Bab 19

1155 Kata
Bara mengangguk.”Iya boleh. Kamu yang pesan aja ya?” Pria itu kembali menyerahkan ponselnya. “Kamu mau makan apa?”tanya Kinar bersemangat. “Tenderloin steak.” “Oke.” Diam-diam Kinar melirik ke arah suaminya. Sebenarnya ia cukup heran kenapa Bara tidak marah ia belanja sebanyak itu. Padahal, barang-barang itu juga tidak begitu ia perlukan. Kinar jadi merasa bersalah. Bara begitu sabar dan baik padanya. Kinar jadi teringat percakapannya dengan Bara pagi tadi. Bara bilang mereka pernah ngedate, dan sebelum ini mereka saling mengenal. Kinar berusaha membongkar memorinya. Tapi, ia tidak menemukan apa pun tentang Bara. Seingatnya, ia tidak pernah mengalami amnesia atau pun gegar otak. Kinar tampak berpikir keras, apa mungkin itu hanyalah karangan Bara. Usai memesan makanan, Kinar duduk di hadapan Bara. Suaminya itu melihatnya sekilas, lalu kembali fokus ke laptopnya.”Kenapa, sayang? Maaf ya...aku agak sibuk. Ada kerjaan yang harus aku urus.” “Iya enggak apa-apa, dilanjutkan aja.” Kinar mencermati lekukan wajah Bara sambil mengingat-ingat kapan dan dimana ia bertemu Bara. Rasanya mustahil jika mereka pernah kencan,tapi tidak melekat di otak Kinar. “Kamu lihat apa?” Bara tertawa. “Aku berusaha mengingat, kakak itu siapa di masa lalu aku,”jawab Kinar.”Wajah Kakak benar-benar enggak ada di memoriku.” “Ya iya, aku kan operasi, makanya bisa seganteng ini dan kamu enggak ngenalin aku,”jawab Bara asal. “Walah...manusia plastik toh!” Kinar menganga. Bara meraih wajah Kinar dan mengusap pipinya pelan.”Kamu ini aneh-aneh aja sih. Ya enggaklah. Aku becanda.” “Kakak...bohong ya soal kita dulu pernah kencan? Aku enggak pernah amnesia loh, Kak. Bagaimana mungkin?”kata Kinar serius. Bara menghentikan aktivitasnya.”Tapi, aku beneran, Kin.” “Terus...kakak itu sebenarnya siapa di masa lalu aku?”kata Kinar tak sabar. Bara tersenyum tipis.”Aku ini... dulu adalah Gara, Kin.” Akhirnya Bara mengakui segalanya. Tubuh Kinar membatu, bahkan sekarang rasanya bumi sedang berhenti berputar. Beberapa detik kemudian, Kinar melemparkan ponsel sekencang-kencangnya ke arah Bara hingga mengenai pundak lelaki itu. Rasanya lumayan sakit. Kinar meninggalkan rumah detik itu juga. Kinar berjalan cepat menuju gerbang rumah Bara. Soalnya rumah itu begitu besar dan memiliki halaman yang luas. Kinar merasa kesal karena sepertinya pagar rumah terlihat semakin jauh saja. Wanita itu mulai kelelahan, ia berhenti sejenak untuk mengambil napas. Masa bodo dengan Bara yang mungkin saja mengejarnya. Ia sudah cukup jauh, masih dapat menghindar kalau tiba-tiba lelaki itu muncul. Lalu tiba-tiba ia mendengar suara paving block bergesekan dengan sebuah benda. Kinar menoleh, ternyata Bara datang dengan mobil golf. Wanita itu memutar bola matanya. “Capek kan jalan? Yuk aku antar ke depan. Kamu mau kemana sih?”tanya Bara. Kinar mendengus sebal. “Udah sana.  Aku benci sama kamu!” Kinar terlihat kesal sekali jika ternyata Bara adalah Gara. Bara turun dari mobil golfnya, kemudian menghampiri Kinar. Ekspresi Kinar begitu mengejutkan. Wanita itu tampak merasa jijik berdekatan dengan Bara. “Sayang, kenapa sih?” Kinar berteriak histeris.”Jangan panggil aku sayang...pokoknya aku enggak mau lihat kamu lagi. Anterin aku pulang ke rumah Mama.” “Hei...hei, ya udah sini yuk duduk dulu. Kamu pasti capek.” Bara membawa Kinar duduk di mobil golf. Wanita itu nurut aja, sepertinya karena memang sudah kelelahan. Ada untungnya juga punya rumah dan halaman yang luas, pikir Bara. “Mau bawa aku kemana?”kata Kinar sedikit berteriak. “Kamu kan isteriku, ya mau kubawa masuk. Memangnya kamu mau kemana lagi? Rumah Mama kamu kan sudah kosong,”komentar Bara yang kini justru terlihat sangat tenang. “Tapi, kamu pembohong!”ratap Kinar. Betapa Malang nasibnya kini. Baru saja ia merasa beruntung memiliki suami yang begitu mencintainya,tampan pula, mapan, baik hati,tidak sombong, dan rajin menabung. Tapi, nyatanya pria itu menutupi identitasnya. Mobil berhenti. Bara menarik Kinar menuju halaman belakang. Di sana ada meja dengan empat kursi di atasnya. Di sekelilingnya ada pepohonan rindang.”Sini duduk.” Kinar menggeleng. Ia bersikeras berdiri saja. “Aku ...nggak mau lagi sama kamu.” “Kenapa?” “Kamu nipu aku!”kata Kinar dengan keras. Bara mengerutkan keningnya.”Aku nipu apa?” “Ternyata kamu adalah Gara.” Kinar bergidik ngeri. Bara mengangkat kedua bahunya.”Memangnya kenapa sama Gaara? Dia keren kok. Punya kekuatan untuk mengendalikan dan mengontrol pasir. Kemana-mana bawa gentong yang bertuliskan 'ai' yang artinya cinta. Sama seperti aku ...nanti aku tulis di keningku, cinta itu Kinara.” Suasana menjadi hening beberapa detik. Wajah Kinar terlihat kebingungan.”Kamu ngomong apa sih. Kamu Gaara kan?” “Iya. Gaara temennya Naruto, serial anime itu loh. Aku suka banget itu,”kata Bara santai. Kinar menepuk jidatnya.”Demi apa...kamu jawabnya tadi bercanda, Bara!!”Kinar berteriak geram pada suaminya itu. Ia sudah seserius itu sampai kabur dari rumah, walau baru sampai halaman. “Iya. Makanya aku bingung...kenapa kamu marah banget sampai lempar aku pakai hape. Lihat nih merah.” Bara menunjukkan pundaknya yang memang terlihat bekas kemerahan, beberapa sisi terlihat membiru karena lemparannya memang sangat keras. “Kan tadi itu kita lagi cerita soal...siapa kakak di masa lalu. Terus...kakak bilang Kakak adalah Gara,aku pikir Gara temen sekolahku dulu.” Kinar menutup wajahnya dengan malu. “Terus...kalau memang seandainya temen sekolah kamu, memangnya kenapa? Kok sampai semarah itu?” Kinar terdiam beberapa detik, kemudian ia merasa ngeri membayangkannya.”Dulu...ada yang suka sama aku, namanya Gara. Dia itu terobsesi banget sama aku. Dia juga anak orang kaya. Tapi, kulitnya item banget, terus...kayak enggak terurus gitu. Giginya kuning dan banyak kotorannya, kayak enggak pernah disikat, badannya bau banget. Pokoknya enggak banget. Aku tuh trauma sama dia. Dia sampai nekat peluk aku. Sampai mau cium dan menjamah tubuhku. Pokoknya enggak banget. Menggelikan.” Kinar bergidik ngeri. “Kan itu Gara yang jelek. Sekarang kan ganteng kan?” “Ya habisnya tadi kamu bilang habis operasi plastik. Siapa tahu aja demi obsesinya, Gara operasi plastik. Dia kan anak orang kaya.” Kinar memanyunkan bibirnya.”Makanya kalau ngomong harus hati-hati. Sampai kebawa perasaan nih aku.” Bara tertawa, pria itu memang benar-benar menyebalkan. “ya udah, tadi itu aku memang becanda.” “Terus kapan seriusnya?” Kinar melotot pada Bara. “Pas nikahin kamu!' Pria jangkung itu tersenyum manis. “Baiklah, Ferguso, manis sekali jawabannya.” Kinar berdiri hendak meninggalkan Bara. Sudah cukup untuk hari ini menghadapi kegilaan sang suami. Ia butuh istirahat untuk mewaraskan pikirannya. “Mau kemana, sayang?”tanya Bara. “Mau berendam, kepalaku panas ngadepin kamu!” Bara tersenyum penuh arti.”Ya jangan dihadapi. Dijalani aja.” Kinar menggeleng-gelengkan kepalanya.”Iya iya, dihadapi sampai kepala berasap.” Ponsel Bara pun berbunyi, pria itu menekan tombol hijau dan mendengarkan suara dari sana. Setelah itu ia beralih pada sang isteri.”Sayang, makanan sudah sampai. Aku ke depan dulu buat bayar ya.” Pria itu segera mengendarai mobil golfnya untuk mengambil dan membayar pesanannya. Kinar menarik napas panjang, mengeluarkannya pelan-pelan. Lalu ia berusaha mengembangkan senyumnya. “Sabar, Kin,sabar....”   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN