Bab 14

1824 Kata
"Ak-bar …," ujar suara Anita tercekat. Entah kenapa setelah melihat orang yang jongkok mengambil bebek panggang itu, nyali Anita menciut seketika. Agam yang tadinya hendak ikut berjongkok menjadi kaku. Dia kaget melihat bos besar ArchiBigJen Enterprise di kantin ini. Binsar melihat ke arah Anita yang wajahnya telah memutih penuh ketakutan. Sedangkan pria yang merupakan salah satu teman Anita, melihat serius ke arah Akbar dan Cempaka. Karyawan yang lain menutup mulut mereka karena terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa yang sedang jongkok ini adalah bos besar mereka. Anita terlihat gugup begitu pula semua orang. Asik memperhatikan Cempaka yang dimarahi oleh Anita, membuat fokus semua orang tidak memperhatikan masuknya sang bos besar. Cempaka mengusap matanya yang memerah, dia mengumpulkan peralatan makan dan uang yang berhamburan. Beberapa lembar uang yang dilempar telah mengenai saus bebek panggang. Cempaka berdiri diikuti oleh Akbar yang memegang bebek panggang saus. Dia melihat dengan perasaan sedih ke arah Akbar. "Abang Akbar, terima kasih teh telah bantu Campak ambil bebek panggangnya." Cempaka melirik ke arah Anita yang duduk gugup di kursi, dia meletakkan uang yang tadi diberikan oleh Anita dan berkata, "Ibu Anita, saya minta maaf atas kesalahan saya. Saya berjanji tidak akan mengulang lagi. Ini saya kembalikan uangnya karena tidak terjadi transaksi jual-beli diantara kita." Cempaka hendak mengambil bebek panggang dari tangan Akbar, namun Akbar telah duduk di salah satu kursi di meja nomor 4. Karena ada Akbar yang duduk, karyawan yang merupakan manajer dan asisten buru-buru pindah ke meja lain. "Eh? Abang Akbar teh hilang, oh ada di sini." Cempaka mencari keberadaan Akbar. Akbar membuka bungkusan itu lalu dia mengambil garpu dan pisau bersih di atas meja, tak lama kemudian Akbar merobek paha bebek panggang dengan garpu dan pisau makan lalu memasukkan potongan bebek panggang saus ke dalam mulut dan mengunyah potongan bebek itu. "Akbar, itu kotor." Anita secara spontan mengingatkan Akbar. Namun, Akbar tidak memandang ke arah Anita tetapi memandang ke arah Cempaka yang melihat penuh cengo ke arah Akbar, "Bukankah bebek panggang ini dimakan dengan nasi?" tanya Akbar dengan nada suara datar. Cempaka buru-buru duduk lalu membuka rantang yang berisi nasi. "Ada, ada nasi, ada juga lalap, Abang Akbar teh makan timun? kacang panjang? ah, kemangi ini tadi pagi baru dipanen Campak di atas balkon." Agam merasa bahwa Akbar bicara cukup panjang dengan 'orang yang tidak dia kenal'. Cempaka memberikan nasi dan lalap ke arah Akbar. Akbar merobek paha bebek panggang lalu diletakkan di atas piring nasi dan dia mendorong piring karton nasi itu ke arah Cempaka. "Uh? untuk Campak?" tanya Cempaka. Akbar hanya mengangguk. "Tapi ini …." Cempaka memikirkan kalimat untuk menolak makanan itu, namun suara Akbar lebih dulu menyambung kalimat. "Terlalu banyak," ujar Akbar. Cempaka mengangguk, dia makan makanan yang dia bawa sendiri. "Dimakan gratis saja deh. Tidak usah dibayar," ujar Cempaka. Dua orang itu asik makan tanpa mempedulikan orang lain, namun wajah Cempaka memerah malu. "Itu … kita teh dilihat terus dari tadi," bisik Cempaka. Akbar berhenti makan, dia melirik ke arah manager dan asisten di meja sebelah. Manager buru-buru menyuapkan banyak nasi ke dalam mulutnya. "Jam makan siang sudah mau berakhir. Ayo habiskan makanan!" ujar manager ke arah asisten. Semua orang cepat-cepat berusaha untuk menghabiskan makanan, mereka memasukkan nasi dan lauk pauk sebanyak mungkin ke dalam mulut. Bos sepertinya tidak senang. Jika bos tidak senang maka mereka juga pasti akan tidak senang untuk kerja hari ini. Agam terlihat kikuk. Dia terkekeh dan berkata, "Heheh, itu bebek panggang untuk enam porsi, bisa dihabiskan? ataukah butuh bantuan untuk-" Piiiuuuuuuup. Kalimat Agam berhenti karena pemotongan dari bunyi yang tidak jauh darinya. Kantin tiba-tiba sunyi lagi. Orang-orang berhenti mengunyah, mata mereka berusaha melirik ke arah datangnya suara itu. Agam terlihat kikuk, dia menggaruk kepalanya, dia tidak tahu apakah harus duduk kembali ke kursinya ataukah pergi bergabung makan bebek panggang. "Um …." Wajah Cempaka berubah memerah. Tangan kirinya mengusap perut lalu …. Brook brok brok! "Aduuh …." suara aduhan Cempaka. Dia menunduk malu. Pada saat ini, kenapa kentutnya harus menampakkan bunyi? Harga dirinya yang sebagai pemilik restoran Amis Amis Asup menjadi anjlok. Manager yang ada di meja sebelah hampir menyemburkan makanan dari dalam mulut. Namun, dia berusaha untuk menutup mulutnya. Dan pada akhirnya, Agam memutuskan untuk kembali duduk ke kursinya yang semula. Akbar mengunyah lalu menelan, dia melihat ke arah Cempaka. "Tadi pagi makan apa?" Pussssshh! Pertanyaan Akbar diikuti oleh suara desisan halus dari bawah Cempaka. Agam yang hendak menaruh p****t di atas kursi menjadi kaku. Semua mata memandang ke arahnya, seakan bahwa suara desisan itu berasal dan dihasilkan dari olah vokal miliknya. Manager dan asisten di meja sebelah hampir menangis keras. Makanan yang ada di dalam mulut tidak bisa masuk ke dalam tenggorokan, namun makanan itu juga tidak bisa keluar dari mulut. Bagaimana mau masuk ke tenggorokan? saluran makanan mereka telah bercampur dan diambil alih oleh bau busuk desisan yang masuk, tidak bisa keluar dari mulut sebab bos mereka sedang makan tanpa gangguan. "Campak teh tes makan makanan yang seperti Abang Akbar bilang waktu itu … sarapan roti dan Nutolla, tapi … setiap makan coklat, perut Campak tidak terlalu bagus … gigi Campak juga sakit, apalagi Nutolla yang lengket itu … malah pas ke WC ada sisa-sisa coklat di tengah celana dalam … maaf …." Suara Campak mengecil. Dia terlihat malu. Sunyi dalam tiga detik. "Hahahahahahah!" Terdengar suara tawa. Hanya satu orang yang tertawa dan satu orang yang tertawa itu adalah Akbar. Akbar menyelesaikan tawanya, matanya memerah karena terlalu banyak tawa. Agam dan Binsar hampir pecah tawa ketika mendengar ucapan Cempaka. Bahu mereka bergetar. Namun, mereka lalu tersadar bahwa yang sedang tertawa ini adalah Akbar. Jadi, mereka cepat-cepat memfokuskan mata mereka ke arah Akbar yang tertawa. Cempaka menutup wajah. Akbar berhenti tertawa lalu dia hanya tersenyum tipis. "Jangan makan lagi, nanti kamu sakit perut." Cempaka mengangguk perlahan. Setelah itu, Akbar melanjutkan makan. Cempaka tidak punya pilihan selain melanjutkan makan, namun suaranya tetap terdengar. "Sudah dua hari makan roti dan Nutolla, hari kemarin mencret coklat, tapi hari ini hanya ada ampas sisa," ujar Cempaka. "Pfft hahaha." Akbar tertawa. "Tertawa saja, Bang." Cempaka cemberut. Akbar berhenti tertawa lalu melanjutkan makan. Suara Cempaka terdengar lagi, namun kali ini intonasinya berbisik bernada penasaran. "Abang Akbar." "Ya?" sahut Akbar. "Waktu pertama Abang Akbar makan Nutolla itu, Abang Akbar tidak rasa mau mencret gitu?" tanya Cempaka berbisik. "Tidak," jawab Akbar. "Lalu … ada sisa-sisa coklat di celana dalam?" bisik Cempaka lagi. "Tidak." "Hum … sudah Campak duga, aliran Nutolla yang Abang Akbar makan dan Campak makan itu berbeda jalur," ujar Cempaka. Akbar hanya makan lalu sesekali tersenyum tipis karena suara ocehan Cempaka. "Ini teh sudah bulan Desember. Kemarin hujan, lalu badai besar. Haduuh, nanti Bandung teh banjir seperti bulan lalu. Ngomong-ngomong soal banjir, dulu teh Campak pernah ketemu sama Mas gelandangan. Kasihan dia teh tidur di depan got." Campak terdengar kasihan. Akbar berhenti makan, dia melihat wajah Cempaka yang menunduk makan sambil bicara. "Kira-kira Mas itu sudah pakai baju dan celana itu atau belum, yah? ah, mungkin dia sudah pakai, sudah lama juga waktu itu." Akbar hanya mendengar. "Apa dia sudah pakai shampo Sunsluk? sabun Citro juga bagus, harum." "Huuh … hidup ini adalah cobaan. Jika kita kaya itu adalah cobaan untuk tetap mempertahankan rasa syukur dan rendah hati, jika kita miskin itu adalah cobaan untuk tetap sabar." "Ada kaya ada miskin. Ada kenyang ada lapar." Cempaka makan sambil berbicara terus. "Campak teh setiap hari kenyang-akh! uhuk! uhuk!" Akbar menuangkan