Beberapa kali Adriana menghembuskan nafas kasar, setelah ia mencurahkan isi hatinya pada sang khalik, akhirnya ia memutuskan untuk menerima pinangan Adrian. Kini mereka tiba di kediaman keluarga besar Adrian setelah sebelumnya mereka harus melewati perdebatan.
“sudah dari tadi?” tanya Adrian menemui Adriana di tempat janjian mereka
“belum lama juga” balas Adriana memaksakan sebuah senyuman
“aku bahagia, akhirnya kamu mau menerima pinangan aku”
“tapi ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan, pertama, aku tidak mencintai kamu dan jangan mengharapkan cinta itu, satu lagi aku mau kamu menandatangi perjanjian pranikah yang aku buat. kamu juga berhak menambahkan point yang telah aku buat” ucap Adriana memberikan map kuning berisi perjanjian pranikah yang telah ia persiapkan.
Adrian menerima map tersebut dan membaca perjanjian tersebut
Peratama, tidak ada kontak fisik selain di hadapan keluarga
Kedua, pihak pertama tidak melarang pihak kedua untuk bekerja
Ketiga, pihak kedua tidak akan mengekang jika pihak pertama memiliki kekasih, begitupun sebaliknya
Keempat, pernikahan ini berakhir bila kedua pihak atau salah satunya sudah memiliki tambatan hati dan ingin melangsungkan pernikahan
“hanya ini?"
"baiklah, menurut point nomer dua pihak pertama tidak melarang pihak kedua untuk bekerja, berarti aku pihak pertama?” tanya Adrian memastikan
“yah hanya itu, dan kamu bisa menambahkan point tersebut asal tidak merubah permintaan dari aku” final Adriana
“baiklah, aku menambahkan satu poin” jawab Adrian menuliskan keinginannya pada kertas putih yang ada di tangannya
“yakin hanya satu?’ tanya Adriana
“ya, aku cukup satu” ucap Adrian memberikan map padi tersebut pada Adriana tentu setelah ia menandatangani perjanjian tersebut
“kelima, bila pihak pertama berhasil membuat pihak kedua jatuh cinta pada pihak pertama, maka perjanjian di atas batal” Adriana tak memperdulikan point tersebut,, karena ia yakin laki-laki itu tak akan mampu merealisasikan niatnya satu itu
“terserah kau saja" jawab Adriana menyimpan map tersebut pada ranselnya
“setelah ini kita menemui keluargaku” ucap Adrian meminum pesanannya
“kenapa harus hari ini?”
“karena aku sudah memberi tahu keluargaku kalau aku akan membawa kekasihku sore ini” ucap Adrian menekan kata kekasih
“ini terlalu cepat Adrian, bahkan aku..” sanggah Adriana tak mau kalah
“hari ini Adiana, aku sudah mengatakan akan membawa calon menantu mereka hari ini juga, dan mereka sudah menunggu kita” ucap Adrian menekan kaliamat 'calon menantu mereka'
“baikah kalau begitu aku pulang dulu” meski dengan perasaan dongkol Adriana menerima ajakan laki-aki tersebut
“kenapa harus pulang dulu, ini sudah hampir sore”
“tidak mungkin aku menemui calon mertuaku dengan pakaian dinas ini, memangnya aku mau menjenguk pasienku?” tanya Adriana menirukan ucapan Adrian
“yah sudah kita beli saja sebelum kerumahku”
“tidak mau, aku masih memiliki pakaian yang layak, dan aku tidak semiskin itu” jawab Adriana tak terima,
“yah sudah kalau begitu aku antar kamu pulang” pasrah Adrian, ia tak akan menang melawan perempuan
*****
“kenapa kamu masih berdiri di situ, keluargaku sudah menunggu Adriana” sekektika Adrian menggenggam pergelangan tangan Adriana untuk masuk kerumah orang tuanya
“apa penampilanku cukup sopan?” tanya Adriana akhirnya, setelah sedari tadi berdiam diri cukup lama berdiri di depan pintu, Adriana mengenakan dress pink di bawah lutut dengan rambut ia biarkan terurai dan juga riasan yang natural menutupi wajah pucatnya
Mendegar itu Adrian mengangkat alisnya sebelah, kemudian berdehem rendah “keluarga aku tidak memandang seseorang dari penmpilannya, kamu masih mengenakan pkaian lengkap, ayolah dari tadi mamaku sudah menelepon”
“tunggu sebentar” ucap Adriana mengeluarkan cermin kecil yang selalu ia bawa
“kamu udah cantik” medengar itu Adriana menurunkan cerminya, pasalnya ia tak pernah mendengar kalimat tersebut dari siapapun kecuali orang tuanya
“yah udah ayo” pasrah Adriana
“assalamualaikum ma, pa” ucap Adrian menyapa orang yang ada di rumahnya
“loh mbak Riana kan, kok mas gak bilang kalau perempuan itu mbak Riana?” tanya Arinda antusias
“sengaja, mama sama papa di mana Ndah?” tanya Adrian lebih dulu membiarkan Adriana bersama adiknya
“ayo mbak kita ke ruang tengah” ucap Arinda merangkul lengan Adriana
“iya ayo” jawab Adriana kikuk
“ma pa kenalin calon istri yang Rian katakan tadi pagi, namanya Adriana ”
“om, tante” adriana menyalami orang tua Adrian, Adriana masih menjunjung tinggi adat ketimuran
“iya, mari masuk” ucap Dian, tersesenyum ramah menyambut calon menantunya
“saya dengar kamu seorang perawat, kamu bekerja dimana Adriana?” tanya Alan memulai pertanyaannya
“saya bekerja di Nadine hospital om, baru beberapa bulan ini”
“sebelumnya kamu bekerja dimana?” tanya Dian ramah, ia menyukai wanita yang di bawa anaknya, ia sudah lama menginginkan seorang menantu, namun baru kini anaknya membawa perempuan ke rumah mereka
“Riana sebelumnya pernah mengikuti program 5 bulan di rumah sakit Apung”
“itu program Mahesa Group pa” ucap Adrian menjelaskan
“papa baru tau mereka mempunyai program itu”
“sebenarnya itu kerja sama antara Mahesa dengan Dimitri pa, aunty Nadine yang meneglola sepenuhnya”
“benarkah, terus kamu tidak coba ikut kerja sama dengan mereka?” tanya Alan antusias
“ikut lah pa, kan perusahaan kita yang memasok obat ke rumah sakit Apung itu”
“jadi kamu mengenal Adriana di sana mas?” tanya Dian mengintrupsi percakapan antara anak dan ayah yang tak akan berhenti membicarakan pekerjaan.
“bukan ma, jauh sebelum itu, mama ingat dulu Rian pernah cerita, kalau Regi tidak sengaja menumpahkan kuah batagor? yang di taman dulu” tanya Adrian mengingatkan memori lama mamanya
“yang kamu bilang perempuan cuek itu?” tanya Dian mencoba mengingat
Medengar itu Adriana menutup matanya, dalam hati ia merutuki sifat aslinya satu itu, lagi pula ia tak pernah memprediksikan hari ini
“yah, nah perempuan itu yah Riana ini mah”
“jadi ceritanya love at first sight hee?” tanya Dian menggoda sang anak.
“kalau temen-temen Indah pada tau Mas Rian udah punya tambatan hati, auto ada hari patah hati interlokal” ucap Indah dan membuat seisi rumah tertawa, mengingat hampir tiap hari teman-temannya hampir setiap hari mengirimkan parcel entah itu berisi makanan ataupun benda lainnya. Kecuali Adriana, ia tak tau harus melakukan apa
“jadi kesan pertama kamu melihat anak tante bagaimana”
pertanyaan tersebut membuat Adriana diam tak berkutik, karena tak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya kalau dirinya sedikit risih dengan laki-laki itu.
“jadi, apa kalian sudah benar-benar mantap untuk menikah?” tanya Alan membuat suasana sedikit hening.
“sebenarnya kami masih nyaman dengan status seperti ini pa, ma, tapi sekarang kondisi ayah Riana sedang sakit dan beberapa kali kondisinya kritis, beliau ingin anak satu-satunya ini menikah sebelum ajalnya tiba, bukan mendahului tuhan, tapi mungkin beliau sudah mempunyai firasat kalau dirinya tak lama lagi” ucap Adrian pada keluarganya
"berarti kalian belum cukup mantap untuk menikah, kalau hanya karena menuruti permintaan ayahnya nak Adriana, papa mengerti apa yang di inginkan oleh ayahnya Adriana tapi pernikahan bukan mainan kalian melakukan perjanjian tersebut langsung dengan yang di atas" sebagai orang tua Alan tak ingin gegabah memberi restu pada hubungan anaknya
"Rian paham maksud ucapan papa, tapi sebagai laki-laki Rian harus memberikan kejelasan pada perempuan yang Rian pacari, kami bukan lagi remaja belasan tahun yang masih labil, Rian fikir lebih cepat lebih baik di tambah dengan kondisi ayah Adriana saat ini" Adrian tak memperkirakan pertanyaan tersebut keluar dari mulut ayahnya
“yah sudah kalau begitu kapan kita bisa bertemu dengan ayah kamu Adriana?” tanya Alan merubah nada bicaranya, seketika Dian dan Indah tertawa lepas melihat raut ketegangan kedua pasangan yang sedang meminta restu untuk melangkah menuju jenjang kehidupan baru mereka.
“terserah om dan tante, kalau Riana sendiri bisa kapanpun”
“by the way, mamanya mbak Riana dimana?”
“ibu mbak sudah lama meninggal, kemudian menikah kembali dengan adik dari ibu, namun rumah tangga mereka tak bertahan lama, karena istri ayah yang sekarang hanya menginginkan harta ayah dan sekarang mbak yang mengurus” ucap Adriana berterus terang ia tak mau keluarga Adrian tau di akhir, lebih baik ia mengatakan yang pahit di awal.
“nasib seseorang tak ada yang tau, yah sudah besok om dan tante akan menentukan jadwal mengunjungi ayah kamu unutk melamar kamu untuk anak tante ini, berhubung azan magrib sudah berkumandang bagaimana kalau kita solat dulu, Rian kamu yang mimpin solat yah” ucap Alan bangkit mendengar azan magrib yang sedang berkumandang.
“ayo Riana” ucap Dian mengajak calon menantunya
“Riana tidak ikut yah tan, sedang datang tamu bulanan” ucap Adriana dengan menahan wajah yang seperti kepiting rebus sebab Adrian dan Alan menoleh pada dirinya
“yah sudah, kalau kamu mau istirahat di kamar Indah saja”
“sekarang di kamar Indah dulu lain kali di kamar aku” bisik Adrian di telinga Adriana
Mendengar itu bula roma Adriana meremang seketika.
“mari mbak Indah anatar” ucap Arinda
“Riana di sini aja tan, gak papa” ucap Adriana merasa tak enak
“yah sudah kalau begitu kami ke ruang solat dulu” ucap Dian pamit pada Adriana
___
Merasa bosan dengan kesendiriannya, Adriana berjalan mengelilingi rumah yang memiliki kesan mewah bila di pandang dari jauh, bahkan jauh dari rumahnya dulu, Adriana memperhatikan Adrian memimpin keluarganya solat, tak ada kecanggungan sedikit pun dari raut wajah laki-laki tersebut, dalam hati ia merasa bangga jika memang Adrian menjadi jodohnya, tapi di sisi lain hatinya masih milik orang lain, mengagumi bukan merarti memiliki perasaan bukan?
“kamu ngapain berdiri di situ, mari kita ke ruang makan dulu, tadi mama udah masak banyak” ucap Dian memanggil Adriana yang diam mematung memandangi Adrian.
“ah iya tan” Adriana mengikuti arahan Dian, meskipun ia jarang menikmati makan malam, tapi ia pun tak enak menolak tawaran Dian
“tante harap rasanya sesuai dengan lidah kamu yah Riana, Rian hanya mengatakan kamu menyukai semua jenis makanan” ucap Dian berbasa-basi
“masakan tante enak, Riana suka” ucapnya mengulum senyum
“setelah papa ingat-ingat, kalian memiliki nama yang sama bahakan panggilannya hanya berbeda satu huruf” ucap Alan
“iya pa, namanya aja sudah berjodoh” ucap Indah
Adriana menikmati makannya dalam diam kendati perasaanya tertuju pada ayahnya, entah kenapa perasaanya tak menentu
Drtt
Drtt
Drtt
Adriana merasakan ponselnya bergetar, ia ingin mengangkat tapi merasa sungkan ia tau yang menelepon adalah Aci, perawat yang ia minta tolong menghubungi dirinya bila ada apa-apa dengan ayahnya
Adriana meminum air di hadapannya “om tante, Riana permisi mengangkat telepon sebentar” ucap Adriana, ia bingung ingin mengatakan seperti apa.
“angkatlah, itu Aci kan?” jawab Adrian mengizinkan
Adriana mengangguk ia tak lagi memperdulikan jika Alan dan Dian menganggap dirinya tak sopan
“itu perawat yang Riana minta tolong menjaga ayahnya” ucap Adrian menjelaskan kepada kedua orang tuanya
___
Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Aci, Adriana kembali kemeja makan namun ia tak duduk tetapi mengambil tas tanganya untuk pamit
“om tante, Adriana minta maaf sebelumnya, ayah Riana kembali kritis, Riana pamit ke rumah sakit” ucapnya menghapus air mata
“aku antar” ucap Adrian menyelesaikan makannya kemudian berdiri menghampiri Adriana
Adriana hanya mengangguk ia pun sebenarnya tak sanggup pergi sendirian
Adriana berjalan tanpa memperdulikan kedua orang tu Adrian, fikirannya tertuju pada ayahnya yang sedang kritis informasi dari Aci membuat dirinya tak tenang
“kami ikut dengan kalian” ucap Alan menaiki mobil duduk di di samping Adrian
Adrian sesekali mencuri pandang melihat Adriana melalui kaca mobilnya, wanita itu tak mampu menahan air matanya, entah informasi apa yang ia dapati dari rekanya, mamanya membantu menenangkan Adriana yang menangis tanpa suara
***
“Aci, ayah bagaimana?” tanyanya
“tadi kondisi ayah kamu menurun kemudian memanggil nama kamu dan tak sadarkan diri, setelah itu dokter masuk” ucap Aci apa adanya
Mendengar itu Adriana menguatkan hatinya dengan kemungkinan yang akan ia dengar dari dokter, meskipun pening dan mual bersamaan yang ia rasakan, ia merasa beruntung masih ada Adrian menguatkan dirinya
Ceklek
“Adriana” ucap dokter wanita yang sudah ia anggap kakak sendiri, siapa lagi kalau bukan Nadine
“iya dok, bagaimana keadaan ayah saya?”
“ayah kamu menunggu kamu di dalam” ucap Nadine mencoba tersenyum
“terima kasih dok” Adriana berjalan memasuki ruangan laki-laki yang sudah memberikan dirinya kehidupan di dunia ini
“ayah” ucap Adriana serak
“nak, maafin ayah sayang, Adriana ayah ingin kamu menikah nak” ucap Denis menggenggam tangan anaknya
“lakukan saja penikahanya malam hari ini juga” ucap Alan masuk ke dalam ruangan Denis juga dengan Dian dan Arinda
“saya ayah dari Adrian, saya ingin meminang puteri bapak untuk anak saya Adrian” ucap Alan duduk di hadapan Denis
“terima kasih pak” ucap Denis mengulum senyuman
“kamu terima kan nak pinangan Adrian, ayah ingin pergi dengan tenang” ucap Denis menggenggam tangan Adriana lemah
“iya yah” ucap Adriana berlinangan air mata
____
“mbak jangan nangis dulu yah, make upnya luntur” ucap Arinda pada Adriana, setelah Adriana menerima pinangan Adrian semua menjadi heboh, malam itu juga Arinda menjemput kebaya di butik miliknya dan perlengkapa make up yang ia punya
pernikahan tersebut benar-benar terjadi malam itu juga di rumah sakit dengan seadaanya
“saya terima nikah dan kawinnya Adriana Chiara Pradipta binti Denis Pradipta dengan seperangkat alat solat dan mas kawin tersebut tuani” ucap Adrian dengan satu nafas
“Sah” ucap dua dokter dan satu orang perawat laki-laki yang menjadi saksi ijab kobul pernikahan Adrian dan Adriana
“Alhamdulillah” ucap semua yang ada di sana termasuk Daniel dan Nadine yang menyaksikan janji suci pernikahan keponakannya, yah Adrian merupakan keponanakan Nadine yang hanya selisih 17 tahun dengan dirinya.
Pernikahan yang tak pernah terbayangkan oleh Adriana, menikah dengan kondisi sang ayah sedang sekarat, bahkan pernikahanya harus di wakilkan pada wali hakim sebab beliau tak punya kerabat laki-laki lainnya
“Selamat yah mbak” ucap Arinda memberikan senyum terindah pada Adriana yang kini telah menjadi kakak iparnya
Adriana hanya mengangguk dan menemui Adrian mengecup punggung tangan laki-laki yang kini menjadi suaminya, air matanya tumpah. Kemudian ia melangkah menemui sang ayah
Satu langkah saat ia akan menyambut tangan Denis ayahnya telah tiada, ia melihat sang ayah menutup matanya perlahan
“ayaahh” teriak Adriana sontak membuat semua orang menoleh pada Denis yang sudag terkulai lemah, Nadine bergerak cekatan memeriksa kondisi Denis kemudian melepaskan alat bantu pernafasan Denis
Nadine melihat jam tangan yang melingkari pergelangan tanganya “Pasien meninggal___” Nadine tak melanjutka ucapanya melihat Adriana pingsan di pelukan Adrian
“letakkan di atas sofa” ucap Nadine memberi instruksi membuka sebagian kancing kebaya yang bisa menghambat oksigen masuk
“selain suaminya di harap keluar terlebih dahulu, sedangkan mayat akan di pindahkan sebentar lagi” Nadine tersenyum sekilas pada Daniel sebelum laki-laki itu keluar.
" panggil nama istri kamu, dia tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran, aunty ambil minyak angin sebentar” ucap Nadine pada Adrian
“kamu bauhi dengan minyak angin ini, tapi jangan kamu oles di hidungnya” ucap Nadine memeriksa denyut Nadi Adriana
“ayah” ucap Adriana mulai sadarkan diri
“hei, ada aku di sini” ucap Adrian
“ayah” ucap Adriana sebelum kembali menutup matanya
“mbak Adriana tak sadarkan kembali” memang terkadang Adrian memanggil Nadine dengan sebutan mbak
Nadine berdiri menelepon seseorang “siapkan satu kamar, dan brankar kosong di ruangan mawar nomer 505” titah Nadine
Ting
“brankar sudah datang, kamu temani istri kamu, biar mbak menyelesaikan jenazah mertua kamu” ucap Nadine menenangkan, ia melakukan tugas terakhirnya sebagai dokter yang menangani Denis sedari awal sesuai permintaan Adriana