Pagi hari telah kembali tiba. Matahari mulai terbit di ufuk timur dan ayam kembali berkokok diiringi suara-suara kicauan burung gereja yang mulai beterbangan. Kini tiba saatnya Putri, Ninin, Hanifa dan juga Nayla kembali menjalani aktivitas sebagai seorang pelajar di sekolah dasar. Sebelum berangkat, Putri selalu membantu ibu menyiapkan segala masakan sebagai persediaan menu di pagi hari. Tak begitu banyak bagi Putri dalam menuai sarapan pagi, terkadang dia hanya makan sepotong roti ditambah s**u sapi sebagai penyemangat di pagi hari.
“Putri.” Panggil ibunya.
“Ya buk.” Jawab Putri.
“Ini ibu kasih uang sepuluh ribu, yang lima ribu untuk uang sakumu, terus yang yang lima ribunya jangan lupa ditabung ya!” Pinta ibu.
“Baik buk.” Jawab Putri kembali.
“Ya sudah Putri berangkat dulu ya buk, Assalamualaikum.” Pungkas Putri.
“Walaikum salam.”
Putri segera mencium tangan ibunya lalu segera melangkah keluar.
“Putri.” Panggil ibunya kembali.
“Ya buk.” Jawabnya.
“Bekalmu ketinggalan.” Terang ibunya.
“Oh iya Putri lupa.” Jawab Putri sambil memukul keningnya pelan.
Suasana di kelas kembali berjalan seperti biasa. Sebelum jam masuk pelajaran pertama, grup Empat s*****n selalu mengobrol bersama di dalam kelas. Banyak sekali segala cerita dari masing-masing diri untuk diceritakan, lebih-lebih Nayla yang selalu saja tiada bosan-bosannya curhat soal rambut. Dan hari ini Putri datangnya agak sedikit terlambat, karena jam masuk bel pelajaran pertama akan berlangsung lima menit lagi.
“Halo teman-teman.” Sapa Putri.
“Kamu Put, tumben jam segini baru dateng.” Sindir Hanifa.
“Iya, semalam aku tidurnya juga kemalaman.” Jawab Putri.
“Oh, emang habis berapa ratus lembar buku yang sudah kamu baca?” Celetuk Nayla.
“Aduh, banyak deh pokoknya, oh ya ada PR nggak sekarang?” Tanya Putri.
“Ada Put.” Jawab Nayla kembali.
“Yang bener, apa PRnya?” Tanya Putri.
“Pelajaran Bahasa Indonesia nanti jam kedua, membuat puisi yang judulnya Pelangi.” Jawab Ninin.
“Ohhh, kalau itu mah aku udah.” Jawab Putri.
Kringg kringg kringg. Bel masuk telah berbunyi, kini saatnya mereka kembali duduk di bangku masing-masing. Tak lama akan hal itu, akhirnya bu Indri mulai tiba di kelas, kini saatnya para siswa-siswi untuk mempersiapkan diri dalam berdoa, setelah itu harus membaca buku, karena pagi ini ada pelajaran IPA di kelas.
“Selamat pagi anak-anak.” Ucap bu Indri.
“Selamat pagi bu.” Jawab anak-anak serempak.
“Ada PR hari ini?” Tanya bu Indri.
“Tidak ada bu.” Jawab Putri.
“Ya sudah, sekarang saya minta kalian untuk berdiskusi sama teman sebangku.” Pinta bu Indri.
“Sudah bu.”
“Baik, minggu lalu kita sudah membahas tentang hujan, dan hari ini kita akan membahas tentang pelangi, pernah lihat pelangi?”
Tanya bu Indri yang membuat anak-anak kelas lima menjadi antusias.
“Saya pernah bu.” Teriak Putri.
“Ya saya juga pernah bu.” Sahut Ninin.
“Saya juga bu.” Tambah Hanifa.
“Baik, tentu semua pernah lihat ya?” ya sudah sekarang ibu minta kalian mendiskusikan tentang apa itu pelangi, saya kasih waktu sepuluh menit dari sekarang!” Seru bu Indri kembali.
Masing-masing anak mulai berdiskusi dan berpikir mengenai apa itu pelangi. Sepuluh menit telah berlalu, kini saatnya mereka harus segera menjelaskan mengenai materi yang akan dijelaskan
“Baik anak-anak, waktu sepuluh menit telah habis, kini saatnya saya menanyakan kepada kalian masing-masing, sudah siap.” Teriak bu Indri.
“Siap bu.” Ucap Hanifa.
“Baik, sekarang ibuk tanya. Galih, apa yang kamu ketahui tentang pelangi?” tanya bu Indri.
“Pelangi itu merupakan jalan turunnya bidadari buk.” Jawab Galih yang membuat teman-teman sekelas tertawa kegirangan.
“Hmmm, terlalu banyak nonton film kamu ya.” Ucap bu Indri.
“Dika, apa yang kamu ketahui tentang pelangi?” tanya bu Indri kembali pada Dika.
“Pelangi itu merupakan hiasan langit buk.” Jawabnya.
“Ada yang bisa jawab dengan benar?” tanya bu Indri pada anak-anak.
“Saya bu.” Jawab Putri sambil mengacungkan telunjuk.
“Iya silakan coba kamu jelaskan Putri!” Pinta bu Indri.
“Pelangi itu adalah hasil dari pembiasan cahaya, di mana ketika turun hujan di siang hari, pancaran sinar matahari menerangi turunnya air hujan yang sedang berlangsung, sehingga muncullah sebuah pelangi.” Jawab Putri.
“Bagus luar biasa, tepuk tangan untuk Putri.” Teriak bu Indri.
Alhamdulillah, akhirnya Putri bisa menjawab dengan jawaban yang paling tepat. Semua itu karena Putri sudah mempelajarinya sejak satu minggu yang lalu. Jika dibandingkan dengan teman-teman yang lain sebenarnya juga sama, mereka juga sama-sama belajar, hanya saja bagi Putri dia tidak harus mengandalkan ilmu dengan hanya belajar saja, akan tetapi dengan cara menghafal serta melihat langsung di lapangan itu juga perlu.
Semenjak Putri masih duduk di bangku kelas tiga SD, dia sudah pernah membaca serta mempelajari tentang apa itu pelangi, karena kebetulan pada saat itu juga dia memang pernah melihat pelangi secara langsung. Tapi kini, ada sedikit kesedihan yang datang pada dirinya, sudah hampir tiga tahun ini Putri tidak melihat pelangi, entah mungkin Tuhan sudah berkehendak bahwa pelangi telah dimusnahkan, sepertinya juga tidak mungkin.
Baiklah anak-anak usai sudah pelajaran kita hari ini, besok kita masih melanjutkan pelajaran IPA lagi, jadi ibuk ingin memberi tugas untuk kalian semua.” Ucap bu Indri.
“Baik buk.” Jawab anak-anak serempak.
“Yaelah, tugas lagi tugas lagi.” Keluh Nayla dengan lirih.
“Ok. Jadi tugasnya, tolong gambarkan sebuah pelangi beserta proses kejadiannya.” Ucap bu Indri.
“Sudah paham semua tugasnya?” Tanya bu Indri kembali.
“Sudah bu.” Jawab anak-anak.
“Baik, silakan bisa istirahat dulu.” Pinta bu Indri.
Jam istirahat pun mulai tiba ketika bel telah berbunyi.
“Duhhh, bu Indri ngasih tugas PR, dan besok harus sudah dikumpulin, terpaksa deh ntar malem nggak bisa main piano.” Keluh Nayla.
“Emang kamu punya piano di rumah Nayl?” Tanya Ninin.
“Bukan piano sih namanya, tapi keyboard.” Jawab Nayla.
“Oalah, emang dapet darimana Nayl?” Tanya Hanifa.
“Kemarin ayah dapet kiriman, dari saudaranya yang ada di Tiongkok sana.” Terang Nayla.
“Hmmm, ntar kalau udah bisa main, ajarin kita juga dong.” Tambah Ninin.
“Tenang, so pasti.” Celetuk Nayla.
Seringkali Nayla mendapat kiriman barang-barang produk dari China, apakah itu alat-alat tulis, pakaian maupun makanan ringan. Mungkin karena di negara China Nayla memiliki banyak saudara, sehingga hampir tiap tiga bulan sekali dia selalu mempunyai barang-barang baru. Tapi Nayla orangnya juga tidak terlalu pelit, jika dia punya barang-barang baru seperti alat tulis dia selalu membagi-bagikan kepada teman-temannya, termasuk grup Empat s*****n.
“Oh ya Nayl, hari minggu besok kamu ada waktu luang nggak?” Tanya Ninin.
“Wahhh sepertinya papa sama mama aku mau ngajak jalan-jalan nih.” Jawab Nayla.
“Emang mau ke mana sih?” tanya Ninin kembali.
“Ya rencananya sih mau main ke Bonderland.” Jawab Nayla.
“Ealah, tiap minggu mesti kamu selalu saja tak bisa.” Tukas Putri.
“Maaapppp banget prendz, lain kali aja ya kalau aku sudah bisa bawa mobil sendiri.” Celetuk Nayla.
“Yaelah, nunggu kamu lulus SMA baru keturutan.” Sahut Hanifa
***
Hari minggu pun tiba, kini tiba saatnya Ninin, Putri dan juga Hanifa kembali berkumpul di halaman sekolah, ya hari ini mereka berkumpul cukup bertiga saja dikarenakan Nayla tidak bisa ikut, karena ada kesibukan dengan keluarga. Masing-masing mereka membawa sepeda, mereka akan menikmati waktu di hari Minggu dengan menyusuri tiga desa.
“Kita hanya bertiga saja kah?” Tanya Putri.
“Iyalah, Nayla kan nggak bisa karena ada urusan keluarga.” Jawab Ninin.
“Hmmm, ya sudah kita berangkat sekarang aja yuk!” Seru Hanifa.
Menikmati pagi di hari Minggu adalah sebuah kebahagiaan untuk mereka, karena di hari itulah mereka bisa menikmati indahnya hari dengan berkumpul dan berjalan-jalan bersama. Sayangnya, di hari ini tak ada Nayla, sehingga kebersamaan jadi terasa kurang. Entahlah, yang penting mereka masih punya banyak waktu untuk kedepannya.