Bab 16

1187 Kata
Bara mengecup kening Kinar.”Boleh, tapi...nggak langsung bisa keluar ya. Ada beberapa prosedur yang harus kamu lewati. Sabar aja dulu ya.” Kinar mengangguk, kemudian ia mengambil tisu di atas meja dan menyeka hidung yang mengeluarkan cairan kental lagi. “Sini peluk lagi ya...biar kamu tenang.” Bara mengeratkan pelukannya. Kinar memejamkan matanya, perlahan ia mengantuk. Hari ini, bukanlah hari yang baik baginya. Ucapan Yuni dan Dita tadi membuat hatinya hancur dan tidak lagi ingin bertemu dengan kedua manusia itu. Ia sangat kecewa dan benci hari ini. Bara melirik jam tangannya berkali-kali sembari memperhatikan Kinara yang tertidur di sofa. Ia mengembuskan napas dengan berat, ia baru saja menyerahkan surat resign atas namanya sendiri dan juga Kinara. Tapi, Isterinya itu tidak tahu kalau ia juga akan resign. Setelah ini, ia akan mengelola usaha keluarga. Sebab ia bertahan di sini sejak dahulu hanya karena ingin mengejar Kinar. Bara bangkit dari kursi dan membangunkan Kinar.”Kin...” “Hmmm,”gumam Kinar. “kinkin,bangun!” Bara mencubit pipi Kinar dengan gemas. Kinar membuka matanya dan kemudian meringis kesakitan.”Sakit!” “Oh bisa ngerasain sakit juga.” Bara tertawa tanpa merasa bersalah.”Aku pikir kamu wanita yang tidak punya rasa.” Kinar memukul lengan Bara dengan spontan.”Apa maksudnya?” “Nggak maksud apa-apa. Maksudku membangunkanmu adalah untuk mengajak kamu pulang ke istana kita. Soalnya sudah malam.” Bara merapikan rambut Kinar yang berantakan. Kinar bangkit dengan cepat, kemudian melihat ke sekeliling. Jendela besar yang terbuat kaca di hadapannya pun memperlihatkan keindahan gemerlap lampu berbaur dengan langit gelap di luar sana.” Iya udah malam...udah gelap banget dan Aku tidur selama itu?” “Iya. Kayak kebo!”ucap Bara pelan. “Udah tahu kayak kebo...kenapa dikawinin!”semprot Kinar. “Kan aku kebo juga, jadi...kita kumpul kebo.” Pria itu tersenyum lebar menunjukkan gigi-giginya yang rapi seperti ia pernah memakai kawat gigi. Kinar memutar bola matanya.”Ya udah, pulang aja. Aku pengen bobok.” Bara mengangguk, ia membereskan barang-barang di atas meja kerjanya. Setelah itu beralih pada Kinar.”Kamu enggak mau cuci muka dulu atau apa gitu sebelum kita keluar?” “Nggak usah deh, sudah mau pulang juga kok,”kata Kinar yang kemudian menguap. Bara memeluk pundak Kinar sambil membawanya keluar dari kantor. Kantor sudah sepi, hanya ada satpam, office boy yang membereskan ruangan yang tadi dipakai rapat serta beberapa karyawan yang memilih lembur. “Tadi, aku enggak apa-apa ya di ruangan kamu terus? Enggak kerja?”Kinar menatap Bara sambil terus berjalan. “Nggak tahu, itu kan nanti jadi urusan kamu.” Bara tertawa. “Jadi, kamu enggak mau nolongin aku gitu?” Kinar melotot kesal. Sekali lagi Bara tertawa.”Iya iya. Aku sudah masukkan surat resign kamu tadi. Apa sih yang enggak kulakukan untuk isteriku tercinta.” “Gombal!” “Kok kamu tahu?” Langkah Kinar terhenti.”Jadi, kamu enggak masukkan surat resign aku tadi? Terus nasib aku di kantor ini bagaimana?” Rasanya Kinar mau menangis saja. Tadinya ia merasa masa bodo bolos di jam kerja karena sudah dipastikan ia akan resign. Tapi, kalau ternyata survey pengunduran dirinya itu belum sampai ke pihak HRD, bisa-bisa ini menjadi bencana. Betapa malunya ia sudah mangkir dari pekerjaan. Enak-enakan tidur. “Sudah, suratnya sudah sampai. Kamu ini kok kelihatan panik banget. Sudah...kamu tenang aja. Kan ada aku.” Bara mengajak Kinar berjalan lagi. Kinar mengembuskan napas panjang. Kemudian Bara membukakan pintu mobil untuknya.”Kamu kayaknya harus banyak piknik deh biar enggak panik.” “Ya udah ajak aku piknik!”balas Kinar. “Oke. Setelah surat resign kamu disetujui, kita pergi bulan madu. Titik.” Bara melajukan mobilnya. Kinar tertawa.”Kemana? Ke Pulau Samalona ya?”rayu Kinar. “Iya. Kamu minta  ke wakanda juga aku turutin.” Kinar mengangguk-angguk puas. Kemudian tatapannya fokus ke arah jalan. “Ngomong-ngomong...pulau Samalona itu dimana ya?”tanya Bara. Kinar tertawa geli.”Di Wakanda...” “Walah...serius, nih....” “Di Makassar. Bagus loh tempatnya,”kata Kinar dengan semangat.”Coba nanti kamu searching ya...” “Kalau dengan Pulau salah Namo, lebih bagus yang mana?”tanya Bara. Kinar menggeleng.”Nggak tahu sih, aku enggak pernah search Itu Pulau Salah Namo.” “Kayaknya dibanding kedua itu, lebih bagus Pulau Kapuk deh.” “Dimana itu?” Kinar mengerutkan keningnya.”Baru dengar...” “Kamu nggak tahu?”tatap Bara dengan takjub. Kinar menggeleng dengan polosnya. Sementara Bara tersenyum penuh arti.”Nanti kita ke sana ya, malam ini...dan kamu akan merasakan sensasi di pulau kapuk.” “Sensasi bagaimana?” “Udah, nanti kamu bakalan tahu sendiri. Kita makan dulu ya.” Bara mengarahkan mobilnya. Kinar melotot melihat kemana mereka berhenti.”Kok kamu enggak bilang mau ke sini?”protesnya dengan keras. “Memangnya kenapa? Kan kita mau makan aja,cuma berdua.” Bara mematikan mesin mobilnya. “Tapi, lihat nih...mukaku sembab, mataku Bengkak, pucat...nggak banget deh. Kalau kamu bilang mau ke sini, aku kan bisa poles-poles sedikit,”kata Kinar setengah menangis. “Kan tadi...aku sudah tanya ke kamu, kamu enggak mau cuci muka atau apa dulu gitu sebelum kita keluar kantor. Kamu bilang enggak mau kan?”kata Bara dengan lembut.”Ya sudah ayo.” “Nggak mau, aku jelek...” “Ya udah, nanya udah ditakdirkan jelek mau gimana.” Bara keluar dari mobil dan membuka pintu dimana Kinar duduk.”Yuk...” “Kamu enggak malu?”tanya Kinar. “Ya udah, setelah ini kamu langsung ke toilet aja, kamu bawa make up kan?” Kinar mengangguk.”Iya ada bawa sih...” “Ya udah, nggak ada masalah. Kamu bisa dandan di sana. Oke....?” Kinar mengangguk, kini ia sungguh lega karena Bara bisa memberikan solusi atau jalan keluar di setiap ketakutan atau kekhawatirannya. “Sayang...kamu kenapa?”tanya Bara saat mereka sudah mulai makan. Kinar yang wajahnya sudah sedikit dipoles setelah mereka sampai hanya bisa menggeleng. Makanan yang ia pesan sangat lezat hingga tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya sendiri. “Kamu mau pesan lagi? Kayaknya masih lapar?” Bara melihat piring Kinar yang sudah hampir bersih namun wajah isterinya itu terlihat masih kelaparan. “Iya mau,”jawab Kinar cepat. Bara tersenyum, kemudian ia memanggil pramusaji untuk memesankan makanan Kinar kembali. Setelah itu ditatapnya wajah Kinar. “Ada apa?”tanya Kinar salah tingkah. “Nggak, kamu cantik....” “Tadi katanya jelek!”protes Kinar dengan wajah kesalnya. “Ya enggaklah, aku bercanda.”Bara mengusap punggung tangan Kinar. “Besok aku masih kerja ya?'tanya Kinar dengan wajah yang terlihat khawatir. “Iya. Kamu enggak pengen masuk lagi?” Bara memastikan bahwa isterinya benar-benar ingin resign, bukan karena keinginan sesaat saja. “Iya.” “Kenapa?” “Aku enggak suka dengan deretan pertanyaan orang, kenapa bisa menikah mendadak, hamil ya,terus...dibilang juga kalau kamu sama aku itu one night stand aja,”cerita Kinar dengan sedikit emosi. Ia jadi kesal mengingat ucapan Yuni dan Dita pagi tadi. Mereka adalah teman terdekat Kinar, bisa-bisanya bicara seperti itu. “Tapi, yang mereka sangka itu kan tidak benar. Jadi, kamu enggak perlu pusing dengan ucapan orang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN