"Makan apa?"
Suara bas magnetik itu terdengar jelas di pendengaran Cempaka dan sang supir.
Cempaka melirik kikuk ke arah Akbar yang sedang melihat ke arahnya.
"Saya teh tidak makan hari ini, lupa makan … ini teh masuk angin."
Buk buk buk!
Tiga suara berturut-turut terdengar lagi setelah Cempaka menjawab pertanyaan dari Akbar.
Wajah Akbar berubah serius lalu beberapa detik kemudian Cempaka terkekeh kikuk dan tidak enak sambil mengibas-ngibaskan tangannya agar Akbar tidak kecipratan bau miliknya.
"Maaf atuh, saya teh kentut lagi, hehehe."
"Hahahaha!" Akbar tertawa.
Melihat Akbar tertawa, Cempaka juga ikut tertawa.
Mobil itu penuh dengan tawa Cempaka dan Akbar disertai dengan bau khas gas buangan dari perut Cempaka.
Sang supir hanya bisa kikuk melihat apa yang terjadi.
Gusti Allah, baru kali ini hamba dengar Pak Akbar tertawa. Batin supir terharu. Terharu mendengar suara tawa sang bos sekaligus menahan napas karena bau menyengat di dalam mobil. Ingin rasanya dia menurunkan kaca mobil agar udara bisa saling bertukar.
Seakan tahu bahwa supirnya tersiksa, Akbar menekan layar di ponsel, lalu beberapa detik kemudian tidak ada lagi mau yang tercium. Hanya bau harum dari pengharum mobil. Bau itu telah dihisap oleh penghisap udara yang ada dalam mobil rancangan Akbar.
"Hum, tidak bau lagi." Cempaka menghela napas lega. Cempaka melirik ke arah Akbar, "Kita teh belum kenalan."
"Akbar." Suara bas magnetik Akbar terdengar.
"Ah, Akbar. Wah, nama itu bagus. Akbar itu artinya besar. Wah, persis seperti orangnya, besar," ujar Cempaka.
Supir, "???"
Akbar, "...."
Er, ini apa yang besar? dalam konteks apa kebesaran ini? sang supir berpikir.
"Nama saya teh Cempaka Jayanti, tapi cukup panggil Campak saja, kalau panggil Cempaka Jayanti, terlalu panjang," ujar Cempak memperkenalkan diri.
"Chairal Akbar Tanjung." Suara Akbar terdengar lagi.
Cempaka melihat ke arah Akbar, "Ah, nama Mas ini juga cukup panjang."
"Abang." Suara Akbar.
"Hum?" Cempaka mengerutkan kening.
"Panggil Abang," ujar Akbar singkat.
Supir, "...." hari apa hari ini?
"Ah, ya ya, Abang Akbar ini teh namanya bagus." Cempaka memuji nama Akbar.
***
Selama lima belas menit perjalanan, Cempaka duduk di sebuah restoran mewah. Ini adalah ruangan privat.
Banyak makanan mewah disajikan di atas meja makan kaca anti pecah.
Akbar membawanya untuk makan siang. Meskipun makan siang hari ini terlambat.
Seorang pelayan datang membawa handuk lalu meletakkan handuk di bahu Cempaka, "Nona, maaf tidak sopan. Saya ingin memberi handuk agar tubuh Anda kering," ujar pelayan perempuan bernama tag Suci.
"Terima kasih, Mbak. Aduh, jangan repot-repot atuh, saya teh jadi tidak enak," balas Cempaka.
Suci tersenyum sopan profesional hasil dari pelatihan sebelum memasuki dunia kerja di restoran Archi's Taste. "Tidak apa-apa, tidak merepotkan. Silakan menikmati hidangannya, saya permisi."
"Ya, terima kasih." Cempaka tersenyum senang. Dia melihat ke depannya, ada Akbar yang sudah makan makanan dengan cara elegan. "Karyawan di sini baik-baik, yah." Lalu Cempaka mulai mengambil sendok dan makan.
"Um, enak! wah! enak!" mata Cempaka berubah cerah setelah mencicipi makanan.
Akbar tidak menanggapi, dia hanya makan.
"Abang Akbar teh makannya pelan sekali, Campak teh jadi ingat Mas gelandangan di depan got bandara waktu itu."
Ting.
Akbar berhenti makan. Dia melihat ke arah Cempaka yang makan makanan dengan enak.
"Kasihan teh Mas itu. Untung masih hidup. Hidup ini teh susah, yah? ada orang bisa makan enak, ada juga orang makan tidak enak. Ada yang makan nasi hangat, ada yang makan nasi basi. Ada yang tidur di kasur empuk ada yang tidur di emperan toko."
"Hum, masing-masing diberikan rejeki dan kelebihan dari Allah. Kalau Campak teh bersyukur masih bisa makan dan tidur, yah, meskipun bukan kasur mahal, tapi bisa tampung badan Campak yang suka tidur tendang sana tendang sini." Campak bicara pada saat makan.
"Eh, bicara soal tidur, hehehehe. Campak teh tidurnya berantakan."
Cempaka melihat ke arah Akbar yang hanya diam sambil menatapnya. "Abang teh kenapa diam saja atuh? tidak dimakan makanannya?"
Akbar tidak menjawab, dia hanya melihat ke arah Cempaka.
"Um, saya teh terlalu cerewet, maaf." Cempaka sadar bahwa dia terlalu cerewet.
Cempaka menunduk tidak enak lalu melanjutkan makan.
***
Empat puluh menit kemudian Cempaka melihat ke depan mobil, dia dan Akbar berada di dalam mobil.
"Pak supir, saya teh turun di depan, yah? itu teh rumah saya, yang ada nama Amis Amis Asup itu." Cempaka menunjuk ke arah depan.
"Baik, Non." Supir menyahut.
"Yah Pak Supir, panggil Campak saja, jangan panggil Non, jadi terdengar gimana yah kayak nggak enak gitu, masa orang tua panggil anak muda dengan sebutan Non. Saya teh bukan majikan atau tuan, kita teh sama," ujar Cempaka.
Pak sopir melihat ke arah kaca spion di dalam mobil. Matanya melihat ke arah Akbar yang sedang menatap ke arah kaca spion juga.
Tiba-tiba Pak Supir ingin pingsan.
Saya juga ingin panggil nama Campak, tapi apa daya. Batin Pak Supir.
"Saya lebih enak panggil Non, yang lain juga saya biasa panggil dengan sebutan 'Non'," balas Pak Supir.
"Oh … begitu toh, ya sudahlah. Tidak apa-apa, hehehehe." Cempaka terkekeh.
Mobil berhenti di depan pintu restoran milik Cempaka, sebelum Cempaka turun dari mobil, dia melihat ke arah kanannya. "Abang Akbar, terima kasih atuh sudah berikan saya tumpangan, sudah kasih saya makan gratis ah, traktir saya makan gratis. Dan … tidak marah waktu saya kentut. Maaf yah, Bang."
Akbar hanya mengangguk, tak menyahut apapun.
Cempaka menggaruk keningnya, kadang dia berpikir, pria yang memberinya tumpangan ini agak aneh. Tapi sudahlah, tidak perlu dipikirkan, toh dia juga orang aneh, suka kentut sembarangan. Untung dapat orang baik. Beruntung masih ditampung.
Cempaka tersenyum. "Saya turun di sini, yah. Abang Akbar teh hati-hati dalam perjalanan pulang. Pak Supir, tolong bawa mobil pelan-pelan yah, jalanan teh licin baru saja hujan ah! hujan turun lagi! ya sudah, saya masuk! dadah!"
Pintu mobil tertutup bersamaan dengan hilangnya suara Cempaka dan bising dari luar.
Cempaka melambaikan tangannya hingga mobil yang dinaiki oleh Akbar menghilang dari indera penglihatan.
Cempaka berjalan ke arah restoran lalu membuka pintu, saat dia hendak masuk, suara Dahlia terdengar.
"Campak!" Dahlia buru-buru keluar dari rumah di sebelah restoran Campak.
Cempaka berbalik, Tante lagi.
Dahlia berjalan cepat ke arah Cempaka sambil menengadahkan tangannya. "Tante Dahlia mau makan di restoran Korea, kasih satu juta."
Cempaka, "...." dikira uang cari gampang.
"Tante Dahlia, kalau soal makan makanan Korea, Campak juga bisa masak, kan dulu sekolah kejuruan Tata Boga. Nah, Tante Dahlia mau makan apa atuh? mari Campak buat sekarang," ujar Cempaka. Dia tidak mungkin memberikan uang satu juta semudah itu pada istri pamannya ini sebab tiap hari minta uang terus.
"Eh Campak, kamu memang tidak bisa lihat orangtua senang sedikit, yah? kasih kek uang buat Tante pergi makan di restoran. Tante juga pengen rasa makanan yang namanya sabu-sabu itu." Dahlia mencebik.
Campak berusaha tersenyum, "Tante, satu minggu yang lalu teh Emang minta uang tiga juta, itu tengah malam. Jadi sekarang uang Campak sudah habis."
"Loh? apa hubungannya Emang kamu pinjam uang sama Tante? kan bukan Tante yang pinjam uang." Dahlia mencebik.
Harus bagaimana Cempaka bersabar lagi menghadapi pasangan mata duitan itu.
"Tante, usaha Campak tidak dapat penghasilan tetap, jadi jika setiap hari kasih uang terus, nanti Campak tidak akan balik modal."
"Ooh! jadi kamu sekarang sudah mulai perhitungan, yah sama Emang dan Tante kamu?" Dahlia melotot.
Campak ingin sekali mencongkel bola mata perempuan 49 tahun itu, tapi mengingat ini adalah istri dari sang paman, Campak berusaha untuk sabar.
Dia merogoh uang di saku celana jeans yang dia pakai. Beri saja wanita itu uang daripada dia meraung-raung seolah-olah Dahlia itu mengasuhnya dari kecil.
Dia menyodorkan uang seratus ribu ke arah Dahlia.
"Ini, hari ini untuk Tante."
"Seratus ribu? kamu bagaimana sih! Tante kan minta satu juta-"
"Maaf, Tante. Campak sakit perut," potong Campak.
Bruk.
Klik klik.
Pintu restoran tertutup lalu terdengar pintu terkunci. Cempaka buru-buru naik ke atas untuk tidak lagi terlihat oleh sang Tante.
"Campak! orang tua belum selesai bicara sudah pergi! Kebiasaan kamu, yah! kamu perlakukan Tante seperti anak kecil! hei! Hei!" seru Dahlia jengkel.
Dahlia mengomel hingga urat lehernya terlihat.
Para tetangga yang tinggal tak jauh dari restoran unik Cempaka hanya menggeleng, ada juga yang mencebik ke arah Dahlia yang menurut mereka tidak tahu malu.
***
Buushhhhhhhh!
Bunyi aliran air turun dari lubang-lubang kecil shower membasahi rambut, menuruni leher, melalui d**a berotot pria berkulit putih bernama Akbar.
Akbar menutup mata, dia menikmati aliran air jatuh membasahi tubuhnya. Lalu setelah itu dia membuka mata dan menatap pantulan badannya di kaca kamar mandi. Terlihat jelas otot-otot timbul di d**a dan perutnya. Menjadikan perut itu bagaikan roti sobek delapan yang biasa ditemukan di rak penjualan minimarket atau supermarket.
Akbar melirik ke arah botol sampo kuning bertuliskan 'Sunsluk'. Botol ukuran kecil, namun harum wangi sampo itu. Tak tahu apa yang membuat Akbar–manusia kaya jenius itu mau memakai sampo yang dibelikan oleh Cempaka. Padahal 3 minggu yang lalu, Akbar meletakkan begitu saja sampo Sunsluk itu.
Akbar mencium aroma yang terpancar dari kulit tangannya. Katanya, dari tulisan yang dia baca di kulit bungkus sabun, tertulis 'Citro, beras jepang dan minyak bunga camelia'. Wangi itu membuatnya menutup mata lagi, dia berusaha mengingat bagaimana bau yang dia cium dari pancaran bau yang keluar dari tubuh pembeli sabun itu.
Sama.
Bau kulitnya sama dengan bau harum dari pembeli sabun ini, bahkan Akbar juga mengingat bau yang keluar dari p****t pembeli sabun.
Kentut.
Tapi bukan bau kentut yang dicium oleh Akbar, aneh sekali. Yang tercium dan yang teringat adalah wangi bunga Camelia. Setelah beberapa menit terlena oleh bau sabun, Akbar membuka matanya. Dia menghentikan air lalu memasukkan kembali sabun batang itu ke dalam bungkusannya. Dia meraih handuk lalu melilitkan handuk ke pinggangnya.
***
Tik tik tik.
Bunyi ketikan dari keyboard laptop milik Akbar.
Sepuluh jemari pria berusia 34 tahun itu menari-nari indah dan lentik di atas papan ketik. Nama Amis Amis Asup, Cempaka Jayanti terlihat.
Handuk putih masih terlilit di pinggang kokoh pria itu.
Setelah hanya dua menit mengetik, layar ponselnya menyala, Akbar melirik ke arah layar ponsel.
'Pemasangan GPS selesai.'
***