Akbar menyeruput sup lagi, lalu mendongak ke arah Cempaka dan bertanya, "Makan apa?"
Sunyi.
Pelayan tak berani berbicara, dia jadi kikuk sendiri, dia seakan mematung tak bisa maju mundur maju mundur cantik.
Cempaka tersenyum kikuk. "Saya teh makan oseng tempe satu piring dan cah kangkung," jawab Cempaka.
Akbar tersenyum kecil, kecil sekali ke arah Cempaka. Lalu terdengar suara tawa sekilas. "Hahaha."
Cempaka meletakkan mangkuk sup dan sendok lalu mengkibas-kibas tangannya dari arah Akbar ke arah luar Akbar alias menjauh dari Akbar, bertujuan untuk menjauhkan bau tempe busuk yang keluar dari pantatnya agar Akbar tidak mencium bau tempe busuk itu.
"Maaf Abang Akbar, saya teh kentut lagi …," ujar Cempaka merasa tak enak hati. Bagaimana dia tak enak hati, dia kentut pada saat makan.
Pelayan sudah menduga, pasti suara itu bukan berasal dari bos besarnya, tapi dari nona yang dibawa oleh sang bos.
Akbar tersenyum saat melihat wajah lucu Cempaka, gadis itu sedang berusaha untuk mengkibas-kibas daerah di sekitarnya.
"Terlalu banyak makan oseng tempe atuh, jadi kentut dan juga bau tempe, hehehehe." Cempaka terkekeh.
Pelayan yang kikuk tadi lebih merasa kikuk lagi. Jadi, apakah dia akan melanjutkan berjalan keluar dari ruang privat ini ataukah dia berdiri saja hingga menunggu perintah dari bosnya?
"Kamu suka tempe?" tanya Akbar.
"Saya teh suka tempe, suka tahu, suka oncom, suka semuanya," jawab Cempaka riang. Perasaan tidak enak hati tadi sudah tergantikan dengan suasana riang hati Cempaka, mungkin karena dia telah mengeluarkan penyakit dari dalam perut jadi dia senang.
Cempaka meraih lagi mangkuk sup Buridda untuk dia makan, setelah dia mencium bahwa bau tempe busuk di sekitarnya telah sirna berlari keluar untuk mencari nafas ke udara bebas.
Akbar hanya mengangguk, lalu dia mendekatkan air minum ke arah Cempaka yang sedang makan sup Buridda dengan lahap.
"Terima kasih," ujar Cempaka, sekitar bibirnya belepotan kuah sup.
Akbar mengangguk pelan. Lalu dia melirik ke arah samping belakang kanan Cempaka, ada pelayan masih berdiri kikuk. Akbar mengerutkan keningnya, untuk apa pelayan berdiri terus-menerus di dalam ruang ini?
Melihat kerutan kening sang bos, pelayan buru-buru permisi, "Maaf, saya permisi."
"hum?! uhuk! uhuk! uhuk!" Cempaka terbatuk hebat sambil melotot ngeri.
Ada orang lain selain 'Abang Akbar' di dalam ruang ini, itu berarti ada orang lain yang mendengar kentutnya secara live di dalam ruang privat restoran ini selain pria yang dia panggil Abang Akbar.
Cempaka berbalik perlahan ke arah belakang, namun pintu sudah ditutup oleh pelayan yang keluar cepat-cepat dari ruang privat restoran.
Setelah melihat pintu tertutup, Cempaka melihat ke arah Akbar yang sudah melanjutkan makan dengan gaya elegan tanpa bunyi seruput kuah kental sup Buridda.
"Hehehe, ada orang lain di sini, saya teh tidak sadar, kira cuma ada Abang Akbar saja," ujar Cempaka.
Akbar makan makanan Italia tanpa mengganggu ocehan Cempaka.
"Saya teh rasa kurang enak dengan Mbak tadi, kentut besar-besar begitu, belum minta maaf. Aduh, pasti bau, yah?" Cempaka bertanya ke arah Akbar yang sedang makan sotong dari sup Buridda.
Akbar melihat ke arah Cempaka yang bertanya khawatir ke arahnya.
"Itu, bau kentut saya, anginnya busuk, kan?" tanya Cempaka lagi pada Akbar
"Tidak," jawab Akbar.
Lah?
Tidak?
Tidak apa ini?
Cempaka melihat ke arah Akbar yang dengan santai melanjutkan makan, Cempaka berpikir mungkin Akbar salah jawab pertanyaannya.
"Begini, tadi kan saya kentut banyak-banyak, tidak ada bau begitu? bau tempe busuk? kan saya makan oseng tempe." Klarifikasi Cempaka agar Akbar mengerti arah pembicaraannya.
"Bau tempe." Suara Akbar terdengar tenang.
Cempaka, "...." bicara panjang kali lebar kali tinggi hasilnya volume untuk menjelaskan, hanya dijawab 'tidak' dan 'bau tempe'.
Cempaka menunduk ke arah paha ke atas. Dia mengendus-endus sisa bau tempe yang dikatakan oleh Akbar.
" … sshh shhh … bau tempe … busuk …." Cempaka menutup hidung lalu mengkibas-kibas tangannya.
Akbar terlihat tersenyum kecil sambil menghabiskan sisa makanannya.
Melihat bahwa pria di depannya tidak berkomentar keberatan mengenai jejak perkentutannya, maka Cempaka melanjutkan makan.
***
Mobil berhenti di depan pintu restoran Amis Amis Asup sejauh sepuluh meter.
Cempaka melirik ke arah kanannya dan berkata, "Terima kasih, Abang. Sudah traktir saya makan lagi, hehehe. Sotongnya enak sekali."
Akbar mengangguk.
"Saya turun di sini, yah, hati-hati menyetirnya Pak Supir. Dadah!" Cempaka melambai ke arah mobil mewah yang sudah menjauh.
Setelah mobil menjauh Cempaka tersenyum. "Eleuh-eleuh, Abang Akbar teh manis pisan, tapi teh sayang sekali jarang bicara, hem padahal suaranya teh bagus sekali, enak di dengar." Cempaka hanya bisa menyayangkan Akbar yang jarang bicara.
"Ganteng-ganteng pisan teh kurang bicara, aing teh manis manis pisan banyak bicara, hahahahah." Cempaka tertawa berjalan ke arah pintu restorannya, dia merogoh kunci restoran lalu membuka pintu restoran.
"Kalau aing ingat teh, hanya empat atau lima kali Abang Akbar bicara hari ini, hum. Itu juga aing tanya, kalau tidak tanya maka bisulah dia, ah! ngomong apa ini, kok jadi gibahin orang." Cempaka menggeleng-gelengkan kepalanya menghilangkan gibahannya pada Akbar.
***
'Penerima atas nama Suliasari Hestia, Istana P, toko K lantai 2 jam 1 siang, saya tunggu."
Akbar yang duduk di kursi kerja di rumahnya melirik ke arah layar ponsel yang menyala. Di layar ponsel menunjukan kalimat alamat dan nama penerima pesanan. Jam digital di layar ponsel Akbar menunjukkan pukul sebelas siang hari. Itu artinya pesanan makanan akan diantarkan dua jam lagi mulai dari sekarang.
Setengah menit kemudian terlihat balasan dari sang empunya makanan.
'Baik, manusia dapat merancang, tetapi Tuhan yang berkehendak. Harga bebek panggang gratis nasi, air, piring, gelas, sendok dan rantang mentok di harga dua juta.'
Mata Akbar melihat lama isi pesan itu.
Di lain tempat, Cempaka meletakkan ponsel lalu melihat makanan untuk makan siang sambil berkata, "Jam satu antar makanan, masih lama, makan dulu, ah."
Cempaka berjalan ke pantry restoran unik miliknya. Saat dia menyendokkan nasi ke dalam mulut, ketukan pada pintu restoran terdengar.
"Campak, buka dulu, Emang mau masuk."
Nah, Emang yang ketuk. Alamat uang melayang lagi hari ini.
Cempaka melanjutkan makan tanpa menghiraukan sang paman. Biarlah sang paman ketuk-ketuk sampai tulang jarinya retak.
Kalau mau masuk restoran itu tandanya minta uang hari ini bukan nominal sedikit.
"Campak, buka dulu, Emang mau masuk," ujar Marsudi dari luar pintu kaca restoran.
Tak digubris oleh Cempaka.
Betapa lelahnya Cempaka, setiap hari dimorotin duitnya. Si suami minta nominal jutaan, yang si istri juga ikutan naik level minta jutaan, dikira dia bank.
Pohon uang?
Hahaha.
Tidak, terima kasih. Hamba usaha dengan jerih dan keringat sendiri. Begitulah pikir Cempaka.
Setelah Marsudi memanggil-manggil nama keponakannya berkali-kali, suara Marsudi berhenti memanggil juga.
Cempaka menghabiskan makanan dengan penuh rasa senang. Emang-nya sudah pergi, itu berarti tidak ada uang yang keluar dari ini.
Bruuuk.
Bunyi kentutnya.
"Uh, kamu teh nakal lagi, tapi untung keluar pas sudah habis makanannya." Cempaka berdiri lalu mencuci peralatan makan.
Dia mendengar bunyi ponselnya berdering.
Setelah mencuci cepat peralatan makan, Cempaka buru-buru pergi ke arah colokan terminal, tempat ponselnya dicharger.
Cempaka meraih ponselnya.
"Oh, telepon dari my ujang."
(Ujang, sebutan adik laki-laki dalam bahasa Sunda.)
"Halo, Assalamualaikum, Ajat. Kumaha damang, atuh? maneh teh jarang telepon Teteh Campak, jadi kangen."
(Kumaha damang = bagaimana kabar. Maneh = kamu.)
"Waalaikumsalam, Teteh, kabar baik. Ini Abah mau bicara." Terdengar suara balasan dari seberang.
"Abah mau bicara? Abah belum ke kebun?" tanya Cempaka.
"Kamu juga tidak ke sekolah?"
"Libur, Teh. Kan hari Minggu," jawab Ujang dari seberang.
"Lah, baru sadar. Hahaha." Cempaka tertawa.
Beberapa detik kemudian terdengar suara pria paruh baya.
"Halo, Campak, Abah mau bilang sesuatu." Suara ayah dari Campak.
"Halo, Abah. Kumaha damang? sehat? semoga sehat selalu, Gusti Allah jaga terus." Cempaka terdengar antusias.
"Alhamdulillah, Abah teh baik. Begini, itu Emang lagi susah, tolong dibantu apa begitu. Kasihan telepon Abah sambil nangis-nangis, katanya teh kamu tidak mau bantu Emang kamu lagi," ujar ayah dari Cempaka.
Wajah antusias Cempaka luntur. Dia mengira ada apa, ternyata pamannya yang mata duitan itu melapor hal yang tidak-tidak pada sang ayah.
"Abah, Emang teh setiap hari minta duit terus di Campak. Tidak apa-apa kalau minta seratus dua ratus, Campak masak sehari untuk jual dapat uang sekitar lima ratus ribu sampai tiga juta, tapi ini teh Emang minta duit sudah terlalu banyak, satu juta, dua juta, bahkan tiga juta. Kalau setiap hari Campak kasih tiga juta terus, Campak teh mau kirim uang ke Abah dan Ema bagaimana? uang sekolah Ajat teh bagaimana? Ajat teh harus les bahasa Inggris supaya pandai berbahasa luar, siapa tahu masa depan Ajat teh cerah, tidak seperti Campak yang hanya lulusan SMK," ujar Cempaka.
Di seberang telepon, Ayah Campak yang bernama Safar pria 50 tahun itu diam selama setengah menit. Dia orang desa yang jujur itu hanya tahu bahwa sang kakak kandung sedang susah, tapi kalau setiap hari susah, bagaimana nasib pendidikan anak-anaknya? dia hanya petani biasa yang bekerja di ladang menanam padi yang ditemani ikan nila di sekitaran sawah kecil miliknya, sering ada genjer yang dipetik oleh sang istri untuk menu makan sehari-harinya.
Setiap minggu, sang anak perempuan akan mengirim uang dengan jumlah relatif, tergantung dari untung yang didapat oleh anak perempuannya, kadang kirim tiga juta, kadang dua juta, bahkan sampai empat juta. Uangnya dipakai untuk membayar biaya les mahal bahasa Inggris dari anak lelakinya yang kini berusia 12 tahun yang baru saja empat bulan masuk SMP. Sekolah sekarang mahal-mahal, kegiatan ini dan itu, biaya ini biaya itu.
"Campak, kasih saja dulu uang yang mau kamu kirimkan untuk Abah dan Ema, tidak apa-apa, mungkin Emang kamu sedang sulit dan butuh uang," ujar Safar pada akhirnya merelakan uang mingguan untuknya dan istri.
(Abah, panggilan Ayah untuk bahasa Sunda, Ema panggilan Ibu untuk bahasa Sunda.)
Cempaka terdiam selama beberapa detik, matanya memerah. Abah-nya terlalu baik. Tapi, kebaikan Abah-nya tidak dibalas apa-apa oleh sang Emang.
"Campak, dengar kata Abah, Nak. Emang kamu dulu lihat Abah baik-baik waktu muda, jadi sekarang sudah tua begini, gantian Abah yang lihat Emang kamu. Lagian umur Emang kamu sudah lima puluh empat tahun, sudah tua. Apalagi Emang tidak punya anak setelah menikah hampir tiga puluh tahun, hanya kamu di sana yang dianggap Emang anaknya. Kasih saja uang Abah yang mau kamu kirim ke Emang. Biarkan Emang kamu senang dulu," ujar Safar.
Ingin sekali Cempaka berteriak bahwa sang Emang telah menipu Abah, sang Emang tukang judi, namun memikirkan persaudaraan Emang dan Abah tidak bisa diganggu gugat. Darah lebih kental daripada air. Busuk sebusuknya sang Emang, tetaplah saudara kandung dari sang Abah.
"Baik, Abah. Campak teh ikut mau Abah saja. Titip salam Campak buat Ema, sehat selalu, jangan terlalu ke ladang, musim hujan panas tidak jelas begini, cuaca tidak bagus, apalagi bulan November ini banyak angin *p****g beliung, hati-hati di ladang, Abah," balas Cempaka menurut.
"Iya, Abah sampaikan salam kamu," ujar Safar.
***
Cempaka membawa uang empat juta rupiah di dalam amplop coklat, Marsudi sudah duduk manis sambil tersenyum senang di kursi restoran milik Cempaka.
Demi menuruti perkataan Abah, uang empat juta yang hendak dikirimkan besok pada orangtuanya dia berikan pada Emang rakus uang ini.
Sret.
Belum disodorkan, Marsudi sudah menarik amplop.
"Terima kasih, yah. Emang pergi dulu."
Cus!
Marsudi menghilang cepat dari dalam restoran Amis Amis Asup.
Cempaka hanya berdiri sambil melihat sang paman pergi.
Ingat kata ayahnya bahwa dulu waktu muda, sang Emang melihat baik-baik sang Ayah, jadi sebagai balas budi, mereka juga harus melihat sang Emang, apalagi sang Emang tidak punya anak.
Setelah berdiri selama dua menit, Cempaka berniat mandi untuk mengantarkan pesanan.
Masuk Dahlia ke dalam restoran.
"Campak, kamu teh perhitungan sama Tante. Masa Emang kamu, kamu kasih empat juta, Tante dari kemarin-kemarin minta sejuta saja, tidak kamu kasih." Dahlia mengeluh betapa perhitungannya Cempaka pada dirinya.
"Apa karena Emang itu adalah kakak kandung Ayah kamu, dan Tante ini bukan siapa-siapa? Tante ini kan istri sah Emang kamu." Keluh Dahlia.
Cempaka berbalik melihat ke arah Dahlia yang duduk di kursi restoran dengan wajah cemberut.
"Tante, itu teh uang milik Abah yang dikasih. Campak teh tidak punya uang lagi sebanyak itu, setiap hari kasih Emang uang terus, berjuta-juta, sedangkan Campak teh kerja tidak menentu, sakit perut, masuk angin, sembelit, diare, ini dan itu," balas Cempaka.
"Nah, kan. Kamu sudah benar-benar pelit sama Tante." Tuduh Dahlia.
Cempaka ingin membenturkan kepala istri dari sang paman ini ke meja restoran biar sang tante ini sadar betapa susahnya mencari uang.
"Dua ratus ribu saja, mau?" dari pada lama-lama bicara dengan manusia ini, lebih baik tawarkan saja uang.
"Er … sedikit sekali, sabu-sabu, Tante nggak bisa makan." Dahlia terlihat enggan untuk menerima tawaran dua ratus ribu itu.
"Hari ini Emang ambil empat juta, kalau tidak mau ambil, ya sudah, besok saja kalau Campak dapat pelanggan-"
"Mana uangnya?" Dahlia buru-buru memotong ucapan Cempaka.
***
Cempaka duduk di kursi tempat umum, dia baru saja mengirimi pesan makanan. Dapat dua juta hari ini, tapi hari ini empat juta dua ratus ribu melayang. Kalau pemasukan setiap hari negatif terus, bagaimana dia bisa kirim uang pada orangtua dan biaya sekolah adik lelakinya?
Cempaka ingin agar sang adik dapat sekolah layak, pergi sekolah ke luar negeri dengan hasil tabungan miliknya. Tabungan usaha yang dia usaha selama empat tahun ini.
Cempaka duduk termenung, tak sadar bahwa mobil mewah telah menurunkan kaca mobil lalu seorang pria melihat ke arahnya.
Akbar melihat raut wajah susah Cempaka. Pria itu tidak tahu apa yang terjadi, tapi dari pantauan cctv di Istana P, penjualan makanannya berjalan baik.
Sepertinya Cempaka tidak berniat memandang ke arahnya.
Pintu mobil terbuka.
Beberapa saat kemudian Cempaka dibuat kaget.
"Makan siang."
"Hah!"
***