Bab 15

1742 Kata
Luhut yang adalah General Manager itu melihat ke arah laptop namun tidak fokus pada apa yang ada di layar laptop. Pikirannya melayang ke arah kantin tadi. Tidak biasanya adik sepupunya itu tidak menegur dia, Luhut tahu betul sifat Akbar. Meskipun Akbar lebih muda tiga tahun dan kepribadiannya yang introvert sejak kecil, namun dia masih punya rasa hormat pada dia. Jika tidak menegur, setidaknya seperti biasa saja, menunduk singkat saja. "Apa karena gadis tadi?" Luhut menebak. Luhut mengusap dagu dengan tangan kirinya. "Campak? Amis Amis Asup?" Luhut malah mengganti layar dokumen di laptop dengan layar internet. Yang dia dapatkan adalah postingan makanan yang beragam dan harga yang berbeda. Unik. Satu kata itu yang Luhut simpulkan dari pencarian singkatnya. "Cempaka Jayanti," gumam Luhut. Dia lalu mencari di pencarian daftar riwayat Cempaka. Dan hasil yang dia dapat adalah akun insta pribadi dari Cempaka selain restoran Amis Amis Asup, nama akun itu adalah @Campakjaya. Lalu ada facebuk pribadi Cempaka. Namun, hanya postingan pribadi bukan tentang postingan makanan. Namun, postingan pribadi itu adalah gambar perkembangan sayur mayur di dalam pot dan di hidroponik, ada juga beberapa pohon jeruk tabulampot. Ada beberapa gambar pribadi Cempaka dengan wajah natural yang merekam dia memetik sayur gambas. Luhut terus melakukan pencarian bahkan dia melakukan pencarian di catatan sipil dengan nama Cempaka Jayanti. Dan benar saja, ada nama Cempaka Jayanti keluar. Namun sayang, sebelum dia bisa mengakses data-data pribadi Cempaka, link dan data itu eror lalu layar laptopnya menghitam. "Ah!" Luhut menggertakkan giginya kesal. Dia hampir saja melihat identitas Cempaka. "Hampir saja." Beberapa detik kemudian pesan pengingat masuk. 'Rekap semua contoh laporan untuk rapat dua minggu.' Dan Luhut tahu siapa pengirimnya meskipun itu anonim. "Akbar." Luhut menjadi membeo. Di lantai 16 di Departemen Hukum atau legal, Binsar mengetik nama Amis Amis asup. Dia melihat postingan makanan. Lalu mencari nama lengkap dan dia dapatkan adalah Cempaka Jayanti, dia ingat, minggu lalu Anita menanyakan nama ini padanya. Namun dia tidak kenal. "Harus masuk data base catatan sipil. Yeah, masuk dan …." Error link. Lalu layar ponselnya hitam. "Ahk! sial!" Binsar mengumpat kesal. "Apa-apaan ini? kenapa hp-ku bisa mati tiba-tiba? bateraiku masih banyak!" Binsar sangat kesal. Sementara di lantai 10 tepatnya di lantai khusus Arsitek dan perancang, Agam hampir menggigit laptopnya yang tiba-tiba sudah wassalam. "Dasar laptop murahan!" kesal Agam. Semua staf Arsitek dan perancang, "...." mereka serentak melihat ke arah ruang kepala staf Arsitek dan Perancang yang tembus pandang kaca tebal anti peluru. Pak, bukankah Anda menghina karya dari bos besar? Agam melirik ke arah semua stafnya, dia tersadar bahwa dia telah salah mengutuk. Agam memijat ubun-ubunnya. "Ah, tanganku yang salah tekan. Ternyata tekan tombol turn off, ehm." Koreksi Agam. Semua staf, "...." Pak, kami tidak tuli. *** Hari ini suasana hati Anita benar-benar tidak ingin bekerja. Dia mengabaikan contoh laporan keuangan yang akan diserahkan pada sekretaris Akbar untuk diperiksa oleh Akbar agar nanti pada saat dua minggu lagi, tidak ada kesalahan dalam presentasi dan rapat. Hati Anita tidak tenang, dia meraih ponsel lalu mencari nama 'Amis Amis Asup' di Insta, dan hasilnya adalah …. Pencarian tidak ditemukan. "Apa?" wajah Anita terlihat syok. Dia buru-buru membuka isi pesan antara dia dan Amis Amis Asup, dan hasil yang dia dapat adalah pencarian tidak ada. Riwayat pesan antara dia dan Amis Amis Asup hilang. Kemudian Anita mencari akun pribadi milik Cempaka, dan yang dia dapatkan juga sama. Pencarian tidak ada hasil. "Dia blok aku?" "Gadis itu blok insta-ku?" Anita tak sanggup berkata-kata lagi. Dia semakin emosi. "Aah! sial sekali. Kenapa Akbar bisa datang ke kantor hari ini?" "Hari kamis dia tidak biasa datang." "Dan untuk apa datang ke kantin?" Terlintas sebuah kalimat di kepala Anita. "Apa gadis itu punya nomor Akbar?" Anita berpikir untuk sepuluh detik, namun dia menepisnya. "Tidak mungkin. Aku dan Akbar yang dari kecil saling kenal saja dan tumbuh bersama tidak pernah ada nomor telepon dia. Lalu untuk apa dia memberikan nomor telepon dia pada gadis yang bahkan baru ditemui? dan tidak jelas." "Mungkin hanya kebetulan." "Ya, kebetulan." Di ruang santai, Akbar melihat ke arah empat orang nama yang tertera. Luhut Nasution, Agam Fadli Siregar, Teuku Binsar Abdullah, dan Anita Saulina Manurung, Blocked done from Cempaka Jayanti identity. (Blokir selesai dari identitas Cempaka Jayanti.) Akbar menutup laptop lalu dia melihat jam. Jam 2.30 siang. Masih siang, tiba-tiba dia ingin tidur siang setelah mengingat bahwa Cempaka tadi siang terlihat sangat mengantuk, Akbar meletakan laptop di atas meja lalu dia masuk ke kamar. Namun, setelah duduk di ranjang, dia melirik ke arah ruang ganti. Akbar meraih remot kontrol lalu dia menekan tombol 'Transparan'. Salah satu dinding kamar Akbar berubah menjadi transparan, Akbar bisa melihat baju yang tergantung di lemari dan aksesoris lainnya seperti sepatu, jam tangan atau jepitan dasi. Fokus Akbar melihat ke arah baju kaos dan celana training yang digantung terpisah dari pakaian lainnya. Dia melihat itu cukup lama, lalu tak lama kemudian dia mengantuk dan tertidur. *** Marsudi tidak bisa tenang, dia mondar-mandir di depan pintu restoran Amis Amis Asup mungkin sudah berjam-jam. Dahlia keluar rumah. "Mas mau tunggu Campak pulang?" tanya Dahlia. Marsudi menggeleng dan menjawab, "Mau tunggu dia bangun tidur siang." "Oh? Campak sudah pulang ngantar pesanan, yah?" Dahlia melirik ke arah atas balkon kamar Cempaka. "Sudah," jawab Marsudi. Dahlia tersenyum lalu dia mendekat ke arah Marsudi. "Aku lihat postingan dia hari ini bebek panggang loh, satu juta enam ratus ribu rupiah." Marsudi melirik ke arah Dahlia dan berkata, "Katanya makanan yang dia bawa tidak diterima oleh pelanggan." "Halah, bohong itu Mas. Jangan percaya. Dia bilang gitu supaya Mas jangan minta uang sama dia. Memang pelit banget tuh anak. Nggak tahu diri, sudah tinggal di sini kami lihat malah perhitungan sama om kandung sendiri." Dahlia mencibir. Marsudi melihat serius ke arah Dahlia, "Tapi tadi aku lihat Campak bawa pulang rantang dan peralatan makan." Dahlia terdiam, dia menggaruk kepalanya. "Hah. Siapa peduli makanan laku atau nggak, yang penting kita dapat hak kita sehari-hari." Mereka membicarakan hak, entah hak sehari-hari apa yang mereka punya terhadap Cempaka. Dahlia melihat ke arah sang suami dan berkata, "Mas, Mas punya hak loh dari sebagian uang yang dihasilkan Campak. Jadi kalau Mas minta uang dan dia nolak, bilang saja kalau itu hak Mas. Beres." "Ya, aku memang selalu berpikir bahwa uang yang dihasilkan oleh Campak itu memang hakku," balas Marsudi. Sepasang suami-istri itu mendiskusikan mengenai berapa nominal yang akan mereka minta ke Campak nanti. Para tetangga yang lewat hanya mencibir dan mencebikkan bibir mereka ke arah sepasang suami-istri rakus itu. "Pasti sedang susun rencana untuk minta uang lagi ke Campak," bisik Ibu tetangga a. "Hum, nanti kalau tidak dikasih, suami-istri itu ngamuk-ngamuk seperti babi hutan," timpal Ibu tetangga b. "Heum, suami-istri sama saja. Kerjaannya cuma judi dan ngutang setiap hari. Nanti yang jadi jongos buat bayar utang dan bayar kalah judi mereka Campak." Ibu tetangga a jengah. "Itu kemarin-kemarin kan Campak sakit, eh, si Om-nya yang mata duitan itu malah tiap hari minta uang. Nggak ada otak, keponakan lagi sakit malah minta duit," lanjut Ibu tetangga a. "Ho, baru setiap hari minta satu sampai tiga juta. Gila, memangnya penghasilan Campak itu satu hari seratus juta? suami-istri gila judi." Ibu tetangga b mencibir. "Si Campak itu sebenarnya udah jengah loh. Soalnya setiap hari diporotin terus lalu kalau dia nggak mau kasih uang, si Om tukang judi itu bakal telepon Bapaknya di kampung. Huuuh, pengen aku lempar mukanya dengan sendal. Si istri juga badannya gemuk macam babi gila, setiap hari makan uang hasil omel minta dari Campak, ingin makan itulah ingin makan inilah, hadeh! terlalu bikin diri seperti dia yang telah melahirkan Campak." Ibu a mengipasi wajahnya yang panas. Dia sudah sangat jengkel dengan kelakuan dua orang lintah benalu itu. "Untung pas Campak datang ke sini, dia bangun restoran kecil-kecil dengan uang modalnya, jadi nggak tinggal di dalam rumah dua orang itu. Kalau dia tinggal di rumah itu, heum, mereka pasti menuntut semua punya Campak. Biar *celana dalam juga pasti disuruh jual biar dapat uang." Ibu b membalas ucapan ibu a. Datang ibu c. "Lagi gosip apa? ah, lagi gosip benalu tukang judi itu, yah?" tebak ibu c, suaranya agak besar dan terdengar oleh Dahlia yang sedang berbisik dengan Marsudi. Dahlia melirik ke arah tiga orang ibu. "Apa? gosip orang terus. Situ pikir diri situ udah benar?" Dahlia melotot. "Heh, kenapa? suka-suka kita. Mulut-mulut punya kita," balas ibu a. Dahlia berjalan mendekat ke arah tiga ibu itu. "Terus situ ngapain mau ngurusin urusan orang? hah?! suka-suka saya mau minta uang di Campak. Wong itu keponakan saya, situ kan nggak ada ikatan apa-apa sama Campak. Cuma tetangga sok dekat saja belaga bikin diri seperti saudaranya " "Hahaha." Ibu a mulai jengah. Dia malah maju mendekat ke arah Dahlia. "Kenapa memangnya kalau aku suka ngurusin orang? emang itu kerjaanku. Suka julidtin orang, terutama julidtin kamu yang suka judi sana-sini, nggak malu apa minta-minta uang kayak Campak itu bank. Heh Dahlia, kamu itu makan uang haram. Judi sana-sini, kalah judi datang minta uang ngamuk-ngamuk ke Campak. Hahahaha!" Ibu a terlihat panas membara. "Sialan!" Dahlia marah, dia menjambak rambut ibu a. "Aahh!" Ibu a berteriak sakit, namun hanya sesaat dia membalas jambakan Dahlia, "mari jambakan!" "Ah! berani kamu jambak rambut aku!" Dahlia berteriak. "Jambak saja!" ibu a membalas. Marsudi bergegas memisahkan mereka. Sedangkan tetangga pada heboh, mereka bahkan memberi semangat untuk Ibu A. "Ayo Mama Ani, tarik rambut di ubun-ubun, biar cepat botak!" teriak Ibu b. "Aaahh! sakit!" Dahlia berteriak saat rambut bagian depan ditarik kasar. "Mama Ani! tarik rambut di telinga, biar gundul! ayo semangat!" Ibu c ikut berteriak. Marsudi berusaha keras untuk memisahkan keduanya. Tetangga pada heboh. Hingga akhirnya seorang satpam dari toko besar di seberang jalan tiba dan buru-buru membantu memisahkan. Pintu kamar balkon terbuka. Cempaka keluar dari dalam kamar dengan mata penuh lengket. Dia menengok ke arah bawah, tak jauh dari rumah sang paman yang berjarak 20 meter itu ada kerumunan heboh. Setelah dia melihat pelaku saling jambak, dia melotot. "Loh? Tante Dahlia? eh? Mama Ani!" Cempaka buru-buru turun dari kamar lalu pergi ke arah dua orang itu. Cempaka menarik mundur Dahlia. "Ini teh kenapa saling jambak?" Dahlia melirik ke arah Cempaka. "Karena kamu!" Dahlia berteriak. "Heh?" Campak bingung. Dahlia menarik tangan kiri Campak kuat, "Tante begini karena kamu terlalu pelit!" "Hoho! orang gila! babi sudah mau *gila! mau minta uang lagi!" teriak Mama Ani. Dahlia murka. "Dasar miskin kamu!" "Hahaha! biar aku miskin tapi makan uang halal!" balas Mama Ani. "Sudah! sudah! jangan pada ribut." Cempaka pusing. "Tante Dahlia mau uang berapa? Campak kasih, dua ratus ribu, yah?" tawar Cempaka. "Mau satu juta!" Dahlia mengangkat jari telunjuk. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN