Part 7

1775 Kata
Adriana merasakan pusing yang tak tertahan kan “eghh..” “Adriana kamu sudah sadar?” “kamu butuh sesuatu?” tanya Adrian Adriana mengerjabkan matanya beberapa kali, memperhatikan ruangan yang di penuhi dengan warna putih “ayah, ayah aku di mana?” tanya Adriana memaksakan tubuhnya untuk bangun “ayah” “kamu yang tenang dulu yah” “ayah aku di mana?” tanya Adriana menggoyang tubuh laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut “ayah kamu sudah di bawa ke ruang jenaza, sebelum di izinkan untuk di bawa pulang” Mendengar itu Adriana bergegas turun dari brankarnya dan berlari menuju ruang jenaza, Adrian mengikuti langkah Adriana yang seperti orang kesetanan dengan keadaan masih mengenakan kebaya biru muda pernikahan mereka “ayah” panggilnya saat mayat Denis dibawa keluar menaiki ambulan rumah sakit menuju kediaman Adrian dan orang tuanya atas permintaan Alan, sebab Adriana tak memiliki kerabat di kota ini. Adriana mengikuti petugas menaiki ambulan setelah Adrian meminta izin pada pihak rumah sakit,  beberapa kali Adrian mengecup kening Adriana seolah mengatakan ada dirinya yang akan menggantikan posisi Denis untuk menjaga dan menyayangi wanitanya, meskipun tak ada respon balik yang di berikan oleh istrnya, ia tau saat ini istrinya sangat terpukul. tak ada satu katapun terucap dari bibirnya saat ini, hanya isakan pilu yang keluar dari suaranya. ia tak munafik bila saat ini ia begitu kehilangan super heronya. “Riana” ucap seseorang yang memanggil namanya saat ia baru menginjakkan kaki di rumah mertuanya “wulan, ayah aku udah pergi” adunya dengan suara yang hampir menghilang. “kamu yang sabar yah Ri kamu punya aku, ada Juna yang akan menemani kamu”  “aku sebatang kara Jun, dulu ibu sekarang ayah semua udah ninggalin aku” isaknya dalam pelukan laki-laki yang pernah mewarnai hatinya  “hei kamu gak sendirian, ada aku ada Wulan, aku yakin ayah juga udah lega meninggalkan kamu dengan laki-laki yang baik seperti Adrian” ucap Juna menoleh pada Adrian dengan raut wajah serius yang jarang ia tunjukkan pada siapapun. tatapan itu seperti pesan tersirat pada laki-laki yang bertanggung jawab pada sahabatnya. Menyadari posisinya kini telah menjadi milik orang, seketika Adriana melepas pelukannya dan menoleh pada Adrian, laki-laki itu hanya mengangguk kemudian merangkul pundaknya “kita bicara di dalam” ucap Adrian pada Juna dan Wulan  Adrian menuntun istrinya menuju kamar miliknya benar-benar kamarnya, padahal tadi ia hanya bercanda saat mengatakan akan membawa perempuan itu kekamarnya dan malam itu juga ucapannya menjadi kenyataan “kamu bisa mencuci wajahmu di kamar mandi, kamu tunggu di sini aku pinjamin baju Indah untuk kamu” sebab istrinya masih mengenakan kebaya pernikahan mereka  ****, “Riana, wajah kamu pucat sekali nak, kamu mau makan lagi? tadi kamu hanya makan sedikit” tawar Dian pada menantunya yang sedang terkulai lemah di hadpaan jenazah “kenapa ayah harus pergi secepat ini?” tanyanya lemah, lebih pada dirinya sendiri “ini sudah jalan ayah kamu nak, dan allah menggantinya dengan kami insyaallah” nasihat Dian  “mbak yang kuat yah, ada Indah” ucap Arinda menghapus air matanya sendiri "mama kamu betul Adriana" ucap seseorang tiba-tiba yang berdiri di hadapan mereka “dokter” ucapnya Adriana serak melihat Nadine yang datang melayat  “sekarang kamu sudah memiliki keluarga baru, berbahagia lah Adriana, Aunty yakin ayah kamu akan di tempatkan di sisi yang terbaik” ucap Nadine menenangkan Adriana yang kini telah menjadi keponakannya "iya dok, terima kasih karena dokter sudah mau menangani ayah di sisa hidupnya" "sudah menjadi kewajiban aunty, kamu tidak perlu berterima kasih sayang, aunty pamit dulu yah nak, besok pagi aunty kesini lagi" pamit Nadine yang memang dari tadi datang namun belum bertemu dengan Adriana "iya dok sekali lagi terima kasih"  ____ “sudah malam Riana, istirahat lah nak. wajah kamu udah pucat sayng" ucap Dian menangkap raut kelelahan pada wajah menantunya “Adriana mau lihatin ayah sampai puas ma, malam ini terakhir kalinya Adriana bisa melihat wajah ayah” “biar Rian aja yang menemani Riana ma, mama istirahat aja” “yah sudah kalian jangan terlalu lama begadang, besok kita akan sangat sibuk” Setelah kepergian Dian, Adriana berbaring di samping ayahnya lagi-lagi air matanya mengalir tanpa ia undang Adrian meminjamkan pahanya sebagai bantal untuk wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya, ia tak pernah mengetahui malam pertamanya sebagai mempelai pria harus seperti ini, “istirahatlah barang sebentar saja” ucap Adrian mengusap kening dan rambut Adriana yang terlepas dari kerudungnya “terima kasih” ucap Adriana samar, tenggorokannya terasa sakit karena terlalu banyak menangis “Juna tadi balik lagi ke sini kamu mau bersama dia, aku bisa panggilkan?” bisik Adrian, ia hanya ingin istrinya tak terlalu terpuruk “gak perlu” “kalau begitu istirahat lah” Adrian mengusap kening basah istrinya hingga terlelap  Adrian mengecup lama kening sang istri yang terlelap pulas, setelah hampir satu jam menangis di pangkuannnya Adriana tertidur, tanpa membangunkan sang istri Adrian menggendong istrinya ke dalam kamarnya agar Adriana bisa tidur dengan nyaman.  “bagaimana keadaan Riana, Rian?” tanya Juna memergoki Adrian akan menyalakan pemantik api, ia cukup stress dengan ujian yang sedang ia hadapi, bagaimanapun ia tetap bersedih kehilangan mertua tepat pada saat hari pernikahannya. dan bisanya rokok cukup ampuh mengalihkan perasaannya, namun ia urungkan ketika kepergok melakukan hal yang dari dulu ia coba untuk hindari.  “dia baru tertidur”  “aku gak menyangka ternyata pertemuan kedua kalian membuahkan pernikahan, maaf terlambat tapi selamat, aku mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian” Adrian hanya tersenyum dalam hati ia mengamini doa Juna. “aku titip Adriana pada kamu Rian, dia terlihat kuat di luar tapi di dalam dia sangat rapuh, setelah pernikahan aku dengan Wulan, perempuan itu mati-matian menjauhiku bahkan ia tidak menghadiri pernikahaku dengan Wulan, jujur awalnya aku sedikit canggung, tapi itu yang terbaik agar ia bisa melupakan aku dan mendapatkan pengganti aku” ucap Juna menepuk pundak Adrian “istirahatlah aku rasa tak ada bedanya antara kau dan Adriana sama-sama pucat, kau kelelahan. aku pulang, besok pagi aku kemari lagi sama Wulan, kalau keadaannya baik” “terima kasih Jun"  **** Adriana memaksakan tubuhnya untuk kuat melihat saat ayahnya dimasukkan kedalam tempat perisitirahatan terakhirnya, air matanya jatuh saat tumpukan tanah di letakkan di atas kayu di susun sedikit demi sedikit menutupi seluruh tubuh ayahnya, dan pertahananya tumbang saat tanah hampir menutup seluruh lubang galian kubur. “Adriana” kalut Adrian, mendapati istrinya yang kembali tumbang “bawa ke mobil aja Rian, kasian di sini panas banget" Adrian mengangguk menggendong istrinya menuju mobil mereka “ayah” ucap Adriana dalam tidurnya “kamu udah sadarRI, minum dulu” Adrian memberikan air mineral untuk istrinya, cuaca kali ini cukup terik hal itu mungkin yang menyebabkan Adriana kembali pingsan “mau lihat ayah" pintanya lemah Adrian tak menolak, ia membantu sang istri kembali berjalan menuiju kuburan Denis “Riana ikhlas yah, Riana juga udah mengabulkan permintaan ayah, semoga ayah tenang dan mendapat tempat terbaik di sisi allah yah ya, doa Riana akan selalu menyertai ayah” ucapnya terduduk di samping pusara Denis “ayah, Adrian akan menjaga puteri ayah dengan segenap jiwa dan raga, Rian akan menjaga amanah yang telah ayah berikan untuk Rian, kami sudah mengikhlaskan ayah, tenanglah di dalam sana, doa kami akan selalu menyertai ayah, kami pamit yah” ucap Adrian mengajak istrinya bangkit karena hanya mereka berdua yang masih berada di pusara Denis, ia teringat saat pertama kali ia mengatakan niatnya untuk mempersunting istrinya kini, ada binar bahagia pada kedua bola mata yang kini sudah tertutup unutk selamanya, ia kan berusaha untuk menjaga dan mengasihi istrinya sesuai niat awalnya meminang Adriana pada Denis. **** Adriana duduk termenung dengan buku yasin yang ada di genggamanya, pandanganya kosong mengenang masa-masa lammpau bersama kedua orang tuanya, ia teringat senyum sang ayah saat ia mendapat juara satu ataupun saat ia menemani ayahnya berada di tambak milik mereka, panas yang membakar kulitnya tak menghalangi keceriaannya bersama cinta pertamanya tersebut. Lamunannya terhenti saat merasakan usapan lembut di pundaknya, Adriana menyunggingkan sebuah senyuman pada wanita yang kini telah menjadi orang tuanya. Kemudian ia merebahkan kepalanya di atas pundak mertuanya “ma kawan Indah datang” ucap arinda memanggil Dian  “kamu temuin temennya Indah yah nak, mama mau menyuguhkan minuman untuk mereka dulu” Adriana menuruti ucapan mertuanya untuk bertemu dengan teman-teman Indah yang datang melayat “kami turut berduka cita yah mas, emang siapa yang meninggal, Indah cuma kasih caption selamat jalan om, tapi om yang mana?” tanya salah seorang teman Indah “yang meninggal mertua mas, terima kasih yah kalian sudah menyempatkan diri untuk datang” ucap Adrian tulus dan memilih duduk di sebelah Adriana. “mas sudah menikah, kok kita-kita gak tau, kamu jahat banget Ndah, ya allah musibah apa ini?’ ucap teman Indah yang tadi bermanis dengan Adrian. setelah mendengar penuturan Adrian semua teman Indah bermuka kecewa, idola mereka telah memiliki tambatan hati “mendadak, karena mertua mas mau menyaksikan kami menikah, sehingga semuanya serba mendadak, kalian belum berkenalan dengan istri mas” ucap Adrian sambil menyentuh pundak Adriana Sontak saja semua mata tertuju pada Adriana, “pantes aja mas mau buru-buru halalin, orang cantik banget” ceplas ceplos teman Indah yang memilki paras tak kalah cantik dari Adriana “kalian juga cantik, hanya saja kalian masih terlalu muda untuk mas, dan semoga kalian bisa mendapatkan pasangan yang sesuai dengan harapan kalian” seloroh Adrian, ia tak buta bila teman-teman adiknya menaruh rasa padanya, tapi ia hanya menganggap mereka semua adalah adiknya “loh ada kamu juga Rian, di makan dulu makanannya , tante mau menemui tamu yang dulu yah” ucap Dian pada teman-teman anaknya “kenalin dong mas, istrinya sama kami, siapa tau bisa jadi kaka ipar” ucap teman laki-laki adiknya “nama istri mas ini Adriana, beliau seorang perawat di Nadine hospital” “kok namanya bisa samaan gitu mas?” “iya loh, aku juga baru nyadar” ucap mereka heboh meskipun tersirat iri dalam diri mereka. “mas kayanya istrinya kecapaian tuh”  “kamu kenapa?” "aku gak papa, Ndah, semuanya aku permisi dulu yah, terima kasih udah datang" pamit Adriana  “aku temani” ucap Adrian membantu Adriana berjalan, Adriana tak menolak ia masih punya otak untuk tidak membuat suaminya malu, meskipun sebenarnya dia masih ingin sendiri. **** “Ri kamu udah makan malam?" Adriana tak menjawab ia hanya menggeleng lemah “aku ambilin yah?” tawar Adrian Adriana kembali menggeleng dan merebahkan dirinya di atas sofa yang adadi kamar suaminya. “istirahatlah di atas ranjang Riana, aku yakin tidurmu tidak akan nyaman kalau di atas sofa itu” ucap Adrian melihat istrinya mulai membentangkan selimut seluruh tubuhnya “aku harap kamu tidak melupakan perjanjian pranikah kita, poin pertama tidak ada kontak fisik” ucap Adriana mengingatkan Adrian tak menggubris penolakan ia melangkahkan kakinya keluar kamar tanpa mengatakan apapun. Setelah kepergian Adrian, Adriana merasa lega, bagaimanapun Adriana tak biasa berdekatan engan lawan jenisnyameskipun itu adalah Adrian Tak berselang lama kepergian Adrian, pintu kamar itu kembali terbuka, Adriana menutup matanya cepat. “hei bangunlah dulu, dari tadi siang kamu belum mengkonsumsi apapun setidaknya makan walaupun  sedikit” Adrian membangunkan tubuh Adriana secara paksa tanpa  ada kekasaran yang ia berikan “sakit” keluh Adriana “makan Adriana, aku gak mau kamu pingsan lagi, buka mulut kamu” titah Adrian Mendengar suara ketegasan dari suaminya Adriana sedikit ngeri, dengan perasaan takut Adriana menerimasuapan dari suaminya “maafkan aku” ucap Adrian merasa bersalah melihat raut ketegangan di wajah istrinya Adriana hanya mengangguk beberapa kali kemudian meminum air yang juga di suapi oleh Adrian. “terima kasih” ucapnya kemudian merebahkan kembali badannya “Adriana, aku berjanji akan menepati ke empat poin itu, tapi aku mau kamu menuruti permintaan aku kita tidur di ranjang yang sama, tubuh kamu punya hak untuk istirahat dengan tempat yang nyaman” ucap Adrian lemah “lagi pula gak ada poin yang menjelaskan kita tidur di tempat terpisah” Adriana hanya terdiam kemudian mengangguk, Adriana bangkit dari rebahannya menuju satu sisi di samping tempat Adrian biasanya tidur, melihat itu Adrian tersenyum. “istirahat lah aku keluar dulu. tamu di bawah masih banyak” ucap Adrian kemudian meutup pintu kamar mereka.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN