Mobil berhenti di depan restoran Amis Amis Asup.
Supir keluar lalu membuka pintu mobil.
Sementara itu, mobil yang dinaiki oleh Marsudi dan Dahlia baru saja berhenti.
Akbar dan Cempaka secara bergantian turun, begitu juga di mobil belakang, Marsudi dan Dahlia turun.
Akbar memegang tas ransel Cempaka lalu merangkul Cempaka untuk berjalan mendekat ke arah pintu restoran.
"Kunci restoran teh ada di dalam tas."
Akbar menyerahkan tas ransel ke arah Cempaka. Cempaka mencari kunci lalu membuka pintu restoran.
Setelah kunci pintu terbuka, Akbar yang membuka pintu restoran lalu Cempaka yang lebih dulu masuk lalu disusul oleh Akbar, di belakang ada Marsudi dan Dahlia yang memandangi baik-baik dua mobil mewah yang terparkir di depan restoran Amis Amis Asup.
Cempaka menyeret kursi restoran lalu mendekatkan ke arah Akbar.
"Abang Akbar teh duduk dulu."
Akbar duduk.
"Campak buatkan teh, yah?" tawar Cempaka.
"Tidak perlu," tolak Akbar.
"Loh, kenapa?" tanya Cempaka.
"Kamu istirahat. Saya akan pulang." Akbar berdiri dari kursi, hanya beberapa detik saja dia duduk di kursi.
"Abang Akbar, terima kasih banyak sudah mengantar Campak ke rumah sakit dan bayar biaya rumah sakit, dan juga sudah mengantarkan Campak pulang," ujar Cempaka.
Akbar mengangguk.
"Hati-hati di jalan," ujar Cempaka.
Akbar hanya mengangguk lagi. Mungkin, mengeluarkan satu kalimat saja membuat dia rugi atau mungkin dia akan bangkrut.
Akbar keluar restoran, Marsudi buru-buru mendekat ke arah Akbar.
"Nak Akbar, terima kasih sudah mengantar saya dan keluarga pulang."
Akbar mengangguk.
"Itu, Nak Akbar kerja di … mana?" tanya Marsudi.
Akbar telah memasuki mobil yang dibuka oleh supir sebelumnya.
Marsudi hanya bisa melihat dua buah mobil meninggalkan restoran Amis Amis Asup.
"Huh, belum aku tanya apa pekerjaan dia dan kerja di mana, ck!" Marsudi berdecak.
"Orang kaya."
"Benar, Mas. Akbar itu pasti orang kaya," timpal Dahlia membenarkan ucapan suaminya.
Marsudi berjalan masuk ke dalam restoran, Cempaka hendak naik ke atas tangga.
"Campak," panggil Marsudi.
Cempaka berbalik ke arah sang paman.
"Aya naon, Mang?"
(Ada apa, Paman?)
"Kamu sudah tanya ke Akbar itu, dia kerja apa?" tanya Marsudi.
"Oh … itu." Cempaka hanya manggut-manggut.
"Iya, sudah tanya? pasti dia pengusaha, kan?" tanya Marsudi sangat antusias.
"Abang Akbar teh bos," jawab Cempaka.
Marsudi tersenyum senang.
"Benar kan apa kata Emang, dia bos."
"Bos tukang bangunan, Mang," sambung Cempaka.
"A … pa?" Marsudi melongo.
"Tadi teh Campak tanya, Abang Akbar kerja di mana, dan Abang Akbar itu kerja di gedung Archi … Big jen … nah itu, kan itu perusahaan yang tukang bangun bangunan dan kantor - kantor bagus, nah, Abang Akbar jadi bos tukang bangunan, kayak suruh - suruh karyawan kasih laporan gitu," ujar Cempaka sesuai dengan ekspektasinya.
Marsudi terlihat tidak percaya dengan jawaban Cempaka.
"Henteu ngawadul, kan?"
(Kamu tidak bohong, kan?)
"Henteu, Mang. Campak nyarios leres, teu ngawadul," jawab Cempaka.
(Tidak, Mang. Campak teh bicara jujur.)
Note : percakapan antara Cempaka dan Marsudi dengan bahasa Sunda.
Cempaka naik ke atas meninggalkan Marsudi dengan segala keraguan yang bercokol di dalam hatinya.
***
Akbar memasuki rumah, dia hari ini keluar rumah hanya untuk pergi membawa makanan untuk Cempaka dan menjemputnya dari rumah sakit untuk pulang ke rumah.
Sunyi.
Sangat sunyi suasana rumah.
Hanya seorang bibi yang setiap hari memasak untuk makan Akbar, namun ada kalanya Akbar tidak makan makanan, dia sudah mulai memesan makanan dari restoran Archi's taste.
Sedangkan ada sekitar sepuluh orang yang berjaga di rumah. Akbar tidak terlalu suka keramaian.
Karena dia tidak makan pagi, Akbar pergi ke ruang makan lalu membuka tutup saji.
Bibi asisten rumah tangga tahu bahwa makanan harus selalu hangat. Akbar mulai melakukan makan pagi yang terlambat.
Setelah selesai makan, Akbar pergi ke ruang kerja lalu mulai berkutat dengan laptop dan berbagai rumus laporan perusahaan.
Tiga minggu lagi adalah pertemuan besar seluruh pimpinan cabang dan direktur dari ArchiBigJen Enterprise. Dia sebagai pemilik dan pemimpin tertinggi, hanya melihat kesalahan atau kekeliruan apa yang dilakukan oleh para karyawannya.
Setelah jam sebelas siang, Akbar meraih ponsel lalu mengirim sebuah pesan singkat.
Di dapur.
Bibi asisten rumah tangga yang berusia sekitar lima puluh tahun itu melihat ke arah layar yang menyala di dinding dapur.
'Masak bubur zucchini, sup tulang sapi dan beberapa buah lalu dikirimkan ke rumah Nona Cempaka Jayanti.
Oleh supir.'
Bibi asisten rumah tangga cepat-cepat menunaikan tugasnya, dia mulai mengambil bahan-bahan makanan segar dan beras.
***
Satu jam kemudian.
Mobil berhenti di depan restoran Amis Amis Asup.
Supir yang tadi mengantarkan Marsudi dan Dahlia, kini berjalan mendekat ke arah pintu restoran.
Dia mengetuk pintu.
"Selamat siang, Nona Cempaka."
Cempaka yang berada di meja pantry melirik ke arah pintu. Dia hendak memasak untuk makan siang.
"Ya, sebentar." Cempaka yang tadinya ingin mengupas wortel kini berjalan ke arah pintu restoran.
Dia membuka pintu.
"Ada apa, Mas? restoran tidak buka."
Sopir menyerahkan rantang.
"Pak Akbar mengirim makan siang untuk Anda," jawab sopir.
"Oh? ini teh dari Abang Akbar?" Cempaka terlihat kaget.
"Benar," sahut sopir.
Cempaka mengambil rantang dan berkata, "Tunggu sebentar yah, saya pisahkan makanan dulu. Saya cuci rantangnya."
"Tidak perlu, Nona. Ambil saja rantangnya," balas supir.
"Oh? Abang Akbar teh tidak marah kalau saya ambil rantang ini?" Cempaka memperlihatkan rantang.
"Tidak, Nona," jawab sopir.
"Wah, baik sekali. Sampaikan terima kasih saya untuk Abang Akbar. Aduh, dari kemarin sampai sekarang teh saya susahin Abang Akbar terus," ujar Cempaka.
Supir hanya tersenyum profesional.
"Saya permisi, Nona."
"Ah, yah. Hati - hati Mas supir," balas Cempaka.
Supir berusia empat puluhan itu mengangguk.
Cempaka melihat ke arah rantang.
"Akang Akbar teh bener-bener bageur pisan atuh, tuangeun kanggo siang oge dikirim."
(Abang Akbar teh benar-benar baik, makan siang juga dikirim–Sunda halus.)
"Aing tuang, ah."
(Aku makan, ah–Sunda kasar.)
***
Akbar melihat pemberitahuan bahwa makanan telah sampai di tangan Cempaka.
Dia berdiri dari kursi kerja putar lalu keluar ruang kerja.
Waktu telah menunjukan pukul satu siang. Dia berjalan ke meja makan.
***
"Tiga minggu kedepan pertemuan besar, aku harus kasih laporan ke Akbar. Ah, susah sekali punya bos yang kerja hanya lewat dua sekretaris. Apa-apa harus lewat sekretaris. Mana bulan depan kan bulan Desember, haduh …." Seorang pria mengeluh, dia melihat ke arah Anita yang sedang duduk diam seakan memikirkan sesuatu.
"Nita," panggil pria itu.
Pria di sebelah Anita melirik ke arah Anita.
"Nita, Bang Binsar panggil."
Anita masih terlihat diam tak menyahut.
"Kamu kenapa? hari ini kok diam terus. Kamu sakit?" tanya pria di sebelah Anita.
"Anita, kamu sakit?" Binsar ikut bertanya.
"Heeh? malah diam saja," bingung Binsar.
Pria di sebelah Anita menoel lengan kiri Anita.
"Ah?" Anita tersadar, dia melirik ke arah kiri, "ada apa, Agam?"
Pria yang bernama Agam itu melirik ke arah Binsar dan berkata, "Kita nanya, kamu kenapa? diam mulu."
"Oh … aku nggak kenapa-napa," jawab Anita.
"Aku kira sakit," ujar Binsar.
Mendengar kata 'sakit', Anita mengingat hal kemarin.
Dia membantu Cempaka untuk membuka celana dan memakai kain sarung karena perempuan itu sakit.
Anita melihat ke arah Binsar.
"Bang, Akbar pernah bilang sesuatu ke Abang, nggak?"
Binsar mengerutkan kening.
"Bilang apa?" tanya Binsar balik.
"Oh, ada kayaknya," sambung Binsar setelah dia ingat sesuatu.
Anita terlihat penasaran dan bertanya, "Akbar bilang apa ke Abang Binsar?"
"Nggak bilang secara langsung sih, hanya kirim pesan gitu, pesan pengingat kalau besok dia harus dapat laporan pembayaran pajak dari seluruh perusahaan, dan kamu tahu, aku baru merangkum perusahaan yang ada di Indonesia, wakil dan manajer sedang sibuk untuk membuat salinan laporan dari perusahaan luar negeri untuk diberikan pada Akbar," jawab Binsar.
"Hanya ini?" tanya Anita.
"Iya, ini aja," jawab Binsar.
"Nggak ada yang lain?" tanya Anita sekali lagi.
"Nggak ada," jawab Binsar.
"Emang ada apa sih? Akbar kenapa?" Agam yang berada di samping kiri Anita mulai penasaran.
"Bang Sar, waktu sekolah dulu, Akbar tidak punya sepupu perempuan dengan nama Cempaka, kan?" tanya Anita.
Binsar yang seumuran dengan Akbar berusaha untuk mengingat.
"Setahu aku sih waktu kita di SD bareng, ada beberapa sepupu perempuan Akbar, tapi kalau yang nama Cempaka, aku kurang tahu. Soalnya, sudah lama juga aku nggak ketemu dengan mereka."
Anita merasa bahwa dia semakin yakin bahwa gadis yang bernama Cempaka itu bukan saudara dari Akbar. Dia tahu betul siapa saja keluarga Akbar.
"Ah, kalau kamu mau tahu, kenapa nggak tanya langsung ke Akbar? eh? tanya langsung. Urusan pekerjaan saja kita sudah nauzubillah, nomor telepon pribadi saja tidak ada. Huhhhh …." Binsar mengembuskan napas.
"Kalian nggak makan siang? nganggur loh makanannya," ujar Agam.
"Ayo makan." Ajak Binsar.
***
"Alhamdulillah, aing teh kenyang."
Cempaka mencuci piring dan rantang.
Marsudi masuk ke restoran.
"Campak."
"Eleuh-eleuh, Mang teh sigana bade nuhunkeun artos deui, kan?"
(Eleuh-eleuh, Emang pasti teh mau minta uang, kan?–Sunda halus.)
"Ah, kamu memang bisa membaca pikiran Emang," balas Marsudi.
"Campak, Emang butuh satu juta." Marsudi menengadahkan tangan kanannya.
"Mang, Campak teh sakit, tidak jualan hari ini. Emang bisa lihat sendiri kan, Campak tidak dapat uang untuk hari ini. Kemarin empat juta kan sudah Campak kasih, sekarang mana ada uang lagi?" Cempaka menolak untuk memberikan Marsudi uang.
Sang paman semakin hari semakin *gila minta uang, apakah sang paman berpikir bahwa dia adalah bank pencetak uang?
"Cuma sejuta aja, Campak. Masa kamu pelit sih sama Emang. Emang sampai tidur di rumah sakit loh buat lihat kamu tadi malam," balas Marsudi.
"Mang, kalau Campak teh orang kaya, punya banyak uang, setiap hari kalau Emang minta uang lima juta pun akan Campak kasih, tapi ini Campak hanya orang biasa, bahkan penghasilan Campak sudah diambil Emang. Emang ini setiap hari minta uang pasti untuk judi lagi, kan? Mang, Abah teh sudah kasih uang Abah ke Emang empat juta kemarin, sekarang Emang mau minta lagi? Emang cari kerja." Kali ini Cempaka tidak bisa sabar.
Lama-lama dia akan mati kering digerogoti oleh paman yang rakus uang ini.
"Kamu teh perhitungan sama Emang kamu sendiri. Jangan ikut campur urusan Emang, mau Emang pakai uang itu untuk apa, bukan urusan kamu!" balas Marsudi kesal. Sang ponakan membuka-buka pekerjaannya sehari-hari.
"Ulah ngaurusanan duit campak.
Eta teh duit campak, Ek campak bere ka saha wae kumaha campak!" Cempaka keceplosan membalas kasar Marsudi.
(Jangan ikut campur juga sama uang punya Campak. Uang itu teh punya Campak, mau Campak kasih siapa saja itu hak Campak–Sunda kasar.)
"Kamu!" Marsudi marah.
"Aduh!" Cempaka tiba-tiba mengaduh sakit lalu memegang perutnya.
Marsudi yang tadinya ingin mengata-ngatai Cempaka hanya bisa diam menahan kekesalannya.
Melihat sang ponakan sakit, Marsudi memilih 'mengalah' untuk sementara.
"Ya sudah. Emang pergi."
Marsudi keluar restoran dengan wajah merah padam. Kentara bahwa dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan.
Setelah Marsudi keluar restoran.
Bruukk! proook! puuup!
"Aduuh, untung Emang udah keluar, jadi kamu keluar dari belakang." Cempaka mengusap perutnya.
Oh, rupanya aduhan kesakitan dari Cempaka yaitu dia hanya ingin mengeluarkan gas beracun berbau dari dalam perut.
Kali ini tiga bunyi kentut menyelamatkan uang satu juta yang akan beralih tangan.
***