"Abang Akbar," panggil Cempaka. Dengan langkah kaki elegan dan pelan Akbar melangkah ke arah Cempaka lalu mengambil alih dua tas kain yang berisi makanan siang ini. Wajah Anita memerah menahan amarah yang membuncah. Dia ingin berteriak di depan Marsudi namun ternyata Marsudi ini juga sombong. Sejak kapan Akbar mempekerjakan orang seperti Marsudi ini? hal ini sama sekali tidak diketahui olehnya. "Nak Akbar," ujar Marsudi. Jika dibelakang Akbar, dia dengan sombong mengucapkan nama Akbar tanpa beban, sementara jika di depan Akbar, Marsudi memanggil Akbar dengan sebutan sopan. Ini pertanda bahwa Marsudi takut pada momentum Akbar. Mata dingin Akbar melirik ke arah Marsudi dan Anita. "Tidak ada orang luar yang boleh datang ke kantor meskipun itu adalah istri dari manajer keuangan sekalipun.

