Adriana memasuki kamar inap Denish, setelah memastikan laki-laki itu tertidur dengan pulas Adriana memilih berbaring di lantai kamar ayahnya, beberapa kali Adriana mengeluarkan nafas berat fikirannya berkecamuk dan pekerjaannya kacau entah itu karena sang ayah atau karena penyataan Adrian siang tadi.
“Riana” mendengar namanya di panggil Adriana memaksakan dirinya untuk bangun
“Riana maafin ayah nak, Ratna maafin aku” ucap Denis dalam ngigaunya, entah sudah berapa kali laki-laki itu memanggil mendiang istrinya.
“ngigau” ucap Adriana kembali merebahkan badannya
“jangan lupa datang ke acara 4 bulnan Wulan”
Adriana melepar ponselnya asal setelah membaca pesan masuk dari Juna, ia kembali menjaga jarak pada sahabtnya itu, ia tak munafik ia begitu cemburu melihat kemesraan kedua pasangan tersebut.
“akan aku usahakan, tapi aku tak bisa berjanji ayah sedang di opname” setelah beberapa pertimbangan, akhirnya Adriana membalas pesan dari Juna, ia malas bila di katakan belum move on.
“apa hubungan kalian sudah membaik, syukurlah setidaknya kau tidak sendirian, aku merindukan Rianaku”
Adriana tak lagi membalas pesan Juna, hatinya meradang, kenapa laki-laki itu masih melakukan hal yang manis pada dirinya
“aku rindu kebrsamaan kita Riana, kau berubah, kau menjauhiku, aku kehilangan sosok cerewet dirimu, mama pun sering bertanya tentang kau Riana”
Adriana menghembuskan nafas kasar sebelum membalas pesan dari Juna
“aku tetap sebagai Adriana, tak ada yang berubah, sampaikan salamku pada tante, dan katakan maafku karena aku belum bisa mengunjunginya, lain kali aku akan mengunjunginya” ucap Adriana membalas pesan dari Juna, setelah itu ia benar- benar mematikan ponselnya ia tak ingin mengetahui balasan dari Juna lagi. Dan kembali memejamkan matanya, berharap besok ia bisa hidup dengan semangat baru.
****
Adriana melangkahkan kakinya menju rumah yang hampir satu tahun tak ia kunjungi, bahkan pernikahan Juna dan Wulan. ia beralibi dengan dinas perdananya di rumah sakit apung, semenjak itu ia menjaga jarak dengan Juna dan siapapun berhubungan dengan pria itu.
“kamu datang juga?” tanya seseorang yang tiba-tiba mengagetkan dirinya
“i..iya, Juna mengundang dan kebetulan saya sedang senggang” ucap Adriana memaksakan sebuah senyuman
“oh iya Adriana kenalkan ini Arinda” ucap pria itu mengenalkan wanita cantik yang mendampingi dirinya
“hai, Adriana”
“Arinda, adiknya mas Adrian, ternyata nama kalian sama”
“kamu adiknya saya fikir” Adriana menggantungkan ucapannya dan mengulum bibirnya
“tidak jadi”
“kamu fikir ini calon istri saya?”
“yah, saya fikir perempuan cantik ini calon istri anda, kalian tampak serasi” jawab Adriana sedikit malu, entah karena apa
“calon istri saya masih sulit untuk saya raih,” ucap Adrian ambigu
Adriana hanya diam ia tak mau berspekulasi apapun mengenai jawaban Adrian.
“kalian kenapa masih di luar, masuk lah sebentar lagi acaranya akan di mulai” ucap Juna yang tiba-tiba keluar menghampiri Adriana dan Adrian.
“kamu apa kabar” tanya Juna memeluk Adriana
“aku baik” ucap Adriana melepaskan pelukan laki-laki yang dulu begitu spesial di hatinya, mungkin hingga sekarang, tapi kali ini ia tak ingin terbawa suasana.
