Mobil hitam berhenti di depan restoran Amis Amis Asup. Setelah itu Cempaka turun dari dalam mobil sambil tersenyum riang lalu melambai ke arah orang di dalam mobil. Pintu mobil tertutup dan kembali melaju.
Saat Cempaka berbalik hendak menuju ke restorannya, Marsudi mendekat.
"Eh? Emang?" Cempaka agak terkaget dengan kemunculan tiba-tiba dari sang paman.
"Jujur ke Emang, kamu dan Akbar itu pacaran, kan? jangan bohongi orang tua, dosa. Campak, kamu tinggal di sini jadi tanggung jawab Emang dan Tante kamu sebagai pengganti orang tua kamu yang ada di kampung. Jadi, kamu sudah Emang anggap anak perempuan sendiri. Nah, sekarang ngaku, sudah berapa lama kamu pacaran sama Akbar?" Marsudi langsung menginterogasi Cempaka di pinggir jalan dan tentu saja di depan umum. Hal ini membuat beberapa tetangga melirik penuh penasaran ke arah Marsudi dan Cempaka.
"Itu-"
"Jangan ngelak, Campak. Emang sekarang orangtua kamu di sini," tegas Marsudi.
Cempaka menarik lalu mengembuskan napas dan berkata, "Mang, jangan di sini teh. Banyak orang."
"Janji dulu kalau kamu akan jujur," ujar Marsudi.
"Iya iya, Campak teh janji," ujar Cempaka sambil mengangguk.
Dari belakang Marsudi, Dahlia hanya memperhatikan.
Cempaka masuk ke dalam restoran diekori oleh Marsudi dan Dahlia.
Mereka duduk berhadapan di meja kursi restoran yang hanya satu saja.
"Sekarang jujur, kamu dan Akbar sudah pacaran berapa lama?" tanya Marsudi to the point.
"Baru sebulan, Mang," jawab Cempaka.
Marsudi dan Dahlia melotot.
"Campak! kamu ini memang benar-benar yah, masa menyembunyikan ini dari Emang dan Tante kamu," ujar Dahlia.
Saha juga teh yang mau kasih tahu Tante dan Emang, batin Cempaka.
(Saha, Siapa– bahasa Sunda.)
Marsudi menyipit ke arah Cempaka, "Sudah dikasih berapa kamu sama Akbar?" tanya Marsudi.
Cempaka mengerutkan keningnya bingung, dia bertanya, "Kasih apa, Mang?"
"Kasih uang," jawab Marsudi.
Lah?
Pertanyaan macam apa ini? batin Cempaka tak habis pikir.
"Mang, maksud Emang teh apa? maksud Emang, Campak teh jual diri ke Abang Akbar begitu? ya Gusti Allah! pikiran Emang teh terlalu berlebihan! demi Allah, Campak teh tidak macam-macam dengan Abang Akbar!" Cempaka berdiri dari kursi lalu dia terlihat agak marah. Suaranya sedikit ditinggikan.
"Bukan itu maksud Emang," ujar Marsudi cepat-cepat meralat ucapannya.
"Maksud Emang, kamu selama ini bersama Akbar apakah dia ada kasih apa-apa begitu sama kamu?" tanya Marsudi yang meralat kembali pertanyaan sebelumnya.
Cempaka menggeleng kuat.
"Tidak! Campak teh tidak dikasih apa-apa sama Abang Akbar. Dan juga kalau Abang Akbar kasih sesuatu ke Campak, Campak teh tidak mau terima," jawab Cempaka.
"Dasar polos kamu. Ah, jangan sok polos, kalau dia kasih sesuatu, ambil saja," ujar Dahlia yang terlihat geregetan.
"Untuk apa? Campak teh bisa beli apapun dengan uang yang Campak dapat dari hasil jualan," balas Cempaka.
Dahlia memutar bola matanya lalu dia mencebik ke arah Cempaka, sedangkan Marsudi tersenyum penuh kelicikan.
"Iya, Emang tahu. Kamu tidak seperti orang lain. Emang percaya, kok," ujar Marsudi menenangkan Cempaka yang mulai terlihat marah.
Jangan sampai keponakan mereka marah pada mereka, alamat uang harian tidak akan mereka dapat.
"Kamu itu justru bisa minta apapun ke Akbar, kan kalian pacaran," ujar Dahlia yang mulai menghasut Cempaka.
"Dahlia, diam. Aku mau bicara," sanggah Marsudi.
Marsudi melihat ke arah Cempaka.
"Sekarang bilang ke Emang, Akbar itu kerja di mana? kamu harus jujur."
Wajah Cempaka terlihat tidak ingin memberitahu Marsudi.
"Nanti Emang telepon Abah dan Ema kamu kalau kamu sekarang sudah mulai diantar pulang sama laki-laki," ujar Marsudi.
Hal ini membuat emosi Cempaka hampir membuncah marah, namun dia berusaha menahannya. Kalau sang paman memberitahu hal macam-macam ke orangtuanya, bisa saja terjadi fitnah dan hal yang tidak diinginkan. Rasanya Cempaka ingin pindah restoran dari sini, Namun harus ditahannya karena nasehat dari sang ayah.
"Abang Akbar teh kerja di ArchiBigJen Enterprise," jawab Cempaka dengan enggan.
"Apa?" mata Marsudi terlihat melotot takjub.
Orang yang bekerja di ArchiBigJen Enterprise bukanlah orang biasa. Jika mereka orang biasa pun, maka uang mereka pasti cukup banyak, tentu saja digaji oleh perusahaan yang bersangkutan. Marsudi bukan orang bodoh meskipun dia adalah pengangguran sudah beberapa tahun ini, ingat, dia dulu pernah punya usaha meskipun bangkrut karena ketidakmampuannya.
"Posisi apa dia di sana?" tanya Marsudi dengan penuh penasaran bercampur sangat ingin tahu.
Cempaka terlihat enggan untuk menjawab, "Bos."
"Bos?" beo Marsudi.
Mata Dahlia hampir keluar dari dalam kolam biji mata saking melotot ke arah Cempaka.
"Iya, Abang Akbar teh bos di sana," ujar Cempaka.
"Yang punya perusahaan?" tanya Marsudi memastikan.
Dengan enggan Cempaka mengangguk.
"Kamu tidak bohong, kan?" tanya Marsudi lagi.
"Henteu, Mang. Campak nyarios leres, teu ngawadul," jawab Cempaka.
(Tidak, Paman. Campak teh bicara jujur.)
Senyum senang naik menghiasi bibir Marsudi.
Dia menatap serius ke arah sang keponakan.
"Siapa nama Akbar sebenarnya?"
"Chairal Akbar Tanjung," jawab Cempaka.
"Ah … rupanya bukan orang asli sini." Marsudi manggut-manggut.
"Akbar tinggal di mana?" tanya Marsudi lagi.
"Untuk apa teh Emang tanya tempat tinggal Abang Akbar?" Cempaka menolak untuk memberitahu di mana tempat tinggal Akbar.
"Jawab saja, di mana?" tanya Marsudi, dia mengabaikan pertanyaan Cempaka.
"Campak teh tidak tahu," jawab Cempaka.
"Kenapa bisa kamu tidak tahu? Akbar dan kamu kan pacaran, pasti kamu tahu dong di mana Akbar tinggal." Dahlia angkat bicara.
Marsudi mengangguk setuju.
Cempaka memutar bola matanya.
"Tante, Emang. Campak teh hanya bertemu dengan Abang Akbar di luar saja. Campak tidak ke rumah Abang Akbar. Lagipula itu tempat privasi Abang Akbar. Campak teh tidak berani macam-macam pergi ke rumah Abang Akbar, nanti teh Abang Akbar-nya marah."
Marsudi berpikir lalu mengangguk membenarkan ucapan Cempaka. Benar juga apa yang dikatakan oleh keponakannya. Jangan sampai Akbar marah, itu tidak boleh terjadi.
"Um. Ya sudah. Emang tidak tanya lagi," ujar Marsudi.
Cempaka mengembuskan napas lega, namun suara Marsudi terdengar lagi.
"Kasih nomor telepon Akbar ke Emang." Marsudi bersiap-siap untuk menekan nomor telepon Akbar.
Wajah Cempaka terlihat canggung.
"Itu … Campak teh lupa minta lagi nomor Abang Akbar pas diantar pulang ke sini."
Marsudi, "...."
***
Siang itu juga setelah Marsudi mengkonfirmasi bahwa Cempaka dan Akbar memiliki hubungan, dia langsung pergi menuju ke gedung pusat ArchiBigJen Enterprise.
Dia akan masuk namun sepertinya tidak akan semudah itu.
Satpam a bertanya, "Maaf, Pak. Ada perlu apa, yah?"
Marsudi meneliti baik-baik gedung unik ArchiBigJen Enterprise ini. Lalu setelah itu dia melirik ke arah satpam a.
"Saya mau bertemu dengan Akbar," jawab Marsudi.
Tiga orang satpam yang berjaga, "...." diam bagaikan burung beo.
Mereka tidak salah dengar, kan?
Orang di luar pos ini ingin bertemu dengan bos besar mereka. Dilihat dari gaya pakaian orang itu, mereka tahu bahwa Marsudi ini bukan orang 'penting', namun dengan mudahnya mengatakan ingin bertemu dengan bos mereka. Mereka saja yang sudah lebih dari sepuluh tahun kerja di sini tidak pernah bertemu secara pribadi dengan bos mereka. Kalaupun mereka bertemu bos, itu hanya membuka pintu pagar gerbang saja dan mereka memberi salam yang bahkan sama sekali tidak digubris oleh bos mereka.
"Maaf, Pak. Apakah Bapak sebelumnya telah membuat janji dengan Pak Akbar?" tanya satpam a sopan.
Marsudi spontan menggeleng lalu menjawab, "Belum."
Satpam a tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. Mau bertemu dengan bos, tidak semudah yang dipikirkan bapak ini. Bahkan jika Anda telah membuat janji temu juga tidak akan mudah, sebab janji itu bisa dibatalkan oleh bos.
"Maaf, Pak. Jika belum membuat janji dengan Pak Akbar, maka tidak bisa bertemu dengan Pak Akbar," ucap satpam a.
Marsudi mengerutkan keningnya.
"Loh, Akbar saja bisa datang ke rumah saya dan mengantar anak perempuan saya di rumah. Tadi saya baru bertemu dengan dia."
"Apa?" satpam a terlihat kaget.
Bos mengantar anak perempuan bapak itu ke rumah. Itu berarti orang ini adalah ayah dari Nona Cempaka. Nona yang setiap dia lihat naik mobil bos terus.
Melihat kekagetan dari satpam, Marsudi tersenyum licik. Dia mulai bertingkah seperti orang penting.
"Memang tidak boleh saya bertemu dengan pacar dari anak perempuan saya?" tanya Marsudi sambil menaikkan sebelah keningnya. Bertingkah seolah Cempaka itu benar-benar anak perempuannya.
"E … m … i-itu … saya …," ujar satpam a tergagap.
"Akbar sering antar anak saya pulang, sekarang saya ingin bertemu dengan dia, dan jawaban kamu tidak boleh? ah, baiklah, saya akan katakan pada Akbar nanti, berhenti antar anak saya pulang," ujar Marsudi, gayanya sekarang terlihat sombong.
"Yah … saya tidak tahu nasib kamu nanti. Atau begini saja, saya beritahu anak saya kalau bawahan pacarnya tidak memperlakukan ayahnya dengan baik. Bagaimana yah nanti citra Akbar di mata anak saya?"
Tiga satpam keringat dingin sekaligus.
"Akan saya koordinasikan dengan sekretaris beliau." Satpam a terlihat gugup.
Tiga satpam hampir mati ketakutan mendengar gertakan dari Marsudi.
***
Anti tersenyum ramah ke arah Marsudi yang duduk di sofa lobi.
Satpam a baru saja memberitahunya bahwa orang tua itu adalah ayah dari Nona Cempaka. Dan satpam juga memberitahu Anti bahwa Nona Cempaka itu adalah pacar dari bos mereka.
Mendengar pengakuan satpam a, tangan Anti hampir gemetar saking takutnya dengan ancaman Marsudi yang dikatakan oleh satpam a.
Anti meraih gagang telepon lalu menelepon nomor di lantai 20.
Tersambung ke Sekretaris Akbar.
***
Akbar menikmati istirahat siangnya.
Makan bersama Cempaka telah membuat suasana hatinya senang. Namun, dia tidak sesenang itu karena ucapan Anita yang tidak dia sukai pada Cempaka.
Dia mengetik sesuatu di laptop.
Rupanya memblok komunikasi ke-empat orang itu tidak membuat mereka jera. Maka dari itu, Akbar membuat blok kata. Dia menghilangkan kata-kata yang perlu dihilangkan, seperti nama mereka yang tidak akan muncul di ponsel Cempaka, begitu pula sebaliknya.
Lalu hal terakhir yang dilakukan Akbar adalah ….
Membuat komentar pertama secara otomatis di setiap postingan Cempaka, yang artinya adalah, Akbar sekarang merupakan pelanggan tetap Cempaka.
Ketukan terdengar.
Akbar menekan tombol enter.
Lampu hijau menyala, tanda bahwa dia berada di dalam.
"Permisi, Tuan. Ada ayah dari Nona Cempaka sedang menunggu Anda di ruang lobi perusahaan." Ini adalah suara dari penjaga rumah.
Akbar terdiam.
Setelah beberapa detik kemudian, Akbar menekan sebuah tombol di laptop, lalu layar menyala di dinding ruang kerjanya.
Gambar Marsudi yang duduk sambil menyeruput kopi hangat terlihat di layar.
***