Bab 17

1592 Kata
Luhut melihat baik-baik wajah Cempaka. Potongan rambut bob sebahu dan pipi chubby, blus hijau, celana jeans kill panjang, sepatu sneaker dan ransel kecil. Hidung gadis yang dia lihat ini tidak terlalu mancung, namun ukurannya pas dengan kontur wajah. Bibirnya pun tidak terlalu tipis, namun ukuran mulut terkesan kecil. Luhut heran, mulut sekecil itu bisa memasukkan tiga sendok nasi dan dua potongan daging sekaligus. Pandangan Luhut beralih ke arah Akbar. Akbar memotong potongan steak lalu diberikan ke arah Cempaka yang sedang asik makan. Sesekali Cempaka tersenyum ke arah Akbar. "Rudhi, kamhu teh makhan jugha," ujar Cempaka sambil makan. Rudi mengangguk kuat. Makan saja, jangan banyak bertanya, tatapan bos Akbar terkesan tidak terlalu suka padanya. Entah apa yang telah dia perbuat. Merasa bahwa ada yang kurang beres, Cempaka menoleh ke arah Akbar. Dia cepat-cepat menelan makanan. "Abang Akbar teh tidak makan?" "Makan," jawab Akbar. "Tapi dari tadi teh kasih daging terus ke piring Campak. Mbak pelayan bawa daging tapi dikasih terus ke Campak. Abang Akbar teh belum makan." Akbar memotong steak lalu mulai makan. Sepertinya Agam yang duduk berhadapan dengan Akbar tahu apa yang membuat Akbar kurang senang. Kurang perhatian. Akbar kurang perhatian dari Cempaka, sebab teman Cempaka duduk berhadapan dengan Cempaka, dan Cempaka terkesan melihat terus temannya. Cempaka melihat wajah Akbar, lalu dia melirik ke arah steak. Cempaka cepat-cepat menyendokkan nasi menggunakan sendok makan miliknya lalu meletakkan nasi itu ke dalam piring Akbar. Semua orang, "...." Agam menutup mulutnya, seorang bos besar ArchiBigJen Enterprise diberikan nasi dari bekas sendok makan orang lain. Binsar terlihat ngeri. Cempaka menyendok nasi sebanyak empat kali, namun ketika dia melihat wajah Agam yang melotot ngeri, gerakan sendok ke-lima berhenti di udara. Cempaka melirik ke arah piring Akbar, gerakan makan Akbar juga berhenti, terlihat bahwa Akbar sedikit terperangah namun dengan cepat dia mengembalikan lagi ekspresi wajahnya. Cempaka sadar, dia telah salah. Cempaka buru-buru memasukkan nasi dari sendokan yang ke-lima ke dalam mulut, lalu dia dengan cepat menyendok ulang nasi yang telah dia berikan pada Akbar untuk dia makan. Sendokan pertama di piring Akbar berhasil. Semua orang, "...." Rudi bahkan tidak berani tersedak, Agam menjatuhkan rahang bawahnya, sedangkan Luhut terlihat linglung. Pada sendokan kedua, Akbar lebih dulu. Dia menyendok nasi lalu makan, seolah Akbar berlomba dengan Cempaka siapa yang lebih dulu menghabiskan nasi. Cempaka, "...." melihat kikuk ke arah Akbar. Sendok yang tadinya hendak dia pakai untuk menyendok makanan, kini tergantung di sekitar piring Akbar. Semua orang, "...." Bibir Luhut terbuka dan tertutup berkali-kali, seakan dia ingin mengucapkan sesuatu, namun sesuatu itu menolak keluar. Agam, Binsar dan Rudi hanya melihat gerakan makan Akbar yang cepat. Sisa nasi tiga sendok tadi sekali makan. Melihat bahwa Akbar ternyata makan nasi yang dia kasih, Cempaka mengangkat piring lalu membagi nasi menjadi dua bagian ke arah piring steak Akbar. Semua orang, "...." Tidak ada yang menyadari bahwa Anita berdiri kaku tak jauh dari meja mereka. Mulut Anita bergerak-gerak hendak mengatakan sesuatu, namun seakan terjadi macet dan malfungsi mulut. Cengkraman jari di tas tangannya terasa erat. Akbar menerima makanan dari orang lain. Dan itu dari bekas makan orang lain. Napas Anita mulai tak beraturan, seakan ada sesuatu yang hendak keluar dari dalam dadanya setelah melihat apa yang dilakukan oleh Cempaka. Setelah beberapa saat, Anita membuka mulut. "Nona Campak, tindakan Anda sangat tidak higienis." Cempaka yang sedang memasukkan sendok ke dalam mulut menoleh ke arah pintu. Ada Ibu Anita, calon pelanggan yang kemarin memarahinya di depan umum. Anita berjalan dengan penuh mempertahankan ke-eleganan. Dia mengambil tempat duduk di samping kiri Luhut. Mata Anita terlihat berwibawa. "Bagaimana jika pimpinan saya sakit perut-" Bruuubruuubruuuup! "Uhuk! uhuk! uhuk!" Anita terbatuk hebat setelah ucapannya diinterupsi oleh bunyi yang berasal dari bawah Cempaka. "Ahmp!" Cempaka yang sedang mengunyah makanan menutup mulut karena kaget. Dia melihat ke arah Akbar dan yang lainnya. "Campak teh kaget," gumamnya. Agam ingin tertawa. Sedangkan ruangan menjadi sunyi. Orang-orang yang sedang makan melirik ke arah mereka. Wajah Cempaka memerah karena malu, dia menunduk. "Maaf … itu teh keluar sendiri …." Luhut dan Binsar dengan gerakan lembut tanpa menyinggung Cempaka mengangkat jari telunjuk kiri mereka lalu membuat pose seperti sedang bertongka dua lubang hidung. Sedangkan Rudi menahan tawa, dia melirik ke arah Cempaka. "Campak, kamu tidak pernah berubah, yah. Suka kentut," bisik Rudi lalu dia menutup mulut menahan tawa yang akan pecah. Cempaka tersenyum menahan malu. "Rudi kan tahu sendiri … Campak teh punya penyakit gangguan pencernaan." Setelah mendengar ucapan Cempaka, Akbar yang tersenyum geli menjadi kaku. Kakunya senyum Akbar menarik perhatian teman-temannya. Rudi mengangguk mengerti. "Tahu, aku tahu, kok. Tidak apa-apa, daripada ditahan nanti seperti waktu SMK, kamu masuk rumah sakit karena menahan kentut selama ujian." "Uhmpfftthhh!" entah ada apa dengan Agam, dia tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Dia ingin tertawa karena mendengar kisah Cempaka yang menahan kentut seharian, namun dia ingin menangis setelah melihat raut wajah Akbar yang terlihat seperti agak tersinggung ketika melihat ekspresi Agam. Binsar mencubit paha Agam. "Em!" Agam menahan sakit. Binsar melotot. "Hahaha, ah Rudi teh masih ingat itu hehehe." Cempaka terkekeh. Dia melihat ke arah Akbar yang diam setelah mendengar ucapan Rudi. "Masih ingat. Kamu sampai harus ditekan perutnya agar keluar angin. Suster sampai panik saat memeriksa perut kamu yang mengembung karena banyak angin. Pak Manto jadi takut sendiri, beliau bahkan menangis takut karena memikirkan kamu hampir mati, apalagi saat lihat wajah kamu yang ungu seperti keracunan," balas Rudi. "Hahaha, Rudi teh masih ingat." Cempaka tertawa geli. "Hum, masih. Bagaimana tidak aku ingat? aku teh juga ikut antar kamu ke rumah sakit, perut kamu kelebihan gas beracun, makanya kamu pingsan," balas Rudi. Cempaka menutup mulut tertawa. Dia dan Rudi merasa lucu dengan kenangan ketika masa sekolah, namun tidak dengan Akbar. Dia sama sekali tidak merasa lucu ketika mendengar percakapan antara Cempaka dan Rudi. Akbar melihat ke arah Cempaka yang sedang menahan tawa dan bertanya, "Sudah berapa kali kamu masuk rumah sakit?" "Um?" Cempaka melirik ke arah Akbar, dia mencoba mengingat. "Mmm, tidak terlalu banyak sih … Campak agak lupa," jawab Cempaka, dia menggaruk kepalanya. "Berapa kali, yah?" Cempaka berusaha untuk mengingat. "Lima kali." Rudi yang menjawab. Akbar melirik ke arah Rudi. Rudi menunduk takut. "Penyebab?" tanya Akbar. Rudi melirik ke arah Cempaka. "Itu … satu kali sebelumnya Campak jadi pembawa naskah pancasila untuk pembina upacara, jadi guru penjas kami mengatakan bahwa Campak tidak boleh kentut dan tidak boleh makan, karena kalau makan, nanti Campak banyak kentut. Jadi Campak tidak makan, dan di tengah upacara, Campak pingsan, itu hanya dibawa ke uks, kebetulan saya yang membantu mengangkat kaki Campak sedangkan dua teman lainnya mengangkat badan," jawab Rudi. Rudi merasa bahwa Akbar ingin mendengar lebih lanjut, jadi dia bercerita saja. "Ternyata Campak masuk angin dan dia hari itu banyak kentut di dalam uks. Guru penjas tidak menyangka bahwa Campak akan makan … angin," ujar Rudi. Cempaka menunduk malu. "Itu teh sudah lama, waktu kita kelas satu," ujar Cempaka. Cempaka melihat ke arah Akbar dan berkata, "Yang kedua itu Campak terlalu banyak makan, nah banyak gas yang keluar tapi langsung pingsan sendiri karena … terlalu banyak cium gas sulfur yang keluar, heheheeh." Cempaka tertawa. "Terus yang ketiga tahan kentut gara-gara chef dari Italia datang. Cuma masuk uks, yang keempat itu yah masuk ruang kepala sekolah karena dipanggil, soalnya Campak sering kentut sembarangan, jadi guru-guru mengadu ke kepala sekolah untuk memindahkan Campak saja, jadi waktu Campak masuk ruang kepala sekolah, Campak tahan kentut tapi tidak kuat dan keringat dingin dan pusing, cuma masuk uks." Wajah Cempaka terlihat sedih ketika dia mengatakan bahwa guru-guru mengadu ke kepala sekolah untuk memindahkannya. "Guru-guru teh … suka taruh Campak duduk di sudut pojok jauh di belakang anak-anak yang lain," ujar suara Cempaka terdengar serak, matanya memerah agak berkaca-kaca. "Cuma … cuma Rudi teh yang mau temenan sama Campak." Cempaka menunduk dia terkekeh. "Yang kelima masuk rumah sakit karena Pak Manto ngancem tidak akan meluluskan Campak jika kentut selama ujian praktek memasak makanan nasional. Rendang dan nasi kuning." Rudi menggaruk kepalanya. "Tidak usah diingat, sudah lama. Pak Manto juga hari itu menangis." Cempaka mengangguk. Binsar dan yang lainnya tidak menyangka bahwa gadis yang bernama Cempaka ini rupanya tidak seberuntung yang mereka kira. Anita yang tadinya ingin marah karena suara kentut Cempaka, kini melihat ke arah wajah Akbar yang melihat ke arah Cempaka. "Tapi tidak dibenarkan kentut di depan orang lain, itu tidak sopan," ujar Anita. Cempaka mengangguk dan berkata, "Benar, Bu. Saya minta maaf." Cempaka menunduk. "Kamu seperti terlihat tidak pernah diajarkan tata krama oleh orangtua-" suara Anita terhenti. Luhut menggoyangkan tangan Anita lalu menggelengkan kepala tanda jangan melanjutkan pembicaraan lagi. Anita terlihat memutar mata ke atas lalu dia duduk bersandar. Cempaka yang mendengar ucapan Anita menjadi tidak enak hati. Akbar menuangkan air dari teko kaca tembus pandang ke dalam gelas Cempaka, lalu memberikan gelas air kepada Cempaka. "Minum." Cempaka meminum air. Setelah semua makanan habis Akbar melihat ke arah Cempaka. "Ayo pulang." Cempaka mengangguk. Dia melirik ke arah Anita dan teman-temannya. "Itu … saya tidak tahu mau panggil nama siapa, hehehe, tidak tahu nama." Cempaka menggaruk kepalanya. "Agam." Suara Agam. "Binsar." Suara Binsar yang menyebutkan namanya. "Luhut." Ini adalah suara Luhut. Anita, "...." diam. "Oh iya, Mas Agam-" suara Cempaka terhenti. "Panggil Abang saja," potong Agam sambil tersenyum senang. "Agam, bukan Abang." Suara ini berasal dari Akbar. Semua, "...." diam. Agam kikuk. Ternyata bos besar keberatan. "Heheh, saya teh pamit pulang. Ah, Rudi, Campak pulang, yah. Ah, terima kasih sudah bayar ongkos angkot Campak minggu lalu," ujar Cempaka. "Sama-sama," balas Rudi. Cempaka berjalan berdampingan dengan Akbar. "Abang Akbar." "Ya?" sahut Akbar. "Jangan masuk mobil dulu," ujar Cempaka. "Kenapa?" tanya Akbar. "Campak mau buang angin," jawab Cempaka. " … baik," sahut Akbar setelah diam selama dua detik. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN