Akbar membuka pesan dan melihat isi pesan yang terlihat.
'Nama penerima Machmud Anwar, alun-alun Kota Bandung. Saya tunggu jam 12 siang.'
Akbar mengetik pesan.
'Siapkan mobil ke alun alun kota.'
Ponsel pintar hasil rancangan Akbar dimasukkan ke dalam saku jas panjang cokelat. Dia berdiri lalu keluar dari ruang kerja.
Linda dan Sandi menunduk memberi sapaan hormat. "Pak Akbar."
Akbar hanya mengangguk lalu memasuki lift eksklusif miliknya.
Tepat saat pintu lift tertutup, pintu lift yang bertuliskan 'Only for Director' terbuka.
Wanita cantik yang menggerai rambutnya berjalan ke arah Sandi dan Linda.
"Sekretaris Sandi, saya ingin bertemu dengan Pak Akbar."
"Maaf Bu Anita, Pak Akbar baru saja keluar, beliau baru saja turun," jawab Sandi sopan.
Anita melirik ke arah lift milik pimpinan lalu dia melirik ke arah map coklat yang dipegang olehnya.
Anita berjalan cepat memasuki lift hanya khusus untuk direktur.
Satu menit kemudian pintu lift milik pimpinan terbuka. Anti dan Ria buru-buru berdiri dan memperbaiki penampilan mereka.
Akbar berjalan keluar dari lift lalu ke arah mobil yang sudah terparkir dengan pintu mobil terbuka, dibuka oleh tim keamanan milik ArchiBigJen.
"Selamat siang, Pak Akbar," sapa dua orang resepsionis itu.
Hanya seperti angin lalu Akbar melewati Anti dan Ria. Namun, Anti dan Ria tidak berkata lagi dan kembali duduk di kursi kerja.
Akbar masuk ke dalam mobil. Setelah pintu mobil tertutup, pintu lift milik direktur terbuka. Anita berlari-lari kecil ke arah pintu
Alun-alun Kota.
Itulah yang ditunjukan oleh sebuah titik merah yang Akbar lihat dari layar ponsel miliknya.
Dapat Akbar lihat posisi dari titik merah itu. Dia membuka pesan dan melihat isi pesan yang terlihat.
Mobil berjalan.
"Pak Akbar!" Anita memanggil Akbar yang sudah menjauh dari pintu perusahaan.
Mobil itu telah melaju keluar dari pintu gerbang perusahaan. Anita yang berlari kecil sejauh beberapa meter itu berhenti berlari, dia tahu bahwa tidak akan berhasil menghentikan mobil pimpinan.
"Huh, sudah pergi," keluh Anita. Dia meraba saku blazer biru dongker yang dipakai. Ada ponselnya, namun dia tidak dapat menghubungi Akbar, sebab tidak ada satupun karyawan yang dapat menghubunginya, termasuk dia yang posisi sebagai Direktur Keuangan. Mereka tidak akan dapat menelepon Akbar, ponsel Akbar akan menolak telepon mereka otomatis. Sistem keamanan dan alasan di ponselnya sangat jelas.
Yang hanya bisa menghubunginya yaitu orang yang Akbar buka nomor mereka, seperti nomor supir waktu itu dan sekretaris Sandi.
Anita menarik dan menghembuskan napas. Dia berbalik berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan.
***
Akbar melihat jelas wajah yang terlihat di layar ponselnya. Untuk orang jenius seperti Akbar, tidak sulit untuk mendapatkan akses dari semua cctv yang dia kehendaki, jangankan akses cctv, akses satelit juga dia bisa, sebab dia sendiri yang merancang kerumitan satelit yang berada jauh ratusan kilometer dari bumi.
Gadis berambut pendek berjalan menenteng dua buah tas kain. Berjalan ke arah alun-alun kota. Akbar melihat waktu di jam tangannya, berdasarkan perkiraan dari jam tangan yang dia rancang, lima menit lagi dia akan sampai ke tempat tujuan.
Pada saat yang sama, Cempaka berjalan memasuki alun-alun kota. Rupanya ada acara yang diselenggarakan di tempat itu.
"Ada kegiatan," gumam Cempaka sambil melihat sekeliling.
Dia berjalan mendekat ke arah kerumunan, banyak orang yang berkumpul, mereka sedang menari beberapa tarian tradisional dari beberapa daerah.
"Machmud Anwar … ini yang nama Machmud Anwar teh saha atuh?
abdi teh tidak tahu." Cempaka celingak-celinguk.
(Saha = siapa. Abdi = saya.)
Dia pusing karena terlalu banyak orang, yang menari bukan hanya perempuan tapi juga laki-laki, juga banyak orang yang menonton.
"Ya sudah, jalan tanya satu-satu saja," putus Cempaka. Daripada dia celengak-celinguk berjalan mencari orang yang belum pernah ditemui lebih baik dia berjalan bertanya satu persatu dan bertanya pada laki-laki yang ada di alun-alun ini. Setidaknya ini yang lebih baik.
Cempaka melihat beberapa orang sedang berkumpul, dia bertanya, "Maaf, mau tanya, di sini teh kenal Mas yang namanya Machmud Anwar?"
Beberapa orang itu saling melirik, lalu mereka menggeleng. "Tidak kenal," jawab pria a.
"Ah, begitu rupanya, terima kasih." Cempaka pergi, dia mendekat ke arah kelompok orang lain lagi dan bertanya, "Maaf, apa di sini teh kenal Mas yang bernama Machmud Anwar?"
"Ah, Machmud Anwar?" tanya seorang pria.
"Ya, Machmud Anwar," jawab Cempaka.
Pria itu melihat penampilan Cempaka, "Mbak ini siapanya Anwar?"
"Saya teh penjualnya Mas Anwar. Mas Anwar teh beli makanan di restoran saya," jawab Cempaka.
Pria itu melirik ke arah dua tas kain yang ditenteng oleh Cempaka. Kalimat 'Amis Amis Asup' dapat pria itu lihat, seketika matanya melotot senang.
"Saya Machmud Anwar!" seru pria itu.
Cempaka, "???" jadi orang yang dia tanya ini adalah benar pelanggannya?
"Uhm, berapa yang harus saya bayar?" tanya pria itu agak mencurigakan.
Cempaka, "...." fiks, ini bukan pelanggannya. Seharusnya pelanggannya sudah tahu mau bayar berapa.
Cempaka tersenyum sopan dan berkata, "Maaf Mas, harga sudah saya sebutkan dari awal, jadi pelanggan saya sudah tahu, mungkin Mas ini adalah Machmud Anwar yang lain. Mari, saya permisi."
Cempaka berjalan menjauh dari pria itu.
"Hei Mbak! tunggu! saya bisa bayar dua kali lipat dari harga yang Mbak tawarkan!" pria itu berlari ke arah Cempaka, dia menghalangi jalan cempaka.
Nah, apalagi ini.
Tawar-menawar bukan ciri khas dalam bisnis yang digelutinya.
Setiap postingan dia tuliskan 'dilarang tawar, menolak tawar, harga stuck, tidak bisa ditawar, tidak dapat tawar, dll'
Cempaka berjalan ke arah lain, namun pria itu masih menghalangi. "Tiga kali lipat."
Cempaka berusaha mencari jalan.
"Empat kali lipat-" suara pria itu tertahan.
"Woy! apa yang empat kali lipat?" seorang pria memakai selendang tari datang ke arah pria itu dan Cempaka, dia membawa tas kecil berupa dompet.
Saat melihat Cempaka menenteng dua tas yang bertuliskan 'Amis Amis Asup' pria itu tersenyum ramah.
"Saya Machmud Anwar, seafood saus pedas manis yang saya pesan jam dua belas siang diantarkan ke alun-alun kota Bandung dengan harga satu juta tiga ratus ribu rupiah, ini uangnya, Teh Campak."
Cempaka melihat serius ke arah pria muda itu, ternyata seorang mahasiswa dari jurusan seni kebudayaan.
Cempaka mengangguk, tangan kanan memberikan tas kain berisi rantang makanan lalu menerima uang sedangkan tangan kiri menyusul memberikan tas kain berisi air minum, sendok dan piring.
"Terima kasih, Dek Machmud Anwar telah pesan makanan saya, silakan dinikmati, semoga beruntung di lain hari," ujar Cempaka sopan lalu tersenyum.
Machmud Anwar–pelanggan hari ini mengangguk sopan, dia berkata, "Saya seharusnya yang mengucapkan terima kasih pada Teteh Campak."
Cempaka tersenyum. "Ah, lagi latihan menari?"
"Iya, saya dan teman-teman sedang latihan menari, kami akan adakan acara pameran tari tradisional beberapa hari lagi, saya mahasiswa dari Institut Seni BI," jawab Anwar.
"Ah, begitu. Dek Anwar teh keren pakai pakaian ini, yang semangat, yah!" Cempaka memberi semangat.
Anwar tersenyum senang, pemuda sembilan belas tahun itu senang bukan main setelah melihat idolanya memberi semangat langsung padanya.
"Teteh Campak teh geulis pisan."
(Geulis pisan, sangat cantik.)
"Oh? Sunda juga? kumaha damang?" Cempaka merasa senang dengan Anwar.
(Apa kabar?)
"Iya, Abdi teh urang Sunda juga, Alhamdulillah baik," jawab Anwar, "Teteh Campak bagaimana kabarnya?" tanya Anwar.
"Alhamdulillah baik atuh. Wah, abdi teh senang ketemu sesama saudara sesuku. Asal dari mana atuh?" Cempaka terlihat antusias saat berbicara dengan Anwar.
"Abdi teh asli Banyumas, Teteh Campak teh urang Brebes, kan? Abdi teh ikutin di insta," jawab Anwar.
"Ah, benar. Wah, hebat yah, abdi teh ketemu saudara dekat, wah senang ada yang ikutin saya. Terima kasih atuh sudah pesan makanan Teteh yang ini, nanti besok lusa kalau Anwar cepat, bisa jadi pelanggan lagi." Campak menunjuk dirinya.
Anwar mengangguk.
"Ah, kalau begitu Dek Anwar teh silakan makan, sudah jam dua belas lewat jangan sampai lapar, Teteh Campak teh pulang dulu, yah?" pamit Cempaka.
Anwar mengangguk dan membalas, "Baik, Teh. Hati-hati di jalan."
"Siap!" Cempaka memberi hormat ala-ala militer versi abal-abal miliknya lalu berjalan berbalik dari Anwar, dia berjalan menjauh dari alun-alun kota.
Pria yang tadi menghalangi Cempaka mengejar Cempaka.
"Hei! tunggu!"
Cempaka berhenti berjalan, dia berbalik ke arah pria itu.
"Ada apa, Mas?"
"Minta nomor telepon." Pria itu memberikan ponsel nipon mahal miliknya ke arah Cempaka.
Cempaka menggeleng sopan dan berkata, "Maaf, Mas. Bukannya saya pelit tidak mau memberikan nomor telepon saya, tapi saya benar-benar tidak bisa memberikan nomor ponsel saya karena alasan privasi." Tolak Cempaka halus.
Pria itu tersenyum sinis. "Hanya ketik saja nomor telepon kamu, lalu selesai, apa yang susah?"
Cempaka melihat wajah pria itu, masih terlihat muda.
"Mas ini teh mahasiswa juga?"
"Ya, kenapa?" pria itu mengangguk.
"Mau buat apa dengan nomor telepon saya?" tanya Cempaka, dia berjalan pelan menjauh dari alun-alun kota, namun pemuda itu masih mengikuti.
"Mau telponan," jawab pria itu.
"Maaf, saya teh sudah bilang sebelumnya, tidak bisa memberikan nomor telepon, permisi." Cempaka berjalan cepat menjauh dari alun-alun sampai di pinggir jalan raya.
"Aku cuma minta nomor telepon-" suara pria itu tertahan.
Citt.
Bunyi rem mobil.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan Cempaka dan pemuda itu.
Kaca mobil diturunkan, lalu terlihat wajah Akbar menoleh ke samping, tepatnya ke arah Cempaka yang sedang melihat penasaran ke arah dalam mobilnya.
"Ayo, masuk."
Tanpa menunggu banyak pikiran dan pertimbangan, Cempaka masuk ke dalam mobil.
"Pak Supir, jalan Pak." Instruksi Cempaka.
"Hei! nomor telepon belum!" pemuda itu berteriak kesal.
"Fiiuuuuhhh …." Cempaka menarik dan menghembuskan napas lega sambil mengusap dadanya.
Dia melirik ke arah samping di mana Akbar sedang melihat ke arahnya. Cempaka tersenyum lebar.
"Terima kasih teh untuk Abang Akbar. Maaf yah, Campak teh buat repot. Ah … tadi abis antar makanan untuk pelanggan, tapi teh ada pelanggan palsu yang nyamar jadi pelanggan asli, untung teh Campak ini pandai-pandai melihat kebohongan yang hakiki disengaja."
"Untung ada Abang Akbar. Campak teh bisa selamat. Hehehehehe." Cempaka terkekeh.
Akbar hanya melihat Cempaka tanpa menyela pembicaraan yang dilakukan oleh Cempaka.
"Abang Akbar dan Pak Supir teh mau ke mana? aduh, siang-siang panas begini." Cempaka melihat ke luar kaca jendela, matahari tinggi bersinar cerah membakar kepala orang-orang.
"Archi's Taste," jawab Akbar singkat.
"Hum? Arcis test itu teh di mana?" tanya Cempaka bingung.
"Restoran," jawab Akbar singkat.
"Oalah, tempat makan. Warung makan moderen berkelas atuh."
"Hehehehe." Cempaka terkekeh.
Sang supir hanya melirik ke arah kaca spion. 'Kebetulan' sekali bos bisa bertemu Nona Campak ini lagi.
***
"Hah … huuuh ya Allah, Gusti pemilik dunia akhirat. Makanan enak lagi." Mata Cempaka terlihat segar nan cerah. Dia melihat ke arah Akbar yang sudah menyuapkan nasi dan sup ke dalam mulut.
"Abang Akbar teh baik sekali, bawa Campak ke sini lagi," Campak mulai cerewet lagi.
Ada seorang pelayan datang membawa sup Buridda.
"Wah! makanan Italia, Campak teh dari dulu ingin makan ini, tapi harganya teh bisa beli rumah untuk tinggal." Cempaka menerima mangkuk sup dengan riang.
"Terima kasih, Mbak," ujar Cempaka senang.
Pelayan tersenyum membalas, "Sama-sama, silakan dinikmati."
Cempaka mengangguk, dia menyeruput kuah sup.
Pelayan hendak berjalan keluar dari ruang privat.
Broooooooooooooooooook!
Bunyi suara panjang terdengar.
"...."
Sunyi, sepi, hening, senyap.
"Ssruup." Bunyi seruputan kuah sup dari Akbar.
Pelayan itu mematung, dia melirik ke arah bos besar yang makan ah, tepatnya menyeruput kuah sup tanpa muntah karena bau tempe busuk di ruang privat ini. Bos tidak muntah, maka dia juga harus tidak muntah.
Sang bos tidak pernah makan dengan cara kasar seperti sekarang ini. Menyeruput apapun tidak kasar, setidaknya itulah yang dia pelajari dari cara makan bos yang hanya satu bulan atau bahkan dua bulan sekali di restoran ini, selama lima tahun dia bekerja, baru tujuh kali dia lihat sang bos makan di sini. Akhir-akhir ini sang bos sering datang, dengan nona ini sudah dua kali.
Tunggu, apakah bunyi yang dia dengar tadi adalah bunyi seruputan kuah sup dari bos?
Bok bok bok!
Tiga bunyi terdengar lagi.
Nah! ini jelas bukan seruputan sup.
Dia tahu apa ini.
Tahan, tahan, tahan. Pelayan itu menahan napas, wajahnya memerah karena tidak ada oksigen yang masuk ke dalam paru-paru.
Puuuuuuuuuuuuuuup.
Bunyi panjang bervokal teratur terdengar lagi.
Angin apa ini?
"Srryuup." Hanya terdengar bunyi seruput kuah sup dari bos besar.
Cempaka melihat kikuk dan bersalah ke arah Akbar, tangannya mematung memegang sendok sup, matanya melihat Akbar santai makan sup tanpa terganggu.
Akbar menyeruput sup lagi, lalu mendongak ke arah Cempaka dan bertanya, "Makan apa?"
Buridda adalah sup makanan laut atau sup dalam masakan Italia dari Liguria di Italia utara.
***