Anita melemparkan tas tangan ke atas ranjang begitu saja. Lalu dia duduk di sisi ranjang dengan perasaan sangat jelek.
Anita mengusap wajahnya.
"Kenapa bisa begini?" dia seperti ingin menjambak rambutnya sendiri.
"Aku dan Akbar telah tumbuh bersama sejak kecil. Dua puluh empat tahun saling mengenal tapi dia tidak pernah berubah terhadapku. Sifatnya selalu saja dingin. Aku bahkan tidak tahu apa yang membedakan antara aku dan Cempaka itu."
Anita terlihat sangat tidak enak dalam emosinya. Perasaannya campur aduk setelah pulang dari restoran tanpa makan apapun. Ya, Anita yang tadinya janjian makan siang bersama tiga temannya, kini pulang dengan perasaan kesal bercampur kecewa karena dia melihat Akbar dan Cempaka bersama. Jika seperti ini terus, Anita tidak akan tahan.
Anita berbaring telentang di atas ranjang.
"Akbar …."
***
Dua minggu kemudian.
Hari ini adalah tanggal 22 Desember. Hari ini adalah hari presentasi besar yang akan diadakan oleh seluruh kepala cabang dan anak perusahaan ArchiBigJen Enterprise di Bandung, lebih tepatnya mereka akan mengadakan rapat di gedung pusat ArchiBigJen Enterprise di lantai 13.
Anak perusahaan dari ArchiBigJen termasuk banyak. Sebab, ArchiBigJen bukan hanya berpusat pada sektor kontraktor dan pembangunan bangunan, namun juga telah merambah ke produksi senjata legal yang telah disahkan oleh pemerintah Indonesia, perusahaan software, elektronik, otomotif dan bahkan pesawat tempur.
Jadwal rapat dimulai tepat pada jam 08.00 pagi dan harus berakhir pada jam 4 sore dengan jam istirahat siang selama 1 jam, semua peserta rapat harus hadir tiga puluh menit sebelum rapat dimulai. Resiko akan ditanggung bagi yang tidak taat peraturan, jika terlambat tidak akan diizinkan masuk, siapapun itu, setinggi apapun posisinya di ArchiBigJen Enterprise, namun hal ini tidak berlaku bagi pimpinan tertinggi yaitu Akbar.
Mobil mewah yang biasa dipakai Akbar untuk ke perusahaan berhenti di depan pintu.
Dua resepsionis buru-buru merapikan pakaian mereka. Bodyguard dengan sigap membuka pintu lalu menunduk.
"Selamat pagi, Pak Akbar."
Akbar hanya mengangguk sebagai tanpa balasan yang bagi Akbar itu sudah mewakilkan tanda sopan-santunnya. Sebab, Akbar jarang membuka suara.
Jam menunjukan 07.45 pagi. Pimpinan tertinggi perusahaan sudah tiba, jadi semua diharapkan tertib di ruang rapat.
Pimpinan cabang, pimpinan anak perusahaan, direktur pusat, direktur cabang dan semua manager telah siap dengan laporan hasil mereka di tangan.
Pintu ruang rapat terbuka dan Akbar masuk.
Semuanya diam.
General Manager–Luhut berdiri dan memberi salam. "Selamat pagi, Pak Akbar."
"Selamat pagi," balas Akbar. Dia duduk di kursi bos miliknya yaitu di depan.
Sementara Luhut mengambil tempat di kanan sebagai tangan kanan Akbar, karena dalam hirarki perusahaan ArchiBigJen, tidak ada wakil pimpinan. Hanya General Manager posisi tertinggi kedua setelah Akbar. Sedangkan di sebelah kiri ada Linda dan Sandi yang berdiri sambil memegang tablet, pena dan buku note. Meskipun ada kursi yang telah disediakan untuk mereka, namun saat ini bukan saatnya duduk, sebab mereka tahu mekanisme rapat.
"Rapat tahunan untuk akhir tahun perusahaan ArchiBigJen Enterprise yang ke-enam belas pada hari ini pada tanggal dua puluh dua Desember dimulai. Seperti aturan rapat di tahun-tahun sebelumnya, masing-masing pihak dari pimpinan anak perusahaan, pimpinan cabang, direktur pusat, direktur cabang dan semua manajer harap mempresentasikan hasil kerja mereka di tahun ini dan rencana kerja mereka untuk tahun depan. Waktu dan tempat dimulai sekarang. Saya berikan kesempatan untuk anak perusahaan senjata ArchiBigjen yaitu SniperBigJen untuk yang pertama, kepada pimpinan silakan." Luhut memberi waktu dan tempat untuk maju, lalu dia sendiri pergi duduk agak jauh dari Akbar.
Presentasi dimulai.
***
Cempaka mencari nama kontak, dia menelepon lalu beberapa detik kemudian tersambung.
"Assalamualaikum, Campak. Ya Allah, Ema kira kamu teh tidak telepon hari ini." Suara wanita terdengar dari seberang.
"Waalaikumsalam. Ema, kumaha damang, atuh?"
(Apa kabar, Bu?"
"Alhamdulillah, Ema teh baik," jawab Ibu Cempaka–Asih.
"Ema, selamat hari ibu. Campak selalu doakan untuk Ema agar umur panjang terus, Gusti Allah kasih rejeki dan kesehatan. Ema, terima kasih teh telah jadi Ibu yang baik untuk Campak dan Ajat …," ujar suara Cempaka terdengar serak. Dia terharu ketika mengucapkan selamat hari ibu untuk sang ibu.
Tak beda jauh, dari seberang, Asih juga terharu, dia mengusap air mata.
"Campak teh berhasil sekarang karena usaha keringat Abah dan Ema. Campak teh … sangat berterima kasih Gusti Allah kasih Ema sebagai ibu Campak …," ujar Cempaka. Cempaka berhasil membangun bisnis kecil-kecilan dan mengirimkan uang pada orangtuanya dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Asih tersenyum. "Campak, Ema teh juga bersyukur diberikan anak seperti kamu dan Ajat."
"Ini … ini teh kado yang kamu kirim baru saja sampai, Ema dan Abah kira mereka salah alamat … ya Allah … sepeda motor dan sepeda ini teh mahal … kamu teh yang hemat-hemat …." Asih terisak penuh haru. Sang putri tidak pernah melupakan mereka. Setiap minggu selalu mengirim uang dan menelepon menanyakan kabar mereka. Tidak ada lagi nikmat yang pernah didustakan oleh dua orangtua itu. Rumah mereka yang sederhana pun telah diperbaiki oleh Campak secara berangsur-angsur selama dua tahun ini.
Cempaka tersenyum.
"Ema, itu teh cuma sepeda motor dan sepeda murah, hehehe, makanya Campak sanggup beli. Kalau beli yang bermerek mah Campak teh tidak sanggup, hahaha."
"Ya Allah, beli bekas juga Abah dan Ema terima, Nak." Asih terisak haru, Cempaka juga ikut terisak haru.
"Ah, Campak teh jadi pengen pulang ketemu Abah dan Ema. Campak teh kangeen," ujar Cempaka.
"Ya, kemari, Nak. Abah dan Ema teh memang lebih mengharapkan kamu yang datang daripada barang atau uang. Kamu teh pulang ke kampung cuma dua tiga kali saja setahun," balas Asih.
"Iya, Ema. Campak teh pulang. Besok hari terakhir Campak masak, nanti sorenya, Campak pulang," ujar Cempaka.
"Baik. Abah dan Ema tunggu, jangan pulang malam," balas Asih.
"Baik, Ema. Abah di mana? lagi ke sawah?" tanya Cempaka.
"Ada, baru pulang. Ini, sedang meluk sepeda motor yang kamu beli. Emang Yadi teh lari ke sawah dan kasih tahu Abah kamu kalau di rumah kita ada kiriman sepeda motor dan sepeda. Langsung Abah kamu pulang dengan kaki masih basah lumpur. Hahaha!" jawab Asih, diakhir kalimat dia tertawa geli.
"Ini teh bulan Desember. Musim hujan, ada sepatu bot yang Campak beli. Bilang Abah, harus dipakai. Dan pakai juga jas hujan. Nanti Abah teh kehujanan, kalah hujan jangan ke sawah, bahaya atuh," ujar Cempaka.
"Sudah, sudah. Abah kamu teh sudah pakai, tapi buru-buru mau pulang, lari dan sepatu botnya tertanam di lumpur," balas Asih.
"Hahaha." Cempaka dan ibunya tertawa. Panggilan Cempaka ke keluarganya menjadi ceria. Dia berbicara dengan Ibu, Ayah dan adik lelakinya.
***
Jam dua belas tepat. Waktu istirahat untuk semua peserta rapat.
Akbar melihat notifikasi pesan yang masuk.
Dia terlambat melihat pesan karena dia serius memperhatikan hasil presentasi selama setahun kerja semua perusahaan di bawah naungan ArchiBigJen Enterprise.
'Kepiting Soka sepuluh porsi harga tiga juta rupiah, alamat. Lantai sebelas gedung ArchiBigJen Enterprise, atas nama penerima Agam Fadli Siregar, jam 12 siang, saya tunggu yah Campak.' Diikuti oleh emoji mata biji love.
Pesan ini diterima sudah satu setengah jam yang lalu. Mata Akbar melirik ke segala arah, dan benar saja, Agam telah menghilang dari kursi rapat. Ah, dia adalah orang pertama yang langsung berlari membuka sendiri pintu rapat ketika jam digital di ruang rapat menunjukan pukul 12 siang tepat tiada kurang satu detik pun. Bahkan di detik-detik terakhir dari 11.59, Agam telah siap mengambil ancang-ancang lari.
Akbar, "...." wajahnya terlihat tidak senang.
Linda, Sandi dan Luhut, "...." pelan-pelan mundur menjaga jarak dari Akbar.
***
Lantai 11.
Cempaka telah duduk di kursi meja tiga sambil melirik tiada henti ke arah lift. Pasca dia dimarahi oleh Anita, pemilik kantin telah kenal siapa Cempaka, namun, dia tidak berani menggertak Cempaka karena menurut penglihatannya waktu itu, Cempaka dan Akbar makan bersama. Cempaka masuk kantin saja, dia dipersilakan duduk.
Pintu lift terbuka.
Agam buru-buru lari keluar dari lift only Director ke arah Cempaka.
"Ah, Campak, maaf yah aku terlambat. Kamu sudah lama tunggu, yah?" tanya Agam sopan dan lembut. Dia juga tersenyum ramah ke arah Cempaka.
Cempaka membalas senyum Agam, dia menggelengkan kepalanya dan menjawab, "Tidak. Pak Agam teh tidak telat. Saya saja yang duluan datang. Hehehe."
"Oh begitu. Aku pikir aku telat." Agam duduk berhadapan dengan Cempaka.
"Kamu sudah berapa lama menungguku?" tanya Agam, dia merogoh dompet lalu mengeluarkan semua isi uang kertas yang dia punya dari dalam dompet.
"Ah, belum lama, Pak. Saya baru tunggu dari setengah jam yang lalu," jawab Cempaka sambil menerima uang dari Agam.
"Waduh. Sudah lama." Agam terlihat sangat menyesal telah membuat Cempaka menunggu lama.
"Ini, ambil saja, apa masih kurang?" tanya Agam.
Cempaka menghitung lembar uang, "Sebentar, Pak Agam, saya teh hitung dulu."
"Ok," sahut Agam.
Jika jumlah uangnya kurang maka dia harus cepat-cepat menarik uang lagi.
"Dua puluh lima, dua puluh enam, dua puluh tujuh, dua puluh delapan, dua puluh … sembilan." Setelah dua puluh sembilan, suara hitungan yang ke tiga puluh lembar dari uang merah bernol lima tidak terdengar lagi.
"Waduh! kurang seratus ribu!" Agam melotot takut.
Ah, seharusnya dia mengambil banyak uang cash tadi sebelum datang ke perusahaan. Sekarang Agam benar-benar menyesal.
Cempaka tersenyum. "Tidak apa-apa Pak Agam. Anggap saja diskon seratus ribu untuk hari ibu hari ini."
"Ya Allah, Campak. Kamu memang sangat baik." Agam secara spontan meraih dua tangan Cempaka yang sedang memegang uang.
"Kepala staf khusus Arsitek dan Perancang, kembali kerjakan ulang laporan presentasi Anda dalam satu tahun ini, hari ini adalah batas diterima."
Sunyi.
Tiba-tiba ruang kantin sunyi.
Linda, Sandi dan Luhut yang keluar dari lift Only Director itu menjadi kaku.
Di depan mereka ternyata bos besar ArchiBigJen telah berdiri lalu melihat datar ke arah Agam yang sedang memegang dua tangan Nona pemilik restoran Amis Amis Asup.
Agam melirik ke arah kiri.
Akbar.
Mampus.
Batin Agam terguncang. Dia dengan cepat melepaskan tangan Cempaka.
"Sekarang." Suara Akbar terdengar.
Agam, "...." dia ingin menangis.
Akbar berjalan dengan wajah tidak bersahabat ke arah Cempaka.
Agam yang melihat wajah Akbar, dia tahu betul, Akbar marah.
Kenapa sampai Akbar bisa ada di kantin?
Dia telah memakai nomor dan ponsel baru yang telah dibeli untuk menghubungi Amis Amis Asup. Seharusnya Akbar tidak tahu.
Akbar berhenti di samping kanan Cempaka. Sementara itu Agam mulai berjalan untuk melakukan apa yang disuruh oleh Akbar.
"Uangnya," ujar Akbar, dia meletakkan uang dari tangan Cempaka ke atas meja.
Agam berhenti berjalan. Wajahnya terlihat masam ketika melihat Linda, Sandi dan Luhut.
***