"Em … hehe, Abang Akbar teh ada di sini …," ujar Cempaka kikuk. Matanya melihat ke arah lembaran uang merah yang telah diambil kembali oleh Agam dengan wajah masam.
Akbar duduk di tempat yang tadi Agam duduk. Akbar bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Dia melihat ke arah Cempaka menggaruk-garuk kepalanya dengan penuh pertanyaan.
Sudah sebulan ini dia dan Akbar selalu bertemu tiada absen. Cempaka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ada suatu firasat yang dirasakan oleh Cempaka, namun dia tidak berani menebak firasat itu. Tapi, semakin dia bertingkah tidak ada apa-apa, semakin Cempaka merasa tidak nyaman jika secepatnya dia tidak mengkonfirmasi hal ini. Dia takut akan adanya salah paham.
Biarpun Cempaka selama hidupnya 24 tahun tidak pernah merasakan yang namanya pacaran karena kondisi perutnya yang selalu buang angin sembarangan, namun, Cempaka tidak buta dalam hal kedekatan antara dua orang berbeda jenis kelamin. Jadi, dia hanya bisa terlihat kikuk di depan Akbar. Dia ingin bertanya namun sungkan.
Melihat bahwa Cempaka merasa tidak begitu nyaman, Akbar berkata, "Saya yang akan membeli ini."
"Em … itu … tapi … itu teh Pak Agam-"
"Dia harus menyelesaikan pekerjaannya," potong Akbar terhadap ucapan Cempaka yang terdengar kikuk.
Cempaka terdiam. Dia melihat wajah Akbar baik-baik, Cempaka tidak terlalu bodoh meskipun dia hanya lulusan SMK jurusan Tata Boga. Dia dapat melihat bahwa orang-orang di sini sangat menghormati Akbar. Semua, tidak terkecuali. Akbar dapat menyuruh dan memerintah manager restoran, Akbar dapat memerintah Agam, bahkan Akbar adalah bos dari Ibu Anita yang waktu itu dia tahu dari salah satu orang yang dia tanya, Direktur keuangan.
Akbar melihat rantang.
"Saya ingin makan kepiting Soka."
"Eh … ya ya, boleh boleh!" Cempaka buru-buru membuka rantang dan menyiapkan semua peralatan makan.
Kepiting Soka terlihat di atas meja. Ukurannya tidak terlalu besar, malah agak kecil, namun berjumlah 10 ekor dan untuk sepuluh porsi jika menurut hitungan Cempaka karena ada nasi dan sup gambas atau oyong yang baru saja dia panen tadi pagi.
Akbar mengambil tiga ekor kepiting soka lalu meletakkan kepiting itu di atas piring karton dan mendekatkannya ke arah Cempaka.
"Campak teh nanti saja baru makan, ini teh makanan untuk pelanggan," ujar Cempaka.
"Terlalu banyak," balas Akbar yang membuat Cempaka terdiam.
Dengan kikuk dia menerima makanan itu, namun setelah Cempaka melihat ke arah Linda, Sandi dan Luhut, Cempaka tersenyum bersemangat.
"Ibu Shinta Aulia, Pak Sandi dan Pak Luhut, ayo mari makan bersama, ini teh untuk sepuluh porsi." Panggil Cempaka.
Sandi dengan senyum senang hendak menerima ajakan itu.
"Mereka telah memesan makanan mereka sendiri."
Suara Akbar meruntuhkan semangat sekretaris Sandi.
Luhut melirik ke arah Linda.
"Shinta Aulia?"
Linda terlihat salah tingkah dia berkata, "Ah itu … itu terjadi miskomunikasi dengan Nona Campak, Pak Luhut."
Luhut hanya mengangguk mengerti. Dia duduk di meja nomor dua, tepatnya di sebelah meja yang ada Akbar dan Cempaka.
Cempaka yang mendengar suara Akbar hanya mengangguk mengerti.
Sedangkan Luhut sudah mempelajari apa yang dia lihat selama kurang lebih dua minggu ini. Yaitu, menempelnya Akbar pada Cempaka, bukan menempelkan Cempaka pada Akbar.
Dia sudah tahu, adik sepupunya tidak senang dengan keberadaan mereka di meja yang sama dengan dia dan Cempaka. Jadi, tidak perlu mengganggu kesenangan Akbar.
Cempaka mulai makan kepiting Soka.
Tak berapa lama, dua pintu lift Only Director, dua pintu Only Manager, satu pintu lift Only staf khusus terbuka.
Anita yang berada di salah satu lift only director itu berjalan keluar lift. Langkah kakinya membeku ketika dia melihat lagi-lagi Cempaka dan Akbar makan bersama.
Suasana hati Anita tiba-tiba turun. Namun, dia merasa bahwa sudah tidak tahan lagi melihat Akbar dan Cempaka terus bersama selama kurang lebih tiga minggu yang dia tahu. Ya, tiga minggu, setidaknya tiga minggu itu adalah hari pertama Anita melihat Akbar dan Cempaka di restoran Archi's Taste dan Cempaka masuk rumah sakit.
Anita berjalan ke arah meja nomor tiga.
Dia mengambil tempat di sisi kanan Akbar.
Akbar yang sedang mengunyah kepiting Soka menjadi terhenti. Dia tidak melirik ke arah Anita, sebab sudah dia tahu siapa yang duduk di sampingnya.
Luhut yang duduk di meja nomor dua menutup mata dengan telapak tangan kiri, sedangkan Binsar yang tadi naik lift bersama Anita hanya bisa menggelengkan kepala tanda bahwa 'Anita terlalu ceroboh '.
"Saya ingin merasakan bagaimana enaknya makanan dari restoran unik yang bernama Amis-Amis Asup itu," ujar Anita.
Cempaka yang sedang memasukkan sendok nasi ke dalam mulut hanya mengangguk setuju. Toh masih ada sisa empat kepiting Soka.
"Jadi, keunikan restoran ini bahwa pemilik akan menjadi kasir, kurir dan juga pelayan, kan?" tanya Anita.
Cempaka mengangguk, dia mengunyah tiga kali saja lalu menelan. "Ya, benar, Bu Anita."
Anita melihat Cempaka dan berkata,"Jadi, Nona Cempaka, saya ingin melihat bagaimana Anda menjadi pelayan bagi pelanggan Anda." Setelah mengatakan ini, Anita tersenyum tipis.
"Baik, Bu baik. Tidak masalah itu." Cempaka buru-buru hendak mengambil nasi dan kepiting namun suara terdengar.
"Yang menjadi pelanggan Nona Cempaka hari ini adalah saya," ujar Akbar.
Cempaka jadi kikuk, dia yang tadinya hendak mengambil nasi menjadi diam, sedangkan rahang Anita terlihat mengeras.
"Haha, jadi apakah saya sebagai teman dekat Anda tidak bisa ikut merasakan sedikit rasa makanan ini?" tanya Anita.
"Di kantor tidak ada keluarga ataupun teman dekat. Hanya atasan dan bawahan," ujar Akbar.
Anita ingin sekali berteriak frustrasi, Akbar tidak memandang wajahnya sama sekali. Seakan harga dirinya hilang di depan semua orang. Seakan harga diri Cempaka lebih tinggi darinya.
Akbar melihat ke arah Cempaka, "Habiskan lalu pulang."
Cempaka mengangguk kuat.
Dia sudah menduga, bahwa Akbar ini pasti adalah bos. Tapi dia tidak tahu, Akbar ini jenis bos apa. Bos kedua kah? Ataukah bos ketiga?
Cempaka makan makanan dengan kecepatan kilat, namun suara terdengar.
"Perlahan."
Kunyahan Cempaka yang dapat didengar oleh semua orang itu kini terdengar kecil.
Di bawah meja, Anita hanya dapat mengeraskan dua kepalan tangan.
Binsar dan Luhut hanya memandang penuh iba pada Anita. Mereka tak bisa berbuat apa-apa.
***
Cempaka keluar pintu perusahaan, namun bukan hanya dia seorang. Jika tadi dia datang hanya seorang diri, sekarang pulang dengan ekor di belakang.
Ekornya adalah Akbar.
Pintu mobil telah terbuka lebar oleh bodyguard, namun Cempaka cepat-cepat berbalik ke arah Akbar.
"Abang Akbar, Campak teh pulang yah, dadah!" Cempaka hendak lari.
"Masuk mobil!" pintar Akbar.
Cempaka, "...." pura-pura tidak dengar, dia berjalan cepat ke arah pintu gerbang.
Namun, setelah sampai di pintu gerbang, dia tercengang. Pintu gerbang terkunci. Dan ini bukan hanya palang jalan saja, namun gerbang. Gerbang canggih setinggi tiga meter terkunci rapat. Cempaka melihat ke arah satpam, namun tidak ada satpam.
Ya, jelas saja satpam tidak ada, karena tiga orang satpam tunduk di bawah meja agar wajah mereka tidak terlihat oleh Cempaka.
Apa boleh buat? mereka hanya bawahan kecil.
Mobil mewah hitam berhenti di samping Cempaka, kaca mobil terbuka, Akbar melihat ke arah Cempaka.
"Ayo pulang."
Cempaka melirik ke arah Akbar. Dia tidak punya pilihan, jika ingin keluar dari sini, maka dia harus masuk ke dalam mobil.
Cempaka bersyukur bahwa selama satu bulan dia diantar oleh Akbar terus ke rumah, Akbar hanya pendiam.
Cempaka naik mobil.
Setelah mobil keluar gerbang dan menjauh sekitar seratus meter, Cempaka bersuara. "Pak Supir, saya teh turun di depan saja, yah."
Namun, Pak Sopir melihat ke arah Akbar melalui kaca spion.
"Ke restoran Amis Amis Asup." Suara Akbar terdengar.
Cempaka, "...."
Dia duduk diam. Cempaka mulai duduk mengambil jarak dari Akbar, dia sorong hingga pantatnya berdempetan dengan pintu mobil.
Akbar hanya diam. Namun, keningnya berkerut. Ada sesuatu yang membuat Cempaka tidak biasa terhadapnya. Apakah itu karena Agam?
Agam?
Mata Akbar terlihat lain.
Beberapa saat kemudian mobil berhenti di depan restoran Amis Amis Asup.
"Turun," ujar Akbar datar.
Cempaka hendak membuka pintu, namun macet.
"Eh? tidak bisa dibuka. Abang Akbar pintunya teh ma … cet …." Cempaka terlihat linglung ketika yang turun adalah Pak supir.
Lalu satu detik kemudian kaca mobil yang tadinya tembus pandang kini gelap.
"Ah?! ini teh kenapa jadi gelap?!" Cempaka panik. Dia berusaha untuk membuka pintu, namun gagal.
"Lihat saya," pintar Akbar.
Cempaka yang panik menjadi diam.
Dia melirik ke arah kanan. Rupanya Akbar telah melihat dengan tatapan intens ke arahnya. Hal ini membuat jantung Cempaka hampir lompat karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Akbar.
"Campak."
Panggil Akbar.
Cempaka terdiam, dia tidak ingin menyahut, namun mulutnya mengkhianati pikirannya.
"Ya …?"
"Sudah tiga puluh hari kami saling mengenal, tentunya kamu ingin bertanya sesuatu padaku, kenapa kita selalu bertemu selama satu bulan ini, benar?" ujar Akbar.
Cempaka mengangguk perlahan, namun nyalinya merasa takut.
"Tanyakan apapun, saya akan menjawab," ucap Akbar.
Cempaka ragu-ragu, namun dia lebih penasaran. Jadi dia mulai memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Itu … kenapa selama sebulan … kita teh bertemu terus?" tanya Cempaka.
"Itu mau saya," jawab Akbar.
"Itu … kenapa Abang Akbar teh ingin bertemu dengan Campak terus?" tanya Cempaka lagi.
"Karena saya suka bertemu kamu," jawab Akbar serius.
Cempaka hampir tersedak air liur.
"Ehm … e … mm …." Cempaka bingung harus bertanya apa lagi karena jawaban terakhir Akbar yang membuat semua daftar pertanyaannya kabur.
Cukup lama Cempaka terdiam.
Tebakan Cempaka tidak salah selama satu minggu ini.
Akbar suka bertemu dengan dia. Namun, apakah Akbar juga suka dia dan bukan suka bertemu dengan dia?
Mengingat ingatan setiap hari, Cempaka melihat ke arah Akbar. Dia berkata, "Campak teh tidak ada yang ingin ditanyakan lagi."
Ya, lebih baik jangan dia tanyakan lagi. Jika tidak, Cempaka sendiri yang yang akan malu.
Cempaka terdiam lagi.
"Nama saya adalah Chairal Akbar Tanjung, saat ini berusia tiga puluh empat tahun, saya bekerja di gedung pusat ArchiBigJen Enterprise. Awal karir saya adalah sebagai Arsitek muda pada umur lima belas tahun dan saya yatim piatu sejak umur delapan tahun." Suara Akbar terdengar.
Cempaka melihat penuh keseriusan ke arah Akbar.
"Abang Akbar … maaf … Campak teh tidak bermaksud untuk …." Cempaka merasa agak malu karena Akbar tiba-tiba mengucapkan bahwa dia yatim piatu sejak dini.
"Tidak apa-apa," ujar Akbar.
Beberapa detik sunyi.
Suara Akbar terdengar lagi.
"Saya tidak tahu cara berhubungan dengan wanita seperti apa, namun saya ingin kamu dan saya bersama."
Cempaka menjatuhkan rahang bawahnya.
Beberapa detik sunyi, lalu suara Cempaka terdengar.
"Apa tingkatan posisi Abang Akbar di perusahaan?"
"Pimpinan," jawab Akbar singkat.
"Pimpinan keberapa? kedua? ketiga?"
"Pertama." Akbar menjawab sangat singkat.
Tiga detik kemudian.
" …. bos …?" tanya Cempaka ragu-ragu.
"Ya," sahut Akbar.
"Itu … gedung itu …." Suara Cempaka agak ragu.
"Milik saya," ujar Akbar.
"Restoran juga …?" tanya Cempaka.
"Ya," jawab Akbar.
Cempaka cepat-cepat berpaling dari Akbar, dia berusaha membuka pintu mobil lagi. Dia ingin segera cepat keluar dari dalam mobil. Namun, Akbar meraih tangan kanannya.
"Ada apa?" tanya Akbar
"Mau keluar," jawab Cempaka.
"Lihat aku," pinta Akbar.
"Campak teh mau keluar!" ujar Cempaka.
"Campak," panggil Akbar.
Cempaka terdiam, dia membalikkan badan dari Akbar.
"Ada apa?" tanya Akbar.
Cempaka menjawab, "Saya tidak ingin jadi simpanan bos-bos."
Akbar, "??!"
Akbar menarik Cempaka mendekat ke arahnya, bahkan badan Cempaka duduk di pangkuan Akbar.
"Ah! Abang Akbar teh mau apa?! Campak teh mau keluar! mau keluar! Campak tidak mau jadi simpanan bos-bos!" teriak Cempaka, betapa paniknya dia duduk di atas pangkuan Akbar.
"Tidak ada simpanan siapapun!" bantah Akbar.
Cempaka terdiam.
Matanya dan mata Akbar saling beradu.
Dekat sekali, wajah mereka sangat sangat. Bahkan Cempaka bisa mencium bau mulut Akbar yang terasa seperti mint bercampur kepiting Soka.
Mata Akbar terlihat serius.
"Campak, kamu tidak akan menjadi simpanan saya. Kamu hanya akan menjadi orang nomor satu saya, bukan sebagai simpanan, tetapi sebagai kekasih."
Cempaka tergagap, "Kekasih …? apa itu … pacar …?"
"Ya," jawab Akbar.
Lima detik sunyi.
"Apakah kamu mau?" tanya Akbar.
Wajah Cempaka berubah serius. Tidak pernah ada yang menembaknya atau mengajaknya berpacaran sebelumnya. Sebab, mereka jijik padanya yang suka kentut sembarangan. Namun, hari ini ada yang menyatakan suka padanya dan ingin dirinya menjadi kekasih.
Chairal Akbar Tanjung.
Akbar ….
Atau yang telah dia biasa panggil dengan sebutan Abang Akbar.
Menyukai dirinya dan tidak jijik padanya.
"Campak teh jorok, Abang Akbar …Campak suka kentut sembarangan …." Cempaka menunduk.
Akbar tersenyum tipis.
"Saya lebih suka bau kentut kamu."
Cempaka, "!!!" what?! dunia mau kiamat.
"Jadi, maukah kamu kentut hanya untuk saya?" tanya Akbar.
Wajah Cempaka memerah.
Dia hendak mengangguk untuk menjawab perasaan Akbar, namun ada yang lebih dulu menjawab.
Puuussshyeeesssss!
Akbar dan Cempaka, "...."
Sunyi.
Wajah Cempaka memerah tersipu malu.
Akbar tersenyum.
"Ya, saya sudah dengar jawabannya."
Akbar mengusap rambut Cempaka.
"Jawabannya adalah 'yes'," sambung Akbar.
"Tuh kan … Campak teh kentut lagi …." Cempaka terlihat malu.
"Di atas Abang Akbar …," sambung Cempaka.
"Pffthhahahahahaha!" Akbar terbahak lalu dia memeluk sayang Cempaka.
Pernyataan cinta Akbar dibalas setuju oleh desisan kentut Cempaka.
Apakah hubungan mereka sah dan resmi?
Hanya mereka yang tahu.
Cinta tidak pernah bisa ditebak.
***