Bab 24

1675 Kata
Cempaka merasa mengantuk dan lelah dari perjalanan Brebes ke Bandung, namun dia berusaha untuk tetap terjaga agar tidak tidur, sebab yang membawa grab adalah orang asing yang sama sekali tidak dia kenal. Kepala Cempaka terkantuk-kantuk, miring kiri, miring kanan, dan bahkan hampir terjungkal ke depan. Hal ini membuat supir grab terus memperhatikan kenyamanan Cempaka, sekitar setengah jam lagi sampai ke tempat tujuan, grab berhenti. Mereka telah memasuki kota Bandung. Namun, grab tidak melanjutkan ke tempat di mana Cempaka tinggal, namun dia berbelok lalu memasuki sebuah gerbang rumah besar yang cukup tinggi. Penumpang yang bernama Cempaka Jayanti itu kini telah tertidur pulas. Cempaka kalah dalam pertarungan melawan kantuk. Tak berapa lama, mobil berhenti di depan pintu rumah mewah. Saat itu juga penjaga rumah berpakaian rapi membuka pintu mobil lalu muncul Akbar dengan menggunakan pakaian kasual masuk ke dalam mobil. Akbar melihat penuh sayang ke arah wajah Cempaka, dia mengusap rambut lurus Cempaka yang pendek. "Lelah," gumam Akbar. Akbar memperbaiki posisi tidur Cempaka di dalam mobil, kepala Cempaka diletakkan di atas paha Akbar. Hal ini membuat Cempaka terasa nyaman untuk tidur. Supir telah keluar dari mobil semenjak Akbar masuk ke dalam mobil. Akbar merasa santai dan menikmati kepala Cempaka yang tidur di pangkuannya sambil mengerjakan pekerjaan. Saking terlalu lelah, air liur Cempaka mengalir turun perlahan dari mulut membasahi celana Akbar. Akbar berhenti sejenak lalu melihat ke arah pangkuannya, terlihat Cempaka tidur miring ke arah perutnya, ada rasa basah yang berasal dari air liur Cempaka, namun Akbar merasa biasa saja dan malah menikmati air liur itu membasahi celananya. Mulut Cempaka yang terbuka agak lebar terlihat sangat menggemaskan untuk dilihat Akbar. Akbar tersenyum tipis lalu melanjutkan pekerjaannya. Dia mulai memindai dan menandatangani berkas secara online, sebab dia selama 11 hari tidak ke kantor setelah tanggal 23 Desember. Satu jam kemudian. "Ya Gusti! Campak teh ketiduran!" Cempaka tiba-tiba bangun dan hampir terjungkal ke bawah kaki Akbar, beruntung itu tidak akan terjadi mengingat refleks Akbar yang cepat. "Ah!? Abang Akbar?!" mata Cempaka membulat besar setelah Akbar membalikkan posisinya seperti semula ke atas pangkuannya. Tubuh Cempaka mematung untuk beberapa detik sambil mangap-mangap. Melihat ekspresi lucu dari Cempaka, Akbar meletakan tape di sarung belakang kursi lalu mulai mengangkat badan Cempaka duduk di pangkuannya. "Aah! ini teh jangan!" Cempaka buru-buru terkaget, dia bergerak cepat ingin turun dari pangkuan Akbar, namun sayangnya pelukan Akbar di panggangnya terlalu erat. "Ini teh, Abang Akbar, Campak teh mau turun," cicit Cempaka. "Sebentar saja," ujar Akbar sambil menghirup bekas keringat Cempaka yang telah mengering di leher sang kekasih. Cempaka terlihat diam untuk sesaat setelah mendengar suara Akbar. "Kamu pergi selama sebelas hari. Itu sangat lama," bisik Akbar. "Um … hehehe … abisnya teh di kampung sangat seru. Campak dan Ajat sering main ke sawah dan hutan," balas Cempaka setelah terkekeh. "Um, seru. Tidak mengajakku?" bisik Akbar. Pria itu masih betah menghirup bau keringat asam hasil dari ekskresi kulit Cempaka. Tidak ada rasa jijik, yang ada hanyalah rasa senang dan nikmat tersendiri untuk Akbar. "Hehehe, kan Abang Akbar teh tidak ada di kampung Campak. Jadi, Campak tidak bisa ajak Abang Akbar ke sawah dan hutan," jawab Cempaka. "Hahah." Akbar tertawa lucu. "Em … Abang Akbar," panggil Cempaka pelan. "Ya?" sahut Akbar. "Kita teh tidak bisa duduk begini," ujar Cempaka. "Kenapa?" tanya pria itu. "Karena duduk begini teh tidak wajar," jawab Cempaka. Piuuuuuu! "Hahahaha!" Akbar tertawa geli setelah setengah detik Cempaka menjawab, kentutnya terdengar sangat stabil dengan bunyi yang merdu di telinga Akbar. Wajah Cempaka memerah, dia buru-buru turun dari pangkuan Akbar lalu sibuk mengipasi pangkuan Akbar tempat di mana dia kentut. Ya, jelas saja duduk seperti itu tidak wajar, sebab Cempaka ingin membuang hasil gas yang diproduksi dari dalam perutnya ke tempat lain. Namun sayangnya, gas itu telah lebih dulu bocor keluar sebelum dia mencari tempat lain untuk membuang angin busuk yang bersemayam di dalam perutnya. Push! Cempaka berusaha untuk menahan desisan bunyi selanjutnya, dia menahan nafas agar tidak ada angin yang keluar lagi dari pantatnya. Hal ini membuat wajah chubby Cempaka memerah dan tubuhnya kaku dari gerakan mengibaskan udara. "Lepaskan saja," ujar Akbar sambil tersenyum tipis. Cempaka mendongak ke arah Akbar, lalu dua detik kemudian. Puuuuuuuuuuuussshhhhhhhhhhhhhhh! Desisan panjang terdengar. Olah vokal yang bagus. Cempaka tidak tahu, apakah desisan yang keluar dari pantatnya ada terbawa ampas ataukah tidak. Akbar tertawa geli lalu meraih kepala Cempaka masuk ke dalam dadanya. "Keluarkan semuanya!" perintah Akbar santai. Suasana mobil masih sunyi. "Jangan menyimpan penyakit," lanjut Akbar. Puuuuuuuuuuuuuuuuuu! Suara vokal panjang terdengar. Akbar tersenyum senang lalu sambil mengusap rambut Cempaka. "Ya, ini bagus-" Bruub! Bunyi terakhir memotong ucapan Akbar. "Hahahahaha!" Akbar tertawa. Sementara Cempaka terlihat malu, dia masuk lebih dalam ke ketiak Akbar membiarkan pantatnya menjorok ke luar. "Aaa, Abang Akbar, Campak teh malu!" ujar Cempaka. "Hahaha!" Akbar hanya tertawa geli. Setelah satu menit, bau kentut tidak lagi ada. Cempaka buru-buru mengangkat kepala dari ketiak Akbar dan mendongak ke arah Akbar. "Kenapa Abang Akbar teh bisa ada di grab ini? Campak teh tidak lupa yah, Campak tadi naik grab sendiri saja. Kenapa ada Abang Akbar di sini? ayo jawab." Cempaka duduk lalu melihat serius ke arah Akbar. Akbar membalas tatapan serius Cempaka dan menjawab, "Jika aku tidak ada di sini apakah kamu ingin orang lain yang ada di sini dan membawamu pergi?" "Aah, tidak! tentu saja Campak tidak mau dibawa pergi!" tolak Cempaka spontan. "Benarkah?" tanya Akbar. Cempaka mengangguk kuat. "Benar." "Lalu mengapa selama satu jam kamu tidur pulas tanpa tahu apapun?" tanya Akbar. Cempaka, "...." diam untuk beberapa detik. "Hehehe, Campak teh tadi rasa ngantuk, tapi tadi tidak tidur …." Suara Cempaka menelan saat dia mengingat bahwa dia memang baru saja bangun tidur. "Hahahaah! tidak usah dibahas lagi teh. Yang penting ada Abang Akbar di sini." Cempaka tertawa ke arah Akbar. Kryuukk kryuukk! Suasana mobil sunyi. "Tadi teh sudah buang muatan angin, jadi …." Cempaka menggaruk kepalanya. Akbar tersenyum lalu berkata, "Ayo turun lalu makan." "Ok," sahut Cempaka. Dia buru-buru turun dari mobil grab, lalu melihat ke arah tempat di mana dia berada. "Eeeh?" Cempaka terlihat bingung, dia cepat menoleh ke arah Akbar, "Abang Akbar, ini teh di mana?" "Di rumahku." *** Jadi, di sini lah Cempaka. Duduk berhadapan dengan Akbar di meja makan. Akbar sedang memisahkan tulang ikan bakar untuk diletakkan ke dalam piring nasi Cempaka. Mata Cempaka melihat ke arah sekeliling dapur yang tak jauh dari ruang makan. Saling tersambung namun terlihat sangat elegan. Juga semua terlihat rapi dan tidak berlebihan. Dia dapat melihat pemandangan hijau hutan dari arah ruang makan. Sangat indah. Saking indahnya pemandangan hutan hijau yang asri, Cempaka tidak sadar bahwa Akbar telah memandanginya tanpa bosan. Daging ikan bakar tanpa tulang telah menumpuk di atas piring nasi. Akbar tak menginterupsi Cempaka yang sedang menikmati pemandangan luar dari dalam rumahnya. Dia malah memandangi serius wajah gempal Cempaka yang imut. Kryuuk kryuuk. Bunyi dari perut Cempaka mengingatkan bahwa dia harus segera mengisi amunisi kekuatan perut. "Uh, Campak teh tidak ingat makan lagi. Hehehe." Cempaka buru-buru menyendokkan nasi ke dalam mulut. "Suka melihat hutan itu?" tanya Akbar. "Um, suka," jawab Cempaka sambil mengunyah. "Di kampung teh Campak ke hutan dan sawah terus," ujar Cempaka. "Makan dulu," ujar Akbar. "Um." Cempaka mengangguk mengiyakan. Setelah makan selesai, Akbar mengantar Cempaka untuk pulang ke restoran Cempaka. Mata Cempaka melihat ke sekeliling rumah Akbar. Terlalu luas dan sunyi. Rumah Akbar memang tidak terlalu besar, namun halaman dan tanaman hias mahal lainnya banyak dan terlalu luas. Rumah Akbar terlihat sangat unik, melayang dengan elegan. Udara masih sangat segar. Lokasi rumah yang dipilih oleh Akbar sebagai tempat tinggal sangat pas di hati. Cempaka masuk ke dalam mobil lalu diikuti oleh Akbar. Mereka duduk di jok belakang sementara supir yang biasa menyetir untuk Akbar sudah siap menginjak gas mobil. *** "Ini mana si Campak? sudah ditunggu-tunggu dari dua jam lalu tapi tidak muncul." Dahlia terlihat sangat kesal sekali. Dia dan suaminya berdiri dua jam menunggu sang keponakan pulang dari kampung. Namun, tidak muncul-muncul. Wajah Marsudi tidak lebih baik dari wajah sang istri, dia sangat dongkol. "Ck! mana aku udah lapar. Nggak ada uang. Kemarin kalah banyak." Dahlia berdecak kesal ketika mengingat bahwa kemarin dia kalah judi lagi. "Mana Campak itu pelit banget sama tantenya. Kasih uang nggak cukup untuk makan sehari, ini malah sepuluh hari lebih pulang ke kampung," cemooh Dahlia. Tak berapa lama, mobil yang biasa mereka lihat berhenti di pinggir jalan. Cempaka keluar dari dalam mobil sambil menenteng tas kain berukuran sedang di tangan kanan dan menggendong tas ransel di belakang. Mata Marsudi dan Dahlia terlihat cerah seakan mereka melihat sang penyelamat. Pintu mobil ditutup lalu mobil itu kembali melaju. Dari kaca spion samping, Akbar dapat melihat Marsudi dan Dahlia buru-buru menghampiri Cempaka sambil menengadahkan dua tangan, sementara itu Marsudi buru-buru membuka resleting tas ransel Cempaka. "Mana teh uang yang dikasih Abahmu ke Emang?" tanya Marsudi sambil mencari-cari uang di dalam tas ransel Cempaka. "Pelan-pelan atuh, Mang. Jangan diobrak-abrik begitu, barang-barang yang di dalam jadi berantakan," ujar Cempaka. Dia bahkan belum masuk rumah, namun dua orang ini mengerumuninya tak memberikan dia ruang. "Yasudah, ini Emang sudah tidak obrak lagi. Mana uangnya?" tanya Marsudi ke arah Cempaka seakan Cempaka akan membawa lari uang yang diberikan oleh sang adik padanya. Cempaka menarik lalu mengembuskan napas. Dia membuka resleting dalam yang berada di dalam ransel lalu mengeluarkan amplop putih. Tak butuh lama, Marsudi lalu menyambarnya. "Nah! ini yang Emang Cari." Setelah mengatakan ini, Marsudi lalu pergi menjauh dari Cempaka dan istrinya. Seperti biasa, dia akan pergi ke tempat judi lagi. "Emang, itu teh uang yang dikasih Abah untuk beli beras!" teriak Cempaka ke arah sang paman, namun sang paman tidak mendengar atau lebih tepatnya mengabaikan. Sedangkan Dahlia terlihat cemberut. "Kasih Tante uang makan, Tante udah mau mati kelaparan, cepat!" Cempaka ingin sekali berteriak tidak, namun setelah melihat wajah sang Tante yang kuyu, dia berbaik hati dan mengambil uang seratus ribu dari saku belakang celana denim yang dia pakai. "Mana cukup segini?!" Dahlia terlihat kesal, dia merogoh sendiri uang dari dalam saku celana Cempaka, dapat uang pecahan lima puluh ribuan lalu dia berjalan pergi tanpa mengucapkan terima kasih pada Cempaka. Cempaka hanya melihat penuh cemberut ke arah sang tante, beruntung dia telah makan siang bersama Akbar jadi tidak marah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN