik motor sendiri. Di tengah jalan aku ditabrak orang. Tulangku retak terus digips. Karena itu aku trauma naik motor sampai sekarang. Kalau tidak salah ingat, Mas Kaisar pernah cerita dia juga ke rumah sakit pas aku kecelakaan. Mas Adi bilang Mas Kaisar yang bantu mempercepat proses penangkapan orang yang nabrak aku,” terangnya. “Berarti benar dugaan Rendra. Mas Kai itu memang suka sama kamu sejak dulu. Soalnya waktu itu aku lagi main di kontrakan Tirta pas Mas Kai dapat telepon kalau kamu kecelakaan. Terus dia langsung pergi ke rumah sakit. Tirta juga cerita kalau Mas Kai suka sama adik sahabatnya dari SMA. Mas Adi ‘kan sahabatnya Mas Kai, jadi fix deh memang kamu yang dulu ditunggu sama dia,” papar Shasha tanpa memikirkan perasaan adiknya. “Mbak Shasha nih ada-ada saja. Aku sama Mas Kaisar biasa saja sejak dulu. Dia enggak pernah godain aku kaya teman Mas Adi yang lain,” timpal Dita sambil melirik suaminya. “Mas Kai itu kalau aku lihat tipe orangnya serius. Jadi, enggak akan main-main. Dia bukan cowok yang suka godain cewek. Mungkin sebenarnya Mas Kai udah nunjukin kalau perhatian, tapi kamunya yang enggak peka,” ujar Shasha. “Aku enggak tahu soal itu, Mbak. Cowok yang berani nembak aku, terus datang ke rumah cuma Mas Rendra. Jadi, enggak pernah ada cowok lain yang aku cintai.” Dita melingkarkan lengannya pada Rendra yang wajahnya tampak tak bersahabat. "Itu ‘kan sudah menjadi masa lalu. Pasti Mas Kaisar sudah melupakan Dita. Dia juga ingin membuka lembaran baru. Kalaupun Mas Kaisar kadang mencuri pandang, itu hanya kagum karena lama tidak bertemu. Mama yakin kalau Mas Kaisar tidak akan pernah berniat merebut Dita darimu, Ren. Dengar sendiri ‘kan tadi kalau hanya kamu yang dia cintai." Bu Dewi ikut angkat bicara agar putranya tidak berprasangka buruk pada sang perwira polisi. "Cemburu memang tanda cinta, Ren. Tapi jangan setiap pria yang kenal Dita, kamu cemburui. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kamu harus berusaha mengendalikan rasa cemburumu," nasihat Bu Dewi pada Rendra. "Iya, Ma. Aku percaya kok sama Dita, tapi tidak percaya dengan para pria itu," sahut Rendra. Bu Dewi tersenyum. "Suami istri memang harus saling percaya. Jangan sekali-sekali kamu meragukan istrimu. Seandainya Allah menggariskan Mas Kaisar dan Shasha berjodoh, kamu harus menerimanya dengan ikhlas. Shasha, kamu juga tidak usah mengungkit-ungkit yang sudah berlalu,” lanjut wanita paruh baya itu. "Mama ngomong apaan sih pakai jodoh-jodoh segala. Aku tidak punya hubungan apa-apa sama Mas Kai. Kami hanya berteman. Lagian aku juga belum ingin menikah. Aku ingin mengejar karir mumpung masih muda," protes Shasha. "Jodoh itu salah satu rahasia Allah, Sha. Adikmu dulu juga tidak pernah ingin menikah muda, tetapi ternyata jodohnya datang lebih cepat. Kita tidak bisa melawan takdir. Umurmu juga sudah cukup untuk menikah. Kalau memang ada jodoh kenapa tidak menikah," ujar Bu Dewi. "Iya, Ma. Aku ‘kan juga tidak tahu jodohku besok siapa. Yang jelas aku sekarang berteman dengan semuanya. Entah jodohku salah satu dari temanku atau bukan, aku juga tidak tahu." Shasha mengangkat kedua bahunya. "Kenapa semua jadi serius omongnya? Pusing aku dengarnya. Aku ke kamar saja ganti baju. Kak Shasha, jangan lupa nanti antar aku," ucap Nisa sebelum meninggalkan ruang tengah. "Memangnya Kak Shasha mau antar Nisa ke mana?" Rendra menoleh pada kakaknya. "Beli koper, Ren. Dari kemarin dia ribut enggak punya koper untuk umrah. Makanya dia mau cari koper nanti," jawab Bu Dewi. "Sayang, capek enggak?" tanya Rendra pada istrinya. Dita menggeleng. "Enggak. Kenapa Mas?" "Nanti kita antar Nisa gimana? Sekalian aku beli baju ihram dan sandal yang nyaman buat Sayang." "Iya, enggak apa-apa, Mas,” sahut Dita. "Ma, Kak, nanti kami yang antar Nisa saja," kata Rendra pada mama dan kakaknya. "Kita pergi berlima saja. Sudah lama kita tidak pergi bersama," putus Ibu Dewi. "Ya, Ma,” sahut Rendra dan Shasha serempak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN