Anita melihat lagi nama 'Cempaka Jayanti' di layar ponsel. Ada nama Amis Amis Asup yang terlihat beserta foto-foto makanan yang diposting oleh pemilik restoran.
Satu minggu telah berlalu, dan dia telah tahu siapa Cempaka Jayanti itu. Dia adalah pemilik restoran Amis Amis Asup dengan konsep penjualan yang unik. Sudah seminggu ini dia melihat dan mencoba bagaimana cara memesan makanan di sana, namun hasil yang dia dapatkan gagal karena kalah cepat dengan pelanggan lain.
Anita melihat ke arah postingan terbaru, dan dia melihat postingan yang benar-benar baru, baru saja diposting. Dengan kecepatan tangannya, dia mengetik komentar.
'First.'
Beberapa detik kemudian, dia mendapat pesan balasan dari pemilik restoran.
'Pelanggan hari ini adalah @Nita_SM.'
Anita tersenyum miring, dia mengetik pesan.
Ting.
Bunyi notifikasi pesan. Sayangnya itu bukan pesan yang ditujukan untuk Akbar, melainkan untuk Cempaka. Namun, Akbar melihat isi pesan itu.
'Lantai 11, Kantin kantor pusat ArchiBigJen Enterprise, jam dua belas siang, bebek panggang saus chilli madu satu ekor untuk enam porsi harga satu juta enam ratus ribu rupiah, atas nama penerima, Nona Anita S. Manurung.'
Setelah Akbar membaca nama penerima, tatapan matanya berubah serius.
Jam menunjukan pukul 11.25 WIB. Itu artinya Cempaka hanya punya waktu setengah jam lebih lima menit untuk mengantarkan makanan yang dipesan dari Amis Amis Asup ke gedung ArchiBigJen Enterprise dengan jarak 5 km. Bukan itu fokus Akbar, fokus Akbar adalah waktu yang sempit dan belum lagi persiapan dari Cempaka.
Akbar menekan tombol di bawah meja kerja lalu pintu terbuka. Pintu itu menghubungkan kamar tidur dan ruang ganti. Dia berdiri dari kursi lalu masuk ke ruang ganti.
***
"Eleuh-eleuh! aing teh belum mandi!" Cempaka melotot.
"Ah, tidak usah mandi, nanti telat!" Cempaka bergegas secepat kilat untuk mempersiapkan peralatan makan.
"Terlambat! aing teh pasti terlambat!"
Kurang dari tiga menit semua barang-barang telah siap.
Cempaka bergegas keluar restoran sambil membawa dua tas kain di tangannya. Saat Cempaka hendak mengunci pintu restoran, Marsudi bergegas berlari mendekat ke arah Cempaka.
"Campak, kasih Emang uang dulu lima ratus ribu." Marsudi dengan cepat menengadahkan kedua telapak tangannya ke arah Cempaka.
"Aduh, Mang. Nanti saja kalau pulang, yah? Campak teh sudah telat mau bawa pesanan orang," balas Cempaka.
"Tidak bisa. Tidak bisa pulang. Emang butuh sekarang!" Marsudi mendesak.
"Mang, Campak tidak bawa uang lima ratus ribu, hanya seratus ribu untuk ongkos angkot nanti," ujar Cempaka.
Marsudi menahan tangan Cempaka dan berkata, "Ya sudah, berikan uang seratus ribu itu untuk Emang." Marsudi memaksa.
"Aduuh!" Cempaka ingin serangan jantung di tempat melihat kelakuan sang paman.
Sang paman memegang erat tangannya agar dia tidak bisa pergi. Kalau seperti itu terus, maka dia akan benar-benar terlambat.
"Mang! kalau Emang pegang tangan Campak terus, nanti Campak tidak bisa antar pesanan pelanggan dan tidak bisa dapat duit, nanti Emang tidak akan Campak kasih duit." Cempaka merasa agak kesal ke arah sang paman.
Lepas.
Marsudi dengan spontan melepas tangan Cempaka. Tentu saja dia harus melepaskan tangan sang keponakan setelah dia mendengar kalimat 'tidak akan Campak kasih duit'.
Cempaka buru-buru menghentikan angkot yang lewat.
"Kang! Kang! tunggu, saya mau naik!" angkot berhenti agak jauh dari restoran Amis Amis Asup, Cempaka harus berlari agak jauh untuk dapat naik ke dalam angkot.
"Ck! sial! padahal aku sedang butuh!" Marsudi terlihat sangat kesal karena dia tidak dapat uang.
***
Cempaka turun dari angkot, dia bahkan tidak mengambil kembalian.
"Neng, uang kembaliannya teh lupa diambil!" teriak supir ke arah Cempaka yang sudah berlari mendekat ke arah pos jaga keamanan gerbang gedung ArchiBigJen Enterprise.
"Ambil saja untuk Akang! saya teh buru-buru!" balas Cempaka.
"Oh, iya, terima kasih!" balas Supir. Angkot kembali melaju.
Cempaka memberi salam ke arah dua satpam yang berjaga di bagian pos, ah, ternyata ada tiga, karena ada satu satpam yang baru masuk ke dalam pos.
"Selamat siang Bapak-Bapak Satpam," sapa Cempaka.
"Selamat siang, Dik, ada apa?" balas satpam A.
"Begini, saya dari Amis Amis Asup, ingin mengantar pesanan makanan ke lantai sebelas gedung ArchiBigjen ini dengan nama penerima Nona Anita S. Manurung pada jam dua belas," jawab Cempaka.
"Aduh, cepat masuk, Dek. Ini Dek Campak yang waktu itu, kan? ayo masuk! waduh, sudah jam setengah satu!" satpam A buru-buru menekan tombol membuka palang pintu.
"Terima kasih, Pak Satpam!" Cempaka buru-buru pergi.
"Iya, sama-sama," balas tiga satpam.
"Aduh, yang pesan makanan di restoran Amis Amis Asup hari ini Ibu Anita, aku mau lihat nama Insta beliau ah." Satpam B membuka Insta lalu mencari postingan terbaru Amis Amis Asup.
Tak berapa lama mobil mewah yang sudah mereka kenal betul mendekat ke arah gerbang.
"Bos! Bos! Asep, buka palang pintu, cepat!" satpam A yang hendak keluar pos melotot ke arah luar, Asep yang merupakan satpam B itu hampir menjatuhkan ponselnya ke lantai saking kagetnya ia. Mobil bos besar ternyata sudah berhenti di depan palang pintu dan menunggu dibukakannya palang pintu itu.
***
Pintu terbuka.
"Selamat siang, Pak penjaga. Saya mau antar makanan," sapa Cempaka ke arah penjaga pintu kaca gedung ArchiBigJen Enterprise.
Penjaga yang merupakan bodyguard berpakaian jas hitam itu menunduk lalu menunjuk sopan ke arah resepsionis. "Silakan lapor di meja resepsionis, Nona."
"Baik," sahut Cempaka.
Setelah lapor secara singkat, resepsionis yang pernah ditemui beberapa waktu lalu itu memberitahu dia bahwa dia hanya bisa menggunakan lift yang paling pojok, yaitu lift untuk umum.
Masalahnya, lift untuk umum ini dipakai oleh karyawan bawah dan lainnya tidak seperti only Director, Manager dan Leader. Apalagi di jam seperti sekarang ini, banyak sekali karyawan yang memakai jasa lift.
Cempaka melihat jam tangan, sudah jam 12.45 menit. Sudah hampir satu jam dia telat. Pada saat Cempaka sedang menunggu, mobil mewah bos besar ArchiBigJen Enterprise telah parkir di depan pintu kaca perusahaan raksasa itu. Supir memberi kode pada penjaga bahwa jangan dulu membukakan pintu mobil, alhasil, penjaga itu hanya berdiri di samping pintu mobil sambil menunggu konfirmasi atau perintah untuk membuka pintu.
Mata bos besar melirik ke arah lift pojok. Meskipun agak jauh jaraknya, tetapi karena gedung itu sebagian dari kaca tebal, bisa melihat ke dalam.
Cempaka memasuki lift setelah beberapa orang turun dari lift pojok.
Akbar membuka pintu, namun penjaga cepat-cepat mengambil alih.
***
Lantai 11.
Cempaka keluar dari lift.
Hal pertama yang dia lihat adalah banyaknya orang yang duduk di kursi dan karyawan yang ada.
Pelayan bolak-balik membawakan makanan untuk pemesan.
Cempaka bingung, dia tidak tahu wajah pelanggannya. Meskipun dia pernah bertemu Anita minggu lalu, namun dia tidak mengenal Anita. Jadi. cempaka memutuskan untuk bertanya ke salah satu orang.
"Permisi, di sini ada yang kenal Nona Anita S. Manurung?" tanya Cempaka sopan.
Orang yang ditanya itu melirik ke arah sang teman lalu melihat penampilan Cempaka yang sangat jauh dari aturan pakaian kantor.
"Mbak ini siapa, yah? kenapa tanya-tanya nama direktur keuangan kami?" tanya orang itu yang adalah seorang wanita.
Cempaka tersenyum ramah. "Saya Campak, pemilik restoran Amis Amis Asup, mau antarkan makanan pesanan untuk Nona Anita S. Manurung di lantai sebelas kantin ini," jawab Cempaka.
Orang itu menaikkan sebelah alisnya, dia menunjuk ke arah ujung depan.
"Ibu Anita di meja lima."
"Terima kasih." Cempaka berjalan ke arah meja lima, di sana sudah ada Anita, Binsar Agam dan seorang pria lainnya.
"Halo, selamat siang, ini dengan Nona Anita S. Manurung, kan? saya Campak dari Amis Amis Asup, ini adalah pesanan Anda, bebek panggang enam porsi harga satu juta enam ratus ribu rupiah," ujar Cempaka sopan.
Cempaka menunjukan tas kain, dan meletakan tas kain di atas meja, lalu dia buru-buru membuka kain itu. Dia seperti kenal dengan pelanggan ini, namun Cempaka terlalu memikirkan dia terlambat jadi tidak ingat yang lainnya.
Saos tertumpah dan peralatan makan berantakan. Wajah Cempaka berubah bersalah. Dia tidak menyangka bahwa tarikan sang paman mengacaukan segalanya.
"Saya menunggu sudah dari satu jam yang lalu." Suara sinis datar Anita terdengar di pendengaran Cempaka.
Sunyi.
Kantin itu tiba-tiba sunyi.
Mereka melihat ke arah Anita dan Cempaka.
Agam dan Binsar saling melirik. Sedangkan pria yang merupakan teman mereka melihat ke arah Cempaka yang berdiri sambil kaku hendak melap saus yang tumpah.
"Ini pelayanan yang diberikan Amis Amis Asup untuk para pelanggannya?" Anita menaikkan sebelah alisnya.
Cempaka menunduk menyesal.
"Saya minta maaf, Nona Anita. Keterlambatan ini adalah kesalahan saya. Lain kali saya tidak akan mengulang lagi."
"Hahaha." Anita tertawa sinis.
Pria teman Anita menoel lengan Binsar, namun Binsar menggelengkan kepalanya tanda tak tahu.
"Bukankah kita sudah pesan makanan? dan baru saja selesai makan?" tanya pria itu.
"Ya, kita telah pesan makanan karena pemilik restoran Amis Amis Asup ini tidak becus dan konsisten dalam waktu mengirim makanan," balasan Anita cukup kuat.
Suaranya dapat didengar oleh orang yang ada. Bahkan ada yang berusaha untuk merekam momen ini.
"Saya-" ucapan Cempaka terpotong.
"Ini adalah rupa dari penyajian restoran Amis Amis Asup yang unik itu?" Anita mengerutkan keningnya melihat rantang dan peralatan makan. Cempaka yang tadinya hendak berbicara, terhenti.
Bungkusan untuk bebek panggang menjadi rusak dan tidak karuan. Lalu saos itu tumpah. Anita memperlihatkan wajah jijik.
"Saya tidak akan makan makanan yang berantakan ini. Ini bukan makanan untuk manusia, namun untuk hewan."
"Nona Anita, saya minta maaf karena keterlambatan saya dan ketidaknyamanan ini, namun jangan mengucapkan kalimat seperti ini, jangan katakan bahwa makanan ini adalah makanan untuk hewan. Ini makanan untuk manusia," balas Cempaka sopan.
"Hah? apa ini? inikah cara bicara dan tata krama dari pemilik restoran Amis Amis Asup?" Anita menaikkan sebelah alisnya.
Dia melihat ke arah meja.
"Bahkan meja ini tidak bisa dibandingkan dengan makanan ini," ujar Anita.
Prang!
Jatuh.
Bungkusan bebek panggang jatuh, tangan kiri Anita menyeret pelan bungkusan bebek itu ke lantai. Setelah itu, Anita mengambil tisu dan melap tangannya. Dia mengambil dompet di atas meja lalu mengeluarkan uang merah berdigit nol lima sebanyak dua puluh lembar, lalu dilemparkan ke arah bebek panggang yang jatuh.
"Empat ratus ribu itu anggap saja sebagai sedekahku untukmu," ujar Anita.
Agam yang melihat wajah sedih dan kecewa dari Cempaka tak sampai hati. Dia tidak tega melihat wajah polos gadis yang baru ditemui hari ini. Agam berdiri, dia berjalan mendekat ke arah Cempaka.
Tidak ada yang berani bicara. Hanya Cempaka yang jongkok untuk mengambil bebek panggang yang jatuh bersamaan dengan langkah kaki yang berhenti di samping Cempaka, lalu orang itu jongkok, dia lebih dulu mengambil bebek panggang.
Wajah Anita berubah pucat dan kaget. Begitu pula dengan seisi ruangan.
Cempaka melihat ke samping kanan, di mana seorang pria mengambil bebek panggang agar tidak menyentuh lantai terlalu lama. Ketika dia sadar orang itu, wajah Cempaka memerah, lalu wajahnya terlihat menahan tangis. Suaranya bergetar.
"Abang Akbar … bebek panggangnya teh jadi kotor."
***