Pak Supir yang sedang berdiri berjaga di samping mobil sang bos, menjadi agak kikuk.
Sebab banyak orang berlalu-lalang dan melihat penuh penasaran ke arah mobil mewah sang bos.
Setidaknya Pak Supir bisa menarik napas lega karena mobil itu tidak 'goyang' meskipun sang bos dan Nona Cempaka masih ada di dalam.
Sedangkan di dalam mobil, wajah Cempaka masih terlihat memerah.
"Em … Abang Akbar."
"Ya?" sahut Akbar yang sedang menyandar di ceruk leher Cempaka.
Mereka telah jadian. Dan sudah resmi menjadi pasangan kekasih. Jadi, Akbar merasa lega untuk memeluk Cempaka.
Wajah Cempaka terlihat tidak nyaman sekaligus masih memerah tersipu malu, "Campak teh merasa tidak nyaman duduk begini, rasa lain."
Cempaka sangat jujur, memang dia tidak nyaman duduk di atas pangkuan Akbar, ini adalah pertama kalinya dia duduk di pangkuan seorang pria dewasa.
Akbar tersadar bahwa sang kekasih baru ini masih canggung dan belum terbiasa dengan kontak fisik mereka, dia pun sama, belum terbiasa kontak fisik, namun dia cukup senang bisa memeluk Cempaka hari ini untuk yang pertama kali.
Akbar melepaskan pelukan, lalu Cempaka buru-buru turun dari pangkuan Akbar dan duduk di kursi mobil.
"Em … Campak teh … masuk restoran, yah?" mata Cempaka tidak berani memandang ke arah Akbar.
Dia baru pertama kali ini merasakan bagaimana rasanya pacaran dan ditembak oleh seorang pria, rasanya seperti ada petasan nano-nano yang meledak di dalam dadanya. Cempaka meremas-remas jemarinya sambil melirik ke arah luar kaca mobil yang masih gelap.
"Ini … ini teh … kaca jendela mobilnya teh masih gelap, Campak rasa tidak enak," ujar Cempaka.
Akbar tersenyum, dia mengusap rambut Cempaka, tak berapa lama, kaca tembus pandang kembali terlihat. Sungguh sangat canggih mobil ini.
"Ayo masuk ke restoran," ujar Akbar.
Dua pipi Cempaka yang putih chubby itu memerah, dia mengangguk lalu cepat-cepat membuka pintu mobil dan berlari keluar ke arah pintu restoran.
Akbar tersenyum geli, setelah melihat Cempaka kembali menutup pintu restoran dengan gerakan buru-buru, tanpa Cempaka sadari bahwa rantang yang dia bawa masih ada di dalam mobil Akbar. Karena pelanggannya adalah Akbar, Akbar tidak menuntut untuk mengambil rantang itu.
Setelah Cempaka mengunci pintu restoran, dia menutup wajahnya dan meremas-remas pipinya.
"Ya Gusti, Campak teh tidak percaya ini, uuuhh! Campak teh tidak percaya, Campak punya pacar!"
Cempaka mengipasi wajahnya, bicara soal tindakannya mengipasi wajahnya, Cempaka baru sadar satu hal.
Mata Cempaka melotot.
"Ya Gusti Allah! Campak teh lupa uang makanan!"
Tok tok tok!
"Oh?!" Cempaka terkaget.
Ada yang mengetuk pintu restorannya, Cempaka membuka pintu, dia melihat Akbar menyodorkan amplop coklat ke arah Cempaka.
"Tidak ingin mengambil harga makanannya?" tanya Akbar.
Blush.
Wajah Cempaka memerah, dia hendak mengambil amplop itu namun seseorang lebih dulu menerjang amplopnya.
"Wah! Akbar, ayo masuk!" Marsudi buru-buru menarik amplop itu, namun sayang, refleks Akbar lebih cepat, amplop itu ditarik kembali oleh Akbar dan menjauh dari tangan Marsudi.
Marsudi terlihat kikuk, namun dia tertawa sumbang.
"Hahaha, saya sudah lihat dari dalam rumah, mobil yang parkir di depan restoran Campak pasti mobil Akbar."
Akbar tidak menanggapi ucapan Marsudi, sebab dia tidak akrab dan tidak begitu kenal serta tidak terlalu peduli pada Marsudi.
Akbar memasukkan amplop ke dalam tangan Cempaka lalu dia sendiri yang menarik pintu agar tertutup dan berkata, "Masuk dan istirahat."
Cempaka buru-buru mengangguk lalu dia mengunci pintu. Setelah itu Cempaka memeluk amplop.
"Hampir saja uangnya teh diambil Emang. Untung Abang Akbar teh jago menghindar." Cempaka me-lap keringat, setelah itu dia berjalan naik tangga.
Sementara di luar, Akbar hanya melirik Marsudi dan berkata, "Saya permisi."
Akbar masuk ke dalam mobil dan mobil itu berjalan meninggalkan Marsudi sendiri.
Kening Marsudi terangkat, dia melirik ke arah pintu restoran, tidak apa-apa dia tidak dapat meraih amplop itu, yang penting setidaknya dia tahu bahwa sang keponakan perempuan dekat dengan 'pria kaya' yang baru saja pergi dengan mobil.
"Aku harus tahu, sedekat apa mereka." Tekad Marsudi.
Marsudi saja yang tidak tahu bahwa hari ini sang keponakan perempuan dan 'pria kaya' itu telah resmi menjadi sepasang kekasih.
Di atas ranjang, Cempaka menghitung jumlah uang.
"Dua puluh sembilan, tiga puluh. Pas tiga juta. Huuh, Abang Akbar teh baik." Cempaka tersenyum.
Menyebut nama 'Abang Akbar', membuat wajah Cempaka kembali memerah. Cempaka bahkan membenamkan seluruh wajahnya ke atas bantal tidur.
"Uuuumm! pacar, pacar! Campak teh sekarang punya pacar!" Cempaka menjerit di atas bantal.
Tiba-tiba Cempaka tersadar, dia mengangkat wajahnya dari atas bantal.
"Lah? bukankah kalau pacaran teh harus saling simpan nomor telepon? Campak teh tidak ada simpan nomor telepon Abang Akbar!"
Cempaka menjerit-jerit bahagia, menyesal bercampur linglung.
"Um? Jadi tugas pacar teh harus apa?" Cempaka bertanya pada dirinya sendiri.
"Aahh!" Cempaka tersipu malu lalu menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Sedangkan di gedung utama ArchiBigJen Enterprise, rapat besar perusahaan kembali dilanjutkan, kali ini adalah presentasi rencana dari masing-masing pimpinan perusahaan cabang dan anak perusahaan yang lainnya.
Di dalam ruang rapat, hanya ada dua peserta rapat yang berwajah berbeda dari peserta rapat yang lain.
Yang pertama adalah Agam. Wajah Agam terlihat masam.
"Apa yang salah? semua laporan yang aku buat adalah benar. Ck! Akbar ini benar-benar sadis." Agam mendesah.
Dia tahu bahwa Akbar menyuruhnya untuk membuat ulang laporan tahunan miliknya itu hanya untuk alasan agar dia tidak dapat makan kepiting Soka hari ini. Diam-diam Agam mencibir.
Sedangkan wajah yang kedua adalah Anita.
Wajah Anita memerah bagaikan udang bakar. Bukan memerah karena tersipu, namun memerah karena kesal bercampur malu.
Akbar telah mengabaikan dia di depan banyak orang dan mementingkan 'orang lain' daripada dia yang adalah 'teman masa kecil' dari Akbar.
Ya, setidaknya itu adalah pemikiran Anita untuk dirinya.
Namun, Anita tidak tahu bahwa orang yang dia sebut 'orang lain' itu telah menjadi kekasih dari teman masa kecilnya.
Wajah Akbar tidak peduli dengan dua orang itu. Dia hanya fokus mendengar presentasi peserta rapat dan memberi tanda bagian mana yang kurang.
Setelah jam empat sore, rapat tahunan ke-16 dari ArchiBigJen Enterprise selesai dan tutup seperti jadwal yang telah disusun oleh Sekretaris Linda dan Sekretaris Sandi atas penetapan dari Akbar selaku pimpinan tertinggi perusahaan.
Akbar melihat serius ke arah peserta rapat dan berkata, "Sekretaris Linda yang akan menyampaikan beberapa hal yang telah saya beritahu padanya."
Semua orang mengangguk mengerti.
Linda mulai membuka suara.
"Seperti jadwal libur tahunan dan hari besar yang telah ditetapkan oleh pemerintah, perusahaan akan libur mulai dari tanggal dua puluh empat Desember hingga dua puluh enam Desember, namun melihat kinerja baik dari masing-masing pimpinan dan seluruh staf, maka libur perusahaan dimulai besok, jika ada yang ingin masuk dan membereskan pekerjaan, tidak masalah. Kita akan kembali bekerja selama tiga hari namun bagi yang merasa bahwa pekerjaan mereka masih ada yaitu dari tanggal dua puluh delapan hingga tiga puluh Desember dan libur lalu mulai kembali bekerja pada tanggal tiga Januari. Tuan dan Nyonya, selamat merayakan hari besar dan liburan keluarga Anda, terima kasih telah hadir dalam rapat besar ke-enam belas dari ArchiBigJen Enterprise. Selamat sore."
Semua orang membalas.
"Selamat sore."
Semua peserta rapat tidak berani keluar dari ruang rapat sebelum Akbar lebih dulu keluar.
Akbar berjalan penuh wibawa keluar dari ruang rapat. Anita yang duduk di barisan kursi Director itu terlihat memerah. Dia masih kesal hari ini.
Luhut berkata pada semua peserta rapat.
"Silakan keluar lebih dulu, saya masih ada perlu di sini."
"Baik, Pak Luhut," sahut peserta rapat.
Peserta rapat keluar ruang rapat dengan tertib sambil tersenyum senang. Liburan panjang. Sepuluh hari, ya, liburan panjang selama sepuluh hari. Ada yang sudah menelepon anak dan istri mereka untuk menyiapkan diri agar mereka pergi berlibur, dan ada yang sudah memberitahukan keluarga mereka untuk merayakan natal bersama orangtua dan keluarga besar mereka.
Luhut berjalan mendekat ke arah Anita.
"Ada apa denganmu? kamu tahu bahwa sifat Akbar seperti itu, namun kamu berusaha untuk membuatnya bertambah mengabaikan kamu?"
Agam dan Binsar melirik ke arah Anita.
Agam tidak tahu mengenai hal yang terjadi di kantin, antara Akbar yang sama sekali tidak memandang Anita di kantin.
Anita menutup semua berkas dan laptop. Dia tidak dalam suasana hati baik untuk membalas ucapan General Manager.
"Anita, kami bukan orang lain lagi di matamu, kami ini telah saling kenal sejak kecil," ujar Luhut.
"Tapi aku adalah orang lain di mata Akbar," balas Anita.
Agam menoel lengan Binsar, namun Binsar memberi isyarat dengan jari telunjuk di depan bibir yang artinya diam.
"Kamu kan tahu sendiri, Akbar tidak sama seperti aku, Binsar dan Agam," ujar Luhut.
Anita mendongak ke arah Luhut, matanya terlihat agak marah.
"Akbar punya sifat yang berbeda," lanjut Luhut.
"Haha, punya sifat yang berbeda? di sini aku yang lebih dulu mengenal Akbar dibandingkan dengan penjual makanan jalanan itu," balas Anita.
"Anita," tegur Luhut.
"Ada apa? Akbar akan dengar percakapan kita? silakan. Tapi memang ini kenyataannya. Aku lebih dulu mengenal Akbar, bukan gadis yang bernama Cempaka Jayanti itu," ujar Anita sudah kepalang marah.
Anita berdiri lalu mengambil barang-barangnya dan keluar dari ruang rapat meninggalkan tiga orang lelaki yang merupakan teman masa kecil.
"Apa aku ketinggalan sesuatu?" tanya Agam.
Luhut melirik ke arah Agam dan berkata, "Aku yakin, bukan hanya perangkat telepon dan laptopku saja yang tidak bisa mengakses informasi dan berkomunikasi dengan gadis yang bersama dengan Akbar sekarang, tapi kalian juga, benar?"
"Em, kamu juga?" tanya Binsar.
Luhut mengangguk.
Agam sekarang tahu, bukan hanya dia saja yang diblok dari akses restoran Amis Amis Asup dan nama Cempaka Jayanti, namun dua orang temannya juga.
Luhut dan Binsar melihat ke arah Agam.
"Jadi, bagaimana kamu bisa memesan makanan di restoran Amis Amis Asup hari ini?" tanya Binsar.
"Aku memakai ponsel dan nomor kartu baru," jawab Agam.
Luhut dan Binsar diam untuk sesaat.
Luhut duduk di kursi, dia melihat bergantian ke arah Binsar dan Agam.
"Dua minggu yang lalu Anita juga memesan makanan di restoran Amis Amis Asup. Dan hal itu terjadi, Campak dimarahi oleh Anita dan Akbar berada di kantin pada saat itu," ujar Luhut.
"Lalu hari-hari berikutnya kita sering melihat Akbar membawa Cempaka di Archi's Taste. Dan hari ini hal yang sama terjadi padamu. Kamu memesan makanan di restoran Amis Amis Asup dan Akbar tahu itu …," ujar Luhut berhenti.
Mereka bertiga saling melirik.
"Akbar menghack semua perangkat sosial dan ponsel Campak!" ujar mereka bertiga.
"Ah! ya ampun!" Agam menutup mulutnya syok.
"Jika betul, maka … ke manapun Campak pergi membawa pesanan makanan, Akbar akan tahu!" Agam menjambak rambutnya hingga rontok.
Binsar melirik wajah Agam. "Kenapa wajahmu seperti itu? syok? mungkin tebakanku benar, Akbar … tertarik dengan Campak."
"Aaah! tidak! ya ampun!" Agam berteriak histeris.
"Ada apa? jangan bilang kamu berusaha mendekati Campak?" tanya Binsar.
Agam menggenggam dua tangan Luhut lalu berkata, "Bang Luhut, tolong aku. Aku mengirim stiker emoji mata love ketika chat dengan Campak!"
Luhut dan Binsar, "...."
Aiih, pantas saja pekerjaan Agam hari ini double.
Luhut menarik kembali tangannya. "Stiker mata love itu adalah sumber bencanamu."
Ponsel bergetar.
Itu adalah ponsel dari mereka bertiga.
Luhut dan Binsar melihat isi pesan.
'Kosongkan ruang rapat.'
Agam melihat isi pesan anonim yang masuk.
'Ketua Staf Ahli Arsitek dan Perancang, kirim laporan Anda ke rumah saya, titipkan pada penjaga.'
"Aaah! aku mati! mati!" Agam histeris.
Agam menjambak rambutnya kesal.
Luhut dan Binsar saling melirik lalu mereka menjauh.
"Aku pulang," ujar Luhut dan Binsar bersamaan.
"Hei! Bang Luhut! Bang Sar! temani aku!" teriak Agam frustasi.
"Pimpinan mengatakan untuk kami mengosongkan ruang rapat," ujar Luhut.
"Aaaah! aku benar-benar mati!" Agam histeris.
"Kenapa aku harus kirim stiker mata love!"
***