Akbar melihat notifikasi pesan masuk.
Bukan pesan miliknya, namun pesan masuk untuk kekasihnya–Cempaka.
Setelah membaca pesan itu, Akbar berjalan ke kamar mandi lalu dia mandi.
***
"Yes! aku berhasil pesan!" Shinta Aulia terlihat berjingkrak senang di ruang kerjanya.
"Sin, kamu berhasil pesan apa?" tanya teman Shinta bernama Farida.
"Far, aku pesan makanan udang bakar madu dari Amis Amis Asup! Untuk porsi sepuluh orang loh, harganya dua juta," jawab Shinta.
Mata Farida berubah cerah.
"Shinta, kita patungan, yah. Aku juga mau makan udang bakar madu dari Amis Amis Asup."
"Ok," sahut Shinta.
"Siapa lagi yang mau makan udang bakar madu? untuk sepuluh porsi, tapi aku harus makan tiga porsi, sisa enam karena satu Sudah Rida mau," ujar Shinta.
"Aku dua porsi, yah." Farida cepat-cepat mengoreksi ucapan Shinta.
"Ok. Sisa lima porsi," ujar Shinta.
"Aku, mau dua porsi."
"Sisa tiga."
"Aku dua," ujar teman kerja Shinta yang merupakan seorang pria, bernama Alex.
"Ok, sisa satu," ujar Shinta.
"Aku saja yang terakhir." Suara seorang asisten magang yang baru kerja di Gedung ArchiBigJen Enterprise.
"Um, ok. Mira, nanti kamu nggak usah bayar, aku yang bayar," ujar Shinta Aulia.
"Terima kasih, Mbak Shinta," ujar Mira.
"Ok," sahut Shinta.
"Mana uangnya, ayo patungan." Shinta menengadahkan tangannya lalu teman-temannya mengambil uang mereka.
Jika kamu bekerja di gedung pusat ArchiBigJen Enterprise, maka kamu sangat beruntung. Gaji untuk karyawan baru sangat mencukupi biaya hidupmu selama sebulan. Apalagi bagi Shinta dan kawan-kawan yang telah bekerja selama dua sampai tiga tahun.
***
Seperti biasa, Cempaka membawakan makanan ke pelanggannya.
Satpam sudah sangat mengenal Cempaka setelah kemarin, perintah langsung dari bos besar mereka untuk mengunci gerbang perusahaan.
"Halo, Neng. Mau ngantar pesanan lagi, yah?" tanya satpam a.
Cempak tersenyum ramah. "Iya, Pak Satpam. Ini kiriman untuk Ibu Shinta Aulia."
"Wah, ayo masuk, Neng. Pasti Mbak Shinta udah tunggu," ujar satpam a.
"Baik, Pak Satpam. Permisi, yah." Senyum Cempaka.
"Iya, Neng. Mari," balas satpam.
Cempaka berjalan mendekat ke pintu perusahaan, rupanya Shinta Aulia sudah berjalan cepat keluar dari pintu perusahaan ke arah Cempaka.
"Saya Shinta Aulia. Udang bakar madu untuk sepuluh porsi harga dua juta rupiah, di lantai lobi gedung ArchiBigJen Enterprise." Shinta Aulia tersenyum lalu memberikan uang lembaran merah bercampur biru.
"Oh? ini … tapi teh Ibu Shinta Aulia teh ada di lantai dua puluh …." Cempaka terlihat ragu untuk memberikan dua rantang makanan ke arah Shinta Aulia.
Wajah Shinta Aulia yang asli menegang. Dia cepat-cepat memperlihatkan bukti chat di insta.
"Neng Campak, ini memang benar-benar saya yang pesan. Shinta Aulia," ujar Shinta.
Cempaka melihat isi pesan.
Memang benar itu adalah pesan yang terlihat sama di insta milik akun bisnisnya. Cempaka mendongak lalu melihat wajah Shinta Aulia baik-baik. "Lalu … apakah waktu itu saya teh salah kasih ke orang … lain?"
"Em … itu … ya, mungkin Neng Campak keliru," jawab Shinta. Dia tidak mungkin menyalahkan sekretaris bos besar ArchiBigjen Enterprise. Bisa apa dia? bisa-bisa dia diputus kerja.
Mata Cempaka membulat.
"Gusti Allah, saya teh berarti benar-benar salah orang. Aduh, Mbak Shinta, saya minta maaf. Minta maaf yah, saya benar-benar minta maaf karena salah kasih makanan waktu itu ke orang lain."
Cempaka rasanya ingin menangis sedih. Dia ternyata waktu itu salah memberikan makanan untuk pelanggan yang bernama Shinta Aulia.
Saat yang sama Sekretaris Linda dan Luhut keluar dari pintu perusahaan ArchiBigJen Enterprise, lebih mengejutkan lagi dan membuat mata Sekretaris Linda hampir copot yaitu tepat dibelakang Cempaka, Akbar turun dari dalam mobil dan melihat Cempaka menangkup dua tangannya mengakui kesalahan yang bukan dia perbuat waktu itu. Cempaka terlihat memohon maaf sambil menunduk takut, wajahnya terlihat panik ke arah Shinta Aulia yang asli.
"Mbak Shinta, saya benar-benar minta maaf. Saya teh salah. Itu teh salah saya. Aduuh, pantas sekali saya teh tidak ada pesan balasan dari Mbak Shinta waktu itu. Maaf, Mbak. Saya salah. Itu kesalahan saya yang salah bawa pesanan."
"E … itu …." Suara Shinta Aulia tergagap.
Dia tidak fokus ke arah Cempaka yang sedang menunduk menyesal, tetapi ke arah Akbar yang berdiri tepat di belakang Cempaka.
Shinta memang tidak pernah bertemu langsung dengan pimpinan tertinggi perusahaan, tetapi dia tidak bodoh, dia tahu wajah pimpinan perusahaan tempat dia bekerja melalui foto yang dipajang di setiap departemen atau divisi di gedung ArchiBigJen Enterprise.
"Saya teh bawa makanan itu ke lantai dua puluh dan salah kasih orang, aduh. Ah! itu!" Cempaka terkaget setelah melihat wajah Shinta Aulia palsu alias Sekretaris Linda.
"Ibu ini, saya minta maaf, waktu itu kasih makanan ke Ibu. Ah, saya kembalikan uangnya, yah. Mbak Shinta, makanan hari ini tidak perlu dibayar." Cempaka membebaskan harga makanan hari ini.
"Eh?" Shinta Aulia membeo. Dia melihat ke arah lembaran uang di tangannya.
Sementara itu Sekretaris Linda terlihat bisu. Baru kali ini dia benar-benar membisu. Tak tahu harus membalas apa ke arah Cempaka.
"Ini, Mbak. Gratis." Cempaka meletakkan dua rantang makanan di depan Shinta Aulia, lalu dia buru-buru membuka tas mengambil dompet dan mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribuan dan dua puluh ribuan.
"Bu, saya hanya punya, seratus, dua ratus, tiga ratus, oh, tiga ratus saja, aduh! ini teh uang tiket mau ke kampung hari ini. Ah, ambil saja, nanti saya buka celengan uang lagi buat ambil uang tiket pulang ke kampung, nanti sisanya saya kasih, yah." Cempaka hendak memasukkan uang tiga ratus ribu rupiah yang terdiri dari empat lembar uang pecahan lima puluh ribuan dan lima lembar pecahan dua puluh ribuan.
Tertahan.
Sekretaris Linda menegang begitu juga dengan Shinta Aulia. Sedangkan Luhut, tidak bergerak, hanya memperhatikan Akbar yang menahan pergelangan tangan kanan Cempaka.
Satu tangan Akbar rupanya telah memegang satu rantang makanan yang tadi diletakan di depan Shinta Aulia. Hal ini membuat Shinta Aulia mundur satu langkah ke belakang. Dia terlihat takut.
Cempaka berbalik ke arah Akbar.
"Oh? Abang Akbar!"
"Ayo makan siang," ujar Akbar.
"Oh? makan siang? ah, tapi saya teh belum ganti uang ke Ibu ini," balas Cempaka.
"Tidak perlu," balas Akbar.
"Tapi teh, Abang Akbar, saya yang salah," ujar Cempaka.
"Aku akan membeli makanan hari ini. Ayo makan lalu aku antar pulang," balas Akbar.
"Um?" Cempaka terlihat kikuk.
Lah? pelanggannya dari Shinta Aulia berubah lagi menjadi Akbar–pacarnya.
Semua orang yang berada di luar pintu perusahaan ArchiBigJen Enterprise hanya bisa pura-pura tuli dan buta saat Akbar berjalan menuntun Cempaka masuk ke gedung perusahaan. Satu rantang dibawa oleh supir.
Luhut untuk sekarang ini tidak lagi merasa kaget dengan sifat Akbar terhadap Cempaka. Toh dia sudah tahu apa sebenarnya yang terjadi. Akbar menghack semua sosial media Cempaka. Itu berarti ponsel dan lainnya juga tidak mustahil.
Pertanyaan yang sekarang bercokol di kepala Luhut adalah, sudah berapa jauh hubungan Akbar dan Cempaka?
Sekretaris Linda mencoba menetralkan suasana, dia melirik ke arah Shinta Aulia.
"Shinta, saya minta maaf. Kejadian waktu itu terjadi karena salah paham. Sebenarnya tidak ada yang salah dari kita semua, hanya saja hari itu terjadi miskomunikasi antara saya dan Nona Campak. Saya harap Nona Shinta dapat memaklumi ini."
Shinta Aulia cepat-cepat menggeleng.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti. Ah, makan di kantin perusahaan juga bagus. Makanan juga enak, hampir sama dengan di restoran Archi's Taste." Shinta tersenyum.
Sekretaris Linda membalas senyuman Shinta Aulia.
Satu kesalahpahaman selesai, tinggal menjelaskan pada Cempaka saja. Namun, masalah lain muncul. Ada bos besarnya. Bagaimana mungkin dia bisa berbicara dengan Cempaka jika ada bos?
Linda memijat pelipisnya.
Luhut melirik ke arah Sekretaris Linda.
"Sepertinya saya memang tidak tahu apa-apa soal kesalahpahaman ini."
***
"Itu, Abang Akbar, saya teh salah orang waktu itu," ujar Cempaka dengan nada menyesal.
Akbar membuka rantang makanan.
Mereka berada di dalam ruang kerja Akbar.
Dan Sekretaris Sandi berusaha untuk tidak serangan jantung saat melihat bos besarnya menuntun seorang gadis masuk ke ruang kerja.
Tuhan.
Apakah mataku sudah buta ataukah memang benar nyata?
Sekretaris Sandi hanya bisa melirik terus menerus ke arah pintu ruang kerja sang bos yang tertutup rapat.
Di dalam ruangan Akbar.
Akbar memisahkan kulit udang dan isi udang lalu menaruh udang di piring karton.
"Kesalahpahaman telah berakhir. Sekarang kamu sudah tahu siapa pelanggan yang sebenarnya," ujar Akbar.
"Iya … tapi teh, Campak rasa tidak enak dengan Ibu itu."
"Sekretaris Linda." Akbar melihat ke arah Cempaka, "Adalah Sekretaris saya."
"Itu … ah iya, waktu itu Campak teh ke lantai ini," balas Cempaka.
Akbar tersenyum.
"Dia tidak akan marah. Dan tidak akan ada yang marah."
"Itu …." Suara Cempaka terdengar agak ragu.
"Ayo makan," ujar Akbar.
"Um." Cempaka hanya mengangguk.
Mereka makan siang dalam suasana hati beberapa orang yang ketar-ketir membahana tak karuan.
Shinta berlari masuk ke divisi tempat ia ditugaskan.
"Oh ya ampun." Shinta duduk sambil menggigit jari.
Dilihat dari sikap pimpinan perusahaan yang memperlakukan Cempaka baik, itu pertanda bahwa pimpinan perusahaannya itu dan Cempaka punya hubungan baik.
"Aa, mati aku. Kenapa hari ini jadi begini." Panik Shinta.
"Shin, gimana? mana udang bakar madunya?" tanya Farida yang tidak kuat lagi menahan lapar.
Shinta melihat ke arah temannya.
"Dibawa Bos-ahmp! maksudnya dibeli Bos duluan …."
Farida mengerutkan keningnya.
"Dibeli Bos duluan gimana? tunggu, Bos siapa? siapa yang beli? kan kamu duluan yang komen di postingan."
Wajah Shinta Aulia berubah serius ke arah Farida.
"Dibeli Pak Akbar."
"Ha?!"
"What?!"
Semua orang, "...." tak dapat berkata-kata.
Pintu lift terbuka.
Sekretaris Sandi masuk membawa sebuah amplop.
"Nona Shinta Aulia."
"Saya, Pak." Shinta buru-buru berdiri lalu merapikan penampilannya.
Sekretaris Sandi memberikan amplop putih ke Shinta Aulia.
"Ini pesan dari Pak Akbar."
Shinta menegang.
Amplop berada di tangannya.
Farida dan lainnya saling melirik.
"Tolong dibuka secepatnya!" pinta Sekretaris Sandi.
Shinta membuka amplop dan dia begitu tercengang.
"Ini …."
Dia tak mampu berkata-kata lagi.
"Biaya ganti uang Anda telah ditransfer oleh Pak Akbar ke rekening gaji Anda. Totalnya senilai dua ratus juta rupiah. Sebelumnya, maaf atas kesalahpahaman yang terjadi, Nona Campak tidak bermaksud untuk membuat kesalahan. Ini murni hanya kesalahpahaman dan miskomunikasi," ujar Sandi.
"Baik, saya kira telah selesai, saya permisi," pamit Sandi.
Sekretaris Sandi pergi.
Meninggalkan Shinta dengan mulut terbuka menjatuhkan rahangnya.
Notifikasi ponsel masuk.
Shinta melihat apa itu.
Dan ternyata, dua ratus juta telah masuk ke rekening gajinya.
What the ….
Apa ini?
Dua juta untuk makanan yang akan dia dan teman-temannya beli kini berubah seratus kali lipat.
Dua juta berubah menjadi dua ratus juta dalam kurun waktu beberapa saat yang singkat.
***