Bab 5. Foto Bersama

1148 Kata
Jumat siang, Shasha izin kerja setengah hari karena akan membantu persiapan acara pengajian Adi, yang akan melangsungkan akad nikah secara resmi esok hari setelah menikah siri beberapa bulan yang lalu. Dia memang menjadi salah satu panitia di acara pernikahan Adi dan Adelia. Membantu Dita yang tidak boleh kecapekan karena kondisinya yang sedang hamil. Shasha duduk di depan bersama Bu Dewi, dan Bu Hasna untuk menyambut tamu yang datang. Kaisar juga menyempatkan ke sana karena diminta Adi secara pribadi. Sebagai sahabat, tentu saja dia mengupayakan ada di hari bahagia Adi meski belum tentu sampai selesai acara. Besok dan lusa, Kaisar sengaja cuti untuk menemani Adi melalui hari pernikahannya. Kaisar menyapa saat bertatap muka dengan Shasha. Mereka tak sempat mengobrol karena perwira polisi itu meninggalkan acara di tengah pengajian. Dia harus ke kantor sebab ada tugas mendesak yang harus dilakukan. Malam harinya, Shasha juga ikut rombongan keluarga Adi ke kediaman Pak Lukman, orang tua Adelia. Mereka akan mengikuti acara midodareni. Acara adat pengantin perempuan pada malam menjelang akad nikah. Dia ikut menemui Adelia di kamar, yang hanya boleh ditemui oleh saudara atau tamu perempuan, bersama Bu Hasna, Bu Dewi, Dita, dan Nisa. Sabtu pagi sesudah salat Subuh, Shasha sudah siap. Dia akan dirias karena merupakan bagian dari pihak keluarga Adi. Gadis itu juga mengenakan kebaya yang warnanya seragam dengan anggota keluarga Adi yang lain. Sebelum acara akad nikah, Shasha menemui Adelia yang mengenakan kebaya brokat sepanjang lutut dan hijab yang dilapisi kerudung putih yang dihias dengan roncean melati yang menjuntai. Dia yang akan menggandeng Adelia bertemu dengan Adi setelah akad nikah. Seharusnya Dita yang melakukannya, tapi karena pagi tadi bumil itu merasa pusing dan mual, Shasha yang menggantikan. “Cantik sekali kamu, Del. Pasti Mas Adi pangling nanti,” puji Shasha pada wanita yang sebentar lagi resmi menjadi istri Adi. Adelia tersenyum malu-malu di tengah rasa gugup yang dirasakannya. “Mbak Shasha bisa saja. Mbak juga cantik banget. Kalau orang enggak tahu, bisa dikira Mbak Shasha pengantinnya.” “Mana mungkin. Yang ada roncean melatinya ‘kan kamu bukan aku,” timpal Shasha sambil mengagumi kecantikan pengantin wanita di hadapannya itu. “Kamu masih gugup ya? Padahal kalian sudah menikah beberapa bulan loh,” tanya Shasha yang sadar kalau Adelia tampak tegang. “Iya, ga tahu nih kenapa. Mungkin karena sekarang benar-benar disiapkan dengan matang dan tamunya lebih banyak,” jawab Adelia. “Tenang saja. Insya Allah semua akan berjalan lancar. Mas Adi juga ganteng banget hari ini. Jadi, serasi pengantinnya ganteng dan cantik,” ujar Shasha agar Adelia tidak lagi tegang. “Ganteng mana sama Mas Kai, Mbak?” goda Adelia. Dia mengalihkan pembicaraan untuk mengurangi rasa gugupnya. “Aduh pertanyaannya kok gitu, Del. Kan aku jadi bingung jawabnya,” sahut Shasha. “Bingung kenapa? Tinggal jawab saja, Mbak,” timpal Adelia. “Gimana enggak bingung, Del. Kalau jawab Mas Adi yang lebih ganteng, dia suamimu. Ntar aku dianggap suka sama suami orang. Kalau bilang Mas Kai yang lebih ganteng, entar aku pasti diledekin terus dijodoh-jodohin. Jadi aku jawab saja semuanya ganteng karena dua-duanya cowok.” Shasha memberi jawaban yang aman. “Yah, kok gitu sih jawabnya, Mbak. Seharusnya Mbak Shasha jawab jujur saja,” protes Adelia. “Lagian enggak apa-apa dijodohin sama Mas Kai, ‘kan sama-sama masih single,” lanjutnya. Shasha tertawa kecil. “Enggak enak banget nih ujungnya. Kamu jangan ikut-ikutan Mas Adi dong, Del. Suami istri kompak banget mau jadi makcomblang.” “Kalau sampai Mas Kai dan Mbak Shasha nikah ‘kan bagus. Kata ustaz nanti yang mencarikan jodoh dapat pahala karena saling tolong menolong dalam kebaikan. Nikah itu ‘kan hal yang baik, Mbak,” timpal Adelia. “Kamu ngomong apa sih, Del? Eh, acara sudah mulai. Itu Rendra sudah ngaji.” Shasha mengajak yang lain untuk diam mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh adiknya. Setelah Adi melafalkan Surah Ar-Rahman sebagai mahar dan prosesi akad nikah selesai, Shasha dan Jingga, sepupu Adi, menggandeng Adelia untuk dipertemukan dengan suaminya. Adelia memang ditempatkan di area yang tidak dapat dilihat oleh Adi. Sesudah mengantar pengantin wanita, Shasha duduk di dekat mama dan adiknya. “Kak, enggak pengen kaya Mbak Adel gitu?” Nisa menggoda kakaknya. Shasha menoleh pada adiknya sambil mengernyit. “Pengen apa?” “Pengen nikah lah. Kak Rendra dan Mas Adi udah nikah, apa Kak Shasha enggak pengen?” jelas Nisa. “Ish anak kecil jangan berisik!” Shasha menempatkan telunjuk di depan bibir agar adik bungsunya itu diam. “Mbak ini yang dilangkahi suaminya Dita ya? Biar cepat dapat jodoh dan tidak jadi perawan tua, nanti ambil saja melati pengantinnya,” saran salah satu kerabat Adi yang duduk tak jauh dari sana. Shasha tersenyum pada wanita paruh baya itu. “Ya, Bu. Terima kasih sarannya.” Dia sudah kebal dikatakan sebagai wanita tak laku dan perawan tua hanya karena dilangkahi sang adik. Padahal usianya masih 25 tahun. Setiap kali ada yang berkata seperti itu, Shasha menanggapinya senyum. Itu yang selalu diajarkan mamanya agar tetap ramah dan baik pada siapa pun. “Bude Lastri, itu hanya mitos,” timpal Jingga. “Kalau sudah ketemu jodoh, cepat atau lambat pasti akan menikah. Tidak harus mencuri melati seperti itu,” imbuhnya. “Kamu ini akan kecil tahu apa? Anak muda sekarang kalau dinasihati pasti selalu membantah,” timpal wanita yang dipanggil Bude Lastri itu. Gadis bernama Jingga itu hanya menghela napas. Berhadapan dengan Bude yang suka mengomentari hidup orang lain itu memang serba salah. Niatnya meluruskan, tapi malah dianggap membantah. “Mohon doanya ya, Bu.” Bu Dewi tersenyum pada Bude Lastri sambil menggenggam tangan putri sulungnya. “Aku enggak apa-apa, Ma. Santai saja,” bisik Shasha pada sang mama. Sesudah acara sungkeman, pihak keluarga dan tamu undangan mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Beberapa dari mereka mengambil foto bersama sebagai kenang-kenangan. Kaisar diajak foto bersama oleh Adi. Dia meminta Shasha ikut dalam foto tersebut agar tidak terlihat aneh karena perwira polisi itu hanya datang sendiri. Jadilah Kaisar berdiri di samping Adi, sedangkan Shasha di sisi Adelia. “Makasih ya, Sha,” ucap Kaisar setelah foto bersama. “Adi memang ada-ada saja, mentang-mentang aku sendiri jadi dipasangin sama kamu.” Shasha tersenyum. “Santai saja, Mas. Tirta enggak balik ya?” “Dia tadi aku ajak, tapi lagi ada acara. Jadi, aku datang sendiri. Tapi, nanti pas resepsi sama dia kok,” jelas Kaisar. “Wah asyik bisa ketemu sama Tirta,” seru Shasha dengan mata berbinar-binar. “Sha, nanti kita ngobrol lagi. Aku angkat telepon dulu ya.” Kaisar pamit setelah gawainya bergetar berkali-kali. “Iya, Mas. Aku mau ke tenda makanan, tadi belum sarapan,” sahut Shasha. Kaisar mengangguk lalu menjauhkan diri. Mencari tempat yang lebih sepi agar lebih jelas mendengar. Sementara Shasha berjalan ke arah sebaliknya menuju tempat prasmanan. “Sha, tunggu aku.” Tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggil namanya. Shasha sontak menghentikan langkah lalu membalikkan badan. Awalnya dia terkesiap saat melihat sosok yang memanggil, tapi kemudian tersenyum lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN