Bab 4

1683 Kata
Prrruuukk! Buuuuup! Piiuuuu! Bunyi dahsyat tiga kali berturut-turut terdengar. "Ah … lega." "Um, bau. Huek!" Campak mengipasi hidungnya. Beberapa detik kemudian. "Halo?" suara bas magnetik terdengar. Mata Campak melotot. Suara. Suara orang. Suara pria. Dan ternyata bukan dia saja yang menguasai lift ini, ada orang lain lagi. Dengan perlahan Campak menoleh ke arah kiri, adegan ini seperti adegan yang disuguhkan dalam film horor yang mana pemeran utama perempuan melirik penuh tegang dan horor terhadap sesuatu. Tatapan dua mata beda gender itu saling beradu. Campak menunduk malu, ada orang di dalam lift ini, dan orang ini mendengarkan kentut maha dahsyatnya. "Maaf, saya sudah kentut. Saya tidak tahan lagi …," suara malu Campak terdengar, "saya terlalu banyak makan sambal." Sunyi. Lift itu terasa sunyi untuk beberapa detik setelah ucapan maaf dari Campak. Akbar melihat wajah Campak, lucu dan imut. "Hahahahaha!" Bunyi tawa dari pria 34 tahun itu memenuhi se-isi ruang lift. Campak terlihat linglung setelah mendengar tawa dari pria yang menontonnya live kentut, bukan marah yang dia dapatkan melainkan tawa. Setelah tertawa beberapa detik, Akbar memperbaiki penampilannya. Campak tersadar sesuatu. Dia kentut tiga kali, otomatis angin bau yang keluar dari p****t juga banyak. "Belum aku kipas!" ujar Cempaka panik. Campak mengipasi di seluruh lift, termasuk mengipasi udara di sekitar Akbar. Berharap bahwa bau busuk akan menghilang, namun hei, ini adalah lift. Ruang tertutup, dari mana bau atau udara akan keluar masuk? Akbar kembali diam dan serius, dia tak lagi tertawa, dia hanya memandangi atas lift yang sudah menunjukan angka dua puluh. Ting. Pintu lift terbuka. Akbar berjalan keluar dari lift. Saat Akbar berjalan keluar, dua sekretaris menyapa. "Pak Akbar." Sandi dan seorang wanita berusia lima puluh tahun. "Um, permisi." Campak menyembulkan kepalanya keluar dari dalam lift. Dia melihat ke arah Akbar dan dua orang sekretaris Akbar. "Lantai marketing di mana, yah?" tanya Campak bingung. Dia baru sadar bahwa dia tidak tahu lantai berapa yang harus dia naiki, hanya nama divisi dan nama penerima. Sandi dan sekretaris dua bernama Linda melotot kaget. Ada orang di dalam lift bos selain bos! Mereka melirik ke arah Akbar yang berhenti saat Campak bertanya. "Saya tadi telat antar makanan pesanan," ujar Campak. Sandi dan Linda ingin memberitahu, namun Akbar berhenti di tempat, mereka takut menyinggung bos mereka. Akbar sadar situasi canggung di antara dua sekretarisnya. Dia melanjutkan langkah memasuki ruang kerjanya. Pintu geser itu terbuka dan tertutup dengan sendirinya setelah sidik jari Akbar dipindai. Pintu tertutup. "Nona, Anda salah masuk ruang, dan Anda juga salah masuk lift," ujar Sandi tanpa mengurangi rasa sopan. Nona ini satu lift dengan pemimpin perusahaan, namun bos seperti tak mempedulikan, tak marah juga tak hirau. "Iya, Pak. Saya salah ruang dan salah masuk lift," balas Campak terlihat kasihan. Sandi dan Linda saling melirik. Ternyata gadis ini tahu. Maksud dari ucapan Campak bahwa dia salah ruang berhenti, dia juga salah masuk lift, sebab tidak ada perempuan yang ada di dalam lift. Pelanggannya perempuan. "Seharusnya saya membawa makanan ke lantai Marketing dengan nama penerima Shinta Aulia, tapi setelah masuk lift, saya salah. Saya dari Amis - Amis Asup." Linda dan Sandi, "...." seketika rasa lapar mendera mereka. Ini dari Amis - Amis Asup! Restoran yang hanya masak satu kali satu hari! Jika Anda beruntung, maka Anda akan dapat mencicipi masakannya. Kryuuk kryuuk. Kryuuk kryuuk. Bunyi misterius dari dalam perut sekretaris Sandi dan Linda saling bersahutan. "Udang bakar madu, porsi jumbo untuk enam orang, gratis nasi, piring, rantang, sendok dan gelas," ujar Cempaka memberitahu menu pesanan siang ini. "Itu … ehm, biar saya saja yang bayar." Sandi cepat-cepat mengeluarkan dompet dari saku celana belakang lalu mengeluarkan semua isi dompet ke arah Campak. Jangan lama-lama, air liurnya sudah menetes hampir menenggelamkan mulutnya. " … jadi ini lantai marketing? Anda adalah Nona Shinta Aulia itu?" tanya Campak, dia melihat ke arah Linda yang sedang berdiri diam. Sandi yang mengangguk. "Ya, ini adalah lantai marketing dan ini uhum, ibu Shinta." Linda, "...." dia dijadikan orang lain. Sejak kapan lantai bos berubah menjadi lantai marketing? kapan dia ganti nama? "Um, baiklah." Campak kurang yakin, dia melirik ke arah pintu mewah berjarak lima meter darinya. "Em, itu adalah bos kami," ujar Sandi cepat-cepat Kryuk kryuk! Tuhan, aku tidak tahan! Tidak tahan lapar! Melihat wajah kasihan dari pria 40 tahun ini, Campak jadi iba. "Satu juta lima ratus ribu rupiah tidak lebih dan dilarang menawar," ujar Cempaka. Sandi mengangguk kuat. "Uang cash, satu juta lima ratus ribu rupiah." Pak. Bunyi uang yang dipukul Sandi di telapak tangannya saat menyebutkan nominal harga makanan. Sret. Bunyi tarikan dua tas makanan. Sandi memasukan uang berjumlah demikian ke arah tangan Cempaka lalu menarik dua tas makanan. "Baiklah, Pak, Bu. Selamat menikmati. Semoga beruntung di lain hari." "Saya permisi," pamit Cempaka. "Iya, terima kasih!" air liur Sandi telah jatuh. "Hehehe." Campak terkekeh. Dia memasuki lift milik Akbar lalu memencet tombol lantai dasar. "Ini … Nona jangan menggunakan lift … itu …." Suara Linda terputus, pintu lift sudah tertutup. Sandi dengan tampang kelaparan langsung membuka bungkusan makanan. "Ya Tuhan! nikmat mana lagi yang kau dustakan?!" ujar Sandi. Sandi cepat-cepat mengambil piring karton dari Campak. Dia hendak menyendokkan nasi. Treet! "Astaga!" Sandi terkejut. Linda cepat-cepat menyahut panggilan alarm dari bos besar. "Ya, Pak Akbar. Saya Linda." "Berikan hasil laporan dari bagian anak perusahaan cabang." Sandi, "...." Tuhan, aku belum makan. Linda beruntung, hari ini dia dapat mendengar suara pimpinan. "Masuk, jangan makan dulu," ujar Linda pada Sandi lalu berdiri meraih tablet dan dokumen yang telah dia print dari perusahaan cabang. *** Saat lift berhenti dan terbuka di lantai dasar. Saat lift bos besar terbuka, karyawan yang tadinya baru saja istirahat makan siang kini berlomba merapikan penampilan. Bos besar, jaga penampilan. Saat langkah kaki keluar, karyawan berlomba menyapa bos besar mereka, "Selamat siang, Pak-" Seketika suara mereka macet. Mana Pak Akbar? mana pimpinan perusahaan mereka? Sepuluh orang yang merupakan karyawan dan satu manager itu terlihat bungkam ketika mereka melihat penampakan seorang gadis potongan rambut bob, blus biru dongker, celana jeans kill panjang, dan sepatu flat. Gadis itu tersenyum menyapa mereka dengan ceria, "Selamat siang juga," balas Campak. Orang-orang, "...." Hantukah? Bukan penampakan. Sebelum Campak menjauh dari lift, dia melambai sambil memberi semangat. "Semangat bekerja!" Lalu Campak berjalan menuju lobi dan menyapa dua resepsionis. "Halo, Mbak. Terima kasih." Ada dua karyawan yang turun dari lantai satu–HRD atau tempat divisi personalia dari eskalator. Lantai satu, dua dan lantai dasar dapat saling melihat karena hanya sebagian yang merupakan lantai. Mereka melihat cengo ke arah Campak yang berjalan keluar dari dalam perusahaan. "Itu siapa?" tanya karyawan a. "Ini yang ingin aku tanyakan." Karyawan b melirik ke arah karyawan a. "Perempuan, kan?" tanya karyawan c. "Ya, perempuan," jawab karyawan b. Mereka melihat ke arah Anti dan Ria yang sedang tersenyum pada Campak yang baru saja keluar dari pintu perusahaan. Sembilan karyawan saling melirik lalu cepat-cepat berlomba berjalan ke arah Anti dan Ria, tak mau ketinggalan, seorang manajer juga ikut. Dua karyawan HRD juga ikut. Anti dan Ria tersenyum ramah pada gadis tadi, gadis yang keluar dari lift milik bos. Pasti ada hubungan spesial. "Mbak Anti, Nona tadi siapa?" tanya karyawan a cepat-cepat ingin tahu. "Itu, apakah punya hubungan dengan Bos?" tanya karyawan b. "Ya ampun, ini berita penting!" karyawan c berseru senang. "Nona yang tadi?" tanya Anti. "Iya, yang baru keluar pintu itu," jawab karyawan a. Para karyawan berlomba mendengar jawaban yang mereka inginkan. "Oh itu. Ituloh dari Amis Amis Asup, bawa makanan pesanan untuk Mbak Shinta di lantai Marketing," jawab Anti. Orang-orang, "...." Amis Amis Asup. Mereka sepertinya mengenal nama ini. Mata mereka melotot. "Itu dari Amis Amis Asup yang viral itu? yang pemilik restoran, koki, pelayan bahkan kasirnya sendiri jadi satu orang, kan?" suara seorang wanita berusia 39 tahun terdengar, rupanya dia yang manager tadi, sebab dia berdiri di pintu lift yang bertuliskan 'Only Manager'. "Benar, Bu Sari. Itu pemilik Amis Amis Asup yang viral itu, orangnya chubby, kan? ramah dan baik," jawab Anti. "Dibawa ke lantai marketing? yang pesan Shinta, kan?" tanya Bu Sari. "Iya, Bu." Anti mengangguk. Wah, barang bagus. Hari ini karyawan yang dia pimpin beruntung sekali, dapat makan siang dari Amis Amis Asup. Beruntung itu adalah departemen atau divisi yang dia pimpin sebagai manager. "Ok." Sari terlihat bersemangat. Cus! "Eh?" Ria dan Anti terlihat cengo setelah manajer dari divisi marketing mengatakan 'ok' lalu berlari memasuki lift khusus manager. "Jadi itu tidak ada hubungan dengan Bos kita?" tanya karyawan a penasaran. Anti dan Ria bingung. "Ya jelas tidak ada, Bu Delia, itu tadi bawa makanan untuk Mbak Shinta," jawab Anti. "Tapi tadi dia masuk lift Bos loh," ujar Delia, perempuan berusia 27 tahun. "Ya, masuk lift karena saya yang suruh tadi," ujar Anti. Orang-orang, "...." er, apakah Anti ini masih sadar apa yang dia katakan? "Dari kami lihat pemilik restoran Amis Amis Asup itu keluar dari lift milik Bos besar," ujar Delia serius. "Ya itu karena saya yang-Gusti Allah! aku salah suruh naik lift!" Anti merasa bahwa goncangan gempa bumi dahsyat menggoyang tubuhnya setelah dia sadar akan kesalahannya. Terlalu bahagia melihat dua orang hari ini membuat dia lupa ingatan. Dua orang itu adalah pemimpin perusahaan dan pemilik restoran Amis Amis Asup. Orang-orang, "...." habislah riwayatmu. Barang pribadi milik bos besar telah kau salah gunakan. Sedangkan di dalam ruang kerja mewah milik Akbar, layar besar seukuran seperempat dinding ruang kerjanya penuh dengan layar gambar cctv. Ya, sang bos sedang memantau pekerjaan para karyawannya. Dari 10 departemen dan 4 bagian khusus terpampang jelas di layar cctv itu. Bukan itu yang menjadi permasalahan Sandi dan Linda, tapi layar lantai dasar yang menjadi perhatian mereka, layar video plus suara. Jadi, dari sinilah Sandi dan Linda dapat pencahayaan kebenaran bahwa gadis yang satu lift dengan bos besar mereka itu ternyata hanya kebetulan. Pihak resepsionis membuat kesalahan. Akbar hanya serius memeriksa berkas yang dikirimkan dari perusahaan cabang di seluruh Indonesia dan beberapa negara lainnya. "Minggu depan minta pertemuan antara semua pemimpin cabang tak terkecuali. Boleh makan siang." Suara bas terdengar acuh tak acuh. Sandi dan Linda tersadar. "Baik, Pak Akbar." "Permisi." Dua sekretaris itu permisi keluar ruang kerja bos. Sepeninggal Sandi dan Linda, Akbar meraih remot kontrol dan memperlihatkan rekaman layar luar perusahaan. Ada gambar gadis ber-blus biru dongker sedang tersenyum sambil menyemangati dua satpam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN