Sina tengah merenung di tempat tidurnya, dia masih tidak percaya apa yang sudah dia lihat di toilet siang tadi. Rasanya, Sina sangat lemas, bagaimana mungkin selama bersahabat dekat dengan Samudera, Sina tidak sadar kalau ternyata Samudera bukan laki-laki normal? Parahnya, Sina dulu mencintai Samudera dengan segenap hatinya, sampai dia tidak bisa membuka hatinya untuk laki-laki manapun. Tidak, Sina tidak menyesal, hanya saja dia tidak siap untuk menerimanya. Setiap orang pasti punya pilihannya masing-masing, tapi Samudera? Entahlah, memikirkannya saja sudah membuatnya pusing. Walaupun sekarang, Sina tidak mencintai Samudera, tetap saja, Sina merasa sangat sulit untuk menerima bahwa Samudera seorang Gay. Sina terkesiap saat mendengar suara pintu terbuka, lalu muncul suaminya yang baru

