Cempaka mengusap perutnya yang sekarang terlihat buncit.
"Oh … Alhamdulillah, Campak teh kenyang," desah Cempaka.
Akbar tersenyum tipis.
Hatinya merasa senang saat melihat Cempaka mengusap perut karena kenyang.
"Bang Akbar, Campak teh mau pulang kampung-"
Bruuuuuuk!
"Aah …, uuh!" suara lega dari Cempaka, gas beracun yang berbau baru saja dilepaskan olehnya.
Proook!
"Uuuh!" suara Cempaka terdengar.
Cempaka langsung melihat kikuk ke arah Akbar yang duduk di hadapannya.
Tangan Cempaka mengibas-ngibas daerah di sekitar pantatnya agar angin berbau busuk itu menjauh dari dia dan Akbar.
"Ini … maaf. Campak teh kelepasan kentut," ujarnya.
Tangan Akbar meraih telapak tangan Cempaka yang sedang sibuk mengibaskan udara agar menjauh.
"Aah! eh?! kenapa Campak teh duduk di sini?!" Cempaka terlihat bingung.
Dia sudah berada di pangkuan Akbar.
"Biarkan saja baunya." Akbar memeluk Cempaka dari belakang. Dia menikmati memeluk badan Cempaka yang lumayan berisi.
Wajah Cempaka terlihat tidak nyaman.
"Ini … mm … Abang Akbar … ini teh posisi kita … um …."
Cempaka bergerak-gerak ingin segera turun dari pangkuan Akbar.
"Sebentar saja," ujar Akbar.
Mendengar suara Akbar, Cempaka berhenti bergerak.
"Kamu mau ke mana hari ini?" tanya Akbar sambil memeluk Cempaka dari belakang.
"Campak teh mau pu-" suaranya tertahan dan disambung oleh suara dari bawah.
Puuuuuuuu.
" … lang kampung …," jawab Cempaka jadi kikuk karena balasan jawabannya terdengar mirip dengan bunyi yang biasa keluar dari pantatnya.
"Hahahahahahahaha!"
Akbar tertawa, dia malah semakin gemas dan menghirup bau badan Cempaka.
Eh?
Bukankah Cempaka baru saja kentut?
Apakah Akbar telah menghirup bau badan Cempaka lapis dengan bau kentut Cempaka yang baru saja keluar?
Oh. Hanya Akbar yang tahu.
Cempaka tidak melanjutkan ucapannya karena dia merasa tidak enak, sudah kentut di atas pangkuan Akbar.
Namun, hal ini sama sekali tidak membuat Akbar jengkel atau marah. Justru Akbar tertawa senang sambil memeluknya.
Setelah Akbar tertawa, dia bertanya lagi.
"Di mana itu?"
Nyatanya, Akbar telah tahu di mana orangtua Cempaka tinggal, namun, dia hanya bertanya saja.
"Di Brebes, Abang Akbar. Ema dan Abah Campak teh tinggal di sana. Sudah lama juga Campak tidak pulang, Ema rindu Campak. Campak juga rindu Ema," jawab Cempaka.
Akbar hanya mengangguk sangat pelan lalu dia bertanya lagi, "Kapan pulang ke sana?"
"Sore ini, jam tiga. Makanya ini teh Campak harus cepat-cepat pulang ke restoran dulu. Soalnya ini sudah jam dua siang. Campak teh tidak perlu bawa pakaian, sebab pakaian Campak sudah cukup banyak di kampung. Hanya saja, Campak mau bawa beberapa pakaian dan makanan ringan untuk Ajat dan ada beberapa juga untuk Ema, Abah dan tetangga sekitar rumah. Oh, Ajat itu adiknya Campak," jawab Cempaka.
Akbar mengangguk mengerti, dia berkata, "Aku antar."
"Ah, tidak! tidak!" Cempaka langsung menolak.
"Kenapa?" tanya Akbar.
"Nanti merepotkan Abang Akbar. Perjalanan hampir empat jam dari Bandung ke Brebes loh, belum lagi ke kampung saya yang di pinggiran. Campak teh biasa pergi dengan grab saja," jawab Cempaka.
"Sendiri?" tanya Akbar.
"Ya, Campak teh biasa pulang kampung sendiri," jawab Cempaka.
"Biarkan supirku yang akan mengantar," ujar Akbar terdengar agak tidak ingin dibantah. Aura bossy dan wibawa ketegasannya sangat terasa hingga Cempaka tidak mampu menolak.
"Ahm … ok." Cempaka mengangguk.
Akbar tidak memaksa Cempaka untuk harus menerima dia yang mengantarnya ke kampung. Yang penting, cukup orang suruhan dia saja yang mengantar.
"Um … kalau begitu … Campak teh harus cepat bergegas," ujar Cempaka.
"Baik," sahut Akbar.
Akbar memisahkan pelukannya lalu membiarkan Cempaka buru-buru berdiri dari pangkuannya.
"Abang Akbar, kalau gitu teh Campak pergi dulu, yah. Nanti em … itu … sepertinya ….," ujar Cempaka bingung mau mengatakan kapan dia dan Akbar akan bertemu lagi.
"Berapa lama di sana?" tanya Akbar setelah dia berdiri dari kursi.
"Em … mungkin tahun depan baru balik ke sini," jawab Cempaka.
Akbar melihat serius ke arah Cempaka.
"Hehehe, yah kan tahun depan itu tidak cukup sepuluh hari," ujar Cempaka setelah terkekeh.
Akbar mengangguk mengerti. "Baik. Ayo pulang ke restoran."
***
Mobil berhenti di depan restoran Amis Amis Asup. Ada dua mobil.
"Oh, Mas, itu mobil si Akbar." Dahlia yang sedang menunggu bersama Marsudi di depan restoran Amis Amis Asup, menunjuk ke arah mobil yang berhenti tak jauh dari mereka.
Marsudi buru-buru berdiri lalu mendekat ke arah mobil.
Benar saja, itu adalah mobil Akbar, dan yang turun adalah Cempaka.
"Oh? Emang?" Cempaka agak kaget karena sang paman tepat berada di depannya.
Mata Marsudi melirik terfokus ke arah tautan jemari Akbar dan Cempaka.
Cempaka cepat-cepat melepaskan tautan jemari Akbar yang sedari tadi mereka naik mobil.
Marsudi tersenyum manis ke arah Akbar. "Halo, Nak Akbar. Mari masuk dulu ke rumah saya."
"Ehm, itu." Cempaka kikuk ingin mengatakan sesuatu.
"Saya harus kembali ke kantor," ujar Akbar.
Pintu tertutup otomatis lalu mobil berjalan.
Wajah Marsudi tidak kesal sama sekali, justru dia merasa senang. Marsudi melihat ke arah Cempaka yang hendak masuk ke dalam restoran.
"Campak, kamu dengan Akbar dekat sekali, sudah pacaran, yah?" tanya Marsudi.
Wajah Cempaka memerah. Dia buru-buru masuk ke dalam restoran.
"Nggak, Mang. Campak teh, ehm …."
"Jangan bohong sama orangtua, dosa," ujar Marsudi.
Pada akhirnya Cempaka memilih diam. Dia meraih dua tas kresek hitam besar lalu mengunci pintu restoran.
Marsudi tersenyum penuh arti. Pasti sang ponakan perempuan dan Akbar telah bersama.
Ini berita bagus.
"Eh, kamu mau ke mana?" tanya Dahlia setelah melihat Cempaka menenteng dua tas kresek hitam itu ke arah mobil yang satu.
Itu adalah mobil yang akan mengantarkan Cempaka sampai ke tempat tujuannya di Brebes.
"Campak teh mau pulang ke kampung hari ini, Abah dan Ema teh panggil pulang," jawab Cempaka.
"Oh begitu. Tapi sebelum kamu pulang, kasih dulu uang harian untuk Tante." Dahlia menengadahkan kedua tangannya ke arah Cempaka.
"Loh? untuk apa uang harian?" tanya Cempaka bingung.
"Kamu kan mau pergi ke kampung. Uang makan harian Tante mana? nggak mungkin kan Tante kelaperan? kamu tega yah sama orang tua." Dahlia berkacak pinggang.
"Tante, kan bahan makanan masih ada. Kemarin juga Campak teh kasih tiga ratus ribu untuk Tante," ujar Cempaka.
"Mana cukup tiga ratus ribu sehari, Campak. Ini Bandung, kota besar. Orang miskin juga nggak akan sanggup hidup dengan cuma tiga ratus ribu." Dahlia berdalih.
Cempaka tidak mau mengambil pusing, lebih baik dia memberikan uang pada sang Tante daripada ribut lagi.
Dia mengambil uang dua ratus ribu di dalam tas ransel. Lalu memberikan uang itu pada Dahlia.
"Mana cukup dua ratus ribu? kamu pergi ke kampung berapa hari-"
"Mang, Tante, Campak pergi, yah. Assalamualaikum," potong Cempaka atas ucapan sang Tante yang terlalu rakus uang.
"Campak! hei! Campak! ini masih kurang!" Dahlia berteriak kesal.
"Dasar pelit. Sama Tante sendiri saja pelit, heum!" Dahlia mendengkus.
Dahlia tidak puas dengan uang yang diberikan oleh Cempaka, sementara itu Marsudi mengusap janggutnya yang licin.
Ada sesuatu ide yang terlintas di kepalanya.
Sementara itu, Cempaka menarik nafas lega setelah mobil menjauh dari restorannya.
"Huuh, syukur sudah jauh. Emang dan Tante Dahlia teh suka serem kalau teriak-teriak duit," ujarnya pelan.
Supir hanya fokus menyetir, namun Cempaka tersadar bahwa ada supir, dia dia cepat-cepat memberi senyum.
"Halo, Pak Supir. Saya teh Campak."
Supir mengangguk.
"Saya Judi, Nona."
"Ah, baik Pak Judi. Maaf teh saya sudah merepotkan Bapak Judi untuk mengantar saya dari Bandung ke Brebes," ujar Cempaka sopan.
"Ini adalah tugas saya sebagai supir, Nona," balas Judi.
"Heheh, tadi Abang Akbar teh sebenarnya nawar mau antar Campak ke Brebes, tapi sayang sekali, Campak teh tidak enak hati ngerepotin Abang Akbar terus, setiap pulang antar pesanan, Abang Akbar teh sudah antar Campak. Jadi tadi Abang Akbar usul untuk nanti ada orang yang antar," ujar Cempaka.
Mendengar penjelasan dari Cempaka, membuat supir–pria yang berusia empat puluhan itu waspada dan lebih berhati-hati lagi dalam menyetir. Dia takut ada apa-apa di jalan, sementara dia sedang mengantar 'wanita bos'. Ah, seperti itu pemikirannya.
"Oh. Kalau boleh tahu, Pak Judi ini sudah berapa lama kerja dengan Abang Akbar?" tanya Cempaka ingin tahu.
"Sudah sepuluh tahun, Nona," jawab Judi.
"Ah, lama juga, waduh, saya masih SMP. Hahahah." Cempaka manggut-manggut mengerti.
"Saya teh biasa pulang ke restoran dengan Abang Akbar diantar Bapak supir yang satu. Baik banget Bapak supir itu. Hehehe." Cempaka sudah mulai berceloteh lagi.
Brok!
"Amm!" Cempaka buru-buru menutup mulutnya.
Terlalu banyak bicara membuat sesuatu juga ikut mengeluarkan suara.
Cempaka menjadi tidak enak hati.
Sementara itu, Pak Judi tidak merasa terganggu, toh dia sudah mempersiapkan mentalnya.
Jangan macam-macam dengan nona ini. Sebab, sang bos sedang menontonnya di layar.
Ya, memang benar.
Akbar sedang melihat rekaman di dalam mobil yang membawa Cempaka ke Brebes.
Mental dan batin pak supir harus kuat banyak kuat iman.
***
Selama kurang lebih empat jam, mobil yang membawa Cempaka berhenti di salah satu halaman rumah sederhana namun terlihat indah dan asri.
Waktu sudah malam.
Supir turun lalu membuka pintu mobil untuk Cempaka dan membantu membawa dua tas kresek besar milik Cempaka.
Ajat yang baru saja pulang sholat magrib dari masjid, buru-buru membantu mengambil satu tas kresek.
"Assalamualaikum. Abah, Ema, Ajat, Campak teh pulang," salam Cempaka begitu berdiri di depan pintu rumah.
"Waalaikumsalam. Teteh, Ajat di sini." Ajat membalas salam dari sang kakak perempuan.
Cempaka berbalik.
"Oh, Ajat. Pulang sholat, yah?"
"Iya. Abah di belakang, sedang jalan pulang bersama Mang Sudin dan Mang Sarden," ujar Ajat.
"Oh begitu. Eleuh-eleuh, Teteh teh tidak lihat Abah di jalan." Cempaka menggelengkan kepalanya.
Ajat tersenyum.
Dia melirik ke arah Judi.
"Ini teh siapa?" tanya Ajat.
"Saya yang mengantar Nona Campak. Ah, saya permisi pulang," jawab Judi.
"Eh? Pak Judi? tidak minum teh dulu atuh? jauh perjalanan. Mari masuk!" Cempaka menawarkan minum teh untuk Judi.
"Ajat, kemari bawa Pak Judi minum teh dulu, sekalian makan malam!" Cempaka masuk ke rumah bertemu dengan Asih yang memakai mukena.
"Ema." Cempaka menyalami sang ibu.
"Campak. Ya Allah, Alhamdulillah kamu teh sampai rumah dengan selamat. Ayo, Pak, mari masuk dulu," ujar Asih.
Judi menggeleng, dia harus menolak ajakan masuk rumah Cempaka. Sebab, sang bos sedang mengawasinya.
Aih. Kamera depan mobil aktif.
"Saya harus pulang sekarang, Bu. Istri saya menunggu," tolak Judi halus beralasan.
"Ah, begitu. Baiklah. Terima kasih yah sudah antarkan saya." Cempaka tersenyum ramah.
Judi mengangguk.
Dia permisi pulang, mobil berjalan mundur mencari tempat putar, saat itu Ayah Cempaka tiba di rumah.
"Assalamualaikum," salam Ayah Cempaka.
"Waalaikumsalam, Abah." Cempaka langsung dengan cepat menyalami Safar.
"Alhamdulillah, kamu sudah sampai. Istirahat dulu, perjalanan jauh dengan mobil. Itu tadi grab?" tanya Safar.
"Hehehe … itu tadi … teman Campak yang minta bantu supir untuk antar Campak ke sini," jawab Cempaka, tidak mungkin dia katakan bahwa itu adalah supir dari kekasihnya pada sang ayah. Cempaka belum siap dan sangat takut memberitahu hubungannya yang baru berlangsung dua hari.
"Oh. Begitu. Ya sudah, ayo istirahat, nanti Ema siapakan makanan lalu kita makan," ujar Safar.
***