“Kok kamu enggak ke kantor?”tatap Kinar curiga. Sebab saat ini Bara memakai kaus bewarna hijau dan celana pendek.
Bara tampak menyuapkan roti bakarnya dengan santai. Kemudian mengunyahnya tanpa menanggapi ucapan Kinar. Kinar jadi sebal, ia pun memakan nasi kuningnya dengan wajah cemberut.
“Kalau sering cemberut, wajahnya cepet tua loh,”kata Bara.
“Habisnya enggak dijawab,”balas Kinar tak terima.
Bara tersenyum, ia meneguk air putihnya sedikit.”Iya, nanti dijelasin ya. Sekarang kita kan masih makan, fokus ke sarapan dulu ya.”
Kinar menarik napas panjang, kemudian ia melemparkan pandangan ke kolam renang di hadapan mereka. Entah kenapa tiba-tiba saja Kinar merasa sunyi. Ia rindu menghabiskan waktu dengan sang Mama. Wanita itu tersenyum tipis, lalu menelan makanannya. Tenggorokannya terasa sakit karena menelan makanan sambil mengingat hal-hal yang sedih.
“Kin?”panggil Bara.
Kinar menoleh ke arah suaminya.”Iya kenapa?”
“Jangan sedih ya...sekarang kan ada aku,”ucapnya lembut.
Kinar tertawa lirih.”Iya. Aku cuma ingat Mama. Tapi, sudah...itu bukan masalah.”
“Oh ya...aku memang enggak kerja hari ini,”kata Bara, berusaha mengalihkan pikiran Kinar.
Kinar langsung melirik tajam.”Kenapa? Terus aku gimana?”
“Tenang aja, mungkin besok surat persetujuan resign kamu sudah dibalas. Pihak kantor juga enggak apa-apa kok,”kata Bara lagi.
“Syukurlah kalau begitu.” Kinar meneguk air putihnya. Makan paginya sudah selesai.
“Sebenarnya...Aku mau di rumah aja sih sama kamu,makanya ambil cuti,”kata Bara akhirnya.
“Cuti apa?”
Bara menggeleng, Ia bangkit dari kursinya. Lalu menarik Kinar duduk di salah satu kursi yang digunakan duduk santai kala sore hari. kemudian ia mengecup pipi Kinar dengan pelan.”Anggap saja cuti bulan madu.”
“Berarti bisa liburan dong?” Mata Kinar berbinar-binar, ia terlihat begitu berharap Bara akan mengajaknya ke Pulau Samalona.
“Kamu mau liburan?”
Kinar mengangguk antusias.”Iya mau...”
Bara melingkarkan tangannya ke pinggang Kinar.”Ke Pulau Kapuk aja dulu yuk?”
“Dimana itu?”
“Mau tahu ya? Penasaran?”
Kinar mengangguk dengan semangat. Bara pun berdiri dan menarik Kinar ke arah kamar. Sesampainya di sana, Bara mengunci pintu,lalu menarik pinggang Kinar hingga mereka berdua terhempas ke atas tempat tidur.”Ini dia Pulau Kapuknya....”
“Ini sih kasur,”kata Kinar sedikit kesal.
Bara hanya bisa tertawa. Kinar memang suka sekali marah-marah pada sesuatu yang memang tidak ia inginkan. Tapi, hal itu bukanlah sesuatu yang mutlak. Jauh di dalam lubuk hati wanita itu, Bara yakin sekali, Kinar sangat baik dan bisa menerima semua ini. Hanya saja, wanita itu masih gengsi menunjukkan perasaannya.
“Ya...aku masih ingin berduaan di sini sama kamu. Jujur aja aku sedang malas pergi ke luar kota. Soalnya aku gampang capek. Maaf ya...kita perginya bulan depan saja,”bujuk Bara.
Kinar tersenyum, mendadak hatinya luluh melihat senyuman sang suami.”Kak....”
“Iya, Kinkin?”
“Apa pernikahan ini nyusahin Kakak?”
Bara menggeleng.”Aku bahagia menikah sama kamu. Pernikahan yang kutunggu sejak lama.”
“Tapi, kita baru kenal...mungkin beberapa tahun di kantor. Tapi, maksudku...kita baru ngobrol sewaktu aku lamar kakak, kan?”
“Kita sudah pernah ngobrol...dulu. Kamu sih pasti enggak ingat,”kata Bara.
“Harusnya sih ingat, tapi...enggak sama sekali.”
“Kita itu...pernah ngedate loh, dulu.” Bara memulai ceritanya.
Kinar tertawa terbahak-bahak.”Jangan bercanda lagi deh. Maksudnya, boleh sih bercanda...tapi, seriusan kali ini aku mau dengar.”
“Eh tapi...ini serius. Kita...pernah dekat sekali. Tapi, kemudian dipisahkan karena sesuatu.”
Kinar menggeleng tak percaya. Seandainya mereka pernah dekat, apa lagi dekat sekali. Tentunya ia akan langsung mengenal Bara ketika pria itu pindah ke kantornya.”Itu enggak mungkin, Kak.”
Mata Bara terlihat berkaca-kaca.”Iya. Kamu itu...wanita yang aku kejar-kejar sejak dulu. Tapi, semakin lama...aku semakin takut deketin kamu. Dan...alasan aku masuk kantor ini adalah, karena...mau dekat sama kamu lagi.”
“Itu aneh dan enggak mungkin.”
“Tapi, itu bener. Mau kuceritakan?”tanya Bara.
Kinar mengangguk kuat.”Ceritakan sedetail-detailnya.”
“Jadi, ceritanya begini....” Bara langsung terdiam sambil memejamkan mata. Sekitar tiga puluh detik kemudian ia kembali membuka matanya.”Nah, jadi...begitu ceritanya.”
“Asem!”
“Aku menceritakannya di dalam hati. Kamu pasti bisa dengar suara hatiku, kan?” Bara tertawa dengan polosnya.
Wajah Kinar terlihat sangat datar, kemudian ia mengambil bantal dan membekap wajah Bara. Pria itu tertawa terbahak-bahak. Andai Bara bukan suaminya, ia pasti sudah membekapnya sampai tak bernapas.
Siang sudah tiba dan seharian ini Kinar dan Bara hanya di dalam kamar. Usai pergulatan panas mereka sekitar sejam yang lalu, Bara tampak sibuk dengan laptopnya. Ia mengatakan kalau ada beberapa hal yang harus ia kerjakan. Sementara Kinar, hanya bisa memainkan ponselnya dengan sedikit rasa bosan. Padahal baru sehari ia tidak bekerja, tapi rasanya ingin bekerja kembali. Tapi, tidak untuk kembali ke kantornya itu.
Wanita itu membuka salah satu aplikasi belanja online, melihat-lihat pakaian dan produk kosmetik keluaran terbaru. Ia melirik suaminya.”Kak...aku belanja ya,”rayunya dengan manis.
“Belanja apa,sayang?”tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
Kinar memperlihatkan layar ponselnya.”Baju dan...lipstik,”kata Kinar penuh harap.
Bara meraih ponselnya, lalu menyerahkannya pada Kinar.”Nih, pakai mobile banking aku aja.”
Kinar meraihnya dengan bersemangat.”Sudah login nih?”
Bara menoleh sekilas, kemudian ia log in ke mobile bankingnya. Setelah itu ia serahkan lagi pada sang isteri.”PIN-nya tanggal lahir kamu ya.”
“Hah?” Kinar menganga.
“Iya, coba aja.”
Kinar mengangguk-angguk saja.”Ya udah. Aku balik ke tempat tidur buat belanja ya? Boleh belanja berapa nih?”
“Terserah kamu aja,”balas Bara sambil terus mengetikkan sesuatu di laptopnya.
Kinar mengecup pipi Bara, lalu kembali berbelanja. Matanya langsung berbinar melihat saldo di rekening Bara. Tiba-tiba ia tertawa jahat di dalam selimut. Ia pun mulai memilih barang-barang yang ia sukai. Bahkan, tidak lagi memikirkan harganya. Kinar cekikikan sendiri karena tabungan Bara sudah terkuras cukup banyak. Sepertinya ia sedang mencari masalah dengan sang suami.
“Tasnya belum tuh,”ucap Bara tiba-tiba.
Kinar menoleh.”Maksudnya?”
“Kamu udah beli sepatu, baju, kosmetik, celana, kaus...kayaknya tas yang belum.” Bara mengedipkan sebelah matanya. Berkali-kali ponsel yang sedang ia pegang berbunyi, ada pemberitahuan uang yang keluar dari rekeningnya. Jumlahnya cukup fantastis.
Kinar memanyunkan bibirnya. Lalu ia bangkit dan kemudian mengembalikan ponsel Bara.”Ini. Terima kasih.”
Bara menahan Kinar yang hendak pergi. Kemudian ia mendudukkan wanita itu di pangkuannya.”Kamu mau beli apa lagi? Aku bantu pilihkan ya?”
“Mau mobil,”kata Kinar spontan. Lagi pula suaminya bertanya tentang apa yang sedang ia inginkan. Tentu saja, kebetulan ia sedang menginginkan sebuah mobil. Dengan mobil itu, ia bisa pergi keluar, menghabiskan waktu sendirian, ke toko buku atau sekedar makan.
Mata Bara mendelik, cukup kaget dengan permintaan sang isteri.”Oh...besok ya?”
Kinar mengangguk saja.”Besok?”
“Iya. Besok. Terus...ini udahan belanjanya?”
“Udah. Sekarang...mau makan enak,”kata Kinar.
“Mau keluar atau pesan aja?”
Kinar berpikir sejenak, ia sedang malas sekali untuk keluar.”Pesan aja boleh?”