Bab 15

1161 Kata
Nanya-nanya soal apa?”tanya Bara yang kini ia mulai terusik dengan dua gundukan kenyal yang naik turun seiring dengan napas Kinar. “Pernikahan kita.” “Ya dijawab aja, kita menikah,”kata Bara dengan napas memburu. “Tapi, kenapa tiba-tiba begitu...kita kan...” Mulut Kinar terbungkam oleh kecupan lembut dari Bara. “Kita sudah menikah, tidak perlu menanggapi pertanyaan yang enggak penting. Minta doakan saja yang terbaik,”kata Bara dengan tatapan lembut. Kinar terdiam dan kini ia tenggelam oleh tatapan lembut sang suami. Sentuhan-sentuhan Bara pun kini mulai membawanya melayang hingga ke langit ke tujuh. ** Kinar bangun dari tidurnya, kemudian langsung mandi saja dan bersiap-siap pergi ke kantor. Sementara Bara, menyiapkan semuanya sendiri, tidak dilayani oleh Kinara. Bara bisa memaklumi bahwa memulai rumah tangga tidaklah mudah bagi seorang wanita yang sedang berduka. Ditambah lagi pernikahan mereka terjadi dengan sedikit paksaan akibat kondisi Mama Kinar. Bara tersenyum pada sang isteri yang sudah bersiap. Kemudian ia menggenggam tangan Kinar dan membawanya untuk sarapan pagi. Kinar hanya diam saja menikmati makan paginya. Bara tidak berani memulai pembicaraan sampai mereka pergi ke kantor. “Kin, kalau ada apa-apa hubungin aku, ya?”pesan Bara sebelum mereka masuk ke ruangan masing-masing. Kinar mengangguk pelan, kemudian ia melihat beberapa karyawan lainnya berhenti di sekitar mereka. “Pak Bara sudah menikah ya?”salah satu karyawan bertanya. Bara mengangguk.”Iya, benar.” “Wah selamat, Pak...saya lihat postingan salah satu sepupu Bapak. “ “Iya. Ini isteri saya, Kinara...kalian kenal kan?”kata Bara memperkenalkan Kinar. Mereka semua tampak terkejut, ternyata Bara menikah dengan orang yang bekerja di kantor ini juga. Kemudian mereka semua ikut menjabat tangan Kinar dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. “Maaf kami enggak tahu, soalnya ...di postingan itu enggak ada fotonya,”ucap salah satu dari mereka. “Enggak apa-apa, kami juga menikah secara mendadak,”jawab Kinar. Bara memutar bola matanya karena Kinar justru seamkin memperpanjang pembicaraan.”Iya, karena ada permintaan khusus dari orangtua kami. Jadi, belum ada acara khusus untuk itu. Terima kasih untuk kalian semua. Yuk, kerja yuk!” Mereka semua bubar. Bara mengecup kening Kinar lalu pergi ke ruangannya. Kinar tersenyum kecut, lalu perlahan ia melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. “Kin!” Ekspresi Dita terlihat begitu bersemangat melihat rekan satu ruangannya datang setelah beberapa hari tidak masuk. “Hai!” Kinar melambaikan tangan seperti biasa kemudian duduk di kursinya. Yuni dan Dita bertukar pandang, saling memberi kode. “Kin, kamu nikah sama Kak Bara?” Yuni pun duduk dengan cepat di sebelah Kinar. Kinar berdehem sambil merapikan meja kerjanya. Sebenarnya ia tengah menyusun kata dalam otaknya untuk menjawab pertanyaan dari teman-temannya itu.”Iya.” “Kok bisa?”tambah Dita yang kini berdiri di sebelah meja Kinar. Kinar memandang Dita dan Yuni bergantian, ia menarik napas panjang, kemudian berusaha tersenyum. “Takdir.” “Yah...” Yuni dan Dita mendesah kecewa Kini Dita menatap Kinar dengan serius.”Kamu enggak kenapa-kenapa , kan, Kin?” “Kenapa-kenapa bagaimana?”tanya Kinar heran dengan ekspresi temannya itu. “Maksudku...kalian tuh serba dadakan. Tiba-tiba aja kalian pacaran, terus tiba-tiba kalian menikah. Kalian tuh enggak pernah dekat di kantor...kok bisa? Apa kalian itu ONS terus...kamu hamil?”kata Dita membuat Yuni dan Kinar terkejut. Yuni memukul lengan Dita.”Kamu apa-apaan sih, menuduh orang seenaknya aja. Dengerin dulu penjelasan Kinar. Nggak semua orang menikah tiba-tiba itu karena hamil duluan!” Kinar mendecak sebal.”Udah ya...aku mau kerja aja. Apa pun itu anggapan kalian, terserah...yang penting aku dan Kak Bara sudah menikah. Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi hingga pernikahan kami terjadi. Tapi, setelahnya...Mamaku meninggal.” Yuni dan Dita mematung, mereka berdua mulai merasa bersalah sudah mencecar Kinar dengan pertanyaan seputar pernikahan serta anggapan-anggapan negatif mereka. Yuni dan Dita memeluk Kinar bergantian.”Kin, maaf...kita enggak dengar kabar soal meninggalnya Mama kamu.” Kinar memejamkan matanya, bagaimana bisa kedua temannya itu tidak tahu menahu perihal kabar Mamanya yang meninggal, sementara pihak kantor mengirimkan karangan bunga sebagai bentuk bela sungkawa. Ia juga menerima ucapan bela sungkawa dari beberapa teman kantor yang ia kenal tidak begitu dekat. “Oke,terima kasih. Sudah...itu sudah berlalu. Sekarang aku enggak apa-apa. Terima kasih.” Yuni dan Dita jadi tidak enak hati. Sepertinya mereka sudah salah dalam bertindak. Kinar berdiri, kemudian menundukkan kepalanya cukup lama.”Aku...pergi dulu.” “Kin...” “Kamu sih, jadi marah,kan?” Yuni menatap Dita kesal. “Kan aku cuma bertanya,”balas Dita. “Pertanyaannya itu aneh!Nggak pantes!”sungut Yuni. “Siapa tahu Kinar memang hamil,Yun, nggak mungkin mereka tiba-tiba dekat dan langsung menikah.” Dita menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bilang aja kamu cemburu!”cetus Yuni. “Aku nggak cemburu, Yun, Cuma curiga ja.” “Nggak ngerti deh sama kamu, pikirannya negatif terus. Kinar itu teman kita loh...kita doakan saja semoga mereka langgeng.” Yuni mulai kesal dan sekarang fokus pada layar komputernya. Sementara itu Kinar menangis sambil berjalan menuju ruangan Bara. Ia membuka pintu begitu saja tanpa permisi. Ternyata di dalam ada Asha dan Gian. “Kalau masuk permisi dulu,”kata Asha ketus, tak lupa tatapan tajamnya. “Oh, maaf...permisi.” Kinar buru-buru membalikkan badan ingin pergi dari sana. Bara menggeleng, kemudian ia berlari cepat untuk menahan Kinar agar tidak pergi.”Yuk masuk!” Kinar menggeleng.”Nggak apa-apa, kamu lanjut aja. Kamu lagi sibuk.” “Nggak ada kata sibuk buat kamu.” Bara menarik tangan Kinar dengan sedikit memaksa. Ia mendudukkan Kinar ke sofa.”Tunggu di sini, ya, aku diskusi sebentar.”Kemudian ia menatap Asha dan Gian.”Maaf ya...isteriku kayaknya lagi enggak enak badan, jadi dia di sini aja.” “Apa? Isteri?' Asha membulatkan matanya. Gian menoleh pada Asha dengan heran.”Loh, kamu enggak tahu?' Asha menggeleng.”Nggak. Memang beneran?” “Iya, aku sama Kinar udah menikah beberapa hari yang lalu,”jawab Bara. Asha langsung bangkit, membanting map yang ia pegang ke atas meja. Ia meninggalkan ruangan Bara dengan cepat. Gian menggeleng-gelengkan kepalanya.”Kinar, maaf ya...Asha memang suka begitu. Suka marah-marah tanpa sebab. Jangan diambil hati ya.” “Iya, Kak.” “Ya udah, Bar,kamu temenin isteri kamu aja dulu. Nanti kita bicara lagi.” Gian bangkit dari kursinya. Bara mengangguk.”Oke.” Gian segera keluar dari sana, meninggalkan Kinar dan Bara. “Kamu kenapa?” Bara duduk di sebelah Kinar sambil mengusap kepala isterinya itu. Kinar tidak menjawab, tangisannya justru pecah tak terkendali. Bara memeluk sang isteri dan menenangkannya dengan sabar. Tapi, sepertinya tangisan Kinar tidak ingin berhenti sampai mata wanita itu bengkak. “Sayang, ada yang nyakitin kamu ya?” Kinar mengangguk saja dalam pelukan Bara. “Ya udah, kamu tenang dulu ya. Kamu mau pulang aja?”tanya Bara. “Aku enggak ada temennya di rumah,”ucap Kinar. Bara tertawa kecil.”Ya udah, sayang...di sini aja kalau begitu.” “Aku mau resign,”kata Kinar tiba-tiba. “Loh kenapa? Kok tiba-tiba bilang begitu?” Kinar menggeleng.”Boleh kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN