Akbar menutupi layar laptop yang tidak lagi memperlihatkan rekaman langsung dari sang kekasih.
Selama empat jam, dia duduk di kursi santai sambil menonton siaran langsung dari kamera di dalam mobil yang mengantarkan Cempaka dari Bandung ke Brebes. Banyak sekali celotehan yang didengarkan oleh Akbar dari rekaman itu, dan dia sangat menikmati celotehan sang kekasih.
Setelah selesai nonton, Akbar berdiri dari kursi santai lalu berjalan ke meja makan.
Makanannya sudah disiapkan oleh asisten rumah tangga. Setelah dia makan, Akbar memutuskan untuk mandi. Guyuran shower membasahi tubuhnya. Akbar menggosok sabun batangan yang dulu dibeli oleh Cempaka ke seluruh badannya. Matanya tertutup sambil mengulang ingatan wajah Cempaka yang tertawa sambil kentut.
Akbar mulai mencium bau sabun batangan itu di dekat hidungnya.
Dia menghirup bau sabun dengan penuh ketenangan dan kenikmatan sambil mengingat wajah Cempaka.
"Belum sehari … aku sudah rindu," suara seraknya terdengar.
Ya, belum sehari namun dia telah rindu, lalu apa kabar jika Cempaka berada di kampungnya hingga tahun depan? ah, adakah yang bisa membayangkan emosi Akbar?
Sementara itu di rumah Cempaka.
Setelah makan malam, Ajat membuka tas kresek yang semua barang di situ untuk keluarganya.
"Teteh, bajunya bagus. Sepatu ini keren, Ajat teh bisa pakai untuk lari pagi. Hatur nuhun, Teh." Ajat terlihat senang, dia memeluk sepatu sport warna abu-abu lalu tersenyum ke arah Cempaka yang sedang tiduran di karpet empuk.
"Um, sami-sami," balas Cempaka.
Asih mengambil pakaian yang dibelikan oleh anaknya untuk suami dan dirinya.
"Campak, ini teh camilan dan snack ini untuk siapa? terlalu banyak kalau untuk Ajat. Ema dan Abah teh tidak makan snack begini," ujar Asih.
"Oh, itu untuk Sutnri dan anaknya Mang Sarden di sebelah. Kan mereka masih sekolah seumuran Ajat, jadi teh nanti Ajat saja yang kasih, yah," balas Cempaka.
"Baik, Teh. Apa sekarang saja?" tanya Ajat.
"Besok pagi juga bisa," jawab Cempaka.
"Campak, tidur euh, kamu tadi kelelahan, kan." Asih melihat ke arah Cempaka yang matanya sudah fly ingin tertutup tidur.
"Hu'um. Campak teh ngantuk." Cempaka masuk ke kamarnya lalu tidur.
***
Tanggal 24 Desember, tidak ada aktivitas kantor atau yang lainnya di dunia kerja. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.
Di rumah Anita.
"Akbar tidak ada rencana untuk mau liburan?" tanya Ibu Anita.
Anita yang mendengar nama Akbar disebut, tiba-tiba wajahnya berubah suntuk, sebab dia mengingat perlakuan Akbar yang begitu cuek dan dingin padanya.
"Nggak tahu," jawab Anita.
Ibu Anita melirik ke arah anak tunggalnya, "Loh, kok nggak tahu? kamu dan Akbar kan satu kantor."
"Anita benar-benar nggak tahu, Ma," balas Anita.
Ibu Anita menjauhkan majalah dari pandangan matanya.
"Nita, tahun depan umur kamu udah dua puluh sembilan. Kalau Akbar belum bicarakan apa-apa sama kamu, yah kamu saja yang duluan bicara sama dia. Mama nih udah hapal sifat Akbar yang pendiam itu, hal ini hubungan kalian, Mama pikir, kamu yang harus turun tangan. Jangan biarkan hubungan kalian tanpa arah begini. Kalian itu udah besar bersama lebih dari dua puluh tahun, dan sudah mengenal masing-masing. Kamu kan tahu dia seperti apa, yah kamu yang harus ambil alih dong. Kalau kalian nikah, esok lusa kan yang ngatur perusahaan juga kamu."
Wajah Anita berubah merah, dia merasa tidak mood dan hari ini sang ibu tambah membuatnya tidak mood juga, Anita membalas tatapan sang ibu.
"Mama pikir Nita nggak lakuin apapun? Nita lagi berusaha, dan Mama sama Papa, tolong jangan campur dulu urusan Nita dan Akbar."
Setelah mengatakan itu, Anita berdiri dari sofa lalu masuk ke kamarnya.
Orangtua Anita saling melirik.
"Biarkan dulu dia. Mungkin sedang berusaha untuk memahami lebih dalam," ujar Ayah Anita.
Ibu Anita melirik ke arah suaminya dan berkata, "Mau berapa lama mereka berusaha untuk saling memahami lebih dalam? Akbar udah tiga puluh empat tahun lebih. Mau sampai dia umur empat puluh tahun? lalu anak kita bakal jadi gadis tua, gitu?"
"Frina, jaga mulutmu. Jangan kau risaukan macam-macam, aku yang akan mengambil tindakan jika Akbar diam saja," tegur Ayah Anita, logat bataknya terdengar.
"Heum." Frina hanya mendengkus.
***
"Ajat, libur, kan?" tanya Cempaka.
"Iya, Teh. Sekolah Ajat libur. Sampai tanggal empat baru masuk," jawab Ajat.
"Ikut ke sawah bersama Teteh, yah? musim hujan begini pasti banyak lele dan ikan nila yang beberapa bulan lalu ditabur Abah. Sekalian kita metik kangkung kali di sawah dan buat pecel lele."
"Ok. Teteh, Ajat ajak Suntri dan Asep, yah?" tanya Ajat.
"Boleh. Malah bagus. Nanti hasil tangkapan kita banyak." Cempaka mengangguk.
Setengah jam kemudian, empat orang berjalan menjauh dari perkampungan dan menuju ke persawahan luas.
Satu berbadan montok yang adalah Cempaka, dan tiga lainnya adalah anak remaja seumuran Ajat, yaitu 12 tahun dan salah satunya perempuan.
Mereka membawa ember dan jaring. Topi sawah melekat di kepala mereka. Dua perempuan menggunakan kain rok yang diangkat sampai betis agar tidak kotor rok mereka.
Saat itu, ada kerumumanan.
"Eh, aya naon teh, Ateu?" tanya Cempaka pada seorang wanita berusia 40-an.
(Ada apa, Bibi?)
"Oh itu, ada peninjauan dari Dinas Pertanian. Mau lihat-lihat persawahan di kampung kita, agak aneh juga, ini kan hari libur. Ah, sudahlah, Ateu pusing," jawab Bibi Cempaka.
"Oh. Begitu. Kalau gitu Campak teh ke sawah dulu," pamit Cempaka.
"Iya, hati-hati," sahut Bibi Cempaka.
Sampai di sawah, Cempaka dan tiga orang lainnya mulai menangkap ikan yang ada di air sawah.
"Ah! Teteh, lele-nya kabur ke kaki Teteh!" Ajat berseru.
"Eleuh-elueh, lele teh kabur." Cempaka jongkok dan berusaha untuk menangkap ikan lele.
"Ah, Ajat! Teteh teh dapat! Besar!" Cempaka mengangkat ikan lele yang sebesar lengan tangan.
"Wah bagus-" ujar Cempaka tertahan.
Cruk!
Ikan lele kabur.
"Yah! kabur!" Cempaka melotot kaget.
"Akha! uhuk! uhuk! Teteh teh telan lumpur!" jerit Cempaka.
"Hahahaha!" Ajat dan dua temannya terbahak.
"Wajah Teteh teh hitam," ujar Suntri.
"Hu'um," sahut Asep.
"Hahahaha!"
Empat orang itu tergelak tawa.
Keseruan mereka mencari ikan dan memetik sayur terlihat di layar monitor Akbar.
Senyum di bibir Akbar terlihat, hal yang dia lihat sekarang ini adalah siaran langsung Cempaka dan tiga orang remaja sedang memetik sayur dan menangkap ikan di air sawah.
Di ladang sawah sendiri. Meskipun ladang sawah milik Safar tidak luas, namun itu cukup untuk menghidupi anak-anak Safar.
Beberapa orang yang merupakan orang dari dinas pertanian itu mengambil beberapa 'gambar' untuk dokumentasi. Namun, tak ada yang tahu bahwa mereka semua adalah orang suruhan Akbar yang dibayar sepuluh kali lipat dari gaji pegawai mereka untuk melakukan survei ini.
***
Waktu berjalan hingga tanggal 31 Desember.
"Ayo, kita teh mau panggang bebek dan ayam. Nanti teh Campak yang masak!" Cempaka berseru penuh semangat ke arah beberapa orang yang termasuk tetangganya.
"Ok, Mang Sarden cabut bulu bebek dan ayam, yah. Nanti Bibi Rina dan yang lainnya bantu Campak masak," ujar Paman Sarden.
"Baik, Mang," sahut Cempaka.
Para paman dan anak laki-laki membuat siasat untuk menangkap bebek yang berhasil lari ke sana lari ke sini. Sementara itu para bibi dan perempuan mengupas bumbu dan menyiapkan bumbu masakan.
Hari berjalan hingga malam tahun baru.
Cempaka dan tetangga sekitar makan bersama hingga puas. Ketersediaan bahan di alam dan beberapa ayam dan bebek membuat kampung itu terasa indah.
Di lain sisi, Anita berdiri di depan gerbang rumah Akbar. Dia membawa satu bingkisan sedang di tangannya.
Di dalam kamar Akbar, pria 34 tahun itu sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil melihat ke arah layar yang memperlihatkan Cempaka dan ibu-ibu tetangga sedang mengulek dan memasak bersama di malam hari. Senyum melintas di bibir Akbar.
Sebuah ketukan terdengar di pintu Akbar.
"Tuan, ada Nona Anita di depan gerbang, beliau ingin bertemu dengan Anda."
Kenyamanan Akbar jadi terganggu, dia meraih ponsel lalu mengetik sesuatu.
Beberapa detik kemudian, penjaga yang tadi mengetuk pintu kamar Akbar melihat ke arah ponselnya.
'Istirahat.'
"Baik, Tuan." Penjaga itu berjalan menjauh dari kamar Akbar lalu pergi ke depan gerbang. Sementara itu Akbar melanjutkan nonton di layar tv.
***
Bugh!
"Aaaaaaaaahh!" Anita berteriak kesal setelah dia membuang bingkisan yang dia bawa ke belakang mobil.
Napas Anita tak karuan, dia merasa bahwa dadanya akan meledak.
Bagaimana bisa dia dekat dengan Akbar jika Akbar saja memilih menjaga jarak darinya?
Selama dia bekerja di ArchiBigJen Enterprise empat tahun lalu setelah pulang dari mengambil S2 atau gelar MBA dari Inggris, Akbar tidak pernah mau makan bersama dia. Hati Anita sekarang merasakan perasaan yang campur aduk.
Harus dengan cara apalagi dia mendekati Akbar?
***
Hari ini Cempaka akan pulang ke Bandung.
"Emang kamu teh bilang kalau sudah tidak ada uang untuk beli beras lagi, ayo pulang lalu belikan beras untuk Emang kamu," ujar Safar.
Dia menyodorkan amplop putih ke arah sang anak.
"Abah, tidak perlu teh. Beli beras pakai uang Campak saja," tolak Cempaka.
Safar menggeleng.
"Jangan. Abah teh seorang kepala keluarga. Kalau kamu terus memberi uang pada Abah, harga diri Abah di mana? nanti beri saja uang hasil jualan kamu untuk Ema. Sepeda motor baru yang kamu belikan teh sudah cukup untuk Abah."
Mata Cempaka memerah. Sang ayah sungguh bijak. Lalu mengapa kebijakan dari sang ayah ini tidak tertular pada sang paman yang berada di Bandung?
Bukankah mereka lahir dari satu rahim yang sama? itu berarti sifat mereka juga walaupun tak mirip, tetapi harus ada sedikit kemiripan.
Ah, Cempaka tidak tahu harus berkata apa pada sang ayah.
Dia menyalami punggung tangan orang tuanya lalu naik grab yang telah dia pesan.
Saat grab yang dinaiki oleh Cempaka membelah jalan raya, mata sopir melirik ke arah spion depan.
Bukan ke arah spion, tapi ke arah kamera kecil yang sedang menyala.
Ya, semua itu milik Akbar.
***