Part 9

1786 Kata
 Setelah Adriana memberikan undangan pernikahan pada teman-temannya membuat satu rumah sakit heboh dan banyak yang mengatakan kalau Adriana telah hamil di luar nikah, parahnya lagi Adriana di tuding melakukan guna-guna untuk memikat seorang Adrian, yang notabene adalah keponakan dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. hal tersebut sampai ke telinga Adrian, bahkan laki-laki tersebut harus turun tangan dan membuat seantero  rumah sakit patah hati sebab Adrian yang terkenal dengan sikap yang bersahabat dengan siapapun kini tampak menyeramkan, bila menyangkut nama baik istrinya. Adriana dan Adrian duduk di atas pelaminan bak raja dan ratu semalam, mereka tampak serasi dan sangat cocok, setelah dua jam mengenakan sunting di kepalnya Adriana mengeluh pusing minta ganti gaun pernikahannya. “masih pusing?” tanya Adrian memberikan segelas air hangat yang entah dapat dari mana, Adrian belum berganti pakaian, ia masih mengenakan pakaian marapulai (pakaian adat pernikahan dari sumatera barat) sebab dari tadi banyak tamu ataupun rekannya yang memberikan ucapan selamat pada dirinya yang menjadi pengantin untuk hari ini. “udah enggak, terima kasih” ucap Adriana menerima minuman yang di berikan oleh Adrian. “Adriana aku boleh mengambil foto kita, kamu lucu banget” pinta Adrian, ia merasa gemes sendiri melihat Adriana yang menurutnya sangat imut. istrinya satu itu memilih tema pernikahan ala cinderella, entah pemikiran dari mana, sebab Adriana adalah tipe wanita yang dingin bahkan terkesan tak acuh, tapi kini wanita itu tampak mempesona ditambah dengan riasan bold eye make up dan yang membuatnya bahagia adalah istrinya mau menuruti keinginanya agar ia mau menggunakan hijab, ia tak pernah memaksa tapi dengan gampangnya istrinya mengiyakan permintaannya. “boleh” jawabnya sambil mengulas senyuman kepada kamera ponsel suaminya, senyuma yang jarang terlihat oleh Adrian.  “jangan lupa kirim ke aku juga” ucapnya saat Adrian tengah sibuk mengamati foto mereka, kebetulan tamu mereka sudah mulai lengang “iya nanti akan aku kirim” Adriana mengangguk, ia akan mengenang hari ini, sebab setelah pernikahan ini berakhir tak akan ada pernikahan kedua baginya “boleh aku tau kenapa sikap kamu berubah akhir-akhir ini apa kamu mulai menerima kedekatan kita?” tanya Adrian “tidak, setidaknya di hadapan orang ramai aku gak boleh membuat kamu malu dengan tingkah kekanak-kanan aku yang menolak pernikahan konyol ini” jawab Adriana tanpa menoleh pada Adrian, entahlah hanya saja ia tak mampu bila mengatakan itu di hadapan suaminya, ia pun tak tau mengapa. “kalau begitu aku ganti baju dulu” ucap Adrian kecewa, entah kenapa ia bisa jatuh pada pesona istrinya yang dingin ini, padahal ia bisa mendapatkan wanita yang lebih dari Adriana, tapi hati tak bisa di paksa bila ingin berlabuh pada siapa Semakin sore tamu semakin banyak, Adriana tak pernah tau kapan tamu-tamu ini akan habis, badannya pegal dan juga kepalnya yang tadi berdenyut kini semakin parah, sangking banyaknya tamu ia merasa pasokan oksigen semakin menipis. “Adrian” mata Adriana membulat seketika mendapati suaminya di peluk seorang wanita muda, bahkan dirinya masih berdiri di samping Adrian, suaminya. “selamat akhirnya kamu nikah juga” “iya dong kalau nunggu kamu bisa-bisa aku gak nikah-nikah mending nyari yang pasti” seloroh Adrian wanita yang tadi memeluknya, meski suaminya tak membalas pelukan wanita tersebut tapi ia juga tak menolak, berarti suaminya tak mempermasalahkan hal tersebut. “padahal saat itu aku mau mengatakan iya, tapi kamu malah ngilang” “kesempatan tidak datang dua kali” seloroh Adrian tanpa memperdulikan wanita yang berdiri di sampinganya “saya permisi dulu” uicap Adriana mengistrupsi pembicaraan kedua pasangan di hadapannya “mau aku temani?” tawar Adrian tanpa bersalah “gak usah aku bisa sendiri, di bawah ada Aci” Adriana berjalan dengan susah payah karena gaun yang di kenakan olehnya cukup ribet.  "yah sudah kalau begitu hati-hati"  “sepertinya istri kamu cemburu sama aku, lain kali kenalin lah kami” Adrian hanya mengangguk, sebab ia tak yakin dengan perkataan teman lama di hadapannya ini. “tamu kamu masih banyak aku turun dulu laper pingin cicipin semuanya” "silahkan, nikmati sepuasnya, aku yakin kau tidak akan menyesal memakannya aku jamin" "aku percaya dengan selera tante Dian, kau tenang saja" ____ Setelah melewati momen-momen paling di tunggu para jomblowan dan jomblo wati yaitu acara peleparan bunga, Adriana meminta untuk istirahat, sesuai dengan bookingan di awal mereka mendapat bonus satu kamar pengantin yang sudah menjadi paketan yang di sediakan pihak hotel, untuk kedua mempelai. “kenapa kamu buangin bunganya?” tanya Adriana mendapati suaminya membuang bunga mawar yang di tata rapi di atas ranjang mereka “mereka terlalu romantis untuk pernikahan kita” ucap Adrian yang terdengar menyindir di telinga Adriana. “aku tau, kau gak perlu menyindirnya kan, tapi setidaknya aku ingin memfotonya terlebih dahulu” gerutu Adriana, entah kenapa ia menjadi kesal sehingga ia memilih untuk merebahkan tubuhnya saja. “kenapa tidur, bukannya kamu mau memfotonya terlebih dahulu” ucap Adrian mengembalikan kelopak mawar yang tadi ia akan ia buang  “emang kamu bisa Rian?” “bisa” ucapnya kembali menata kelopak mawar tersebut meski tak secantik di awal “indah” Adriana begitu mengagumi hasil bidikan suaminya “lebih indah mata kamu sebenarnya” bisik Adrian “kamu bilang apa?” “tidak, kamu istirahat lah” Adriana  mengangguk kemudian kembali membreskan kelopak mawar tersebut ia bisa gatal-gatal terkena sebuk sari yang mungkin masih tertinggal di kelopak mawar tersebut “Riana aku bisa minta tolong?” “asalkan bukan kebutuhan biologismu aku akan mempertimbangkannya” ucap Adriana terus terang, ia cukup terbawa suasana romatis yang sedang ia rasakan. “aku tau itu" Adrian menjda ucapannya "aku mau kamu mengganti panggilan kamu ke aku, abang, kakak, atau mas, itu terdengar lebih baik dari pada kamu memanggil aku dengan panggilan kau atau nama” Adriana tak menjawab ia bingung lidahnya kelu merubah nama panggilan setelah lebih tiga bulan pernikahan. “baiklah” “baiklah apa?” tanya Adrian “baiklah akan ku coba” "coba apa?" "mas mungkin" mendengar itu tangan Adrian terulur merapikan anak rambut istrinya kebalik telinga, menipiskan jarak keduanya “apa boleh?” tanya Adrian menatap manik hitam milik istrinya “hanya kening” ucapnya memperingati. seolah paham keinginan suaminya. **** Setelah sarapan pagi di hotel tempat mereka mengadan resepsi Adrian memboyong istrinya menuju rumah yang beberapa minggu lalu ia katakan. “kita kemana maas?” tanya Adriana, lidahnya masih kaku memanggil Adrian dengan panggilan mas. “kamu minta kita hidup mandiri bukan? dan saat itu aku sempat mendiskusikan ini dengan papa, beliau menawarkan rumah beliau saat masih muda dengan mama, sudah hampir dua bulan tidak di huni, sebelum rumah yang aku persiapkan rampung”  “maksudnya?” “sebanrya aku sudah menyiapkan rumah untuk kita, tepat  seminggu setelah pernikahan, tapi belum rampung, sehingga aku belum mengatakan apapun” Adriana tak berkutik, suaminya terlampau jauh memikirkan rumah tangga mereka yang abu-abu, bahkan perpisahan pun sudah ia persiapkan. "kita tunggu rumah kamu rampung saja, sepertinya mama masih enggan berpisah dengan kita"  “yah sudah terserah kamu kita lihat rumah yang sedang aku bangun saja” ucapnya berjalan memasuki mobilnya. ___ Adriana mengikuti langkah Adrian kemanapun , benar saja rumahnya baru 80%, bahkan masih banyak material yang berserak di berbagai sudut. “kenapa kamarnya banyak banget mas?”  “karena aku ingin memiliki anak yang banyak seperti aunty Nadine” “mengapa wajah kamu kaku begitu? tenang saja aku tak akan memaksa hal itu dengan kamu  mungkin dengan yang lain, bagaimana pun aku perlu melanjutkan garis keturunanku” ucap Adrian, ia tak mau memberi jarak pada istrinya setelah kedekatan mereka beberapa waktu lalu. hanya karena keinginanya, melangkah secara perlahan tak masalah kan? “semoga suatu hari nanti kamu bisa mewujudkan impian kamu” Adrian hanya mengangguk kemudian kembali mengelilingi rumahnya. Sementara Adriana ia hanya diam tak tau mengatakan apapun, sejujurnya ia sedikit terganggu dengan ucapan suaminya barusan “kamu kenapa bengong Adriana?” Adriana tak menjawab lagi-lagi ia hanya menggeleng. hingga Adrian memutuskan untu pulang setelah puas berkeliling. ____ Adriana memakan makan malamnya dalam diam, fikirannya masih berputar-putar mengenai ucapan Adrian, kenapa ia bisa seperti ini? Bukankah malah bagus. “mbak kenapa diam aja, mbak gak enak badan yah?” tanya Indah yang sedari tadi memperhatikan kakak iparnya “ah enggak kok, mbak cuma kecapeaan aja” dusta Adriana “kamu kecapeaan kenapa nak, apa kamu sedang hamil?” tanya Dian dengan mata berbinar Adriana menggeleng cepat bagaimana bisa, kemudian menghadap suaminya yang hanya diam “kamu udah cek?” tanya Dian “belum ma, maksudnya hari ini Adriana sedang datang tamu makanya Adriana bilang belum” “yah padahal kita sudah berharap iya kan pah, nanti mama resepin jamu buat kamu yah biar semakin subur, mau?” “boleh ma, tapi nanti mama kasih resepnya aja, biar Adriana yang buat sendiri” ucapnya sambil tersenyum. Sedangkan Adrian dan Alan hanya diam menikmati hidangan yang tersaji. **** Adriana mengepak bajunya pada sebuah koper besar, rumah impian Adrian telah selesai dan siap huni bahkan sebagian prabot sudah tersedia. “kok kalian cepet banget pindahnya, nanti mama kangen” ucap Dian pada menantu dan anaknya “kalau mama kangen kan bisa datang berkunjung atau nanti kami yang mengunjungi mama, ia kan mas?” tanya Adriana pada suaminya, ia begitu menyayangi mertuanya ini, ia seperti kembali bertemu dengan sosok ibu yang telah lama ia rindukan “iya ma, kami pasti rajin berkunjung” “semoga dengan kepindahan kalian mama cepet dapat cucu” ucap Dian semangat semenatara Adriana, ia hanya dian dengan senyum yang di paksakan. ____ “Kamar di rumah ini banyak mas, aku ingin menempati kamar yang di sebelah” ucap Adriana setelah menyusun bajunya ke dalam lemari yang berada di kamarnya dan Adrian “kenapa harus pindah bahkan setelah tiga bulan semua sudah terbiasa bukan?” tanya Adrian men  “kita tidak punya alasan untuk melanjutkan pernikahan ini mas” ucap Adriana datar “maksud kamu apa Adriana, aku kira kamu akan berfikir dua kali setelah kedekatan kita selama ini Adriana?” “aku tidak memiliki perasaan apapun sama kamu mas, aku sadar diri untuk menggugat kamu berarti aku tidak menghargai kebaikan kamu sekeluiarga, maka dari itu aku menunggu kamu untuk melepaskan aku” “bermimpilah Adriana, aku gak akan melepaskan kamu, satu lagi gak ada yang namnaya pisah kamar, kalau kamu memaksa aku pastikan kamu akan menjadi milikku seutuhnya malam ini juga” “kamu sudah berjanji untuk tidak melakukan itu dengan ku” ucap Adriana mengingatkan “maka dari itu turuti permintaan aku, rumah ini masih baru, aku tidak bertanggung jawab bila ada yang tiba-tiba mengganggu tidurmu” ucap Adrian memilih beristirahat, berbincangan dengan istrinya ini terkadang  membuat emosinya naik turun. Adriana diam dan memperhatikan sekeliling, suaminya benar. rumah ini baru selesai, setelah berbulan tak di huni. Dengan langkah berat Adriana merebahkan tubuhnya di samping suaminya dan menutup matanya berharap cepat terlelap dan bertemu pagi. **** Adrian menyduh air hangat pada kopi instan yang memang sudah ia sediakan. Istrinya sudah lebih dahulu berangkat kerja tanpa mengatakan padanya ataupun menyiapkan sarapan untuk dirinya, ia tak bisa mengatakan apapun kendati hatinya bergejolak, ia tak mempermasalahkan istrinya tak membuatkan sarapan tapi ia kesal karena wanita itu pergi tak izin terlebih dahulu. Adrian memasuki kantornya dengan lesu, sepereti tak mempunyai semangat hidup. Bagaimana mau semangat bila hubungannya dengan orang terkasil kacau, terkadang ia ingin menyerah tapi lagi-lagi hatinya masih ingin bertahan Adrian mengernyitkan keningnya mendapati Juna di dalam ruangannya. “ternyata bos yang terkkenal disiplin waktu bisa ngaret juga, maklum pengantin baru” ucap Juna menggoda sepupunya Adrian hanya menyunggingkan sebuah senyuman tanpa mengatakan yang sebenarnya, ia tak mau mengumbar aib istrinya, Adriana sudah menjadi pilihannya dan ia harus bertanggung jawab dengan pilihannya itu. “ada apa kau kemari tumben” “biasa mood ibu hamil berubah-ubah ntar kamu ngalamin juga lah, ngomong-ngomong nih yah, Adriana keadaannya?" “bukannya kalian sahabat dari lama, kenapa kamu seperti gak tau apapun?” “dia memblokir semua media komunikasinya dengan aku, bahkan semua MedSos aku di blokirnya juga" “yakin kamu gak tau kenapa?” “enggak, tapi setidaknya dia sudah bersama laki-laki yang tepat, aku minta tolong banget jaga dia, aku udah nganggep dia seperti adik aku sendiri” Adrian hanya megangguk, ia tak tau mengatakan apa lagi dan juga ia tak mau memanggali sesuatu yang sudah lama terkubur, mengenai perasaan istrinya pada sepupu yang ada di hadapannya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN