Part 8

1845 Kata
“Rian, papa berinisiatif merayakan pernikahaan kalian setelah penyelenggaraan 100 hari  Denish meninggal, bagaimanapun pernikahan kalian masih di bawah tangan, meskipun secara agama kalian sudah sah menjadi suami istri. tapi papa gak mau ada rumor buruk menjelang pemilu, apa lagi papa tidak naik dari partai manapun, papa harap kalian memahami posisi papa. bagaimana menurut kamu Rian?" tak terasa sudah tiga bulan kepergian Denis dan suda tiga bulan pula hubungannya dengan Adriana terjalin namun ia mereasa belum ada kemajuan apapun dari hubungannya dengan Adriana "Rian udah menyiapkan berkasnya pa, cuma untuk resepsi kami mengikuti yang terbaik aja, iyakan sayang?" sontak semua mata tertuju pada Adriana yang baru tiba membawa buah potong yang tadi ia persiapkan "kenapa?" tanya Adriana yang tak tau menau "papa mau melakukan resepsi pernikahan kalian setelah seratus hari ayah kamu, bagaimanapun Adrian anak pertama, papa takut banyak rumor miring menghampiri rumah tangga kalian" Adriana tak langsung menjawab pertanyaan Alan beberapa kali ia mencuri pandang pada suaminya apa itu murni keinginan mertuanya atau kong kali kong suaminya “Riana terserah papa dan Rian saja” pasrah Adriana akhirnya,memangnya dia bisa menolak permintaan mertuanya? ____ Adrian mengeringkan rambutnya yang masih basah, kebiasaan lamanya selalu mandi sebelum mengistirahatkan tubuhnya. “kamu mikirin apa Riana?” tanya Adrian mendapati istrinya tengah melamun di sudut ranjang mereka “bukan apa-apa”  “aku yakin kamu memikirkan sesuatu, katakana lah”  "aku gak apa-apa Rian, minggir aku mau ke kamar mandi" sanggah Adriana malas "jawab dulu pertanyaan aku"  “kamu belum lupa dengan perjanjian kita bukan, tidak akan ada kontak fisik dalam bentuk apapun” Adriana menarik paksa tangannya “kamu istriku, dan aku berhak jika hanya untuk menyentuh kamu seperti ini, bahkan lebih. lagi pula saat itu aku menyetujui semua poin tersebut karena kita belum menikah, tidak ada kontak fisi karena kita memang tidak boleh bersentuhan, dan ingat Adriana tak ada dalam perjanjian dilarang mencampuri urusan masing-masing, yang berarti aku berhak mengetahui apa yang kamu fikirkan” ucap Adrian panjang lebar dengan mengangkat sebelah alisnya “katakanlah apapun itu” "aku sudah bilangkan kalau aku gak memikirkan apapun, sudahlah aku mengantuk" "jawab atau kau tidur tanpa membersihkan wajahmu"  Adriana mendesah kasar, sebelum menyampaika yang sempat terlintas dalam fikirannya  “entahlah Rian, aku merasa gak pantas meminta ini sama kamu, aku tau aku sudah banyak merepotkan keluarga ini” jawabnya menunduk “katakanlah, asal bukan perceraian, karena kita tidak memiliki alasan untuk berpisah, dan kamu harus memberikan aku kesempatan untuk membuat kamu mencintaiku” Adriana menyipitkan matanya, memang siapa yang meminta perceraian saat ini? tak ia pungkiri ia sudah nyaman dengan keluarga laki-laki yang berstatus sebagai suaminya ini. tapi ia takut melukai perasaan mertuanya sebab ia tak tau sampai kapan mampu bertahan dengan pernikahan tanpa rasa seperti yang ia jalani saat ini, menyayangi keluarga Rian bukan berarti mencintai pria itu juga kan? lagi pula ia sudah muak berpura-pura menikmati perannya sebagi seorang istri di hadapan semua orang  “aku ingin kita tinggal terpisah dengan orang tua kamu, aku rasa kita harus mandiri”  “kenapa, apa kamu tidak nyaman dengan keluarga aku? atau mereka bersikap gak baik sama kamu?” “bukan, bukan begitu aku hanya merasa kita perlu privasi dari keluarga kamu, aku gak masalah kita tinggal di kontrakan sekalipun” “maksud kamu apa Adriana, kamu meragukan kemampuan aku untuk memberikan kamu hunian tetap aku masih mampu Adriana” tandas Adrian tak terima, egonya tersentil. ia masih mampu memberikan rumah impian untuk istrinya, meski memang saat ini ia sedikit terkendala dalam masalah keuangan, Adrian sedang berusaha melebarkan jangkauan usahanya, bagaimanapun perusahaan yang ia dirikan masih tergolong sangat baru namun ia yakin suatu saat nanti perusahaannya bisa setara dengan MAHESA ataupun perusahaan besar lainnya. “aku sudah bilang bukan, aku sungkan meminta tapi kau memaksaku, sekarang kamu marahkan dengan keinginan aku?” entah sejak kapan Adriana menjadi cengeng di hadapan suaminya apa karena hormon bulanannya? “aku tidak marah Riana, aku minta maaf sudah membentak kamu" mendengar penyesalan dari suaminya justru membuat air matanya sulit ia cegah, entah karena apa.  "hei kamu nangis aku minta maaf Ri, sungguh aku tidak berniat membentak kamu" tak ada jawaban dari istrinya, secepat kilat perempuan itu memasuki kamar mandi.  **** tanpa sepatah kata Adriana keluar dari mobil suaminya, semudah telapak tangan Adriana merubah wajah datarnya menjadi secerah mentari pagi pada warga rumah sakit yang menyapanya, senyum yang di gadang-gadang menjadi obat terbaik untuk para pasiennya. “sejak kapan kamu dekat dengan pengusaha itu, kalian pacaran yah?” nyinyir seorang perawat yang entah dari mana “bukan” jawab Adriana acuh “aa… yah pasti bukan sih, gak mungkin dia mau sama peraawat rendahan seperti dirimu, atau kau salah satu wanita simpanannya, jangan-jangan kau buka job sampingan selain menjadi perawat, pantas saja banyak pasien laki-laki ingin di sentuh oleh tangan kotor mu itu” Adriana tak menggubris meski buku-buku jarinya sudah memutih akibat kepalan yang bisa melukai telapak tangannya sendiri “sepertinya kau sudah hapal sekali dengan rutinitas seperti itu, terkadang seseorang menghina orang lain demi menutupi aib yang ia lakukan, atau jangan-jangan kau juga buka jasa seperti itu, sayangnya aku tak perduli” ucapnya melanjutkan langkahnya tanpa menoleh kebelakang “kenapa gak kamu bilang aja kalau kamu itu istrinya Adrian, aku yakin kalau dia tau kamu istri dari keponakan yang punya rumah sakit dia pasti sungkem 10 jari sama kamu?” tanya Aci yang sedari tadi melihat perseteruan dirnya. “gak perlu lah untuk apa, biarlah semua berjalan seperti biasanya” tak banyak yang mengetahui pernikahan dirinya dengan salah satu pengusaha muda yang sering menjadi buah bibir rekan-rekanya “Adriana nanti sebelum istirahat makan siang kamu ke ruangan saya” ucap Nadine tiba-tiba menghampiri mereka di bagian  informasi “baik dok” ucap Adriana ____ “ada apa dok?” tanya Adriana ketika memasuki ruang Nadine. “duduk lah Adriana” titah Nadine mempersilahkan Adriana untuk duduk  “bagaimana keadan kamu setelah tiga bulan ini?”  “alhamdulillah sudah lebih mendingan aunty” “syukurlah, sebenarnya ada yang mau aunty bicarakan dengan bang Alan, tapi aunty fikir bertanya dengan kamu juga gak masalah” “ada apa aunty?” “apa mertua kamu sudah merencanakan resepsi kamu dengan Adrian? bagaimanapun aunty tidak ingin rumah sakit ini di penuhi dengan rumor miring antara kamu dengan Adrian, aunty tidak bisa menutup mulut semua orang yang ada di sini, kecuali kamu menyumpal mulut mereka dengan melakukan melakukan resepsi pernikahan, meresmikan hubungan kalian. Aunty rasa hanya itu yang bisa menyelamatkan nama kamu, apa mertua kamu tau apa yang kamu alami selama satu bulan belakang?” ucap Nadine panjang lebar “sebenarnya papa sudah merencanakan resepsi pernikahan kami setelah 100 hari kepulangan ayah Riana, Riana minta maaf sudah mencemarkan rumah sakit ini” ia rasa keputusannya untuk menyetujui keingnan mertuanya sudah tepat, karena pernikahan ini bukan hanya miliknya tapi milik orang-orang di sekiktarnya  “aunty harap kamu tidak salah faham, aunty hanya tidak ingin kamu di rendahkan tanpa mereka tau faktanya, seperti yang aunty katakan, aunty tidak bisa menutup mulut semua orang yang ada di rumah sakit ini yang selalu nyinyirin kamu dan Adrian” “iya aunty Adriana mengerti” “aunty minta maaf kalau tadi aunty menyinggung perasaan kamu, aunty tidak punya maksud apapun, aunty hanya mau kamu tidak di rendahkan” “iya aunty Adriana mengerti, sekali lagi terima kasih, Adrina keluar dulu, permisi” Nadine hanya mengangguk “kamu dri ruangan dokter Nadine, kenapa? pasti karena kamu ketahuan menggoda keponakannya, saran aku kamu beli kaca yang besar, terus ngaca biar kamu sadar diri, kamu itu siapa” ingin rasanya Adriana menjambak rambut wanita yang ada di hadapannya ini, tapi ia urungkan ia tak ingin mencemarkan namanya lebih dari ini. “kenapa kalian mengobrol di luar, kamu juga Maya, saya panggil kamu ke ruangan saya bukan untuk bergosip di depan ruangan saya” ucap Nadine keluar dari ruangnnya, rasanya ia begitu kesal dengan nama Maya dan kelakuan yang sama dengan Maya kenalan suaminya dulu. “maaf dok” ucap keduanya “saya tungu kamu di dalam” ucap Nadine pada Maya setelah tersenyum tipis pada Adriana. Adriana tak perduli ia terus melangkah menuju ruang informasi tempat ia menitipkan barang-barangnya saat ia terburu-buru ke ruangan Nadine **** Adriana membantu mertuanya mengepak paket makanan yang akan di berikan pada anak panti yang mereka undang untuk membacakan doa 100 hari meninggalnya Denis. “Riana”  “ia ma?” tanya Adriana “kamu mikirin apa, ada masalah di rumah sakit?” “Riana cuma kelelahan ma, hari ini banyak sedang  pasien” dusta Adriana, banyak hal yang difikirkan olehnya bahkan tak ada satupun pekerjaannya yang beres. “kalau kamu masih kecapeaan kamu bisa istirahat dulu, lagi pula ini tinggal dikit lagi” “gak apa ma, Adriana masih sanggup kok”  “kalau gitu kamu hitung kembali box makanan tersebut yah, mama mau kedepan dulu" "iya ma" ___ Eghhh…. Adriana merentangkan tanganya tidurnya terasa nyenyak, tunggu. bukannya tadi ia berada di atas marmer dingin kenapa sekarang terasa empuk? “kamu sudah bangun?”  “ya ampun kaget aku” ucap Adriana bangun dari rebahannya meliaht siapa yang mengagetkan dirinya. siapa lagi kalau bukan Adrian, suaminya tengah menyisir rambutnya dengan pakaian yang sudah rapi. “siap-siap lah sebentar lagi acaranya akan di mulai, tidak usah dandan”  “aku tunggu di bawah” ucap Adrian berjalan keluar pintu kamarnya. dengan langkah gontai Adriana memasuki kamar mandi sekedar mencuci wajahnya agar tak terlalu terlihat muka bantalnya. *** “terima kasih yah buk” ucap Adriana pada pemilik panti asuhan yang ia undang untuk acara 100 hari ayahnya.. “untuk keperluan panti bu semoga bermanfaat” ucap Adrian memberikan beberapa lembar uang yang sudah ia persiapkan sejak tadi. Setelah selesai memberikan paket makanan dan bingkisan, Adriana berniat menyusul mamanya untuk membereskan dapur mereka yang berantakan “kamu mau kemana?” cegat Adrian  “mau ke tempat mama” ucap Adriana melepaskan cengkraman suaminya “nanti saja, temani aku dulu bertemu teman-temanku” “aku gak mau” “Adriana” panggil Adrian saat istrinya berlalu “ada yang bisa Adriana bantu ma?” tanya Adriana pada mertuanya “udah beres semua, tapi kalau kamu mau kerjaan, tolong bawa kue ini ke teman-teman Adrian di depan yah” ucap Dian memberikan potongan kue yang sudah di tatanya di atas piring “iya ma”   _____ Setelah kepulangan teman-teman suaminya Adriana memasuki kamar mereka lebih dulu, badannya terasa pegal-pegal entah karena apa. “Adriana aku sudah memikirkan permintaan kamu, kita bisa pindah tapi setelah acara resepsi di gelar, tadi papa menawarkan resepsi pernikahan kita di adakan dua minggu lagi, itupun kalau kamu setuju” “aku ikut” “hanya itu?” “maksud kamu?” tanya Adriana bigung “gak ada lupakan saja, lanjutkan saja istirahat kamu” jawab Adrian menggelar sajadahnya “kamu solat apa?” tanya Adriana tak bisa menahan rasa penasarannya, bukankah tadi suaminya sudah mendirikan shalat isya berjamaah di mesjid, lalu sekaraang shalat apa lagi? “akhir-akhir ini aku kesulitan tidur, pekerjaan aku sedang menumpuk dari dulu kalau aku sulit tidur papa menyuruh aku solat witir gak tau juga kenapa, udah kebiasaan aja kalau sulit tidur aku dirikan shalat witir”  Adriana tak menimpali ucapan suaminya, sebenarnya ia mengetahui kalau suaminya beberapa hari kebelakang  sering terbangun entah karena apa bahkan tak jarang pria itu bekerja hingga menjelang subuh, tapi ia tak perduli, baginya itu bukan urusannya. “yah sudah aku istirahat dulu” ucapnya menarik selimut sebatas dada “kamu tidak penasaran kenapa aku tidak bisa tidur?” Adriana mendesah kasar memaksakan tubuhnya untuk bangun “memang apa yang bikin kamu sulit tidur?” tanya Adriana datar bahkan terkesan memaksa “bukan maslaah besar, sepertinya kamu sangat lelah. Lain kali saja” Adriana mengernyitkan keningnya tumben suami pemaksanya seperti ini, ia merasa tak enak sendiri, sedikit bersalah tapi segera ia tepis. “yah sudah” “Adriana” ucapnya cepat “Apa lagi Rian?” jawab Adriana kesal “apa aku boleh mengecup keningmu, bahkan setelah pernikahan kita aku belum melakukan itu” cicit Adrian Adriana merasa serba salah, ia merasa tak enak bila menolak, apa lagi permintaan suaminya masih tergolong biasa aja, tapi.... “baiklah, tapi ingat hanya dikening” “kau serius? lalu bagaimana dengan perjanjian kita?”  Mendengar itu Adriana keki sendiri “yah sudah kalau begitu”  Cup tanpa aba-aba Adrian mengecup kening istrinya untuk yang pertama kali setelah tiga bulan pernikahan mereka, ia bahagia dalam hati ia berdoa agar hati sang istri bisa melunak padanya, sedang Adriana perempuan itu begitu kaget tubuhnya menegang seketika namun hal itu tak lama ia merasakan kenyamanan, mati-matian dirinya menahan senyumnya. “terima kasih” ucap Adrian tanpa melepas kecupannya ia takut tak ada kesempatan kedua setelah ia melepas bibirnya dari kening sang istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN