Setelah mendapat beberapa wejangan dari Nadine, Adriana sudah bisa sedikit demi sedikit menerima keadaaan yang sudah menjadi takdirnya.
“haii” ucap Adriana menyapa rekan-rekannya yang sedang berada di ruang makan kusus dokter dan perawat
Tak ada satupun yang menjawab bahkan semua hanya menampakkan raut kebingungan sebab mereka mengetahui Adriana merupakan pribadi yang tertutup.
“apa ada yang salah?” tanya Adriana menggaruk tengkukknya yang tak gatal
“kamu gak salah minum obat kan Riana, tumben aja, lagi menang lotre yah?” tanya salah seorang wanita berprofesi yang sama dengan dirinya
“gak cocok yah?’ tanya Adriana sedikit kikuk
“co… cocok, cuma tumben aja”
“sebenarnya aku udah buatin sarapan untuk semunya, itupun kalau pada berminat, saya kurang yakin dengan rasanya” ucap Adriana memberikan satu nampan berisi sandwich
“kelihatannya enak nih, kamu sedang ulang tahun yah?” tanya Dimas kemudian memakan sandwich buatan Adriana
“kenapa tidak dimakan, ini lumayan untuk ukuran rumah sakit ini” ucap Dimas pada semua tenaga medis yang masih di liputi kebingungan
“terima kasih dok” ucap Adriana memamerkan senyum pada Dimas.
“perhatian!” ucap Dimas saat semuanya asik memakan Sandwich buatan Adriana
“hari ini adalah hutan terakhir yang akan kita masuki dan beberapa minggu lagi jadwal kalian akan di gantikan dengan tenaga medis yang baru, maka tetap jaga stamina karena hutan kali ini lumayan dalam unutk menuju perkampungan warga” ucap Dimas menghambiskan sandwich yang masih tersisa di tangnnya
“baik dok” ucap para tenaga medis yang sedang bertugas
***
Adriana memaski hutan yang memang terkenal terjal dan banyak jurang bila tak berhati-hati dalam melangkah bisa-bisa dirinya yang menjadi korban hutan tersebut, bahkan di sore hari mereka harus menggunakan penerangan karena hutan tersebut sangat rapat, cahaya matahari sangat sulit menembus hutan bila sudah sore hari. ia teringat cerita pengalaman dokter Nadine saat beliau membagi ceritanya memasuki pedalaman Papua, meskipun tak se ektrim itu Adriana merasa bangga bisa merasakan sebagian kecil dari perjuangan dokter panutannya tersebut.
Bukh…
Adriana menoleh kekanan dan kekiri mencari sumber suara, ia terus mengikuti istingnya
“apa ada orang” ucap Adriana berteriak
“tolong” ucap seseorang dengan pengucapa yang sedikit berbeda
Dengan modal nekat Adriana berjalan mengikuti pendengarannya, hingga ia menemukan sebuah jurang yang tidak terlalu dalam dan curam, dadanya bergejolak antara turun atau tidak, ia tak boleh gegabah hutan bukan tempat yang bagus untuk menguji nyali
“tolongin saya” mendengar itu Adrina memaksakan diri untuk masuk kedalam jurang dengan memastikan akar pohon yang kuat untu pegangan juga pijakanya
“apa kamu masih bisa mendengarkan ucapa saya?” tanya Adriana
“yah”
“tunggu sebentar” ucap Adrina kembali naik ke atas jurang, ia membuka ranselnya di keluarkan tali tambang kecil dan ikatnya pada pohon terdekat untuk mengikat dirinya dan seseorang yang sedang berada di dalam jurang
“hitungan keiga kamu paksakan untuk mengangkat kaki” ucap Adrina memberikan instruksi
1..2..3
1..2..3
1..2..3
“akhirnya” ucap Adriana saat mereka berhasil keluar dari jurang, Adriana membuka scarf yang melingkari leher pemuda tersebut, sebenarnya Adriana bingung manusia yang di tolongnya ini wanita atau pria karena memiliki potongan rambut yang menyerupai laki-laki.
“sebentar, sepertinya kaki kamu keseleo” ucap Adriana memutar kaki orang yang telah ia tolong
“akh”
“maaf, tapi saya rasa itu cukup ampuh” terbukti dengan kakinya sudah kembali seperti normal
“kamu harus di obati, kamu ikut saya menuju rumah sakit apung” ucap Adrina mencoba memapah tubuh seseorang yang ia temui di dalam hutan
“tidak perlu saya tidak bisa berlama-lama, saya sedang terburu-buru”
“aww sakit” ucap seseorang yang masih belum di ketahui identitasnya
“makanya saya bilang kamu masih perlu di rawat, saya juga tidak bisa melanjutkan perjalanan lebih baik saya balik dulu dan besok menuju perkampungan” ucap Adriana membuka tali yang melingkar di pinggang lawan bicaranya kemudian memasukkan kedalam ranselnya
“kau tentara?” tanya Adriana melihat penampilan seseorang yang baru ia kenal
“ya”
“kau wanita atau pria?” tanya Adriana kemudian
“terserah kau saja menganggap aku wanita atau pria” mendengar itu Adriana hanya mengangguk kemudian membawa pemuda tersebut menuju rumah sakit apung
“kenapa kau bisa masuk kedalam jurang?”
“aku tidak bisa menjelaskannya”
“baiklah akupun tak perduli, yang penting aku sudah mendapatkan satu pasien” ucap Adriana membopong pasiennya dan membawanya menuju rumah sakit apung
***
Terima kasih kau sudah menolongku, aku akan selalu ingat jasamu hari ini, aku minta tolong rahasiakan kepergianku dari siapapun, maaf unutk saat ini aku belum bisa mengatakan apapun keadaanku sedang terdesak, aku sangat salut dengan keberanianmu Adriana
Usai membaca surat pendek yang ia temui di atas brankar, pasien yang ia temui di tengah hutan, Adriana meremas surat tersebut, jantungnya berdebar kencang, ia tidak mengetahui identitas pasiennya, hal yang paling menghantui dirinya adalah seandainya orang yang ia selamatkan merupakan burunon Negara atau sejenisnya, bahkan tentara tersebut mengetahui identitas dirinya.
Sudah seminggu berlalu Adriana belum mampu menghilangkan rasa takutnya dengan kepergian pasien yang misterius, tanganya masih saja gemetaran ia takut tentara tersebut memiliki riwayat penyakit yang bisa menular, ia merutuki pemikiran bodohnya, tapi tak bisa menutupi ketakutanya, seharusnya ia mengurangi mengkonsumsi film-film seperti itu.
“akhirnya tugas rekan-rekan semua telah berakhir, lima bulan mengabdi di rumah sakit apung ini semoga bisa menjadi amal ibadah kita sebgai tenaga medis dan juga sebagai langkah awal untuk rekan semua memulai karir rekan-rekan semua, sekli lagi selmat bagi yang baru bergabung dan selamat jalan bagi rekan yang sudah menyelesaikan program 5 bulan bersama rumah sakit apung, saya Nadine puteri Wicaksana selaku ketua umum mohon maaf bila Selma 5 bulan kebrsamaan kita saya pernah menyinggung rekan-rekan semua” ucap Nadine memberikan kata sambutan semua tak lepas dari pandangan Adriana
“Adriana” mendengar namanya di panggi Adriana menoleh ada sumber suara
“iya dok?”
“apa kamu sudah memiliki jawaban mengenai pertanyaan saya kemarin?”
“belum dok, saya masih belum menentukan akan mengabdi dimana”
“saya fikir kamu tidak akan sulit lagi, apa lagi reputasi kamu belakang ini cukup memuaskan, bagaimana pasien tentara yang kamu temui itu?”
“beliau sudah pulang seminggu yang lalu, sepertinya tubuhny sudah terbiasa dengan lebam yang ada di tubuhnya” ucap Adriana sebiasa mungkin
“selamat berjuang kalau begitu, ingat jalan kamu masih panjang” ucap Nadine kemudian berlalu meningalkan Adriana
****
Adriana berjalan di lorong rumah sakit sambil mendorong kursi roda seorang waniat tua yang di perkirakan sudah berusia 70 tahun dan seorang cucunya yang baru berusia 22 tahun akan melakukan USG.
“apa saya bisa ikut sus?” tanya sang cucu yang membantu Adriana memegang cairan infuse neneknya
“bisa” ucap Adriana tetap fokus pada kursi rodanya
“bisa tolong bantu dek” ucap Adriana pada cucu laki-lakinya, sebab ia tak mampu memapah tubuh besar neneknya yang memeiliki bobot hampir 60 kilo
“sus saya sedang kebelet apa bisa di undur dulu” tanya sang cucu
“tidak ikutpun tidak apa dik, karena hasilnya juga beberapa hari lagi, penanggung jawab nenek bukan adik kan?” tanya Adriana
“bukan sus, om saya”
“yah sudah kalau mau ke toilet dulu, tidak apa tapi setelah itu langsung kemari” ucap Adriana
____
“pulanglah ayah kamu sedang sakit”
“kalau kamu tidak pulang maka kami yang akan mengantarkan laki-laki sakit-sakitan ini”
Adriana mengabaikan pesan yang di kirimkan oleh tante yang kini di panggil ibu yang sudah beberapa hari yang lalu. Setelah ibu kandung Adriana meninggal beberapa tahun yang lalu, sang ayah menikah kembali dengan adik ibunya, tantenya hanya menginginkan harta sang ayah. Ayahnya merupakan pengusaha tambak ikan yang sangat sukses, semasa sang ibu hidup, di belakang ibunya Ayahnya bermain wanita dengan adik kandung istrinya, hingga sang ibu meninggal makan hati dengan kelakuan suaminya, semenjak itu Adriana memilih hidup mandiri.
“sus” ucap se orang anak muda yang seingatnya cucu dari wanita tua yang beberapa malam lalu meninggalkan rumah sakit
“iya ada apa?” tanya Adriana
“nenek saya telah berpulang, saya kemari mengambil hasi USG juga ingin berterima kasih pada suster karena membantu kami merawat nenek”
Adriana tak terlalu terkejut dengan pemberitaan yang ia dengar, sebab hal itu sudah dapat ia rasakan dari cerita-cerita nenek yang berpamitan ingin pulang “innalilahi wainna ilaihi rojiun semoga neneknya adek bisa diterima di sisi allah, dan di letakkan disisi yang terbaik, di ampuni segala dosanya, saya turut berduka cita yah” ucap Adriana berbela sungkawa atas berita yang ia dengar
“dokter”
“dokter”
Nadine memandangi sumber suara yang cukup keras, netranya membulat saat mendapati Adrian, laki-laki yang pernah ia temui saat dirinya masih di kapal apung, namun bukan itu yang membuatnya gemetar adalah laki-lkaki itu membaw pasien yang sangat berarti untuknya
“ayah” teriak Adriana berhamburan menuju Adrian
“kamu kenal sama sama laki-laki tua ini?” tanya Adrian menaiki pria tu yang tadi di panggil ayah oleh Adriana ke atas brankar
Mendengar itu Adriana hanya mengangguk dengan satu bulir air mata yang jatuh di pipinya
“dok tolong ayah saya” ucap Adriana pada dokter yang sedang menangani ayahnya saat akan memasuki ruangan IGD
“saya menemukan ayah kamu di sekitaran kost kamu waktu itu tiba-tiba beliau pingsan lalu saya membopongnya kemari” ucap Adrian menjelaskan
“terima kasih” ucap Adriana tanpa meminta penjelasan lebih, ibu tirinya benar-benar tak main-main dengan ucapanya.
“bagaimana dok” ucap Adriana
“hasilnya belum keluar, tapi beliau sudah sadar, kalau kamu mau masuk”
“terima kasih dok” Adriana tak langsung masuk ia menghembuskan nafas beberapa kali sebelum benar-benar masuk ke ruangan sang ayah
Adriana memasuki ruangan ayahnya dengan perlahan, sebenarnya ia masih kesal dengan sikap sang ayah, tapi melihat laki-laki itu seperti tadi sebagian hatinya begitu meradang ia takut tak lagi bisa menemui laki-laki yang memberinya kehidupan untuk dirinya meskipun penuh kesakitan
“kenapa ayah bisa ada di kota ini?” tanya Adriana menahan gejolak di dadanya, setiap melihat raut laki-laki itu kesakitan sang ibu pun Nampak di matanya
“ayah di buangkan oleh anak dan istri ayah, apa lagi setelah ayah jatuh miskin dan gak bisa ngapa-ngapain” ucap Adriana menghapus air matanya
“maafin ayah nak” ucap Denis meaih jemari anak yang tak ia perdulikan semenjak ibunya meninggal dunia
“Adriana heran sama ayah, apa bagusnya nenek sihir itu dari pada ibu yang jelas-jelas mendampingi ayah dari jaman susah sampai ayah jaya, lalu ayah tinggalin dan dapat neenk sihir itu” Adriana menarik nafas dan menghampiri Denish memeriksa suhu dan infusnya apakah sudah terpasang dengan benar atau tidak
“Adriana di sini bekerja dan tidak bisa mendapingi ayah 100%” ucap Adriana kemudian keluar dari ruangan sang ayah dengan segudang perasaan tak menentu
“apa tidak terlalu kejam menyampaikan sesuatu yang menyakitkan sedangkan kondisi beliau masih rapuh?” ucap Adrian yang ternyata berdiri di luar ruangan ayahnya
“bukan urusan anda” ucap Adriana berjalan namun kemudian ia berbalik “terima kasih anda sudah menolong beliau” ucap Adriana sebelum benar-benar meninggalkan Adrian
____
“bagaimana perasaan anda sudah lebih baik?” tanya Adrian memasuki ruangan Denis
“terima kasih anak muda, kamu anak muda yang baik” ucap Denis seidkit terbata
“kalau saya boleh tau anda siapanya Adriana?”
“saya ayahnya, ayah yang menelantarkan anaknya saat dia masih membutuhkan saya sebagai rang tuanya, mengingat itu saya jadi malu” ucap Denis
Mendengar itu Adrian hanya mengangguk ia tak berhak menghakimi masa lalu orang lain “baiklah kalau begitu saya paimit dulu, saya sedang memiliki urusan dengan pemilik rumah sakit ini, permisi” ucap Adrian keluar setelah Denis mengangguk
“kamu memiliki jiwa yang besar” ucap Adrian, laki-laki iut tak sengaja bertemu dengan Adriana saat melewati taman menuju parkiran
“maaf tadi saya sedikit kurang ajar” uca Adriana menghapus air matanya
“tidak masalah bukan sekali dua kali saya mendapat perlakuan seperti itu dari kamu” ucap Adrian memberikan sapu tangan miliknya
“kamu tidak perlu mengembalikannya kalau itu yang kamu takuti, dan saya tidak akan memintanya lagi, karena saya akan segera menikah”
Mendengar itu Adriana sontak menolehkan pandanganya pada Adrian air matanya sontak saja keluar, entah karena informasi yang baru ia dengar ataupun karena ia masih terbawa suasana mengingat sang ayah yang sedang sakit. Adirana tak tau
“selamat kalau begitu” ucap Adriana berdiri
“anda tidak menyesal pernah menolak saya?” pancing Adrian
“saya tidak memiliki alasan untuk menyesal, permisi” ucap Adriana kembali masuk ke daklam rumah sakit, ini masih jam tugasnya