“Tapi, emosi!”
Bara mengusap punggung tangan Kinar. “Iya...iya. Ya sudah, besok kamu enggak perlu masuk. Nanti aku urusan masalah kerjaan kamu ya.”
“Terus aku di rumah ngapain?” Tiba-tiba Kinar merasa bodoh dengan keputusan yang ia ambil.
“Ya jadi Ibu rumah tangga.”
“Jadi Ibu rumah tangga itu seperti apa? Masak, cuci baju, cuci piring, beresin rumah...gitu?”Kinar menatap Bara dengan serius.
Bara mengangguk saja karena ia sedang meneguk air.
“Di rumah kamu kan banyak asisten rumah tangga,”sahut Kinar.
“Iya juga...kalau gitu kamu jadi tahanan kamar aja,”kata Bara memutuskan.
“Ish...nggak asyik banget.”
“Ya udah, balik kerja aja. Nggak usah keluar.”
“Aku enggak mau,”pekik Kinar.
Bara menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli. Berdebat dengan Kinar tidak akan berujung. Lebih baik ia mengalah saja.
Setelah selesai, mereka langsung pulang. Kinar langsung mandi agar badannya segar. Sementara Bara terlihat duduk santai di balkon sambil memainkan ponselnya. Kinar langsung naik ke atas tempat tidur dengan rambut yang sedikit lembab sehabis dikeramas dan dikeringkan. Mendengar sang isteri sudah selesai mandi, Bara langsung masuk. Diletakkan ponselnya di atas nakas, ia ikut naik ke tempat tidur sambil memandang sang isteri dengan mesra.
“Sayang....”
Kinar melirik sebal, intonasi Bara sungguh menjijikan. Manja-manja minta ditendang.”Kenapa?”
“Aku mau....”
“Semalam udah,”jawab Kinar.
“Dosa kamu nolak begitu loh!”kata Bara mencari-cari alasan.
“Nanti aku hamil!”
“Hamil kan ada suaminya...”
Kinar menatap Bara dengan serius. “Maksudnya...kalau aku langsung hamil, itu akan semakin membuat orang yakin kalau aku hamil di luar nikah.”
“Terus gimana? Kan enggak mungkin aku sentuh kamu sebulan lagi. Aku...nggak bisa,”kata Bara dengan wajah memelas.
Kinar menarik napas berat.”Ya udah, gimana enaknya kamu aja.”
Bara tersenyum puas, dilumatnya bibir Kinar dengan lembut. Tangan kasarnya menelusup ke dalam daster yang dikenakan Kinar. Kulit lembut dan kenyal Kinar membuat Bara semakin b*******h. Kecupan-kecupan lembut dan basah ia berikan di area leher dan d**a Kinar. Satu persatu piyama Kinar terlepas dari tubuh mungilnya. Begitu juga dengan Bara. Tubuh keduanya terasa panas, sudah siap untuk menyatukan milik mereka.
Kinar menahan tubuh Bara saat kejantanan sang suami hampir memasukinya.”Pakai helm ya? Kamu ada kan?”
Bara mengerutkan keningnya. Tampaknya ia tidak paham.”Supaya apa, sayang?”
“Supaya enggak muncrat ke dalam, banjir terus hamil,”jelas Kinar.
Bara mengangguk mengerti, kemudian ia bangkit dan tiba-tiba pergi entah kemana. Lalu ia kembali dengan memakai helm di kepalanya.”Sudah, sayang. Aku sudah pakai helm. Ayo kita bercinta...”
Kinar menepuk jidatnya.”Bukan kepala atas, tapi kepala yang di bawah!”
“Oh salah, ya.” Bara melepaskan helm dari kepalanya, lalu ia meletakkan helmnya ke miliknya.”Nah, sudah....”
Kinar membulatkan matanya. Saat ini ia jadi berpikir, sebenarnya apa yang sedang dipikirkan suaminya itu. Kenapa bisa segila ini. Mana mungkin seorang Bara tidak bisa mencerna ucapannya yang sederhana.”Bukan helm yang ini. Tapi itu...kondom!”
“Loh ...bilang dong dari tadi “ Bara tertawa. Ia pun mengembalikan helm ke tempat semula.”Nggak usah pakai helm ya. Soalnya...nggak enak.”
“Dari mana kamu tahu nggak enak?” Kinar melotot, seakan-akan menuduh Bara bahwa pria itu pernah mempraktekkannya.
“Temen yang bilang,”kata Bara.
“Alasan...”
Bara mendorong tubuh Kinar pelan lalu menindihnya.”Sudah...pokoknya tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja, yang penting adalah suami kamu dan aku cinta kamu. Tidak perlu pakai pengaman. Kalau kamu hamil, ya memang sudah dikasih kepercayaan untuk menjadi orangtua. Kenapa harus takut, apa lagi kamu sudah punya suami. Nggak pentinglah apa kata orang.”
Kinar terdiam, matanya tampak berkaca-kaca. Terharu dengan ucapan sang suami. Lalu perlahan ia memejamkan matanya, disambut lumatan Bara. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah tenggelam dalam kehangatan cinta. Bara tersenyum puas sekaligus bahagia, Kinar bisa menerima dirinya seutuhnya.
Bara melirik Kinar yang masih terlelap di sebelahnya. Sepertinya Kinar sangat kelelahan karena semalam kewalahan menghadapi dirinya. Bara tertawa pelan, kelihatannya saja sih Kinar tidak menerimanya sebagai suami atau masih tidak terbiasa dengan statusnya sebagai isteri. Tapi, kalau soal urusan ranjang, sepertinya Kinar begitu siap. Bahkan, wanita itu seperti paham tugasnya sebagai seorang wanita.
“Kinkin,coba aja kamu enggak lamar aku...mungkin sampai sekarang aku masih takut buat deketin kamu. Atau...malah jadinya kamu menikah sama orang lain. Maafkan aku yang payah ini,”bisik Bara sambil mengusap pipi Kinar.
Kinar bergerak hingga selimutnya tersingkap, menunjukkan paha mulusnya. Bara meneguk salivanya. Kemudian ia mengecup paha sang isteri dengan pelan agar tidak membangunkannya. Tapi, sayangnya Kinar terbangun. Ia cukup kaget karena begitu Membuka mata, ia mendapati Bara tengah memperhatikan dirinya.
“Sudah pagi kah?”
“Iya. Sudah...tapi, belum terlalu siang juga. Kamu tidur aja lagi, masih gelap juga.” Bara mengelus punggung hingga b****g Kinar.
“Spreinya kotor, “kata Kinar sambil melihat sprei yang sudah kusut dan sedikit kotor.
“Kotor kenapa?” Bara mengernyitkan keningnya. Ia yakin, asisten rumah tangga akan menggantinya paling tidak tiga atau empat hari sekali bila kamar itu berpenghuni.
“Pasti kan kena cairan kita berdua.” Entah kenapa wajah Kinar langsung merona. Sepertinya ia teringat dengan panasnya percintaan mereka semalam. Dan tentunya ia masih bisa merasakan gunakan milik Bara yang membuatnya mendesah dan terus mendesah.
“Nggak apa-apa.” Bara mengecup bibir Kinar.”Aku udah lapar.”
“Jam segini?”
Bara mengangguk.”Kamu udah kuras tenagaku semalam. Jadi, sepagi ini aku jadi lapar.” Bara bangkit dari tempat tidur. Kinar ikut-ikutan bangkit sambil meraih daster untuk menutupi tubuh polosnya.
“Mau aku masakin?”tawar Kinar.
Bara menggeleng.”Jangan untuk sekarang ya. Kamu itu lagi capek. Aku suruh orang dapur aja.”
“Syukurlah kalau begitu.” Kinar tersenyum lebar, ia tidak perlu repot-repot masak untuk sang suami. Ia bisa membayangkan bagaimana sibuknya ia di dapur melawan waktu. Ia harus menyiapkan sarapan dengan cepat karena suami harus berangkat kerja kan?
“Yuk mandi!”ajak Bara.
Kinar mematung di tempatnya.” ya udah kamu duluan aja.”
“Ya sama-sama aja. Menghemat waktu,”kata Bara beralasan.
Kinar berjalan menghampiri Bara. Kini ia berdiri berhadapan dengan pria jangkung itu.”Ajakan yang menarik!” Kemudian ia masuk ke kamar mandi duluan.
Bara tertawa, kemudian menyusul Kinar. Sebenarnya ia tidak berniat apa pun pagi ini. Meskipun mereka mandi bersama, tidak ada niatan di kepalanya untuk menyetubuhi sang isteri di sana. Ini sudah pagi dan saatnya beraktivitas. Usai mandi dan berpakaian, mereka sarapan berdua di teras belakang rumah. Tempat dimana biasanya Bara sarapan pagi.
Kinar mencium aroma sedap dari sajian makanan di hadapannya. Mendadak ia menjadi sangat lapar. Dilihatnya Bara sedang meneguk segelas kecil air putih. Lalu, ia menyeruput teh hangatnya. Diambilnya roti, dioleskan mentega lalu ditaburi Ceres dan kacang tumbuk. Kinar lebih memilih sarapan nasi kuning yang disediakan. Perutnya tidak terbiasa memakan roti seperti yang Bara makan. Kalau tidak makan nasi, bukan makan namanya.