Krisna, Oh No !!!

1146 Kata
          Setelah dua minggu lebih tidak masuk sekolah dikarenakan khitan, kini salah seorang murid yang bertubuh gemuk dan penuh usil kembali hadir di kelas. Dia adalah Krisna, dari dulu Krisna selalu saja membuat kekacauan maupun kegundahan di kelas ini, terutama grup Empat s*****n yang selalu saja merasa sangat terganggu atas kehadirannya.           Bagi mereka, kehadiran Krisna bagaikan sebuah monster yang siap menyerang para musuh sekalipun dia tidak merasa diganggu. Jika jam istirahat telah tiba, maka tidak ada jalan lagi bagi grup Empat s*****n untuk sembunyi, entah mereka akan sembunyi di kantin atau perpustakaan.           Bisa dibilang, Krisna adalah seorang anak yang dikenal cukup bandel dan nyebelin, seringkali di saat teman-temannya yang lain mengerjakan tugas baik di luar maupun di dalam kelas, Krisna jarang mengerjakannya sendiri, lebih-lebih dia selalu mencontek pekerjaan temen-temennya yang sudah selesai, pantesan semenjak kelas satu Krisna selalu berada pada rangking urutan terakhir dalam satu kelas.           Sejak mulai hari Senin kemarin Krisna sudah kembali masuk sekolah sepertinya biasanya, setelah dia menjalani Khitan beberapa hari yang lalu, entah apakah saat ini dia sudah sembuh total. Namun yang jelas, keresahan serta rasa gelisah pada grup Empat s*****n tetap terasa atas kehadiran Krisna.           Hari pertama kali masuk sejak Krisna libur panjang bukanlah menjadi persoalan utama. Pada hakikatnya mungkin hari itu sama dengan hari-hari yang sudah dijalani. Namun berbeda dengan Krisna, di mana hari ini akan menjadi hari baru yang benar-benar baru bagi Krisna. Biasanya Krisna selalu saja membuat keonaran di dalam kelas, terutama terhadap grup Empat s*****n, tapi untuk kali ini Krisna benar-benar sudah berubah, tidaklah nakal seperti dulu.           Biasanya pas jam istirahat, Krisna selalu membuat onar dan mengganggu teman-temannya yang sedang menikmati waktu breaktime, tapi untuk kali ini Krisna hanya memesan semangkok bakso serta memakannya di dalam kelas. Kali ini juga Krisna hanya ingin menyendiri, sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapapun, mungkin sejak liburan lama di rumahnya, dia mulai menyadari atas semua kesalahan-kesalahannya.           Jam istirahat telah berlangsung, tibalah grup empat s*****n untuk berkumpul di sebuah kantin sekedar untuk break. Putri mulai memesan bakso, Ninin dan Nayla memesan nasi goreng sementara Hanifa tidak ingin makan melainkan hanya meminum segelas jus mangga.           “Ehh temen-temen, ada yang aneh nggak di kelas kita?” Tanya Nayla.            “Aneh gimana Nayl, sepertinya nggak ada apa-apa deh.” Jawab Ninin.            “Ya tau, ini bukan soal apa, tapi ini soal Krisna.” Tukas Nayla.            “Iya sih, aku juga ngerasa ada yang aneh sama si Krisna.” Gumam Hanifa.            “Yang aku tahu kan Krisna itu sempet cuti sekolah selama dua minggu lebih, anehnya udah tiga hari ini sikap dia tuh berubah tahu nggak.” Terang Putri.            “Yahh, paling-paling tuh orang juga udah dapet hidayah.” Celetuk Hanifa.            “Ya syukur deh kalau begitu, emang dari dulu aku tuh sangat berharap agar dia bisa taubat dari nakalnya.” Imbuh Nayla.            “Aku juga begitu Nayl, tapi sepertinya kita semua jangan seneng dulu deh.” Tambah Ninin.            “Kenapa begitu Nin?” Tanya Nayla.            “Ya kali aja Krisna tuh berubah di awal-awal hari ini aja. Seminggu, sebulan, tiga bulan dari sekarang, siapa yang tahu.” Gumam Ninin.            “Ahhh, kekhawatiran kamu berlebihan sih Nin.” Sahut Putri.            “Kita bukannya khawatir Put, tapi waspada.” Jawab Ninin.            “Ya sudahlah, kita berdoa aja, semoga ke depannya juga akan lebih baik.” Imbuh Hanifah.           Usai perbincangan di kantin, mereka berempat beranjak menuju ke kelas. Saat tiba di kelaspun mereka kembali memandangi Krisna yang sedang tersendiri di dalam kelas.           Hanifa mulai masuk ke dalam kelas, seperti biasanya dia selalu menikmati waktu dengan bermain gitar. Namun untuk kali ini, Hanifa tidak ingin main sendiri, melainkan dia ingin mengajak Krisna untuk bermain musik bersama.            “Kris, nyanyi yuk!” Seru Hanifa.            “Ahh lagi males Nif.”            “Ayolah, satu lagu saja.” Desak Hanifa.           Hanifa memang sengaja, sedikit mendesak Krisna untuk mengajaknya bernyanyi. Akan tetapi Krisna selalu menolak karena dia lebih ingin mengiringi musik dengan bermain cajon. Apalagi soal bernyanyi, Krisna tidaklah pandai kecuali jika menabuh drum. Tak lama dari apa yang mereka berdua lakukan saat ini.            “Tumben kamu ngajak aku nyanyi Nif.” Gumam Krisna.            “Iyalah sekali-kali.” Jawab Hanifa.            “Emang kamu nggak ngumpul aja sama golongannya Putri tuh.” Sahut Krisna.            “Udah, tadi di kantin, ya sudah ahh aku ke sana dulu. Kamu nggak asyik sih, diajak nyanyi nggak mau.” Tukas Hanifa.            “Emang aku nggak suka nyanyi kok.” Jawab Krisna.            Bisa diprediksi, mungkin sikap Krisna ke depannya bisa lebih baik daripada yang dahulu. Mungkin karena dulu Krisna belum memiliki kesadaran penuh akan dirinya. Akan tetapi mungkin inilah sebuah berkah dan hidayah usai dia menjalani khitan. ***           Hanifa kembali memainkan gitarnya, lalu Krisna kembali mambantu dalam mengiringi musik dengan bermain cajon. Lagu-lagu yang telah Hanifa nyanyikan, perlahan mulai mengundang perhatian para murid di sekolah ini, hampir seluruh murid mulai memadati Hanifa yang melantunkan beberapa lagu dengan suaranya yang merdu.           Kring kring kring, bel istirahat kembali berbunyi pertanda jam masuk pembelajaran kedua kembali dimulai.           “Ya, kok sudah masuk sih.” Ucap salah seorang murid.           “Iya, padahal kita masih asyik-asyiknya menikmati lagu nih.” Sahut salah satu murid lagi.           “Ya sudah kita masuk saja temen-temen, besok kan masih bisa.” Sahut Ninin.           Grup Empat s*****n kembali berkumpul di dalam kelas untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya, di mana mereka akan memasuki pelajaran Matematika.           “Put, sekarang waktunya Matematika kan?” Tanya Nayla.           “Iya Nayl, masa’ kamu udah lupa sih.” Jawab Putri.           “Ya ampun, aku lupa belum ngerjain PR.” Keluh Nayla sambal menutupi mata dengan telapak tangannya.           “Makanya Nayl, kalau malem itu belajar, jangan sibuk ngurusin rambut melulu.” Tutur Hanifa.           “Gimana mau ngerjain, kemarin sore sampai malem aku diajak keluarga ke rumah nenek.” Terangnya.           “Bukunya sambil kamu bawa kan juga bisa Nayl, cerdas dikit dong.” Imbuh Ninin.           “Iya deh aku khilaf.” Jawabnya.           “Ya sudah, mumpung bu Indri belum masuk, segera kamu kerjain sekarang!” Seru Hanifa.           Lalu dengan cepat Nayla mengerjakan PR tersebut, namun di saat dirinya baru mengerjakan nomer dua tiba-tiba bu Indri memasuki kelas.           “Aduh, mati deh aku.” Batin Nayla.           “Anak-anak, sekarang kita sudah waktunya masuk ke pembelajaran Matematika, apakah kalian sudah mengerjakan PR?” Tanya bu Indri.           “Sudah buk.” Jawab anak-anak serempak.           Dari total lima belas murid yang masuk, ada empat anak yang tidak mengerjakan PR termasuk Nayla, sehingga mereka berempat harus siap menerima hukuman dari bu Indri.           “Kalian ini gimana sih, seminggu ini ke mana aja kok bisa sampai lupa nggak mengerjakan PR Matematika, ingat! kalian ini sudah kelas lima.” Tegas bu Indri.           “Ya maafkan kami buk.” Jawab Nayla.           Nayla dan teman-teman yang tidak mengerjakan tugas harus menjalani hukuman, di mana mereka tidak diperkenankan mengikuti jam pelajaran Matematika sampai jam pulang sekolah, melainkan mereka harus membersihkan halaman sekolah sampai bersih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN