Pak Bima Sakit

1600 Kata
         Hari ini ada satu kabar yang mungkin sangat menyedihkan dan juga sedikit menyenangkan bagi anak-anak, di mana pada hari ini, pak Bima sedang tidak masuk dinas dikarenakan sakit. Mungkin saja anak-anak di kelas lima merasa cukup bahagia akan hal itu karena terkadang jika sudah diajar oleh pak Bima, suasana kelas menjadi sangat tegang, seakan ada monster yang siap untuk menerkam mereka.           Di sisi lain, bagi mereka juga ada sedikit kesedihan, yaitu harus belajar sendiri dalam membaca dan memahami pelajaran yang berkaitan dengan seni budaya. Putri amat berbeda dengan teman lainnya, justru di saat pelajaran seni budaya kosong karena gurunya tidak masuk, Putri malah belajar mata pelajaran yang baginya unik. Bagi Putri, bukan soal karena pelajaran seni budaya itu membosankan, namun Putri lebih senang belajar pelajaran lain yang baginya mudah untuk dimengerti.           Lain juga dengan Hanifa, justru di saat pelajaran seni budaya berlangsung, diaa jauh lebih merasa senang, apalagi jika materi yang diajarkan itu lebih banyak mengandung pelajaran tentang musik. Wajarlah, karena Hanifa merasa bahwa kebahagiaan di dunia ini selama dia hidup hanyalah dengan musik. Musik bagi Hanifa bukanlah sekedar alat untuk menghibur dirinya di manapun dia berada, namun bagi Hanifa, musik sudah menjadi kebutuhan agar dia bisa bersemangat dalam menjalani hari-hari yang terkadang cukup membosankan.            “Put, ntar pulang sekolah kamu bisa nemenin aku nggak?” tanya Ninin.            “Emang mau ke mana Nin?” Tanya balik Putri.            “Aku mau cari raket baru.” Jawab Ninin.            “Oh, kok tumben banget. Bukannya raket kamu sudah ada banyak Nin.” Gumam Putri.            “Iya sih, tapi udah banyak yang rusak, ya namanya juga barang murah, jadi nggak bisa awet.” Terang Ninin.            “Oalah Nin, emang nanti mau cari raket yang gimana?” Tanya Putri kembali.            “Ya selagi aku lagi banyak rizki, sekalian aja beli yang agak mahalan dikit, sekalian juga yang kualitasnya bagus.” Imbuh Ninin.            “Oh gitu, oke deh nanti aku anterin.” Timpal Putri.            “Sip, makasih.” Jawab Ninin. ***          Satu hari kemudian, sebuah kabar duka telah datang kepada seluruh siswa, di mana pada hari ini tepat pada pukul tujuh pagi di saat anak-anak sudah berada di dalam kelas masing-masing, pelajaran ditiadakan dikarenakan guru mereka yang bernama pak Bima telah meninggal dunia pada jam lima subuh tadi.           Dan hari ini juga seluruh siswa harus bertakziah ke rumah duka yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Pelajaran untuk hari ini terpaksa ditiadakan dulu, karena semua guru-guru termasuk siswa pasti sedang berduka. Kesedihan cukup mereka rasakan dengan sangat dalam, perasaan dari kemarin-kemarin pak Bima masih terlihat baik dan sehat-sehat saja, tetapi kenapa sekarang tiba-tiba harus  pergi dengan cepat, ya namanya juga usia kan juga nggak ada yang tahu.           Mungkin ini sudah menjadi kehendak Tuhan, karena Tuhan lebih memilih pak Bima untuk bisa cepat menghadapnya. Siap tidak siap mereka sebagai murid harus bias mengikhlaskannya, walau sedikit terasa pahit, semoga hal ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk mereka.           Sebenarnya, pak Bima akan pensiun beberapa bulan lagi, karena setelah itu akan ada guru pengganti yang akan mengajar pelajaran seni budaya, meski mereka belum tahu siapakah nanti gurunya.            “Aku turut prihatin akan keadaan ini.” Ucap Putri.            “Aku juga.” Sahut Nayla.            “Perasaan di hari-hari kemarin pak Bima terlihat baik-baik saja, kenapa secepat ini juga beliau meninggalkan kita.” Hanifa menggumam.            “Ya, mungkin ini sudah menjadi kehendak Allah, pak Bima harus pergi untuk selama-lamanya tanpa harus berpamitan pada kita.” Imbuh Ninin.            “Ya sudah, semuanya tidak bisa kembali seperti sedia kala, mari kita semua memaafkan serta mengikhlaskan akan kepergiannya.” Tambah Putri.            “Iya Put, sudah sepatutnya ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa hidup itu memang singkat, dan kita juga tidak tahu kapan tiba saatnya.” Sahut Hanifa.            Kini mereka beserta teman-teman di kelas lain mulai berangkat mengantarkan jenazah pak Bima menuju tempat pemakaman terdekat. Tak berselang lama, sekitar sepuluh menitan akhirnya mereka semua telah tiba di tempat pemakaman itu.            Kata hati Putri mulai berbicara,            “Selamat jalan pak Bima, semoga engkau tenang di alam sana.”           Tak terasa jam telah menujukkan pukul sepuluh pagi, kini saatnya Putri beserta kawan-kawan harus segera kembali ke sekolah. Mungkin saja di hari ini seluruh pelajaran ditiadakan, dikarenakan para guru sedang berduka cita, akan tetapi jam pulang sekolah tetap pada pukul satu.           Banyak dari mereka yang mengisi waktu dengan bermain, ada juga yang membaca, termasuk Putri. Waktu sore hari telah tiba, kini tiba saatnya bagi mereka untuk berangkat mengaji. Kali ini juga mereka berangkat bersama-sama dengan berjalan kaki.            “Kita nanti lari lagi nggak?” Tanya Nayla.            “Gila kamu Nayl, kita semua lagi berduka, malah ngajak lari.” Sahut Putri.            “Ya justru itu Put, untuk menghilangkan rasa sedih kita pada hari ini.” Jawab Nayla.            “Iya Nayl, sepertinya aku setuju sama kamu.” Sahut Hanifa.            “Hmmmm, ya sudah deh lihat nanti aja.” Jawab Putri.           Mereka berempat pun mulai tiba di tempat untuk mengaji. Mereka semua masih terpikirkan akan sosok pak Bima yang tiba-tiba harus meninggalkan mereka dengan cepat. Mungkin mereka tidak terlalu merisaukan akan hal itu, hanya saja mereka sedikit merasa bimbang akan guru pengganti yang akan menggantikan pak Bima nantinya.           Jam telah menunjukkan di angka lima sore. Tiba saatnya mereka menyudahi kegiatan mengaji pada hari ini. Seperti biasa, mereka tidak langsung pulang ke rumah, melainkan harus duduk-duduk santai di posko dekat stasiun Pakisaji, yang tidak lain hanyalah untuk menantikan senja, ditemani kencangnya laju kereta api.            “Sepertinya aku pengen cepet-cepet pulang nih.” Ucap Putri.            “Emang mau ada urusan?” Tanya Hanifa.            “Ya nggak sih Nif, tapi aku lagi merasa laper banget, dari tadi siang lupa belum makan.” Jawab Putri.            “Oalah Put, sabar dikit aja kenapa, kalau kamu emang nggak kuat, mending beli cilok aja tuh mumpung lagi ada yang jual.” Pinta Hanifa.            “Pengennya gitu sih, tapi aku lagi nggak mood yang mau makan cilok.” Jawab Putri.            “Terserah kamu aja deh, asal jangan sampai makan batu.” Celetuk Hanifa.            “Hiii, ngeledek amat kau.” Timpal Putri.           Suara klakson kereta mulai terdengar dari kejauhan, mungkin sebentar lagi kereta api tujuan kota Surabaya akan segera berangkat. Tak lama akan hal itu, kereta telah tiba di stasiun dengan baik. Mereka segera berdiri dan sedikit berjalan ke garis start, karena mereka berempat ingin kembali berlari sebagai upaya untuk melupakan sedikit masa lalu. Suara klakson mulai terdengar lagi dengan cukup kencang, pertanda kereta akan segera melaju. Mereka pun mulai bersiap-siap.            “Di waktu sore ini, kita akan kembali berlari. Sebagai upaya untuk mengusir rasa sedih usai kehilangan sang guru.” Ucap Hanifa.            “Dan kita berempat juga merasa berduka dengan sangat mendalam usai ditinggalkan oleh sang guru.” Tambah Nayla.            “Maka dari itu, mari kita segera berlari sekencang-kencangnya, agar kita bisa kembali untuk menggapai kebahagiaan baru.” Imbuh Ninin.            “Semuanya, siappp?” Teriak Hanifa.            “Siapp.” Jawab mereka bertiga dengan lantang.           Ttuuttttt…           Suara klakson kereta mulai terdengar kembali, dan mulai melaju dengan pelan.            “Go!!!” Teriak Hanifa kembali dengan keras.           Mereka berempat kembali berlari dengan sangat kencang, masing-masing dari mereka berupaya untuk bisa yang pertama berada di garis finish. Sambil ditemani oleh laju kereta api, mereka mulai berteriak-teriak, berharap bisa mengalahkan kereta api sekaligus. Tanpa lama akan hal itu akhirnya Putri berhasil menembus garis depan sehingga Putrilah yang memenangkannya.            “Ye ye ye ye, akulah pemenangnya, hahaha." Teriak Putri kegirangan.            “Ahhh curang kamu put, main senggol aja tadi pas lari." Ucap Hanifa.            “Iya maaf Nif, aku nyenggol kamu karena lenganku juga kesenggol Ninin tuh." Jawab Putri dengan maksud membela diri.            “Hahhh, untung aja aku masih sabar." Sahut Hanifa.           Tik tik tik, awan yang mulai terlihat gelap sepertinya mulai menurunkan gerimis kecil-kecil.            “Waduh gawat, sepertinya udah mulai hujan nih." Ucap Hanifa.            “Iya, sekarang aja udah gerimis." Sahut Ninin.            “Kita nggak bawa payung juga." Imbuh Putri.            “Ya sudah mumpung hujannya belum deras kita lari yuk!" Seru Nayla.            “Iya ayo cepet!" Seru kembali Hanifa.           Semakin kencang mereka berlari, semakin deras pula hujan yang mulai membasahi bumi. Perjalanan masih cukup jauh, bila hal ini diteruskan mereka akan basah kuyup, jadi tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali berteduh di sebuah teras rumah orang.            “Yahhh, kita nggak bisa pulang deh." Keluh Putri.            “Iya nih, perasaan tadi langitnya cerah, kok tiba-tiba gelap seperti ini sih." Sahut Ninin.            “Cerah bagaimana? Bukannya daritadi pagi udah mendung." Tukas Nayla.            “Ahhh bawel aja kalian semua, diem kenapa sih." Hanifa tiba-tiba menyela.           Rumah yang mereka berempat singgahi untuk bernaung tiba-tiba pintunya terbuka, ternyata sang pemilik rumah mulai keluar.            “Ehhh anak-anak habis pulang ngaji ya, ayo' masuk ke dalem aja!" Seru tuan rumah.            “Hmmm terima kasih buk, di sini saja sudah enak kok." Jawab Hanifa.            “Udah nggak apa-apa, lagian di luar masih deras banget, ayo masuk anak-anak!" seru beliau kembali.            “Baik buk terima kasih." Jawab mereka.           Lalu mereka berempat mulai memasuki rumah tersebut dan mulai terduduk berjajar layaknya pengunjung yang antri di puskesmas.            “Ehmmm, rumahnya keren banget ya." Ucap Ninin.            “Iya, besar juga." Sahut Nayla.            “Andai rumahku kayak gini, wah aku bakalan bisa main badminton di dalem rumah, hehehe." celetuk Ninin.            “Iya, aku juga bakal bisa bermain petak umpet sepuasnya." imbuh Nayla.            “Hei sudah diam!" Seru Hanifa.            “Silakan anak-anak, bisa dinikmati dulu teh manisnya." pinta tuan rumah yang lagi-lagi muncul.            “Wah nggak usah repot-repot buk, bentar lagi kita juga akan pulang." Ucap Hanifa.            “Udah nggak apa-apa, anggap aja rumah sendiri." Jawab beliau.            Lalu mereka segera menyeduh teh manis yang masih hangat serta mencicipi jajanan yang tersedia di meja tamu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN