Bab 6. Dua Pria

1149 Kata
Seorang pria tampan, tinggi, dengan rambut cepak menghampiri Shasha seraya tersenyum lebar. Dia mengenakan kemeja batik lengan panjang yang pas badan hingga menunjukkan bentuk tubuhnya yang atletis dan proporsional. "Mas Juna, kok bisa ada di sini?" tanya Shasha begitu orang yang memanggil tadi berdiri di depannya. "Aku ‘kan kakak sepupunya Adel dari papanya," jawab pria yang bernama Arjuna itu. "Kamu sendiri, apa saudara dari pengantin pria?" Arjuna juga ingin tahu. "Bisa dibilang begitu. Mas Adi itu kakak iparnya Rendra, adikku," terang Shasha. Arjuna mengerutkan kening. "Kakak iparnya adikmu? Memangnya adikmu yang cowok itu sudah nikah?" Shasha mengangguk. "Iya, sudah satu setengah tahun lalu nikahnya." "Berarti kamu juga sudah menikah?" Arjuna merasa was-was menunggu jawaban dari adik tingkatnya itu. "Belum, Mas. Aku dilangkahi sama adikku, sama kaya Mas Adi," jawab Shasha sambil tertawa kecil. "Ayo Mas sambil jalan." Tanpa Shasha ketahui, Arjuna menghela napas lega dan tersenyum lebar setelah mendengar jawaban gadis itu. Mereka berdua lalu jalan berdampingan menuju ke tempat prasmanan. "Mas Juna sendiri apa sudah menikah?" tanya Shasha sambil mengambil piring. "Belum. Aku masih mengejar karir. Aku belum kepikiran untuk menikah sampai aku ketemu kamu hari ini," jawab Arjuna sambil tersenyum. Shasha tertawa mendengar jawaban Arjuna. Seniornya itu memang selalu menggodanya dari dulu. Mereka mengambil makanan lalu duduk di kursi yang telah disediakan. “Mas Juna, memang sengaja pulang untuk datang ke sini atau pas kebetulan aja baru balik Jogja?” tanya Shasha sebelum memasukkan sesendok nasi dan lauk ke mulutnya. “Sengaja balik. Kalau ada acara keluarga begini, Mami pasti nyuruh aku balik. Kalau aku sampai enggak balik katanya mau dipecat jadi anak. Kamu tahu sendiri ‘kan mamiku kaya gimana,” jawab Arjuna setengah bercanda. “Berarti Tante Ayu sama Om Bima juga ada di sini?” tanya Shasha lagi. Arjuna yang sedang mengunyah makanan hanya mengangguk sebagai jawaban. “Kalau gitu nanti aku boleh ketemu ‘kan sama Tante dan Om, Mas? Sudah lama banget enggak ketemu mereka berdua,” pinta Shasha. Arjuna kembali mengangguk. “Boleh. Mami pasti senang banget ketemu kamu, Sha.” Shasha tersenyum. “Aku juga senang kok ketemu dan ngobrol sama Tante Ayu.” Arjuna tersenyum. “Gimana kerjaan? Lancar ‘kan?” Pria itu gantian bertanya. “Alhamdulillah sejauh ini lancar. Cuma ya karena masih anak baru dan single, jadi aku yang paling sering dapat jatah ke luar kota,” jelas Shasha. “Memangnya yang lain sudah nikah?” Arjuna menoleh pada adik tingkatnya itu. Shasha mengangguk. Dia kemudian mengunyah dan menelan makanan yang ada di mulut sebelum menjawab. “Kebanyakan begitu kontrak awal selesai, langsung pada nikah, Mas.” Arjuna mengernyit. “Memangnya kontrak awalnya gimana?” Dia jadi ingin tahu. “Enggak boleh nikah selama dua tahun, Mas,” jawab Shasha. Arjuna mengangguk-angguk. “Jadi karena itu kamu izinkan adikmu nikah lebih dulu?” “Salah satu alasannya itu. Aku juga ingin ngejar karir seperti Mas Juna. Kalau sudah nikah ‘kan enggak akan bisa bebas lagi. Lagian aku juga belum punya pacar atau calon suami. Kasihan adikku kalau harus nungguin aku sedangkan dia sudah ada calon istri. Aku tidak mau jadi penghalang kebahagiaan orang lain apalagi adikku sendiri, Mas,” jelas Shasha. “Kakak yang baik ya kamu. Ngomong-ngomong kenapa adikmu nikah lebih dulu? Dia ‘kan masih kuliah? Apa karena hamil dulu?” Arjuna memberondong pertanyaan. Shasha menggeleng. “Rendra itu enggak pacaran, gimana mau hamil duluan? Mertuanya Rendra itu tidak setuju anaknya pacaran, kalau udah saling cinta ya nikah aja. Rendra terus minta izin sama aku dan Mama. Karena Mama dan aku setuju, akhirnya mereka nikah. Mas Adi sama Adelia setahuku juga enggak pacaran. Mereka taaruf setelah dikenalin sama Rendra,” jelasnya panjang lebar. “Rendra adikmu itu kenal sama Adel?” Arjuna jadi penasaran. “Mereka ‘kan teman kuliah, Mas. Satu jurusan, plus berteman dekat,” terang Shasha. “Oh gitu, pantes aja Adel kok cepat banget move on dari Restu. Harusnya ‘kan tahun ini Adel nikah sama Restu, eh ternyata nikahnya sama orang lain,” timpal Arjuna. Shasha menunda memasukkan suapan terakhir ke mulutnya, tapi malah menoleh pada pria yang duduk di sebelah kanannya. “Memangnya Mas Juna tidak tahu apa yang terjadi antara Adelia sama mantan tunangannya?” Arjuna menggeleng. “Aku ‘kan jarang pulang, Sha. Mami sama Papi juga enggak cerita. Memangnya ada apa?” Shasha kemudian menceritakan perihal Restu yang meneror Adelia sampai hampir membunuh Adi dengan menabraknya. “Gila ya, Restu. Padahal dia orang berpendidikan dan pintar, tapi kok pemikirannya bisa pendek begitu.” Arjuna menggeleng berkali-kali setelah mendengar cerita sang adik tingkat. Saat keduanya mengobrol, sesosok pria tegap dan tinggi mendekat. "Shasha, boleh aku duduk di sini." Kaisar berdiri di kursi samping kiri Shasha yang kosong. Shasha menoleh pada perwira polisi itu lalu tersenyum. "Duduk saja, Mas." Sahutnya. "Makasih." Kaisar lalu duduk di samping Shasha. "Sudah selesai makannya?” Kaisar melirik piring kosong yang ada di pangkuan Shasha. “Alhamdulillah, sudah. Ini sudah bersih tak tersisa.” Shasha menunjukkan piringnya yang bersih tanpa sisa nasi atau lauk di sana. Mamanya selalu mengajarkan untuk menghabiskan makanan yang diambil karena masih banyak orang di luar sana yang tidak bisa makan. “Alhamdulillah. Kalau begitu aku makan dulu.” Kaisar pun mulai menyuapkan nasi ke mulut. “Selamat makan, Mas,” timpal Shasha yang ditanggapi anggukan oleh Kaisar. "Dia siapa, Sha?" tanya Arjuna yang duduk di samping kanan Shasha. Sejak tadi dia merasa penasaran pada sosok pria yang mendekati adik tingkatnya itu. Ada rasa tak rela melihat gadis yangg disukainya didekati pria lain. Shasha menoleh pada Arjuna. "Ini kakaknya Tirta, Mas. Aku kenalkan ya." Dia lalu berpaling pada Kaisar. "Mas Kai, kenalkan ini Mas Juna. Mas Juna, kenalkan ini Mas Kai." Shasha mengenalkan mereka berdua. "Kaisar.” "Arjuna." Kaisar dan Arjuna bersalaman sambil menyebutkan nama masing-masing. "Mas Juna ini kakak tingkatku di kampus. Seniornya Tirta juga, Mas," terang Shasha pada Kaisar. Perwira polisi itu menyengguk. Dia lalu melanjutkan makan, tak berminat bicara dengan Arjuna. "Tirta itu yang mana sih, Sha?" tanya Arjuna dengan pelan agar tidak didengar oleh Kaisar. "Tirta yang dulu sering bareng aku ke mana-mana. Mas Juna, enggak ingat?" Shasha mengernyit. Arjuna menggeleng. "Kan selama di kampus ada kamu, mataku cuma tertuju sama kamu, Sha." "Ckckck, mulai deh menggombal. Buruan cari istri sana Mas, jadi ada yang Mas Juna gombalin." Shasha mencibir Arjuna. “Memangnya kamu pikir aku enggak cari istri? Ini ‘kan aku lagi usaha deketin calon istri,” ujar Arjuna. Netra Shasha membulat. “Cewek incaran Mas Juna ada di sini? Yang mana, Mas?” Gadis itu celingukan melihat sekeliling. “Masa kamu enggak lihat sih, Sha? Orangnya duduk dekat aku. Di samping kiriku,” sahut Arjuna. Begitu sadar kalau yang dimaksud dirinya, Shasha langsung menepuk lengan kiri Arjuna. “Serius sedikit bisa enggak sih, Mas. Jangan bercanda terus,” protesnya. Arjuna tertawa meskipun hatinya terasa getir. “Aku serius, Sha. Kenapa kamu selalu tidak percaya sama aku?” batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN