Bab 10

2301 Kata
"Uhum, ini pacar Campak, yah?" tanya Marsudi, dia melirik ke arah Akbar Akbar, "...." hanya diam sambil melirik Marsudi. Pria ini tidak akan bicara banyak pada orang yang tidak terlalu menarik perhatiannya. Untuk beberapa detik, ruang rawat Cempaka terasa sunyi. Cempaka menjawab, " … er … bukan … ini teh teman Campak …." Marsudi melirik ke arah Cempaka yang lemas. "Kamu sakit, tidur saja," balas Marsudi. Cempaka terdiam, dia melihat ke arah Akbar, ada rasa tidak enak ke arah Akbar. "Emang, ini teh teman Campak. Beruntung ada teman ini yang melihat Campak kesusahan dan sakit jadi Campak dibantu oleh teman ini," ujar Cempaka. Akbar memandang ke arah Marsudi tanpa menyapa. Aura yang dikeluarkan oleh Akbar membuat Marsudi yang tadinya ingin mengajak bicara Akbar menjadi berhenti, Marsudi mengurungkan niatnya. Sepertinya memang orang ini tidak bisa diajak bicara sembarangan. Batin Marsudi menyimpulkan. Cempaka melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam. Sudah beberapa jam dia masuk rumah sakit. Lalu dia melirik sopan ke arah Akbar. "Abang Akbar, terima kasih teh sudah sudi mengantarkan Campak ke rumah sakit. Berkat obat manjur, Campak jadi tidak sakit lagi, sudah baikan. Ah, mungkin malam ini Campak bisa keluar rumah sakit ini," ujar Cempaka, dia berusaha tersenyum ke arah Akbar agar Akbar melihat bahwa dia sudah baikan. "Dokter mengatakan besok baru bisa pulang," balasan Akbar. Cempaka terlihat kikuk. "Ini …," ujar Cempaka melihat di sekeliling ruang rawatnya, ruangan ini cukup besar dan … mewah. Kira - kira berapa biaya per malam? apalagi ini rumah sakit swasta. Akbar berdiri dari kursi. Dia meletakan obat di atas nakas yang beberapa jam lalu diberikan oleh dokter padanya. "Saya akan pergi, besok sudah bisa pulang." Setelah mengatakan kalimat itu, Akbar berjalan ke luar dari ruang rawat Cempaka. Cempaka belum sempat mengucapkan terima kasih. Sementara itu, Marsudi kalang kabut. "Biaya rumah sakit ini berapa?" "Mahal, Mas. Ini kan rumah sakit swasta khusus pengusaha dan pejabat konglomerat, biaya per malam jutaan," jawab Dahlia. Dahlia melirik ke Akbar yang telah menghilang dari jangkauan pandangnya. "Aduh! Campak, pindah ke rumah sakit daerah, ayo! ah, kamu sekarang sudah tidak rasa sakit lagi, kan?" Marsudi panik. Tentu saja dia panik, sebab jika uang itu dipakai untuk biaya berobat rumah sakit sang keponakan di rumah sakit ini, itu tandanya dia tidak akan bisa dapat uang. Cempaka mulai berpikir. "Mang, sudah jam tujuh malam … apa masih bisa keluar rumah sakit?" "Bisa, tentu saja bisa. Ayo pulang!" pinta Marsudi. "Jangan buang-buang uang di tempat ini. Semua fasilitas sama saja di setiap rumah sakit, cuma beda tempat tidur," gerutu Marsudi kesal. Cempaka berusaha untuk bangun dari berbaring dan mulai meraih barang-barangnya. Tak berapa lama, direktur rumah sakit memasuki pintu ruang rawat Cempaka. "Selamat malam, Nona Cempaka Jayanti, saya Sony Andrew Sirion, direktur rumah sakit ini," sapa direktur rumah sakit. Marsudi dan Dahlia buru-buru berbalik ke arah Sony. "Selamat malam, Pak," balas Cempaka. Dia tersenyum ke arah Sony. "Nona Cempaka, Anda bisa bermalam di sini selama semalam. Biayanya juga sudah dibayarkan oleh Tuan Akbar," ujar Sony memberitahu Cempaka dan keluarganya. "Sudah dibayarkan?" tanya Marsudi. "Ya, sudah dibayarkan," sahut Sony. Marsudi melihat baik-baik penampilan Sony, dia baru tahu ini adalah direktur rumah sakit swasta yang terkenal ini. Jika biaya rumah sakit telah dibayarkan, itu berarti direktur ini dan pria yang membantu keponakannya pasti saling kenal. "Pak Sony, saya mau bertanya, apa pekerjaan Pak Akbar tadi?" tanya Marsudi. Sony, "...." dia melirik ke arah Cempaka yang juga bingung dengan apa sebenarnya pekerjaan Akbar. "Itu-" ujar dokter Sony terpotong. "Kayaknya sih tukang grab, Mang." Cempaka lebih dulu menjawab pertanyaan sang paman dari pada Sony. Sony, "!!!" Tuhanku, apa yang tukang grab? Marsudi melirik ke arah Cempaka, "Kamu yakin?" Marsudi mendekat ke arah Cempaka, "gaya pakaiannya tidak biasa." "Soalnya sudah hampir seminggu ini Campak teh jadi langganan naik mobilnya terus. Ah, Emang, sekarang ini tukang jual cilok saja pakai dasi dan jas," jawab Cempaka. Sony, "...." biarkanlah Nona Cempaka dengan segala firmannya. "Besok pagi atau siang, Nona Cempaka sudah bisa pulang. Mari, Pak, Bu, Nona Cempaka, saya permisi," pamit Sony. "Iya, Dok. Terima kasih," balas Cempaka. Marsudi duduk di depan sang ponakan. "Emang tidak yakin dia tadi tukang grab." Cempaka hendak menutup mata, mungkin karena efek obat yang dia minum, dia merasa mengantuk. "Mang, nanti besok saja yah baru Campak tanyain ke Abang Akbar, Campak teh sekarang mengantuk," ujar Cempaka. "Campak, bangun, buka mata dulu." Marsudi berusaha untuk mempertahankan agar Cempaka tidak tidur. Cempaka hanya membuka mata sekilas lalu menutup mata lagi. "Kamu sudah berapa lama kenal-Campak! bangun!" Marsudi berusaha untuk membangunkan sang ponakan. Campak tertidur. "Ck! aku yakin, laki-laki tadi itu bukan orang biasa." Marsudi terlihat melihat ke arah pintu. "Dilihat dari gaya pakaian, memang benar, Mas," timpal Dahlia. Dahlia melirik ke arah Cempaka yang tidur dan bertanya, "Dari mana Campak bisa kenal dengan laki-laki tadi?" "Nggak penting dari mana, yang penting sekarang apa hubungan mereka," timpal Marsudi. "Ck, si Campak pake acara tidur segala." Marsudi kesal. "Udahlah, Mas. Aku mau tidur dulu. Di sini bagus juga, mewah lagi, ada ranjang khusus untuk keluarga." Dahlia naik ke atas ranjang. "Mas, sini. Empuk banget." Panggil Dahlia ke arah Marsudi. *** Akbar terlihat menatap layar laptop di depannya. Ayah : Safar, 50 tahun. Ibu : Asih, 45 tahun. Saudara laki-laki : Ajat Karim, 12 tahun. Paman : Marsudi, 54 tahun. Bibi : Dahlia Sarina, 49 tahun. Alamat, daftar nama keluarga dekat, pekerjaan dan yang lainnya tertera di depan layar laptop milik Akbar. Akbar menutup laptop lalu berdiri dari kursi, dia berjalan ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan wajah basah sehabis membasuh wajah. Akbar berjalan ke ranjang dan tidur. *** Troli makanan berhenti di depan pintu rawat VVIP yang dipakai oleh Cempaka. "Selamat pagi, ayo sarapan pagi, Nona Cempaka," sapa pembawa makanan. Pintu dibuka. Terlihat Marsudi baru saja keluar dari kamar mandi, sedangkan Dahlia dan Cempaka masih terlihat tidur pulas. "Ah, selamat pagi, Pak. Ini makanan pagi untuk Nona Cempaka sesuai resep dan saran dokter." Pembawa makanan meletakan rantang makanan di atas nakas berdekatan dengan obat yang campak minum. "Terima kasih, Mas," ujar Marsudi seadanya. "Sama-sama, Pak. Mari, saya permisi," pamit pembawa makanan. "Ya," sahut Marsudi. Dia melirik ke arah rantang makanan di atas nakas. Marsudi berjalan mendekat lalu membuka penutup rantang. "Makanan apa yang di sini-" Marsudi terdiam. Kryuuk kryuuk. Dia melihat ke arah Cempaka yang masih tidur. "Aku saja yang makan," ujar Marsudi. Sepuluh menit kemudian. "Permisi, Nona Cempaka, ayo pemeriksaan pagi." Dokter yang berusia 40 tahun tadi malam memasuki ruang rawat Cempaka. Marsudi yang telah kekenyangan makan makanan milik Cempaka cepat-cepat mencubit betis Dahlia agar cepat bangun. "Iiss, Mas, jangan cubit-" "Dokter datang," potong Marsudi pada ucapan Dahlia. Dahlia buru-buru turun dari ranjang. Cempaka baru saja membuka mata. Dokter yang bernama Lidya itu melirik ke arah nakas lalu membuka tutup rantang. "Wah, senang rasanya Anda sudah makan." Kryuuk kryuuk. Senyum dokter Lidya kaku setelah mendengar bunyi protes sanggahan dari anak buah cacing dari dalam perut Cempaka. "Saya teh belum makan, Dok," ujar Cempaka. Dokter Lidya, "...." dia melirik ke arah dua orang paruh baya. Dilihat dari situasi ini, perempuan paruh baya itu sepertinya baru bangun tidur dan tidak makan, berarti lelaki paruh baya yang duduk di samping wanita paruh baya itu adalah pelaku dalam kasus makan pagi pasiennya. "Em … itu … saya tidak sengaja memakan makanan itu, saya tadi merasa kurang enak badan." Marsudi terlihat gugup dalam menjelaskan. Dokter Lidya tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa," dokter Lidya menoleh ke arah kiri, ada asistennya, "Suster Suni, tolong hubungi bagian dapur untuk memberi makan pagi pada Nona Cempaka, sebab Nona Cempaka akan mendapat pemeriksaan terakhir sebelum pulang." "Baik, dokter." Suster Suni mengangguk lalu keluar dari ruang rawat. "Dokter, saya benar-benar bisa pulang hari ini, kan? oh, tadi malam dokter Sony datang dan memberitahu saya juga." Wajah Cempaka terlihat bahagia. Dokter Lidya mengangguk sambil tersenyum. *** Mobil hitam mewah berhenti di depan rumah sakit. Supir buru-buru keluar dari jok kemudi dan pergi membuka pintu mobil belakang. Akbar turun dengan rantang ukuran sedang di tangannya. Dia berjalan memasuki rumah sakit, tak berapa lama dia dan seorang perawat yang ternyata dia adalah suster Suni yang sedang membawa makanan dari dapur bertemu dengan Akbar di depan pintu. "Ehm …." Suster Suni terlihat kikuk. Akbar tanpa menyapa Suster Suni masuk ke dalam ruang rawat Cempaka. "Makanan Anda untuk beberapa hari ini jangan yang pedas, lalu Anda harus istirahat sekitar satu atau dua hari untuk memulihkan-" ujar dokter Lidya. "Ah, Abang Akbar teh ada di sini." Cempaka terlihat senang saat Akbar memasuki ruang rawat. Dokter Lidya menoleh ke arah Akbar, dia memberi salam. "Selamat pagi, Pak Akbar." "Selamat pagi," balas Akbar seadanya. Dokter Lidya melihat rantang sedang yang berada di tangan kanan Akbar. Akbar meletakkan rantang di atas nakas lalu membuka rantang, bau makanan enak tercium di semua indera penciuman orang yang ada. "Waah … Campak teh jadi benar-benar lapar," ujar Cempaka. Kryuuk kryuuk. Akbar mengambil makanan untuk Cempaka. Dokter Lidya merasa agak terperangah. Dokter Lidya sekarang benar-benar yakin bahwa ada sesuatu antara Nona Cempaka dan Tuan Akbar. "Makan ini lalu minum obat," pinta Akbar. Tanpa menunggu lama, Cempaka menyambar piring makan. "Terima kasih banyak-banyak untuk Abang Akbar. Campak teh benar-benar lapar." "Bismillahirrahmanirrahim." Cempaka melahap makanan. Kepalanya menusuk penuh khusyuk menunduk seperti ayam mematuk beras menikmati makanan seperti ayam kelaparan tiga hari tiga malam tidak makan. Akbar duduk di pinggir ranjang yang ditiduri oleh Cempaka, kursi busa yang diduduki oleh Akbar. Suster Suni menoel lengan dokter Lidya. Dokter Lidya menoleh, lalu dia memberi isyarat bahwa jangan ganggu. "Um … ckam ckam ckam-" bunyi suara Cempaka yang sedang makan lahap. Proooook! "Um! uhh!" suara makan enak dari Cempaka terpotong suara yang berasal dari bagian bawah. "Em!" Dahlia melotot. Sedangkan Marsudi merasa benar-benar malu. Suster Suni dan dokter Lidya merasa kikuk. Cempaka mendongak ke atas sedikit lalu mengintip ke arah Akbar dan yang lainnya. "Maaf … keluar begitu saja, sisa-sisa gas telur balado teh masih ada …." Semua orang diam. "Habiskan, minum obat lalu pulang." Suara datar Akbar terdengar. Cempaka mengangguk. Dia melanjutkan makan dengan cepat. "Perlahan." Suara Akbar terdengar. Cempaka mulai menurunkan kecepatan makan. *** Cempaka berjalan di belakang Akbar menuju ke dalam mobil yang berhenti tepat di depan rumah sakit. Supir sudah membukakan pintu untuk Akbar dan Cempaka untuk masuk ke jok penumpang belakang. "Emang dan Tante saya teh, duduk di mana?" tanya Cempaka sebelum dia masuk ke dalam mobil. "Mari, Pak dan Bu, di sini." Suara seorang terdengar dari belakang mobil yang akan dinaiki oleh Cempaka dan Akbar. Marsudi dan Dahlia buru-buru melirik ke arah Akbar. "Masuk." Suara Akbar terdengar, dia bahkan meletakkan telapak tangan di kepala Cempaka agar kepala Cempaka tidak terjedot pintu mobil. "Saya supir Tuan Akbar, akan saya antar ke rumah," ujar supir. Marsudi dan Dahlia buru-buru naik. Mobil perlahan meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil, Marsudi dan Dahlia saling berbisik. "Mas, pasti yang nama Akbar itu orang kaya," bisik Dahlia. Marsudi mengangguk. "Aku tahu. Dari gaya pakaian dan bicara saja, sudah kelihatan," balas Marsudi. "Kira-kira kerjaannya apa?" bisik Dahlia. "Tidak tahu," jawab Marsudi, kemudian dia melihat ke arah supir. "Itu … Akbar itu kerjanya apa?" tanya Marsudi. Sopir melirik ke arah kaca spion. "Kalau pekerjaan dari Tuan Akbar, saya tidak bisa sembarangan katakan, Pak." Marsudi hanya bisa menelan rasa penasarannya. Sementara di mobil lain. Cempaka melihat ke arah Akbar. "Abang Akbar." "Ya," sahut Akbar tenang di samping Cempaka. "Kita teh sudah bertemu satu minggu, tapi Campak teh tidak tahu Abang Akbar ini kerja di mana," ujar Cempaka. "Itu waktu seminggu yang lalu, Campak teh ketemu Abang Akbar di dalam lift gedung Ar … Big … Jen … itu, gedung yang bagus dan unik kayak bunga." Cempaka lupa nama gedung milik Akbar. Akbar menoleh ke kiri, tatapannya beradu dengan tatapan keingintahuan dari Cempaka. "Ah! Abang Akbar teh kerja di sana?" tebak Cempaka. " … ya …," jawab Akbar pelan. Supir hampir bergetar. "Oh … pantesan kita teh ketemu di sana." Cempaka manggut-manggut. "Di bagian apa? ah! di bagian kantor sekretaris? itu, pelanggan yang nama Ibu Shinta di lantai dua puluh waktu itu … ah lupa itu nama yang laki-lakinya." Cempaka berusaha untuk mengingat nama Sandi. "Mereka sekretaris saya," ujar Akbar. "Hum? sekretaris Abang Akbar?" Cempaka duduk menghadap ke arah Akbar. "Itu … Abang Akbar teh manager divisi marketing?" tanya Cempaka. Supir hampir banting setir setelah mendengar ucapan Cempaka. "Bukan," jawab Akbar. "Um? kalau bukan lalu apa?" tanya Cempaka. "Chairman," jawab Akbar. "Chairman?" Cempaka terlihat membeo. Dia berpikir agak lama. Lalu sebuah sebuah kalimat melintas di otaknya. Dia tersenyum membuka gigi. "Oalah, Abang Akbar teh bos tukang bangunan toh." Ciiittt! "Ah!" aduhan Cempaka. Akbar dengan cepat merangkul Cempaka agar tidak terjerembab ke depan. Sopir me-rem mendadak. Beruntung tidak ada mobil melaju dari belakang. Supir terlihat gugup. Gusti Allah, saya benar-benar gugup. "Hati-hati." Suara Akbar terdengar. "I-iya … maaf Pak Akbar … saya merasa terkejut," balas sopir. Akbar hanya mengangguk pelan. Sedangkan Cempaka melihat wajah Akbar dari dekat. Wajahnya terlihat tercengang. Mulutnya terbuka lebar. Perlahan mobil maju bersamaan dengan jari telunjuk kiri Cempaka menunjuk pipi Akbar. Suut. Cempaka menekan pelan jari telunjuk ke arah pipi Akbar. "Abang Akbar teh pakai skincare apa? wajahnya halus." Supir, "...." Akbar, "...." Hanya Cempaka orang pertama yang menoel pipi Akbar. "Itu, wajah Abang Akbar teh-" lagi-lagi bunyi kentut Cempaka mendahului perkataannya. Piiuuuuuuuup! Suasana hening. Cempaka menelan kembali kalimatnya. "Hehehe, gas makanan tadi pagi teh belum keluar." Cempaka terkekeh. Supir yang sudah biasa mencium bau busuk semenjak Cempaka naik mobil dari seminggu yang lalu, sekarang sudah kebal terhadap bau busuk. Akbar hanya menekan tombol di pintu mobil lalu udara kembali bersih. Puuusssh! Kali ini suara desis yang terdengar, level bau yang dihasilkan juga meningkat. Cempaka melirik ke arah supir dan Akbar bergantian. "Maaf … sakit perut teh masih terasa …." Supir, "...." harus tahan, harus tahan kebal. Sedangkan Akbar kembali menekan tombol lalu udara kembali bersih. Sudahlah, bos saja tidak merasa jijik. Jadi, dia yang sebagai supir bisa apa? Terima saja. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN