Adriana memaksakan tubuhnya untuk terbangun, ia merasakan nyeri di kepalanya akibat benturan yang cukup keras. Adriana memandangi ruangan di sekitarnya, ia berada di kamar suaminya di rumah mertuanya. Setelah pusingnya terasa berkurang Adriana memaksakan tubuhnya untuk bangun, perutnya membeorntak untuk di isi, semenjak menjadi busiu Adriana kerap di landa rasa lapar. Dengan langkah pelan Adriana berjalan menyusuri rumah tersebut yang sudah sangat sepi, karena hari sudah dini hari “ngapain kamu?” Adriana menghabiskan minumnya dengan sdikit tergesa-gesa “maaf ma Riana tadi haus” cicitnya gemetar “duduklah, biar mama buatkan kamu jus” ucap Dian yang juga keluar karena kehausan “terima kasih ma” “bagaimana kepala kamu” “sudah mendingan ma” “mama minta maaf, tadi Rian menceritakan se

