Siang sudah tiba dan seharian ini Kinar dan Bara hanya di dalam kamar. Usai pergulatan panas mereka sekitar sejam yang lalu, Bara tampak sibuk dengan laptopnya. Ia mengatakan kalau ada beberapa hal yang harus ia kerjakan. Sementara Kinar, hanya bisa memainkan ponselnya dengan sedikit rasa bosan. Padahal baru sehari ia tidak bekerja, tapi rasanya ingin bekerja kembali. Tapi, tidak untuk kembali ke kantornya itu.
Wanita itu membuka salah satu aplikasi belanja online, melihat-lihat pakaian dan produk kosmetik keluaran terbaru. Ia melirik suaminya.”Kak...aku belanja ya,”rayunya dengan manis.
“Belanja apa,sayang?”tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
Kinar memperlihatkan layar ponselnya.”Baju dan...lipstik,”kata Kinar penuh harap.
Bara meraih ponselnya, lalu menyerahkannya pada Kinar.”Nih, pakai mobile banking aku aja.”
Kinar meraihnya dengan bersemangat.”Sudah login nih?”
Bara menoleh sekilas, kemudian ia log in ke mobile bankingnya. Setelah itu ia serahkan lagi pada sang isteri.”PIN-nya tanggal lahir kamu ya.”
“Hah?” Kinar menganga.
“Iya, coba aja.”
Kinar mengangguk-angguk saja.”Ya udah. Aku balik ke tempat tidur buat belanja ya? Boleh belanja berapa nih?”
“Terserah kamu aja,”balas Bara sambil terus mengetikkan sesuatu di laptopnya.
Kinar mengecup pipi Bara, lalu kembali berbelanja. Matanya langsung berbinar melihat saldo di rekening Bara. Tiba-tiba ia tertawa jahat di dalam selimut. Ia pun mulai memilih barang-barang yang ia sukai. Bahkan, tidak lagi memikirkan harganya. Kinar cekikikan sendiri karena tabungan Bara sudah terkuras cukup banyak. Sepertinya ia sedang mencari masalah dengan sang suami.
“Tasnya belum tuh,”ucap Bara tiba-tiba.
Kinar menoleh.”Maksudnya?”
“Kamu udah beli sepatu, baju, kosmetik, celana, kaus...kayaknya tas yang belum.” Bara mengedipkan sebelah matanya. Berkali-kali ponsel yang sedang ia pegang berbunyi, ada pemberitahuan uang yang keluar dari rekeningnya. Jumlahnya cukup fantastis.
Kinar memanyunkan bibirnya. Lalu ia bangkit dan kemudian mengembalikan ponsel Bara.”Ini. Terima kasih.”
Bara menahan Kinar yang hendak pergi. Kemudian ia mendudukkan wanita itu di pangkuannya.”Kamu mau beli apa lagi? Aku bantu pilihkan ya?”
“Mau mobil,”kata Kinar spontan. Lagi pula suaminya bertanya tentang apa yang sedang ia inginkan. Tentu saja, kebetulan ia sedang menginginkan sebuah mobil. Dengan mobil itu, ia bisa pergi keluar, menghabiskan waktu sendirian, ke toko buku atau sekedar makan.
Mata Bara mendelik, cukup kaget dengan permintaan sang isteri.”Oh...besok ya?”
Kinar mengangguk saja.”Besok?”
“Iya. Besok. Terus...ini udahan belanjanya?”
“Udah. Sekarang...mau makan enak,”kata Kinar.
“Mau keluar atau pesan aja?”
Kinar berpikir sejenak, ia sedang malas sekali untuk keluar.”Pesan aja boleh?”
Bara mengangguk.”Iya boleh. Kamu yang pesan aja ya?” Pria itu kembali menyerahkan ponselnya.
“Kamu mau makan apa?”tanya Kinar bersemangat.
“Tenderloin steak.”
“Oke.” Diam-diam Kinar melirik ke arah suaminya.
Sebenarnya ia cukup heran kenapa Bara tidak marah ia belanja sebanyak itu. Padahal, barang-barang itu juga tidak begitu ia perlukan. Kinar jadi merasa bersalah. Bara begitu sabar dan baik padanya. Kinar jadi teringat percakapannya dengan Bara pagi tadi. Bara bilang mereka pernah ngedate, dan sebelum ini mereka saling mengenal. Kinar berusaha membongkar memorinya. Tapi, ia tidak menemukan apa pun tentang Bara. Seingatnya, ia tidak pernah mengalami amnesia atau pun gegar otak. Kinar tampak berpikir keras, apa mungkin itu hanyalah karangan Bara.
Usai memesan makanan, Kinar duduk di hadapan Bara. Suaminya itu melihatnya sekilas, lalu kembali fokus ke laptopnya.”Kenapa, sayang? Maaf ya...aku agak sibuk. Ada kerjaan yang harus aku urus.”
“Iya enggak apa-apa, dilanjutkan aja.” Kinar mencermati lekukan wajah Bara sambil mengingat-ingat kapan dan dimana ia bertemu Bara. Rasanya mustahil jika mereka pernah kencan,tapi tidak melekat di otak Kinar.
“Kamu lihat apa?” Bara tertawa.
“Aku berusaha mengingat, kakak itu siapa di masa lalu aku,”jawab Kinar.”Wajah Kakak benar-benar enggak ada di memoriku.”
“Ya iya, aku kan operasi, makanya bisa seganteng ini dan kamu enggak ngenalin aku,”jawab Bara asal.
“Walah...manusia plastik toh!” Kinar menganga.
Bara meraih wajah Kinar dan mengusap pipinya pelan.”Kamu ini aneh-aneh aja sih. Ya enggaklah. Aku becanda.”
“Kakak...bohong ya soal kita dulu pernah kencan? Aku enggak pernah amnesia loh, Kak. Bagaimana mungkin?”kata Kinar serius.
Bara menghentikan aktivitasnya.”Tapi, aku beneran, Kin.”
“Terus...kakak itu sebenarnya siapa di masa lalu aku?”kata Kinar tak sabar.
Bara tersenyum tipis.”Aku ini... dulu adalah Gara, Kin.” Akhirnya Bara mengakui segalanya.
Tubuh Kinar membatu, bahkan sekarang rasanya bumi sedang berhenti berputar. Beberapa detik kemudian, Kinar melemparkan ponsel sekencang-kencangnya ke arah Bara hingga mengenai pundak lelaki itu. Rasanya lumayan sakit. Kinar meninggalkan rumah detik itu juga.
Kinar berjalan cepat menuju gerbang rumah Bara. Soalnya rumah itu begitu besar dan memiliki halaman yang luas. Kinar merasa kesal karena sepertinya pagar rumah terlihat semakin jauh saja. Wanita itu mulai kelelahan, ia berhenti sejenak untuk mengambil napas. Masa bodo dengan Bara yang mungkin saja mengejarnya. Ia sudah cukup jauh, masih dapat menghindar kalau tiba-tiba lelaki itu muncul.
Lalu tiba-tiba ia mendengar suara paving block bergesekan dengan sebuah benda. Kinar menoleh, ternyata Bara datang dengan mobil golf. Wanita itu memutar bola matanya.
“Capek kan jalan? Yuk aku antar ke depan. Kamu mau kemana sih?”tanya Bara.
Kinar mendengus sebal. “Udah sana. Aku benci sama kamu!”
Kinar terlihat kesal sekali jika ternyata Bara adalah Gara.
Bara turun dari mobil golfnya, kemudian menghampiri Kinar. Ekspresi Kinar begitu mengejutkan. Wanita itu tampak merasa jijik berdekatan dengan Bara.
“Sayang, kenapa sih?”
Kinar berteriak histeris.”Jangan panggil aku sayang...pokoknya aku enggak mau lihat kamu lagi. Anterin aku pulang ke rumah Mama.”
“Hei...hei, ya udah sini yuk duduk dulu. Kamu pasti capek.” Bara membawa Kinar duduk di mobil golf. Wanita itu nurut aja, sepertinya karena memang sudah kelelahan. Ada untungnya juga punya rumah dan halaman yang luas, pikir Bara.
“Mau bawa aku kemana?”kata Kinar sedikit berteriak.
“Kamu kan isteriku, ya mau kubawa masuk. Memangnya kamu mau kemana lagi? Rumah Mama kamu kan sudah kosong,”komentar Bara yang kini justru terlihat sangat tenang.
“Tapi, kamu pembohong!”ratap Kinar. Betapa Malang nasibnya kini. Baru saja ia merasa beruntung memiliki suami yang begitu mencintainya,tampan pula, mapan, baik hati,tidak sombong, dan rajin menabung. Tapi, nyatanya pria itu menutupi identitasnya.
Mobil berhenti. Bara menarik Kinar menuju halaman belakang. Di sana ada meja dengan empat kursi di atasnya. Di sekelilingnya ada pepohonan rindang.”Sini duduk.”
Kinar menggeleng. Ia bersikeras berdiri saja. “Aku ...nggak mau lagi sama kamu.”
“Kenapa?”
“Kamu nipu aku!”kata Kinar dengan keras.
Bara mengerutkan keningnya.”Aku nipu apa?”
“Ternyata kamu adalah Gara.” Kinar bergidik ngeri.
Bara mengangkat kedua bahunya.”Memangnya kenapa sama Gaara? Dia keren kok. Punya kekuatan untuk mengendalikan dan mengontrol pasir. Kemana-mana bawa gentong yang bertuliskan 'ai' yang artinya cinta. Sama seperti aku ...nanti aku tulis di keningku, cinta itu Kinara.”