PART 1 - Bukan Untuknya
“Kenalkan Ndu, ini Ratna, kekasihku”
Ucapan Danu membuat Pandu kaget. Wanita yang tak sengaja membuat Pandu jatuh cinta pada pandangan pertama adalah kekasih Danu. Pandu yang kaget dengan pernyataan Danu hanya bisa tersenyum saja.
“oh iya saya Pandu” Ucap Pandu sambil mengulurkan tangannya tanda perkenalan
“Ratna” Ratna pun menyambut uluran tangan Pandu sambil tersenyum manis.
Getaran di hati Pandu muncul bersamaan tangan Ratna yang menggenggam tangannya. Ia tatap Ratna yang menunduk sambil tersenyum. Hati Pandu berdesir.
Suara deheman membuat Pandu lekas melepaskan jabatan tangannya. Ia merasa tak enak kepada Danu.
Kini mereka sedang berada di ruang tamu rumah milik Harun, Ayah Danu sekaligus Pakde Pandu. Ummayah, Umi Pandu menyuruh Pandu untuk mengantarkan donat kentang. Sinta, menantu Harun lagi ngidam donat kentang buatan Ummayah. Dengan senang hati Ummayah membuatkan mengingat Sinta pun juga dekat dengan Ummayah. Andini, istri Harun, sekaligus mertua Sinta tidak biasa membuat kue makanya ia meminta tolong kepada Ummayah, adik iparnya.
Ketika sampai tadi Pandu tak sengaja melihat ada Ratna, makanya ketika Harun menawarkan untuk mampir Pandu dengan senang hati berkata iya.
Tetapi fakta yang barusan Pandu dengar membuat hatinya sakit. Rasanya ia ingin segera pulang saja.
“Kalau begitu Pandu pulang dulu ya Pakde, udah mau maghrib juga” Pandu pun lantas segera berpamitan
“Oh iya Ndu, makasih ya donatnya” Harun juga berterima kasih kepada Pandu
“Mari Pakde, Nu, Assalamualaikum”
“Waalaikumussalam”
---
Flashback On
“Ndu, habis ini ke rumah Pakdemu ya kasih ini ke Sinta, lagi ngidam kue kukus” Ucap Umi sambil menyerahkan bingkisan yang berisi kue kukus kepada Pandu.
“Setelah Pandu shalat Ashar ya Umi” Ucap Pandu lalu mengambil air wudhu.
Setelah selesai menunaikan ibadah, Pandu pun mengambil motor matic miliknya lalu berpamitan dengan Abah Dan Uminya. Lydia, adik Pandu yang mengetahui Pandu akan pergi mencoba untuk ikut.
“Bang aku ikut yaa” Ucap Lydia kepada Pandu
“Baik, kamu bawakan ini” Ucap Pandu sembari menyerahkan bingkisan kue kukus kepada Lydia
“Siap bos” Lydia dengan sigap mengambil bingkisan tersebut
Mereka menaiki motor lalu melaju menuju rumah Pakde. Semilir angin sore membuat Lydia kedinginan. Padahal ia sudah mengenakan pakaian panjang.
Tak berselang lama mereka sudah sampai di rumah Pakde. Memarkirkan motor lalu menuju ke depan pintu
Tok tok tok
“Assalamualaikum Pakde” Ucap Pandu sambil mengetok pintu.
Sebenarnya pintu rumah Pakdenya terbuka sedikit. Tetapi tentu saja ia tak mungkin langsung masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumussalam”
Tak berselang lama ada yang menjawab salamnya. Ternyata Andini, istri pakde.
“Masuk dulu Pandu, Lydia” Ucap Budhe Andini sambil tersenyum
“Budhe ini tadi disuruh Umi mengasihkan ini” Ucap Pandu seraya memberikan bingkisan kepada Andini
“Owalah iya, makasih ya Ndu. Tadi Budhe minta tolong bikinin ini, Menantu budhe lagi ngidam pengen roti kukus tapi budhe gabisa bikin, sampaikan makasih pada Umimu ya Ndu” Ucap Budhe Andini.
“Ya sudah Budhe kami pamit pulang dulu” Ucap Pandu lalu berdiri dari duduknya
“Loh kok langsung pulang, ini budhe belum suguhin minum loh sampe lupa”
“Gapapa budhe tidak perlu repot-repot, Yasudah kami pulang dulu ya Budhe Assalamualaikum” Ucap Pandu
“Waalaikumussalam” Ucap Budhe lalu mengantarkan mereka ke depan. Tetapi suara teriakan lelaki dalam rumah membuat Budhe Andini kembali masuk ke rumah
Pandu dan Lydia menuju ke arah motornya. Ketika ia akan menyalakan motor. Mata Pandu tertuju ke satu titik yang membuat Pandu terdiam.
Cantik
Itu adalah kata yang terpikirkan oleh Pandu ketika melihat seorang wanita dengan rambut sebahu.
Senyuman terpancar di bibir wanita ketika berbicara dengan wanita lain yang ia ketahui adalah menantu Andini. Pandu menatap lekat ke arah wanita itu hingga tak tersadar mata mereka bertemu. Tatapan mereka bertemu dan terkunci beberapa detik hingga wanita itu mengalihkan pandangan mereka.
“Bang abang, kok diem aja sih malah ngelamun dipanggil dari tadi juga” Ucap Lydia yang menyadarkan dirinya.
“Gapapa, ayo kita pulang” Ucap Pandu lalu melajukan motornya menuju rumah mereka.
---
Hingga malam menjelang Pandu masih memikirkan wanita itu. Tak terasa bibirnya tersenyum ketika mengingat kejadian tadi sore. Ia ingin mengetahui siapa wanita itu. Ingin mengenal lebih dalam dengan wanita cantik itu.
Apakah sekarang ia merasakan cinta pada pandangan pertama. Ia tak tahu. Yang pasti sekarang jantungnya berdebar-debar. Ia pun memutuskan untuk segera tidur. Tak lupa memasang alarm untuk ia bangun tahajud. Pandu sering ketiduran hingga ia lupa menunaikan ibadah shalat tahajud makanya ia memasang alarm.
Ia akan berdoa kepada Sang Pencipta, jika memang wanita itu adalah jodohnya maka dekatkanlah, jika tidak maka jauhkanlah karena Pandu juga tak mau berharap banyak.
Flashback Off
Suara Adzan Maghrib berkumandang, Pandu lekas mengambil air wudhu. Shalat sembari menenangkan diri. Sepertinya ini adalah jawaban dari Yang Maha Kuasa atas doanya.
“Bangg, kok udah selesai sih, Lydia kan pengen jamaah” Suara Lydia mengagetkan Pandu yang sedang berdzikir.
Lydia dengan bersungut-sungut mengambil mukena
“Bang, tungguin aku sampai selesai shalat” Ucap Lydia lalu segera menunaikan ibadah Shalat Maghrib.
Selesai dengan dzikirnya, Pandu menunggu Lydia sampai selesai. Hasan dan Ummayah shalat di Masjid. Jadi di rumah hanya ia dan Lydia saja.
---
Sehabis Isya’ tadi Hasan memberikan beberapa berkas yang harus ia tinjau. Karena Pandu baru saja lulus kuliah tentu ia masih membutuhkan pengetahuan dari Hasan, Abahnya.
Hasan, Abah Pandu memiliki Peternakan Sapi dan kambing. Ia sudah merintisnya semenjak lulus kuliah ditengah ekonominya yang sangat memprihatinkan. Orangtua Hasan tentu saja mendukung apa yang dikerjakan Hasan. Dengan restu kedua orang tuanya Hasan pun bisa sukses bahkan kini ia memiliki 20 ekor sapi dan 15 ekor kambing.
Baru dua minggu Pandu terjun ke dunia peternakan. Apalagi Hasan akan mewariskan peternakan tersebut kepada Pandu tetapi syarat dan ketentuan berlaku. Pandu tentu harus bisa mengurusnya dengan benar.
Menatap laptopnya dan juga lembaran kertas yang menampilkan grafik keuangan. Mengecek apakah ada yang tidak beres dengan keuangan peternakan atau tidak.
Setelah 2 jam Padu berkutat dengan laptopnya, selesai membuat laporan keuangan. Pandu pun segera merebahkan tubuhnya. Duduk terlalu lama membuat punggungnya pegal-pegal.
Tiba-tiba ingatan Ratna muncul. Membuat Pandu menghela napas panjang. Wanitanya. Ahh bukan wanita milik Danu nyatanya.
Suka dan kagum kepada wanita, tentu saja Pandu pernah mengalaminya tidak satu atau dua kali. Tentu ia lelaki normal. Tetapi kepada Ratna, Pandu merasakan hal berbeda. Tatapan sejuk Ratna membuat Pandu berdebar ketika mengingatnya.
Pandu tiba-tiba berpikiran untuk merebut Ratna dari Danu. Tapi segera ia enyahkan pikiran itu. Pandu tentu takur karma. Lebih baik ia segera menghilangkan perasaan tersebut mengingat masih belum lama. Takut kalau perasaan yang ia pendam justru semakin dalam dan ia susah untuk melupakan Ratna.