“mas” Arinda memeluk juna begitu pun Juna membalas pelukan wanita di hadapannya
“kami sepupuan” ucap Adrian saat melihat raut kebingungan Adriana mendapati kedekatan Arinda dan Juna
****
Adriana membantu Wulan rebahan di atas ranjangnya, ibu hamil muda satu itu tiba-tiba mengeluh pusing dan mual-mual di tengah ke ramaian tamu yang datang menghadiri acara syukuran 4 bulanannya.
“kamu udah makan Lan?” tanya Adriana sambil mengoleskan minya angin di sekitaran tengkuk dan punggung Wulan
“belum, aku sedang tidak berselera” ucap wulan
“yah sudah aku panggil Juna yah bantu kamu makan” ucap Adriana masih memberikan minyak angin pada tengkuk Wulan
“aku sedang tidak bicara padanya” cicit Wulan
“kenapa?” tanya Adriana bingung
“bawaan hamil”
Menedngar itu Adriana hanya menggelengkan kepalnya kemudiana tersenyum “yah sudah kalau gitu aku yang suapin yah?” tawar Adriana
"boleh, tapi aku mau kuah sup yang di buat mama tadi pagi, ada di dapur"
"baiklah tuan puteri, tunggu sebentar" ucap Adriana mengelus perut sahabatnya gemes
****
“mbak udah lama yah jadi seorang perawat?” tanya Arinda menghampiri Adriana yang sedang menikmati hidangan yang tersedia
“baru beberapa bulan ini kenapa tuh?” tanya Adriana memamerkan senyumnya
“tapi seperti sudah berpengalaman banyak, umur mbak sekarang berapa kalau Arinda boleh tau?”
“umur mbak baru 26 tahun kelihatan tua yah?” seloroh Adriana
“enggak kok, masih muda banget malahan, tapi kenapa mas Rian bilang mbak tipe orang yang kaku, kayanya enggak deh”
“emang masmu pernah cerita tentang mbak?” tanya Adriana sedikit penasaran
“pernah tapi udah lama banget kayanya, makanya Arinda juga agak lama ingat nama mbak tadi, kaya perna dengar gitu” mendengar itu Adriana hanya tersenyum
“pasti lagi gibahin aku” ucap Adrian tiba-tibamenghampiri mereka
“geer banget kamu mas, orang kami lagi bicaraain tentang mbak Wulan, ia kan mbak” ucap Arinda memeluk Adrian dari samping
“untuk kamu” Adrian memberikan segelas air putih pada Adriana
“mana ada ngasih minuman bening sama perempuan mas, minimal berwarna lah” celetuk Arinda mengejek kebodohan abangnya
“Riana tidak mengkonsumsi gula di atas jam 7 malam, emangnya kamu udah mau pagi pun masih aja ngemil” ucap Adrian mencubit hidung sang adik
“yee tapi kan gak gemuk, tapi mbak Adriana emang body goals banget loh, mbak sering diet yah?” tanya Arinda cepat
“yah, bukan diet juga sebenarnya mungkin karena sudah terbiasa dari remaja tidak mengkonsumsi gula di atas jam tujh malam, kecuali kalau ada acara, menghrgai yang punya hajatan” ucap Adriana mengumbar senyuman terbaiknya
“Indah tadi kamu di cari sama wulan, kamu susulin gih” ucap Adrian sedikit mendorong sang adik dan mengedipkan sebelah matanya
“yah udah deh, Indah ke sana dulu yah mbak” ucap Arinda namun menatap permusuhan pada Adrian
“gimana keadaan ayah kamu Riana?”
“sejak kapan kamu memanggil aku dengan panggilan seperti itui?” tanya Adriana sambil meminum air yang di berikan oleh Adrian
“kenapa, apa hanya Juna yang boleh memanggil kamu dengan panggilan yang sama?” tanya Adrian penasaran
“aneh aja”
“lalu bagaimana dengan keadaan ayah kamu?” Adrian mengulang pertanyaannya
“belum ada perubahan”
“jangan berputus asa siapa tau besok ayah kamu sudah membaik” ucap Adrian tulus
“kenapa tidak datang dengan calon istrinya?” tanya Adrina mengalihkan pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan dari tadi
“kenapa, kamu penasaran seperti apa rupanya, atau kamu penasaran apa ia lebih cantik dari dirimu?”
“bukan, aku cuma penasaran. itu aja” ucap Adriana mengulum bibirnya
“sebentar” ucap Adriana melihat siapa yang menelponnya, ternyata Aci rekan sesama perawat di tempatnya bekerja, ia menitipkan Denis untuk beberapa jam kedepan
“ia Ci, ada apa?” tanya Adriana sedikit berbisik
“….”
“lakukan yang terbaik Ci, aku ke rumah sakit sekarang ” ucap Adriana memasukkan ponselnya ke dalam tas tangan miliknya
“ada apa?” tanya Adrian mendekati Adriana
“ayah aku kritis lagi, aku harus kembali ke rumah sakit” ucap Adriana mengepalkan tanagnya, meneteralkan deru nafasnya kemudian berjalan keluar dari kediaman sahabatnya tanpa pamit pada yang punya hajatan, fikirannya hanya tertuju pada ayahnya
“aku antar” ucap Adrian menarik pergelangan tangan Adriana
Adriana hanya mengangguk
****
“bagaimana dok, keadaan ayah saya?” tanya Adriana pada dokter yang bertugas menangani ayahnya
“keadaan pasien sudah normal kembali, kita akan melanjutkan pemeriksaannya setelah beliau siuman, saya permisi dulu”
Adriana mengangguk “terima kasih dok” Adriana memilih untuk duduk kembali setelah mendengar kabar ayahnya kembali normal, kakinya masih lemas untuk berjalan
Tanpa sadar Adriana memiringkan tubuhnya dan menjatuhkan kepalanya ke pundak Adrian, laki-laki yang sedari tadi begitu setia menenemani dirinya.
“ayah kamu pasti sembuh” ucap Adrian menenangkan
“terima kasih, kamu bisa pulang. adik kamu pasti kebingungan tidak mendapati kamu di sana” ucap Adriana bangun dari rebahnya
“aku sudah meminta Juna untuk mengantarkan indah pulang, akupun ingin menyapa ayah kamu”
“untuk apa?” Adriana memicingkan matanya
“hanya untuk sekedar menyapa apa itu salah?”
“tidak usah, lebih baik kamu pulang, terima kasih atas bantuannya”
“aku ingin menemui ayahmu terlebih dahulu setelah itu aku pulang” ucap Adrian memasuki kamar inap ayah Adriana, tanpa memperdulikan penolakan perempuan itu
“ayah” ucap Adriana meilhat sang ayah tenga berbincang dengan Adrian
“Riana, ayah ingin bicara sesuatu sama kamu” ucap Denis meraih jemari sang anak
“ada apa yah?” tanya Adriana mengulas sebuah senyuman
“ayah ingin kamu menikah sebelum ayah pergi untuk selamanya”
“Adriana akan menikah kalau ayah sembuh, makanya ayah sembuh dulu”
“ayah merasa waktu ayah sudah dekat, apa boleh ayah meminta itu sama kamu? setidaknya hanya itu yang bisa ayah perbuat sebagai seroang ayah untuk yang terakhir kalinya” ucap Denis dengan berlinangan air mata,
“Riana belum mempunyai calon yah, maka dari itu ayah harus sembuh agar bisa memilihkan calon unutk Riana” ucap Adriana tak kalah berurai air mata, seperti apapun perlakuan buruk yang ia dapat dulu, laki-laki itu tetap ayahnya
“ayah tak bisa melakukan itu nak, rasanya waktu ayah sudah tak lama” ucap Denis tak lagi menantap sang anak tapi kearah langit-langit kamar inapnya
“Saya bisa menjaga puteri anda, jika anda memberikan restu pada saya untuk menjaga Riana, menggantikan tugas anda menjaga Riana saya siap, saya menyayangi puteri anda” ucap Adrian menatap Denis
Mendengar itu Adriana menoleh pada laki-laki yang baru saja melamar dirinya di hadapan sang ayah. “maksud kamu apa Adrian, saya tidak mau menikah dengan kamu, saya tidak ingin di anggap merebut calon suami orang lain”
“saya memang sudah memiliki calon yang masih sulit unutk saya gapai, ya itu kamu Riana, saya sudah jatuh hati saat pertemuan pertama kita”
“apa kamu serius ingin menikahi puteri ku?” tanya Denis menggenggam tangan Adrian
“yah saya serius” ucap Adrian membalas menggenggam tangan Denis
“ayah” ucap Adriana lemah, ia tak mau melibatkan Adrian dalam permasalahan yang menimpa kehidupannya
“Riana, hanya ini permintaan terakhir ayah, kabulkan yah nak” Adriana tak menjawab ia hanya menangis
“ayah, apa boleh saya berbicara denga Adriana sebentar” pinta Adrian pada Denis
Denis hanya mengangguk
____
Adrian mengajak Adriana duduk di sebuah taman rumah sakit, hari sudah semakin malam sehingga tak banyak orang yang berkeliaran di rumah sakit maka dari pada itu Adrian menggiring Adriana ke tempat tersebut
“apa alasan kamu menolak saya, bahkan bukan hanya sekali” tanya Adrian terus terang
“saya tidak ingin menikah dengan kamu, saya tidak mengenali siapa kamu dan kamu tidak mengetahui aku selain dari Juna”
“berikan saya satu alasan terakhir membuat saya mundur dari tawaran ini, jika itu masuk akal maka akan saya terima” ucap Adrian
Adriana menghembuskan nafas berat dan mengatur nafasnya “kamu terlau jauh unutk aku jangkau secara kehidupan kita jauh berbeda, kamu di langit sedangkan aku di dasar bumi, aku takut memiliki perasaan yang pada akhirnya di hianati, dan aku tidak ingin menikah denga orang yang tidak aku cintai, belum cukup?”
“apa beda aku dengan Juna, kamu hanya lebih dulu bertemu dengannya, seandainya kamu bertemu dengan aku mungkin beda cerita, apa perlu aku meninggalkan kehidupanku demi kamu, aku berjanji akan berada di sisimu dan membuat kamu mencintai aku, aku tau ini terlalu cepat.Tapi fikirkan mengenai ayahmu, aku mencintai kamu Adriana, izinkan aku memiliki kamu dengan cara yang benar” ucap Adrian lemah
Mendengar itu Adriana terdiam, ia tak pernah di cintai bahkan laki-laki yang dicintainya menyuruh dirinya pergi, tapi ini
“aku pulang dulu, fikirkan dengan matang, jangan sampai kau menyesali karena kau mengambil keputusan yang salah” ucap Adrian meninggalkan Adriana seorang diri dengan pemikirannya
Setelah puas merenung Adriana melangkahkan kakinya menjuju ruangan yang bertuliskan “musallah” setelah hampir 5 tahun perempuan satu itui tak pernah bermunajat, berharap mendapatkan hasil yang terbaik terhadap pilihan yang akan ia ambil
____
Di lain sisi seorang pemuda tengah bergelung dengan lelapnya, sedikit terganggu dengan ponselnya yang berbunyi, padahal ia baru setengah jam terlelap.
Adrian memksakan membuka matanya untuk melihat siapa yang menghubunginya di dini hari bahkan ayampun belum berkukuk
“aku ingin berkenalan dengan keluargamu ~ Adriana”
Sontak saja Adrian membulatkan matanya, penantiannya hampir setahun akhirnya akan terbayar, ia yakin Adriana sudah menerima pinangannya, tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur dengan berita bahagia yang ia terima
***