air dari dalam botol ke dalam gelas lalu memberikan air itu pada Cempaka yang tersedak. "Jangan bicara," ujar Akbar. Cempaka minum sambil mengangguk. Bebek panggang satu ekor itu dihabiskan dalam waktu setengah jam. Hampir semua bebek panggang masuk ke dalam perut Cempaka. Cempaka mengusap perut buncit hasil makan. "Ayo pulang," ujar Akbar. Cempaka mengangguk. Dia memasukkan rantang dan peralatan makan lainnya ke dalam tas kain lalu berdiri. "Oh oh … tidak kuat berdiri lagi." Akbar meraih dua tas kain, lalu Cempaka berjalan mengikuti Akbar. Agam dan yang lainnya hanya melihat saja kepergian dua orang itu. "Jangan naik lift ini, kata Mbak Anti, kita hanya boleh naik lift umum." Cempaka menyeret badan besar Akbar naik ke lift umum. Akbar, "...." hanya diam mengikuti. Semua orang, "...." hanya diam melongo. Setelah Campak dan Akbar tidak terlihat lagi. Agam melihat ke arah Anita. Wajah Anita memerah menahan malu yang entah malu jenis apa itu. Dia berdiri dari kursi, mengambil dompet lalu berlalu begitu saja tanpa pamit ke tiga orang temannya. Lembaran uang yang dikeluarkan tadi tidak diambil. Teman pria Anita memegang kuat tangan Binsar. "Sar, ada apa sih? kok aku tidak tahu apa-apa?" "Bang Lut, aku juga tidak tahu," jawab Binsar. Pria itu melirik ke arah Agam, namun Agam lebih dulu berbicara. "Bang Luhut, Agam juga tidak tahu." Pintu lift yang dimasuki oleh Anita tertutup. Buk! "Aah!" Anita memukul dinding lift dengan kepalan samping tangan kirinya. Dia terlihat frustrasi. "Bagaimana Akbar bisa kenal dengan dia? dari mana mereka saling mengenal?" Anita melap keringat di dahi dan pelipis dengan punggung tangan. Namun, dia mengepalkan kuat kepalannya, kuku-kuku tajamnya menusuk telapak tangan. Pada saat lift telah berhenti di lantai 18, Anita keluar dari dalam lift. "Selamat siang, Ibu Anita," sapa beberapa asisten dari General Manager dan asistennya–asisten Direktur keuangan pusat. Anita hanya mengangguk saja. Bahkan sekretaris dari General Manager dan sekretarisnya tidak dia balas sapaan mereka. Tak lama kemudian Luhut keluar dari lift, dia melihat ke arah pintu direktur keuangan, setelah beberapa detik, dia masuk ke ruangan kerjanya–General Manager setelah mengangguk dan membalas salam dari sekretaris dan asisten. *** Di dalam mobil Cempaka telah mengantuk, sebab makan banyak membuat dia tidak bisa mempertahankan kesadarannya. Dia ingin tidur siang, apalagi ini tengah hari panas sedangkan di dalam mobil ber-AC. "Abang Akbar …." "Ya?" "Nanti kalau sudah sampai di depan restoran Campak, jangan lupa bangunkan Campak, yah …." "Ya," sahut Akbar. Sampai. Mereka telah sampai tak berapa lama setelah Cempaka meminta Akbar untuk membangunkannya. Namun, Akbar tidak berniat membangunkan Cempaka. Hingga setengah jam kemudian Marsudi muncul hendak memantau ke arah dalam restoran Cempaka. "Campak." Marsudi mendekat ke arah mobil. Dia mengetuk kaca, alhasil Cempaka bangun. "Oh? Emang sudah ada? aah, sudah sampai." Cempaka tersadar bahwa mereka sudah sampai di depan restoran. Cempaka buru-buru berterima kasih pada Akbar. "Abang Akbar, terima kasih yah, Campak sudah numpang di sini. Pak supir, Campak masuk, yah." "Iya, Non," balas sopir. Sedangkan Akbar hanya mengangguk. "Campak, mana uang yang kamu janjikan pada Emang? eh? itu Nak Akbar, yah?" mata Marsudi melotot senang. "Pak Supir, jalan, ayo jalan." Cempaka menyuruh supir untuk jalan. Sopir melihat ke arah belakang melalui spion, sang bos hanya mengangguk. "Loh loh, Emang kan belum bicara dengan Akbar, Campak! Campak!" Marsudi mengejar Cempaka. Cempaka telah membuka cepat pintu dan masuk lalu mengunci pintu. Sebelum Marsudi mengeluarkan kalimat minta uangnya, Cempaka lebih dulu bicara. "Hari ini Campak teh kena sial. Gara-gara Emang tarik tangan Campak, makanan jadi rusak. Pelanggan marah dan banting makanan. Jadi, tidak ada uang untuk Emang lagi." "Campak! Campak! tidak bisa begitu, Emang sudah nungguin kamu dari tadi!" protes Marsudi. Cempaka naik ke lantai atas lalu tidur siang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN