Bab 16

1695 Kata
"Huuh …." Cempaka mengembuskan napas susah. Dia melihat kotak simpanan uang. Hari ini dia tidak dapat pelanggan, tapi justru malah mengeluarkan uang satu juta. Sang Tante berteriak histeris minta uang setelah saling jambak dengan tetangga. Kotak uang itu kosong. Beruntung dia kemarin telah mengirim tiga juta untuk sang ayah yang berada di kampung. Cempaka meletakkan kotak uang itu kembali ke dalam lemari, lalu dia turun ke dapur. *** "Kamu kenapa sih mau ladenin dia? kan seperti ini. Biarkan saja dia mau minta uang sama keponakannya. Itu kan keponakannya. Kita tidak ada hak untuk larang." Suara lelaki paruh baya terdengar. Itu adalah suami dari Mama Ani yang baru pulang kerja beberapa menit lalu. "Assalamualaikum." Mama Ani dan suami menoleh ke arah pintu. Ada Cempaka yang berdiri di pintu rumah. "Waalaikumsalam. Campak, mari masuk." Suami Mama Ani mempersilakan. Cempaka masuk membawa mangkuk kecil yang diletakkan ke dalam tas kain. "Mama Ani, ini teh Campak masak sup bebek. Masih panas." Suami Mama Ani terlihat tidak enak. Dia hendak menolak namun dia tahu betul sifat Cempaka yang baik hati ini. Pasti Cempaka merasa tidak enak karena ribut tadi sore. Mama Ani melihat ke arah Cempaka, suaranya serak. "Terima kasih, Sayang." Cempaka mengangguk. "Sama-sama … itu … Campak teh minta maaf yah kalau Tante Dahlia sudah buat ribut," ujar Cempaka tidak enak hati. Cempaka melihat pipi Mama Ani yang tergores. Mama Ani mengambil mangkuk sup lalu dia memeluk Cempaka. "Bukan kamu yang harusnya minta maaf. Jangan merasa bersalah atas apa yang dilakukan oleh Tante kamu." Cempaka mengangguk. Mama Ani memisahkan pelukan. Dia berbicara ke arah anak perempuannya. "Ania, ambil mangkuk sup lalu taruh sup ini. Teteh Campak mau bawa pulang mangkup." "Iya, Bu," sahut Ania. Satu menit kemudian cempaka pamit pulang. Suami Mama Ani duduk termenung. Sayang sekali Cempaka, orang baik namun punya paman dan bibi yang suka berjudi dan minta uang. Suami Mama Ani melihat ke arah Mama Ani dan berkata, "Ani, lain kali, kalau ada Dahlia, jangan kamu tunjukan wajah kamu dan bicara tentang dia." "Dia yang duluan," balas Mama Ani. "Iya, dia yang duluan. Jangan ladeni," ujar sang suami. "Mas ini kenapa sih?" Mama Ani merasa agak kesal. "Dengan kamu ladeni dia, sekarang Campak jadi susah. Kamu kira dia tidak kasih uang satu juta untuk Dahlia? dia kasih uang," jawab sang suami. "Dahlia tertawa senang di rumah judi sana, bawa uang satu juta," lanjut suami Mama Ani. Mama Ani terdiam. Beberapa detik kemudian. "Semoga Campak cepat nikah dan dibawa suaminya ke tempat jauh, biar dua orang tukang judi itu tidak bisa buat ulah lagi." Setelah Mama Ani mengatakan ini, dia berjalan masuk ke ruang makan sederhana. "Makan malam," ujar Mama Ani setelah meninggalkan ruang tamu. Suami Mama Ani berdiri dari kursi lalu menyusul. *** Cempaka duduk di kursi taman. Seperti biasa, dia baru saja mengantarkan pesanan makanan. Duduk termenung dengan lama membuat dia tidak sadar bahwa dari satu jam yang lalu Akbar telah melihat dia tanpa menoleh ke arah lain. Merasa tidak ada niat dari Cempaka untuk berdiri, Akbar keluar dari dalam mobil. Dia berjalan santai ke arah kursi taman. Setelah dia mendekat ke arah Cempaka, namun rupanya Cempaka tidak menyadari bahwa itu adalah Akbar. Akbar berdiri di depan Cempaka. "Makan siang." Cempaka mendongak. "Ah … Abang Akbar teh di sini. Campak teh kaget." Akbar melihat wajah Cempaka yang terlihat kurang bersemangat. "Maaf …." Kata ini terdengar pelan setelah dia melihat pergelangan tangan kiri Cempaka yang terlihat luka gores. Tangan kanan Akbar menggenggam tangan kiri Cempaka. "Siapa yang lakukan ini?" Cempaka terlihat malu untuk menjawab pertanyaan Akbar. Tidak mungkin dia menjawab dia dapatkan luka gores itu karena memisahkan tantenya yang berkelahi dengan tetangga gara-gara minta uang untuk judi. "Di … garuk …," jawab Cempaka pelan. "Abang Akbar teh, ada di sini untuk apa? ada urusan, yah?" tanya Cempaka, dia mengalihkan pembicaraan. "Ya," jawab Akbar singkat. "Oh … belum makan siang, yah?" tanya Cempaka. "Belum," jawab Akbar. "Ayo makan." Cempaka berdiri. Genggaman Akbar di pergelangan tangan kiri Cempaka tidak terpisah, namun Cempaka merasa tidak enak. Dia cepat-cepat menunjuk ke arah tangannya sambil tersenyum kikuk. Akbar melepaskan tangannya. Mereka berjalan masuk ke mobil untuk pergi ke tempat makan. Setengah jam kemudian Cempaka dan Akbar turun dari mobil. "Archi Taste lagi, yah?" "Ya," sahut Akbar. Cempaka berjalan memasuki pintu restoran. Pelayan dan manager sudah hafal betul wajah Cempaka. Sebab, sang bos setiap makan siang membawa gadis itu. Setidaknya akhir-akhir ini. Ketika Cempaka hendak naik ke lantai privat, dia berhenti. Akbar yang ada di belakang juga berhenti. Saat itu juga dia melihat tiga orang laki-laki yang kemarin ada di kantin duduk bersama Anita. Binsar tersedak jus. Dia menunjuk ke arah Cempaka dan Akbar. Dua temannya yaitu Luhut dan Agam cepat-cepat menoleh. Wajah mereka terlihat seperti orang yang diciduk. Cempaka berjalan ke arah mereka. "Mampus, dia pasti mau balas dendam sama kita," gumam Agam. Binsar menggaruk kepalanya sedangkan Luhut hanya diam memperhatikan baik-baik Akbar yang melihat ke arah Cempaka yang datang ke arah mereka. "Em … halo Cam-" Agam berhenti bicara. "Itu teh Rudi." Cempaka melihat ke arah luar kaca. Dia melihat temannya Rudi yang dia temui minggu lalu ada di luar restoran. Sedang memikul karung dan karton sambil dimarahi oleh seorang pria. "Kalau pekerjaan belum selesai, tidak boleh pergi ke manapun," ujar pria itu. "Saya sholat Jumat, Kang," ujar Rudi. "Alasan, kamu tadi duduk di emperan masjid, kan." Pria itu malah marah. Samar-samar Cempaka dapat mendengar suara dari luar. Melihat wajah Rudi penuh peluh dan mata memerah menahan diri dari kemarahan pria itu. Cempaka buru-buru keluar dari dalam restoran lalu pergi ke arah mereka, ada dua mobil truk kecil yang terparkir. Akbar hanya melihat. Dia memantau dari dalam. Sedangkan tiga teman Anita ikut melihat ke luar. "Akang, jangan teh teriak-teriak marah sama teman saya. Tidak kasihan lihat dia pikul karung berat?" ujar Cempaka. Pria itu melihat ke arah Cempaka. "Siapa kamu? mau kamu teman dia, tidak ada urusannya dengan saya." "Apa berhenti? sana cepat!" pria itu melotot ke arah Rudi. Rudi melihat ke arah Cempaka, wajahnya terlihat tidak enak, seperti bersalah. "Campak," panggil Rudi pelan. Cempaka berjalan ke arah Rudi. "Rudi, ini teh berat. Kamu kan dulu pernah kecelakaan patah tulang bahu, jangan angkat berat-berat." Wajah Cempaka menjadi sedih. "Hehe, aku sudah kuat," balas Rudi menahan kesedihan. Cempaka melihat ke arah pria tadi. "Kang, Rudi teh tidak boleh angkat beban berat, waktu SMK kelas dua dia teh pernah kecelakaan motor." "Saya tidak peduli, dia kerja di sini," balas pria itu tegas dan galak pada Cempaka. "Akang teh tidak punya hati nurani," balas Cempaka. "Kamu! siapa kamu berani bicara menggurui saya? sana pergi!" hardik pria itu. "Saya Campak, memangnya kenapa?" tantang Cempaka. Dia kesal dengan orang yang tidak punya hati nurani ini. Cempaka menurunkan karung dari atas tengkuk Rudi. "Heh! heh! apa yang kamu lakukan? ini bahan mahal untuk makanan!" teriak dan marah pria itu. Jatuh. "Ah!" teriak Cempaka kesakitan. "Campak!" Rudi panik. Pria tadi menarik paksa Cempaka agar tidak menurunkan bahan makanan yang dipikul oleh Rudi, namun sayang cengkraman Cempaka lumayan kuat, alhasil karung tadi jatuh menindih paha sampai betis Cempaka. "Aduh! sakit!" Cempaka berteriak sakit. Telapak tangan kanannya terkelupas karena bergesekan dengan lantai kasar. Rudi cepat-cepat mengangkat karung, namun tenaganya habis. Bahunya terasa lelah. Bruk! Rudi terkejut. Karung besar itu terlempar menjauh mengenai truk pengirim barang. Dia melihat ke arah orang yang melempar karung itu. Dengan kecepatan kilat badan Cempaka telah digendong oleh seorang pria yang tidak dia kenal. Begitu pria yang tadi melihat Akbar, wajahnya seperti terlihat kenal. Asisten Chef keluar dari dapur belakang karena mendengar suara ribut-ribut, setelah dia melihat Akbar, dia terbelalak. "Bos." Barulah pria tadi sadar bahwa orang yang menggendong gadis yang tertimpa karung tadi adalah bos. Akbar tidak mempedulikan semua orang. Dia membawa Cempaka masuk ke dalam restoran, wajah tadi yang terlihat datar kini berubah dingin dengan aura tidak suka. Manager menggigit jari takut. Saat keluar dari restoran dan melihat apa yang terjadi. "Duduk di sini saja, duduk di sini saja!" Cempaka menunjuk kursi di pinggir Luhut. "Karungnya teh berat. Abang Akbar, itu teh teman Campak. Dia teh baik, tidak suka buat ribut. Teman waktu SMK, dia teh dulu pernah kecelakaan motor. Jadi pernah sakit tulang bahu. Kasihan teh lihat wajahnya kesakitan. Eleuh-eleuh, Akang itu teh jahat." Cempaka menunjuk ke arah luar. Rudi yang masih berdiri takut melihat ke arah Cempaka. "Rudi, ke sini! jangan pikul itu, itu teh berat!" Cempaka melambaikan tangan memanggil Rudi. *** Rudi duduk takut di depan Cempaka, bukan takut pada Cempaka, tapi takut pada Akbar. Rudi baru tahu bahwa Akbar ini adalah bos besar. Telapak tangan Cempaka tidak luka serius, hanya terkelupas. Dia melihat ke arah Rudi. "Rudi, bukannya kamu minggu lalu teh bilang kalau kamu kerja di restoran jadi pencatat bahan makanan? tapi kenapa kamu teh pas Campak lihat berubah pekerjaan jadi buruh?" Rudi terdiam, dia menunduk malu. "Rudi, tidak apa-apa, jangan takut. Tidak ada yang mau pukul kamu di sini. Lihat ini, badan Abang Akbar teh besar, nanti Abang Akbar yang hadang." Cempaka menepuk-nepuk d**a Akbar yang duduk di samping kanan. Orang-orang, "...." Akbar, "...." "Pft!" Agam dan Binsar menahan tawa mereka setelah melihat wajah datar Akbar. Tidak perlu dihadang juga orang-orang sudah takut dengan wajah Akbar yang datar. "Begini … memang aku jadi pencatat bahan-bahan makanan, tapi … kan Mas Firo senior, jadi-" suara Rudi terhenti. "Jadi kamu teh mau disuruh-suruh pikul karung? eleuh-eleuh, nanti jadi kurir Campak saja, antar makanan ke pelanggan dan nanti Campak bagi hasil dua," potong Cempaka. "Tidak perlu." Ruang itu sunyi ketika suara Akbar terdengar setelah kalimat Cempaka. Cempaka melirik ke arah Akbar. "Manager Rina, kembali evaluasi peraturan restoran dan karyawan." Akbar memberi perintah dengan suara dingin. Manager Rina mengangguk cepat. "Baik, Pak Akbar." "Eh?" Cempaka bingung ke arah Manager Rina yang mematuhi perintah Akbar. "Abang Akbar, kok Manager ini teh disuruh-suruh?" tanya Cempaka. Akbar melihat ke arah Cempaka dan menjawab, "Archi's Taste milik ArchiBigJen Enterprise." Semua orang melihat ke arah Cempaka yang baru tahu sambil manggut-manggut. "Oh … jadi Abang Akbar teh juga jadi bos bangunan milik Archi Taste ini toh." Gubrak. Semua orang ingin jatuh guling-guling di lantai. "Nah, Rudi. Kamu teh bisa tenang. Abang Akbar ini teh bos bangunan. Dia yang suruh-suruh orang campur semen dan pasang besi untuk bangun bangunan," ujar Cempaka. Semua orang, "...." Akbar, "...." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN