"Terima kasih, Mas Supir." Cempaka terlihat bahagia setelah kepergian supir yang membawakan dia makan malam.
"Abang Akbar teh baik sekali atuh. Tadi siang kirim makan siang, sekarang teh kirim makan malam. Makanannya enak-enak." Cempaka membuka rantang.
Dia mulai melahap makanan dengan penuh semangat.
"Campak teh udah sembuh, nggak perlu minum obat lagi." Cempaka melihat obat yang diberikan dokter.
Memang tubuh Cempaka tidak lagi merasakan sakit diare.
"Berarti besok Campak bisa masak buat jual, ah."
***
Anita terlihat mondar-mandir di dalam kamar.
Dia menggigit kuku jari telunjuk kiri. Kukunya yang panjang itu akhirnya lecet tanpa dia sadari.
"Aku nggak pernah tahu, Akbar punya sepupu bernama Cempaka Jayanti."
"Ah, kenapa tidak telepon Tante Ruti saja."
Anita pergi mengambil telepon genggam di atas ranjang.
Dia mencari nama kontak 'Tante Ruti'.
Beberapa saat kemudian telepon tersambung lalu diangkat oleh si penerima.
"Ya, Anita, ada apa sayang?" suara Tante Ruti dari seberang.
"Tante Ruti, Anita mau tanya sesuatu," ujar Anita.
"Oh. Ya, apa itu?" tanya Ruti.
"Begini, apa sepupu Akbar ada yang nama Cempaka Jayanti?" Anita berusaha untuk terlihat netral dalam bertanya ini.
"Um? Cempaka Jayanti?" orang di seberang sedang mengingat.
Lalu beberapa detik kemudian dia membalas.
"Kalau setahu Tante, yang nama Cempaka itu tidak ada di dalam sepupu Akbar, tapi mungkin sepupu Akbar dari almarhumah Tante Suci," jawab Ruti.
Anita mengangguk pelan berkata, "Ah ya, Anita pikir sepupu dari pihak Om Riyan. Itu … boleh Anita minta nomor dari keluarga almarhumah Tante Suci?"
"Ehm, kita sudah lama tidak berkomunikasi lagi karena kamu tahu sendiri kan Nit, Akbar semenjak dia umur lima belas tahun, sudah memilih tinggal sendiri di Bandung, jadi untuk berkomunikasi dengan keluarga ayahnya saja susah, apalagi dengan keluarga ibunya. Kamu juga tahu sifat Akbar, dia itu sangat pendiam. Hanya setiap minggu kirim uang ke Tante dan Om, tidak pernah datang mengunjungi kita lagi. Kalaupun ada bertemu, kita saja yang pergi melihat Akbar di Bandung, itupun beruntung karena Sonia juga kuliah di ITB, coba kalau nggak? susah untuk bertemu dengan keponakan kandung Om Riyan sendiri." Wanita bernama Ruti itu curhat mengenai betapa susahnya dia bertemu dengan Akbar yang merupakan keponakan kandung sang suami.
"Ya, Anita tahu kok, Tante. Kan di sini Akbar jadi atasan Anita, jadi begitulah," balas Anita.
"Ya. Ah Nita, kamu belum nikah-nikah juga?" tanya Ruti.
Wajah Anita berubah kurang enak dilihat setelah mendengar pertanyaan yang paling dihindari selama beberapa tahun ini.
"Apa masih tunggu Akbar?" tanya Ruti.
Anita memilih untuk tidak menjawab pertanyaan ini.
"Tante sih sebenarnya mana-mana saja sama pilihan kamu, tapi dari yang Tante lihat, Akbar seperti tidak tertarik berumah tangga. Apalagi dia sudah umur tiga puluh empat tahun, dan kamu sudah lebih cukup umur untuk menikah, Tante bukannya mau terlalu banyak bicara tentang urusan kamu, tapi jangan sia-siakan masa muda," ujar Ruti dari seberang.
Kali ini wajah Anita terlihat susah untuk tersenyum. Dia berusaha untuk terkekeh.
"Ahaha … itu … jodoh kan kita tidak tahu, Tante."
"Ah, benar," sahut Ruti.
"Tante, sampai di sini dulu yah, Anita hanya ingin tanya tadi saja. Anita mau melanjutkan pekerjaan kantor," ujar Anita mengakhiri telepon.
"Ya," balas Ruti.
Telepon terputus.
Wajah Anita terlihat berusaha untuk tenang. Namun, dia tidak bisa melupakan kata-kata dari Ruti yang mengatakan bahwa Akbar tidak tertarik untuk berumah tangga.
***
'Rumah Sakit I. Atas nama penerima dokter Frans Hutagalung, Sp. A, ikan bakar saus asam manis dan sup brokoli bawang putih untuk enam porsi harga dua juta lima ratus ribu rupiah, jam dua belas siang saya terima yah, Dek Campak.'
Akbar melihat pesan yang masuk melalui koneksi ponselnya dan ponsel Cempaka.
Tak berapa lama ada balasan seperti yang sebelumnya.
Akbar melihat jam di ponsel, pukul 10.29 WIB, yang artinya satu setengah jam lagi makanan itu akan sampai di tempat tujuan.
Sudah dia tahu bahwa pengantaran makanan pasti dimulai empat puluh lima menit sampai satu jam sebelum jam dua belas, itu artinya sekarang Cempaka sedang bergegas untuk siap-siap.
Akbar berdiri dari kursi sandar kerja, dia dia menutup laptop lalu pergi ke kamar mandi.
***
"Aduh … cuaca di Bandung teh panas-panas dingin." Cempaka harus naik angkot dua kali karena angkot dari depan restorannya tidak langsung sampai di depan rumah sakit I.
Seperti biasa, dia selalu waspada, dia akan meletakan posisi ransel di depan lalu dua tangan menenteng dua tas kain yang merupakan rantang berisi makanan dan peralatan makan.
Angkot berhenti, Cempaka naik.
Setelah dia duduk berhadapan dengan pintu angkot, sebuah suara terdengar.
"Campak."
Cempaka melirik ke arah suara laki-laki.
"Eleuh-eleuh, Rudi, itu teh kamu?" balas Cempaka, dia tersenyum.
Pria yang seumuran dengan Cempaka itu tertawa senang.
"Ketemu kamu di sini, ah, padahal sudah enam tahun yah kita lulus SMK, kamu buka restoran Amis Amis Asup, huh, lama baru bertemu."
"Rudi, kamu teh tambah bagus, tidak rambut belah dua lagi waktu di SMK, kamu teh kerja di mana?" tanya Cempaka.
"Aku kerja di sebuah restoran, di jalan L," jawab Rudi.
"Oh, bagus sekali, kamu teh sudah kerja. Jadi koki? ah, chef … hahaha." Cempaka tertawa.
Wajah Rudi berubah kikuk.
"Aku jadi pencatat barang-barang dapur, Campak."
Cempaka, "...."
"Eh … hehehe." Cempaka berusaha untuk menghibur sang teman. "Campak lihat-lihat teh Rudi pasti akan jadi chef. Nah, kan dimulai dari yang paling bawah, kata Pak Manto."
Rudi tertawa geli, namun dia mengaminkan ucapan tulus Cempaka dalam hati.
Angkot berjalan selama dua puluh menit, tak terasa Rudi turun di tempat kerja.
"Campak, aku turun yah. Aku bayarkan ongkos kamu."
"Oh jangan, nanti Campak yang bayarin saja ongkos Rudi," balas Campak, dia hendak menghentikan Rudi yang telah memberikan uang pas pada supir.
"Kang, dua yah, dengan Neng ini," ujar Rudi.
"Iya, Mas," balas supir.
"Campak, aku kerja yah, dah!" Rudi melambai.
"Rudi, maneh teh baik sekali. Natur nuhun."
(Maneh = kamu. Natur nuhun = terima kasih.)
Rudi mengangguk.
Angkot berjalan, Cempaka masih berceloteh. "Saya teh seperti kenal pintu restoran itu, tapi tidak ingat." Cempaka mengerutkan kening. Ah, sudahlah kalau memang dia tidak ingat. Cempaka berceloteh lagi.
"Tadi itu teh teman sekolah saya waktu di SMK, kami jurusan Tata Boga, suka masak," ujar Cempaka ke arah supir.
"Oh, pantas saja Neng ini akrab sekali dengan Mas tadi," balas supir.
"Hehehe, kami teh sudah lama tidak bertemu setelah lulus dari SMK, sudah enam tahun," ujar Cempaka.
Supir manggut-manggut. Penumpang yang ini sepertinya tidak bisa diam. Harus berbicara terus.
***
"Permisi, Pak Satpam." Cempaka meminta permisi saat melewati pos keamanan Rumah Sakit I setelah dia selesai membawakan makanan pesanan.
"Mari, Adik manis lewat. Sudah ketemu dokter Frans, yah?" tanya satpam.
"Sudah, Pak Satpam. Saya teh sudah kenalan langsung dengan dokter Frans. Eleuh-eleuh, dokter Frans teh ganteng pisan," jawab Cempaka.
"Hahahaha, nah bener, Dek. Dokter Frans ganteng, kan? makanya ibu-ibu pada bawa anak-anak mereka ke dokter Frans," balas Pak Satpam.
Mobil berhenti di depan pos keamanan, kaca jendela mobil diturunkan.
"Makan siang."
"Oh?!" Cempaka terkaget, dia menoleh ke arah samping kiri.
"Abang Akbar."
***
"Dokter mengatakan harus dua hari istirahat. Ini baru satu hari."
Cempaka melihat kikuk ke arah Akbar yang berkata padanya. Dua tangannya yang hendak meraih sup bebek menjadi kaku.
"Heheh." Cempaka terkekeh.
"Campak teh sudah tidak sakit lagi. Jadi yah … bisa masak lagi …." Nyali Cempaka menjadi ciut setelah melihat wajah serius Akbar. Memang setiap hari Cempaka melihat wajah serius Akbar, tapi tidak seperti sekarang yang seolah artinya Akbar sedang tidak setuju dengannya yang hari ini memasak dan mengantar makanan.
"Kan cuma diare … mencret-mencret tiga sampai lima kali sudah sembuh, obat yang dikasih dokter Lidya juga mujarab. Campak teh tidak mencret lagi," lanjut Cempaka.
Akbar hanya diam saja. Dia mengambil makanan lalu makan, namun tidak dengan Cempaka yang sedang melihat sup bebek yang ingin dia makan.
"Ada apa? tidak sesuai selera?" tanya Akbar.
"Aah, bukan! bukan! malah ini sesuai selera Campak!" Cempaka tersadar bahwa Akbar tidak marah, jadi dia dengan cepat meraih satu mangkuk besar sup bebek yang berada di tengah meja makan.
Akibatnya, Akbar yang hendak menimba sup bebek di mangkuk kecil menjadi berhenti.
Cempaka telah makan cepat hingga setengah.
Akbar hanya tersenyum kecil. Hari ini dia tersenyum kecil.
***
"Tadi teh Abang Akbar dari dalam Rumah Sakit I?" tanya Cempaka. Mereka sedang berada di dalam mobil perjalanan pulang.
"Ya," jawab Akbar
"Siapa lagi yang sakit?" tanya Cempaka.
"Bertemu teman," jawab Akbar.
"Oh, Campak pikir teh ada teman Abang Akbar yang sakit, ternyata bertemu teman." Cempaka manggut - manggut.
Suasana mobil sunyi untuk beberapa detik, namun Cempaka yang memang tidak bisa diam mengunyah kata-kata itu, mulai bertanya lagi.
"Abang Akbar."
"Ya."
"Campak teh belum bilang terima kasih langsung untuk Abang Akbar, yah? itu yang kemarin bawa makan siang dan makan malam. Ah, tadi pagi juga ada kiriman sarapan untuk Campak." Cempaka melirik ke arah Akbar yang duduk di sebelah kanan.
Akbar hanya mengangguk saja.
"Oh, Abang Akbar teh sibuk yah setiap hari?" Cempaka mulai bertanya lagi. Jika saja Akbar itu orang lain, mungkin saja Cempaka telah ditendang keluar dari dalam mobil, mulut gadis itu tak pernah berhenti bicara.
"Ya," jawab Akbar.
"Sibuk tapi kok bisa ketemu Campak terus setiap hari?" tanya Cempaka.
Akbar, "...."
Supir, "...." er … Nona, saya pikir saya akan segera serangan jantung jika terus-menerus berada di dalam mobil ini.
"Hanya lewat." Alasan singkat dari Akbar.
"Oh hanya lewat …." Cempaka manggut-manggut mengerti, sementara sang supir bernapas lega. Akhirnya Nona Campak ini mengerti.
"Hanya lewat kok di depan Campak terus, yah," ujar Cempaka lagi.
Supir, "...." Nona, mohon jangan bertanya lagi.
"Ah, mungkin kita ambil jalan yang sama." Cempaka manggut-manggut.
Mobil berhenti di depan restoran Amis Amis Asup dan saat itu juga supir bersyukur bahwa mereka telah sampai di tempat tujuan.
"Abang Akbar, terima kasih yah sudah traktir Campak makan siang. Pak Supir, terima kasih sudah antar Campak pulang." Cempaka tersenyum ke arah Akbar dan pak supir.
Supir, "...." Gusti Allah, yang punya kuasa atas antar mengantar Anda pulang adalah Bos di belakang.
"Dadah!" Cempaka turun dari mobil, dia menunggu sampai mobil Akbar jauh baru dia masuk rumah.
Cempaka melihat bahwa pintu rumah sang paman di sebelah terbuka, dengan kecepatan kilat Cempaka bergegas ke arah restoran dan membuka pintu lalu mengunci pintu restoran dan naik ke atas.
"Pokonya teh Emang tidak boleh minta uang lagi hari ini," ujar Cempaka bertekad.
***