Adrian sesekali mencuri pandandang ke bangku belakang, kini istrinya harus rela berbagi dengan kedua anaknya yang menginginkan duduk di samping dirinya, ia ingat dulu perempuan itu paling anti bila ada yang menduduki kursi tersebut terlebih bila itu seorang wanita. Pandangan Adrian beralih menatap kedua anaknya yang tertidur pulas selama perjalanan. setiap menatap bola mata anaknya, selama itu pula puji dan syukur ia ucapkan pada tuhan yang maha kuasa. Ia tak pernah menyangka bisa bertahan hingga di titik ini banyak halang rintangan yang harus mereka hadapi bahkan LDR ter ekstrim menurutnya, yang sampai akhir hayat tak akan pernah terlupakan oleh dirinya. Cinta yang dulu ia perjuangkan sendiri kini tak lagi bertepuk sebelah tangan, wanitanya tak seperti perempuan kebanyakan yang berseliwe

