Bab 25

1849 Kata
Hari-hari berjalan normal seperti biasa, seperti Marsudi dan Dahlia yang selalu memoroti Cempaka tanpa malu. Cempaka kembali ke aktivitasnya yaitu menjual makanan dan pelayanan unik ciri khas darinya. Beberapa pelanggan yang bertemu Cempaka merasa sangat senang bahwa Cempaka kembali berjualan lagi, karena selama akhir tahun menuju tahun baru adalah masa vacuum Amis Amis Asup. Akbar selama ini terus mengikuti ke mana Cempaka membawa pesanan. Dia sangat menikmati perannya dalam mengikuti ke mana saja sang kekasih pergi. Seperti yang terjadi hari ini, Akbar melihat isi pesan yang diterima oleh Cempaka. Wajah Akbar terlihat datar saat melihat siapa penerima makanan hari ini. *** Cempaka melihat nama penerima. "Apa boleh buat, Campak teh tidak bisa benci orang terus-terus," gumam Cempaka setelah dia meletakkan ponsel ke atas meja dan segera membungkus makanan untuk calon pelanggannya. Broook brookk brook! "Uuh … perut Campak teh sakit … tidak berhenti kentut dari pagi," keluh Cempaka sambil mengusap perut bagian bawahnya. Wajah Cempaka terlihat agak pucat hari ini. Dia terlihat kurang bersemangat, namun apa daya, dia harus mencari uang untuk hidup dan tabungan hari tua. Yah, itulah pemikiran Cempaka. Setengah jam kemudian, Cempaka melihat gedung yang telah biasa dia datangi. ArchiBigJen Enterprise. Dia berusaha untuk menarik lalu mengembuskan napas. "Semoga hari ini teh berjalan lancar," gumam Cempaka. "Bismillah." Cempaka memasuki pintu gedung ArchiBigJen Enterprise. "Halo, Teh Anti dan Teh Ria, saya teh mau bawa pesanan untuk Ibu Anita," sapa Cempaka sopan. Melihat Cempaka, Anti dan Ria cepat-cepat berdiri dan tersenyum ramah. "Halo, Teh Campak. Mari silakan," ujar Anti. Cempaka mengangguk, dia menuju ke lift, dan lift itu adalah lift 'Only Leader'. Namun, Anti dan Ria tidak bisa menahan Cempaka untuk naik lift itu, mereka tahu bahwa Nona Cempaka ini diperlakukan baik oleh bos besar mereka. Dia tidak sadar bahwa dia telah menaiki lift khusus untuk pimpinan tertinggi perusahaan. Lantai sebelas. Cempaka keluar dari lift Only Leader, hal ini membuat semua orang menoleh ke arah datangnya Cempaka. Melihat semua tatapan orang padanya, Cempaka berhenti melangkah maju untuk sesaat, sebab semua mata terlihat memperhatikan dia dan melihat dengan tatapan terkejut dan ketidakpercayaan. Ada yang menatap Cempaka dengan tatapan sinis dan keingintahuan mereka. Yang tatapan sinis itu adalah pelanggan Cempaka hari ini. "Campak!" Agam berdiri dari kursi kantin lalu cepat-cepat menghampiri Cempaka. Dia lalu meraih rantang makanan dan tersenyum ramah. "Ya ampun, untung saja aku belum makan, ayo duduk, aku mencium bau makanan enak." Agam menarik tangan Cempaka seolah mereka itu 'akrab'. Luhut dan Binsar menutup mata mereka dengan jari. Agam ini mulai membawa petaka bagi dirinya sendiri, tidakkah Agam belajar suatu hal ketika akhir bulan tahun lalu? Agam membawa Cempaka ke arah meja teman-temannya. Ada Anita yang melihat serius ke arah Cempaka. "Ibu Anita, ini teh pesanannya," ujar Cempaka. Wajahnya terlihat kurang nyaman hari ini, namun dia berusaha untuk tetap tersenyum dan ceria. "Ayo duduk!" Agam hendak mendudukan Cempaka di tempat duduk sebelahnya, namun suara terdengar. "Kamu pikir kamu adalah karyawan yang kerja di sini?" suara Anita mulai terdengar. Agam yang tadinya hendak mendudukkan Cempaka ke kursi menjadi kaku, dia melirik ke arah Anita yang tersenyum sinis. Cempaka berdiri hanya melihat Anita. "Saya tanya, kamu karyawan di sini?" tanya Anita sekali lagi. Ruang kantin sunyi. Cempaka menggeleng sambil menjawab, "Saya bukan karyawan di sini, Bu." "Lalu apa yang membuat kamu berani sekali menggunakan lift yang baru saja kamu naiki tadi?" tanya Anita. Luhut menahan bahu Anita agar jangan melanjutkan pertanyaannya lagi. Namun, Anita tidak ingin mendengarkan Luhut. Binsar dan Luhut saling melirik, jika seperti ini maka mereka pun akan terlibat. Alias terseret dalam sebuah masalah. Cempaka terlihat bingung. "Ibu Anita, memangnya teh ada apa dengan lift yang saya naiki tadi?" tanya Cempaka sopan. "Hah, kamu *bodoh atau pura-pura lugu?" sinis Anita. "Anita," tegur Luhut. Anita mengabaikan Luhut. Cempaka hanya mencubit-cubit celana jeans yang dia pakai, dia bingung. "Itu … itu kan lift, jadi kenapa dengan lift itu?" tanya Cempaka, suaranya mulai memelan karena tatapan sinis yang diberikan Anita padanya. "Kamu tahu, lift yang kamu naiki tadi, itu bukan untuk orang biasa. Lift itu hanya bisa dinaiki oleh pimpinan perusahaan ini, bahkan saya sebagai eksekutif di sini tidak bisa sembarangan ceroboh naik lift itu, inikah tata krama dari pemilik Amis-Amis Asup? tidak berpengetahuan dan tidak disiplin," cecar Anita. "Anita, hentikan," balas Luhut. Ucapan Anita kali ini bisa saja membuat teman mereka marah. Anita masih tidak menghiraukan Luhut. "Saya yang memiliki hubungan pribadi dengan pimpinan di sini saja, tidak pernah berani menaiki lift itu. Sementara kamu yang hanya kenal entah dari mana dan memposisikan diri dekat dengan pimpinan di sini bertingkah seolah kamu lebih kenal pimpinan kami-" "Anita, aku bilang hentikan!" Luhut berdiri lalu menghadang Anita yang menatap penuh dendam kesumat ke arah Cempaka. Lift Only Leader terbuka, bersamaan dengan terlihatnya kerutan yang sangat jelas dari pemilik lift itu. Luhut menoleh ke arah pintu lift yang tak jauh. Selesai. Luhut menutup matanya, merasa bahwa hari ini adalah awal kesengsaraan dirinya. Agam dan Binsar menoleh ke arah Akbar, wajah mereka tiba-tiba menjadi gugup. Tentu saja Akbar harus ada di sini, sebab di mana Cempaka berada di situ lah ada Akbar. Anita menoleh ke arah Akbar, wajah sinisnya berubah luntur. Cempaka menyentuh perutnya, tiba-tiba wajahnya seperti menahan sakit dan pucat. Agam yang berdiri di samping Cempaka cepat tersadar, dia memegang bahu Cempaka. "Campak, kamu … sakit?" tanya Agam. Akbar berjalan ke arah Cempaka lalu memisahkan Cempaka dari Agam, dan membawa Cempaka ke dalam pelukannya. "Ada apa?" tanya Akbar lembut. Cempaka berbisik, "Abang Akbar, Campak teh sudah tidak kuat tahan lagi." "Keluarkan!" pinta Akbar. "Jangan di sini, banyak orang atuh," balas Cempaka. Bruuuuuuuuubbruubbruuubruuubruuuub! Setengah detik setelah balasan Cempaka, bunyi menyusul. Kantin sunyi seketika. "Perut Campak sakit … masuk angin," gumam Cempaka. "Hahaha." Akbar tertawa pelan, dia mengusap rambut Cempaka. "Keluarkan semuanya," ujar Akbar. Bruuuuuuuuuuuuuub! Brub! brub! brub! "Uuhh … Campak teh datang bulan, jadi begini, lebih banyak buang angin …," ujar Cempaka. Akbar tersenyum. Dia meraih rantang yang berada di tangan Agam lalu membawa Cempaka naik lift miliknya. "Ayo makan siang," ucap Akbar. Pintu tertutup, Cempaka langsung mendongak dari pelukan Akbar. "Abang Akbar, tadi teh banyak orang! ya Gusti! Campak teh tidak bisa tahan lagiii!" Cempaka terlihat menyesal bercampur geregetan. Menyesal karena dia kentut di depan banyak orang dan geregetan karena dia tidak mampu menahan kentut lagi. Akbar hanya tertawa geli. "Aduuh! Campak teh bikin malu! aahhh! Campak malu-maluin!" Cempaka hampir melompat-lompat tidak jelas di dalam lift. "Tidak apa-apa," ujar Akbar. "Apanya yang tidak apa-apa?" tanya Cempaka. "Kentut saja," jawab Akbar lalu tersenyum geli. "Aaaaahh!" Cempaka terlihat malu. Pintu lift terbuka. Akbar menuntun Cempaka yang sedang bercampur emosi menuju ke dalam ruang kerjanya. Sementara itu Sekretaris Linda dan Sekretaris Sandi yang hendak naik lift untuk ke kantin menjadi terhenti. Apalagi wajah Sekretaris Linda yang terlihat kikuk saat Cempaka yang tadi geregetan mengepalkan kepalan tangannya tinggi-tinggi melihat ke arahnya. "Oh?" Cempaka membulatkan matanya. "Ibu Sekretaris Linda," ujar Cempaka. Dia cepat-cepat mendekat ke arah Linda, sedangkan Sekretaris Sandi buru-buru mundur agar menjaga jarak dari Cempaka. Jangan dekat-dekat perempuan milik bos, bahaya besar bagi keberlangsungan hidupnya di muka bumi ini. "Ibu Linda, saya teh belum ganti uangnya, yah? ah, ada ATM di bawah nanti setelah makan siang, saya teh ambil uang dan kasih ke Ibu, yah?" ujar Cempaka. Linda tersenyum senatural mungkin agar sang bos merasa senang bahwa dia tidak sedang menekan nona ini. "Nona Campak. Itu kesalahan saya. Begini, tidak perlu diganti uang saya. Saya sudah menganggap itu ikhlas. Jadi tidak perlu diganti lagi," ujar Linda. Toh apa yang dikatakan Linda benar. Linda telah memakan makanan itu, jadi dia seharusnya bayar, meskipun Cempaka salah kasih orang. Wajah Cempaka berubah berseri-seri. "Wah, terima kasih teh untuk Ibu Linda, Ibu teh sangat baik. Ah, nanti besok saya bawa makanan untuk Ibu, yah?" tawar Cempaka. Mendengar tawaran dari Cempaka, mata Linda dan Sandi berubah cerah, namun semua tenggelam layu setelah mendengar suara. "Sekretaris Linda biasa makan di kantin perusahaan," ujar Akbar. Linda dan Sandi, "...." hanya mampu tersenyum kikuk. "Oh, begitu." Cempaka manggut-manggut mengerti. Akbar merangkul Cempaka lalu berkata, "Ayo masuk." "Um," sahut Cempaka. Krryuuk kruukk! "Campak teh sudah lapar," ujar Cempaka. "Baik." Akbar menyahut pelan. Bruub bruub bruub! "Campak teh … sudah kentut lagi …," ujar Cempaka. "Hahahaha, um." Akbar tidak keberatan. Wajah Linda dan Sandi terlihat planga-plongo melihat pintu ruang kerja Akbar tertutup. Sandi cepat menarik seniornya itu masuk ke dalam lift. "Ayo masuk, Mbak. Jangan lama-lama di sini, saya tidak merasa aman," ujar Sandi. Tentu saja dia tidak merasa aman, sebab jika keberadaan mereka mengganggu makan siang sang bos besar, maka pasti dia juga yang akan dibuat sengsara oleh sang bos. Sementara itu di kantin. "Nita, sudah berapa kali aku bilang, kamu jangan seperti ini-" "Seperti apa?" potong Anita ke arah Luhut. Luhut hendak melanjutkan lagi ucapannya. "Jangan ingatkan aku lagi, Bang. Dia memang tidak tahu tata krama, masa bisa kentut di depan banyak orang? itu sama sekali tidak sopan!" Anita lebih dulu mengutarakan argumennya. "Nita-" "Jangan larang aku. Apa Bang Luhut *buta? semua juga lihat betapa joroknya perempuan itu, betapa tidak sopannya dia-" "Jangan lagi lanjutkan, Anita." Agam angkat suara. "Kamu terlalu banyak mengatakan hal buruk padanya. Ini sama saja kamu memfitnah Campak sana-sini-" "Apa? fitnah dia sana-sini?" Anita tersenyum sinis dan penuh amarah ke arah Agam. "Apa Abang Agam sekarang membela dia?" tanya Anita. "Kenapa kalau aku membela Campak? dia tidak salah apa-apa. Punya masalah pencernaan di perut bukan salahnya kentut," jawab Agam. "Haa, setidaknya dia tahu tempat untuk kentut!" seru Anita kesal. "Anita! ini tempat umum!" Luhut hampir saja berteriak keras agar Agam dan Anita berhenti bicara. Binsar dan karyawan yang lainnya terlihat diam saja. Mereka tidak ingin membuka suara yang nantinya akan menambah suasana yang cukup tegang ini. Pintu lift terbuka, saat itulah Linda dan Sandi keluar dari lift. "Ayo lanjutkan makan," ujar Luhut. "Aku tidak nafsu makan." Anita lalu berjalan ke arah lift. Linda dan Sandi hanya melirik Anita penuh dengan kebingungan. *** Cempaka mengusap perutnya yang kenyang. Dia melihat ke arah Akbar yang sedang duduk di hadapannya. "Abang Akbar." Akbar mendongak ke arah Cempaka. "Ya." "Kita teh sudah jadian satu bulan. Tapi Campak teh tidak punya nomor telepon Abang Akbar. Campak teh searching di nenek google kalau salah satu meluangkan waktu untuk pacar teh harus jalan-jalan atau refreshing bersama begitu. Dan ada juga mengirim pesan atau gambar sayang pada pacar, tapi teh Campak belum punya nomor Abang Akbar," ujar Cempaka. Akbar terdiam beberapa detik. "Ah, tidak apa-apa teh jika tidak dikasih nomor teleponnya. Setiap hari Campak dan Abang Akbar teh bertemu juga, hahahahahah-aah?!" Pruub! "Hehehe. Angin sisa keluar. Maaf atuh." Cempaka menggaruk kepalanya. Akbar tersenyum, dia menarik lembut Cempaka untuk duduk di pangkuannya, namun Cempaka cepat-cepat lari. "Tidak! tidak! Campak sekarang tidak boleh duduk di atas pangku Abang Akbar lagi," ujar Cempaka cepat. "Kenapa?" tanya pria itu. "Karena pas Campak searching meluangkan waktu untuk pacar, Campak teh tidak sengaja baca di artikel di bawahnya kalau duduk di pangku laki-laki teh bisa bikin 'anunya' laki-laki jadi patah!" Cempaka melotot lebar. "Dan saat itu Campak juga lihat gambar ilustrasinya! aaahh! besar dan patah teh!" seru Cempaka. Akbar, "...." "Hahahahahaha!" Akbar terbahak. Dia geleng-geleng kepala. Sementara itu di depan pintu ruang kerja Akbar, wajah Anita memerah menahan tangis kekesalan dan sakit hati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN